Cinta Abang Kurir

Cinta Abang Kurir
67. Rasa Yang Berbeda


__ADS_3

Cindy menatap sendu pintu apartemen yang baru saja ditutup oleh pemiliknya. Ia merasa usahanya kesana kemari untuk mencari tau keberadaan Juan hanya sia-sia belaka. Bukannya menyambut dengan ramah, Juan malah bersikap sinis padanya. Bahkan kesannya seolah Juan tak ingin lagi bertemu dengannya.


Sedih? Sudah pasti. Kecewa? Tentu saja. Bingung? Apalagi. Cindy masih tak mengerti mengapa Juan bersikap seperti itu. Padahal terakhir mereka bertemu, semua masih baik-baik saja. Juan masih bersikap ramah seperti biasa.


Cindy kembali terngiang kata-kata Juan yang mengatakan bahwa semuanya sudah berakhir. Jadi, apa selama ini mereka dekat hanya untuk urusan Keyla saja? Tidak bisakah mereka berteman setelah urusan Keyla usai?


Tes.


Tiba-tiba airmata Cindy lolos begitu saja tanpa dapat ia tahan. Hatinya terlalu sakit mendapat perlakuan seperti ini oleh Juan. Ia sendiri tak tau mengapa bisa begitu. Apa mungkin ia mulai merasa suka pada Juan?


Dengan penuh kekecewaan akhirnya Cindy pergi meninggalkan apartemen Juan. Percuma saja ia berada disana kalau ternyata keberadaannya tidak diinginkan.


Juan sendiri ternyata masih memperhatikan Cindy dari kamera interkomnya. Ia melihat betapa sedihnya raut wajah Cindy saat itu. Ia bahkan sempat melihat Cindy meneteskan airmata. Ia sebenarnya tak tega memperlakukan Cindy seperti itu. Tapi ia sadar, ia harus menjaga jarak dengan Cindy. Jangan sampai ia larut terlalu dalam pada perasannya terhadap Cindy. Cindy sudah memiliki kekasih, ia tak mau menjadi orang ketiga di antara mereka.

__ADS_1


***


Cindy pun akhirnya pulang ke rumahnya. Tak disangka, ternyata kekasihnya, Adit, sudah datang ke rumah untuk menjemputnya. Cindy terkejut dengan keberadaan Adit disana. Ia sampai lupa bahwa sudah ada janji dengan Adit.


"Kamu baru pulang? Kamu dari mana saja? Aku dari tadi telfon kamu tapi kamu nggak angkat. Makanya aku langsung datang ke rumah kamu," tanya Adit dengan khawatir.


"Oh...i-iya, maaf. Aku...itu...tadi ke tempat Keyla sebentar. Kamu udah lama nunggu?"


"Barusan kok. Aku pikir kamu lupa hari ini kita ada janji keluar."


"Iya. Aku kan udah telfon kamu tadi pagi. Jangan bilang kamu lupa aku pulang hari ini," tebak Adit.


"Hmm...nggak kok. Aku nggak lupa. Tapi...aku agak capek aja hari ini. Tadi aku temenin Keyla di rumah sakit. Dia masuk rumah sakit. Makanya aku agak capek dan lupa sama janji malam ini," kata Cindy berkilah.

__ADS_1


"Keyla sakit apa? Jadi, kamu nggak mau keluar sama aku malam ini, ya?" tanya Adit to the point.


"Keyla kecapean aja trus pingsan," bohong Cindy. "Hmm...maaf ya, aku rasa hari ini aku benar-benar capek. Kalau keluarnya ditunda besok aja boleh?" Cindy bertanya dengan ragu-ragu. Ia khawatir Adit akan kecewa padanya.


Adit pun mendekat dan mengacak gemas rambut Cindy. "Nggak apa-apa, Sayang. Aku bisa ngerti kok. Keyla kan sahabat baik kamu. Kamu pasti capek banget seharian ngurusin dia. Kita masih bisa pergi besok kok. Aku kan masih disini."


Melihat perlakuan Adit yang sangat baik padanya, Cindy malah merasa bersalah. Ia merasa bersalah telah membohongi Adit. Padahal ia tak mau keluar dengan Adit karena mood nya sedang tidak baik hari ini setelah bertemu dengan Juan.


"Ya udah, aku pulang dulu kalau gitu. Kamu istirahat yang banyak. Besok kita ketemu lagi. I love you, Sayang," ucap Adit dengan lembut.


"Sayang?" ulang Adit saat Cindy hanya diam saja.


"Oh, iya makasih sayang. I love you too," balas Cindy dengan berat hati. Entahlah, dia merasa ada yang berbeda saat mengucapkan kalimat itu saat ini.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2