
Keyla yang sudah lelah menangis menunggu Shaka yang tak kunjung pulang sampai tertidur di atas sofa. Matanya tampak bengkak akibat banyak menangis. Entah jam berapa dia baru dapat tertidur menunggu kepulangan Shaka tadi malam. Tapi sayangnya yang ditunggu tak kunjung datang.
Suara ketukan pintu berkali-kali mengganggu ketenangan tidur Keyla. Dari mulai pelan, suara ketukan itu lama-lama semakin keras. Ternyata itu adalah Cindy yang sudah datang untuk menjemput Keyla bekerja.
Saat mendatangi rumah Keyla, Cindy terkejut melihat lampu terasnya masih menyala. Cindy coba mengetuk pintu beberapa kali tapi pintu tak kunjung dibuka dari dalam. Akhirnya Cindy mencoba mengintip dari celah jendela depan dan ia bisa melihat Keyla sedang terbaring di atas sofa.
Cindy tentu panik melihat hal itu. Kenapa Keyla harus tidur di atas sofa? Bukankah tadi malam katanya ia merayakan ulang tahun bersama Shaka?
Cindy kembali mengetuk pintu itu. Bahkan ia beberapa kali memanggil-manggil nama Keyla sehingga membuat Keyla lama-lama tersadar juga dari tidurnya.
Keyla membuka matanya dengan perlahan. Terlalu banyak menangis membuat matanya bengkak bahkan terasa perih. Ia melihat kue ulang tahun di atas meja, kue itu sama sekali belum tersentuh. Berarti Shaka memang benar-benar tak pulang ke rumahnya.
Terdengar lagi suara Cindy memanggilnya dari depan pintu. Keyla pun bangun dan membukakan pintu untuk Cindy.
“Keyla? Kamu kenapa, Key?” tanya Cindy yang terkejut melihat wajah Keyla yang sembab dengan mata yang bengkak.
“Masuk dulu, yuk! Kita cerita di dalam,” jawab Keyla dengan suara yang serak.
Cindy pun masuk bersama Keyla dan duduk di sofa tempat Keyla tidur tadi. Cindy melihat masih ada kue ulang tahun yang Keyla beli dengannya kemarin. Kue itu tampak utuh tak tersentuh.
“Key, kue itu...”
Belum sempat Cindy melanjutkan ucapannya, Keyla sudah lebih dulu nangis sesenggukan sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Cindy pun merasa ada yang aneh terjadi pada sahabatnya itu. Cindy segera memeluk Keyla untuk menenangkannya.
“Key, sabar, Key. Tenang. Tenang dulu, ya. Sebenarnya ada apa, Key? Apa yang terjadi dengan kamu dan Shaka? Kok kue nya masih utuh begitu?” tanya Cindy sambil mengusap-usap punggung Keyla.
“Shaka....dia....nggak ada di rumah pas aku pulang kerja kemarin, Cin,” jawab Keyla di tengah isak tangisnya.
“Nggak ada di rumah? Kok bisa? Apa dia diculik Hendry? Tapi kenapa Hendry malah culik dia bukan kamu? Apa untuk dijadikan sandraan kayak di film-film gitu?” tanya Cindy yang sangat tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Keyla melerai pelukan Cindy, lalu menyeka airmatanya yang basah mengenai pipinya.
“Aku nggak tau dia dimana saat ini. Yang jelas waktu aku pulang, dia udah nggak ada di rumah. Keadaan rumah waktu itu masih rapi dan pintu juga terkunci. Kesannya seperti bukan diculik, tapi dia memang pergi,” jawab Keyla mengutarakan pendapatnya.
__ADS_1
“Tapi apa alasan dia pergi?”
“Aku juga nggak tau, Cin. Apa mungkin... dia nggak tahan tinggal sama aku? Dari awal menikah aku selalu menyusahkannya dan membuat dia dalam masalah sampai masuk rumah sakit,” jawab Keyla sambil tertunduk menahan airmatanya yang mau jatuh lagi.
“Key, kamu nggak boleh berpikiran seperti itu! Dia bahkan rela dipukulin hanya untuk membela kamu waktu itu. Dia juga bahkan mau nerusin pernikahan kalian kan? Aku yakin ada sebab lain kalaupun dia pergi,” kata Cindy mencoba membujuk Keyla.
“Tapi buktinya dia pergi kan, Cin? Itu artinya dia nggak mau tinggal sama aku lagi kan? Dia nggak cinta sama aku. Kalau cinta, dia pasti bertahan, bukan pergi tiba-tiba begini,” bantah Keyla dengan emosi yang meluap.
Keyla sungguh kecewa Shaka meninggalkannya begitu saja tanpa ada penjelasan apalagi kata perpisahan. Ia lelah dari semalam terus menerka-nerka apa salah dan dosa yang sehingga Shaka tega pergi begitu saja.
Cindy paham Keyla emosinya sedang tidak stabil saat itu. Ia tak melanjutkan lagi perdebatannya. Tapi ia akan berusaha membantu Keyla mencari Shaka.
“Sabar ya Key, aku juga nggak bisa menebak Shaka dimana sekarang dan apa penyebab dia pergi. Tapi aku akan berusaha bantu cari dia. Kamu sementara di rumah aja nggak usah masuk kerja. Nanti aku yang bilang sama Om ku. Oh ya, ngomong-ngomong kamu tau alamat kantor Hendry? Aku rencananya mau tanya soal Juan tentang ini. Aku yakin. Ini pasti ada hubungannya dengan mereka.”
“Iya, aku tau. Nanti aku whatsapp alamatnya ke nomor kamu. Sekali lagi makasih ya, Cin. Aku udah banyak merepotkan kamu,” ucap Keyla tak enak hati.
“Udah, nggak usah terimakasih terus. Kita ini sahabat, Key. Mesti saling support satu sama lain,” kata Cindy dengan tulus.
Sesampainya disana, Cindy langsung bertemu dengan resepsionis untuk mencari Juan.
“Maaf, apa Mba sudah buat janji sebelumnya dengan Pak Juan?” tanya resepsionis saat Cindy mengatakan ingin bertemu dengan Juan.
“Belum. Saya belum buat janji. Tapi saya ingin bertemu dengan dia sekarang. Ada hal penting yang mau saya bicarakan,” jawab Cindy dengan jujur.
“Maaf, Mba. Pak Juan saat ini sedang sibuk. Sebaiknya Mba buat janji saja dulu. Nanti akan kami hubungi,” kata resepsionis itu lagi.
“Tapi ini penting, Mba. Saya mau ketemu dengan dia sekarang. Atau tolong kasih saya nomor handphone-nya!” kata Cindy sedikit memaksa.
“Maaf, Mba. Saya tidak berani memberikan nomor handphone karyawan disini begitu saja,” tolak resepsionis itu.
“Mba, ini penting sekali! Please, Mba. Tolong saya! Saya harus bertemu dengan dia sekarang. Ada urusan mendesak ini,” paksa Cindy lagi.
Beberapa karyawan yang kebetulan lewat di lobby itu melihat ke arah Cindy saat suaranya mulai meninggi.
__ADS_1
“Mba, begini saja. Katakan saja Mba ada perlu apa, nanti biar saya sampaikan pada Pak Juan.” Resepsionis itu mulai bernegosiasi.
Cindy mulai jengah mendengar penolakan dari resepsionis itu. Mau bertemu Juan saja rasanya susah bukan main.
“Saya mau minta pertanggung jawabannya! Karena dia sudah menghamili saya!” pekik Cindy dengan lantang hingga membuat orang-orang yang ada disana sontak menoleh ke arahnya.
Suasana di lobby itu menjadi hening seketika setelah teriakannya. Semua mata kini tertuju padanya. Cindy dengan cepat langsung menutup mulutnya dengan tangannya. Ia merasa idenya tadi sangat gila.
Ting!
Bunyi pintu lift terbuka. Dari dalam lift keluar lah Juan bersama beberapa karyawan lain disana. Orang-orang di lobby yang tadinya menatap Cindy kini beralih menatap Juan dengan penuh selidik. Melihat Cindy ada di kantornya, tentu Juan langsung menghampirinya.
“Cindy? Kenapa kamu ada disini?” tanya Juan yang tak tau apa-apa.
Cindy terdiam. Ia masih merasa bersalah tadi keceplosan berbicara. Akhirnya malah resepsionis disana yang menjawab pertanyaan Juan.
“Ini Pak, tadi Mba ini datang mencari Pak Juan. Katanya....”
“Katanya apa?” tanya Juan saat melihat resepsionis itu memutuskan perkataannya.
“Katanya Mba Cindy mau meminta pertanggung jawaban karna Bapak sudah menghamilinya.”
Sontak Juan langsung melebarkan matanya mendengar jawaban dari resepsionis itu. Kini matanya beralih menatap Cindy untuk meminta kejelasan. Cindy yang ditatap Juan dengan serius malah memalingkan wajahnya. Tiba-tiba ia merasa takut Juan akan memakinya disana.
“Benar kamu bilang begitu?” tanya Juan pada Cindy.
Cindy bukannya menjawab malah menggaruk keningnya yang tidak gatal. Tiba-tiba Juan malah menarik tangannya dan mengajaknya keluar dari kantor itu.
“Eh, eh, mau kemana?” tanya Cindy ketakutan.
“Mau bertanggung jawab atas kehamilanmu!” jawab Juan dengan penuh penekanan.
Bersambung...
__ADS_1