
Drrrt drrttt drrrt drrttt.
Nicko yang sedang dalam perjalanan mengantar Arshaka pulang ke rumah, mendapat panggilan dari salah satu anak buahnya.
"Hallo."
"Apa? Ke rumah orang tuanya? Baiklah. Kalian awasi terus rumah itu. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, segera laporkan padaku."
Arshaka yang sedang duduk di kursi penumpang mengerutkan keningnya mendengar percakapan sekilas antara Nicko dan sang penelepon. Ia menebak-nebak apakah itu ada hubungannya dengan Keyla?
"Tuan, tadi ada salah satu anak buah yang melaporkan kalau Nona Keyla pulang ke rumah orang tuanya sore ini," kata Nicko.
Arshaka yang tadinya duduk bersandar kini menegakkan duduknya.
"Pulang ke rumah orang tuanya? Kenapa? Apa terjadi sesuatu disana?" tanya Arshaka dengan cemas.
"Untuk itu saya belum tau, Tuan. Tapi saya sudah meminta beberapa anak buah kita untuk mengawasi rumah orang tua Nona Keyla," jawab Nicko yang belum membuat Arshaka tenang.
"Aku jadi risau kalau begini. Kalian awasi terus rumah itu. Dan kabari padaku apakah Keyla menginap disana malam ini atau pulang ke rumah."
"Baik, Tuan."
Arshaka kembali menyandarkan punggungnya sambil memijit pangkal hidungnya yang terasa pusing. Ia sangat yakin, ini pasti ada hubungannya dengan kedatangan ibu Keyla tadi pagi. Tapi apa yang wanita itu bicarakan sampai Keyla dengan mudah mau pulang ke rumah orang tuanya begitu saja?
***
Sementara itu Keyla yang pulang dengan diantar taxi sudah sampai di rumah orang tuanya. Yang pertama kali ia cari saat sampai di rumah adalah ayahnya. Keyla langsung saja pergi ke kamar orang tuanya untuk mengecek kondisi sang ayah.
Deg.
Keyla tertegun. Saat masuk ke kamar, ayahnya tampak sedang berbaring dengan kondisi yang lemah. Kedua matanya tertutup rapat. Mungkin saja beliau sedang tidur saat ini.
Keyla pun mendekat dan duduk di tepi ranjang. Keyla mengambil tangan kanan sang ayah, lalu menciumnya dengan penuh takzim.
"Papa, Key udah pulang," ucap Keyla dengan suara pelan agar tak mengganggu istirahat sang ayah. Matanya kini sudah berkaca-kaca. Rasanya memang sudah lama sekali ia tak bertemu langsung dengan ayahnya.
__ADS_1
Ayahnya yang tadi memejamkan mata, tampak mulai membuka matanya dengan perlahan. Saat matanya terbuka sempurna, ia sangat senang karena yang pertama ia lihat adalah wajah putri semata wayangnya.
"Key..." panggil ayahnya dengan lirih.
"Iya, Pa. Ini Keyla. Keyla kangen banget sama Papa," ucap Keyla lalu berhamburan memeluk ayahnya yang masih dalam keadaan berbaring. Rasanya sudah lama ia merindukan ayahnya itu.
"Kamu ingat jalan pulang juga," kata sang ayah yang juga sudah lama merindukan anaknya.
"Maafin Key ya, Pa. Key baru tau dari Mama tadi pagi kalau Papa sakit," ucap Keyla dengan jujur.
Keyla pun melepas pelukannya. Ia kembali duduk melihat ke arah ayahnya.
"Pa, kata Mama, Papa sakit. Papa udah berapa hari sakit kayak gini? Papa sakit apa, Pa?" tanya Keyla.
"Papamu sakit memikirkan perusahaannya yang hampir bangkrut." Bukan ayahnya yang menjawab, malah ibunya yang baru masuk ke kamar yang menjawab pertanyaan Keyla.
"Papamu sudah seminggu lebih seperti ini. Kamu nggak tau kan? Kalau Hendry nggak kasih tau Mama dimana kamu tinggal, mungkin kamu nggak akan pernah tau bagaimana kondisi Papa kamu," tambah ibu tirinya itu dengan ketus.
Keyla menghela nafas dengan berat mendengar perkataan ibu tirinya. Ia tau, wanita itu sedang menjawab sekaligus menyindirnya.
"Kamu sudah lihat sendiri, kan? Mama nggak bohong soal kondisi papa kamu. Papa kamu begini karena sedang banyak masalah di perusahaannya. Tiap hari supplier menagih hutang, belum lagi kewajiban membayar karyawan. Kalau tidak ada proyek berjalan, uang darimana untuk membayar semua itu?!" Seolah telah lama menyimpan uneg-unegnya, ibu tirinya langsung saja memborbardir Keyla dengan serangan pedas dari mulutnya secara bertubi-tubi.
"Nggak bisa nanti-nanti, Pa. Dia sudah dewasa, dia harus tau apa yang sedang terjadi saat ini. Sudah saatnya dia mengabdikan dirinya untuk keluarga. Tidak susah. Cukup dengan menikah dengan Hendry saja semua masalah ini bisa teratasi."
Deg.
Keyla terkejut. Lagi-lagi ibunya membahas tentang Hendry.
"Ma, please, Ma. Keyla harus berapa kali bilang ke Mama kalau saat ini Keyla sudah jadi istri sahnya Shaka. Nggak mungkin Keyla punya dua suami, Ma," tolak Keyla dengan sabar.
"Siapa yang suruh kamu punya dua suami? Kamu kan bisa cerai sama suami kamu itu lalu menikah dengan Hendry. Gampang kan? Nggak ada yang bisa kamu harapkan dari suami kamu itu, Key!" hardik sang ibu tanpa memikirkan perasaan Keyla.
Keyla dan ayahnya sampai geleng-geleng kepala mendengar ucapan ibunya barusan. Sebegitu remehkah ia memandang Shaka yang hanya berprofesi sebagai seorang kurir pengantar barang?
"Mama bilang Keyla udah dewasa kan? Makanya Keyla berhak menentukan pasangan hidup Keyla sendiri. Jadi, Keyla nggak akan mau bercerai sama Shaka apapun alasannya. Dia memang cuma seorang kurir, Ma. Dia memang nggak punya mobil semewah Hendry, nggak punya rumah besar sebesar rumah Hendry, dia juga nggak bisa kasih Keyla uang berpuluh-puluh juta untuk belanja, tapi dia punya hati yang baik yang tidak dimiliki Hendry. Dia selalu menghormati wanita tidak seperti Hendry yang justru setiap hari bergonta-ganti wanita hanya untuk pemuas nafsunya! Dan sekarang...Mama mau menikahkan Keyla dengan laki-laki seperti itu? Nggak, Ma. Sampai kapanpun Keyla nggak mau!" tolak Keyla dengan tegas.
__ADS_1
"Dia akan berubah setelah menikah dengan kamu Keyla!" bentak ibunya dengan suara tinggi. Ia geram pada Keyla yang dari tadi selalu menentangnya.
"Nggak mungkin, Ma. Merubah kebiasaan seseorang yang sudah mendarah daging itu nggak semudah membalikkan telapak tangan." Keyla masih tetap pada pendiriannya.
"Jadi kamu tega melihat Papa kamu bangkrut sampai sakit-sakitan begini?"
"Keyla akan jaga papa. Kalau perlu Keyla bawa papa pulang ke rumah Keyla."
"Tidak! Tidak akan ada yang boleh pergi kemana-mana! Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus tetap menikahi Hendry dan perusahaan papamu harus tetap kembali seperti semula."
"Apa maksud mama ngomong begitu?" tanya Keyla yang sudah mulai curiga dengan ibunya. Sepertinya ada hal buruk yang sudah ibunya itu rencanakan.
"Intinya kamu atau papamu tidak akan ada yang pergi dari rumah ini. Kamu harus kembali tinggal disini sampai kamu resmi menikah dengan Hendry," jawab ibunya yang membuat Keyla sangat terkejut.
"Keyla harus pulang ke rumah suami Keyla, Ma!" bantah Keyla.
"Tidak! Sekali tidak tetap tidak!"
"Bambang... Darto...." teriak ibunya memanggil dua orang pria bertubuh besar yang dari tadi menunggu di depan kamar.
"Siap, Nyonya!" sahut kedua pria itu yang sudah masuk ke dalam kamar.
"Kalian berdua saya tugaskan mengawasi Keyla agar tidak kabur dari rumah ini. Kalau sampai dia berhasil kabur, kalian terima sendiri hukumannya dari Hendry."
"Siap, Nyonya!"
"Ma, apa-apaan ini? Please Ma, jangan lakukan ini sama Keyla!" pinta Keyla dengan wajah cemasnya.
"Mama tidak peduli! Ini jalan terbaik untuk kita semua."
Setelah mengatakan itu, Monica pun pergi meninggalkan kamarnya tanpa mempedulikan teriakan dari Keyla. Sementara kedua pria tadi sudah mulai mengawasi Keyla dari depan pintu kamar.
.
Bersambung...
__ADS_1
.
Hai semua 🤗 Terimakasih atas segala dukungannya. Jangan lupa tetap like dan vote ya 🤗 Selamat membaca 💙