Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 10. Bertemu rival lama


__ADS_3

Hari minggu seperti biasa, Erick akan sibuk berkeliling dari satu mall ke mall lainnya. Untuk mengunjungi outlet-outlet boba miliknya. Sudah setahun ini Erick membangun usaha kecil-kecilan. Membuka beberapa outlet minuman boba dibeberapa mall dengan nama 'BOBA BEIB'.


Nama itu tercetus dari karyawan pertama yang dia rekrut yaitu Neta. Remaja yang terpaksa putus sekolah, karna sudah tidak punya orang tua. Dan hidup menumpang dengan pamannya yang hanya seorang kuli panggul di pasar.


Erick mengenal Neta tahun lalu, saat menolong gadis remaja tujuh belas tahun itu dari dua orang preman yang sedang mengganggunya. Ketika hendak pulang, setelah selesai bekerja di outlet boba milik tetangganya.


Tidak berselang lama, mereka bertemu kembali saat gadis itu sedang mencari pekerjaan. Karena tetangganya sudah menutup outletnya. Dari situlah Erick mulai memikirkan ide untuk membangun usahanya sendiri. Usaha kecil-kecilan yaitu berjualan minuman kekinian itu.


Berbekal pengalaman Neta, yang cukup lama meracik berbagai varian rasa minuman boba itu. Erick memulai bisnis kecilnya sendiri tanpa campur tangan dan nama besar keluarganya.


Erick membuka outlet minuman boba dengan konsep mini cafe disebuah mall. Dengan sebuah meja bartender dan empat set kursi dan meja untuk pengunjung.


Namun meja untuk pengunjung dengan pelataran mall tidak bersekat. Jadi pengunjung mall bisa duduk disana tanpa harus membeli. Tapi pada kenyataannya setelah duduk gak mungkin gak beli.


Bisnisnya itu berkembang, hingga sekarang memiliki tujuh cabang yang tersebar di tujuh mall berbeda. Bukan hanya Delapan outlet minuman boba, tapi baru-baru ini Erick juga membuka outlet ice cream boba. Lagi-lagi ide itu muncul dari Neta.


Setelah satu tahun menggeluti bisnis ini bersama Neta sebagai kaki tangannya, Erick cukup puas dengan perkembangan bisnis kecilnya itu.


" Net.... " Panggil Erick


" Iya kak.... "


Neta langsung menghampiri bosnya, yang sudah seperti seorang kakak baginya.


" Gimana minggu ini penjualan kita?"


Tanya Erick pada orang kepercayaannya itu. Neta pun memberikan laporan dan hasil penjualan minggu ini pada bosnya.


" Penjualan 'BOBA BEIB' agak menurun sedikit..... Sedikit aja kok gak banyak. "


Jawab Neta dengan menunjukkan ujung jari telunjuknya dengan ujung jempolnya. Dengan ekspresi wajah centilnya yang menyipitkan sebelah matanya.


" Tapi.... Ice cream honey boba kita di lantai atas meningkat kak penjualannya dari bulan lalu. kerreennn...kan......? "


Lanjutnya berucap dengan bangga. Erick mengangguk-angguk sambil pandangannya fokus pada laporan di tangannya.


" Bagus..... Lumayan bagus."


Erick tersenyum puas dengan hasil penjualan outlet pertamanya.


" Oya Net. Kakak minta tolong ya..... Hari ini kamu keliling ambil setoran sama laporan penjualan yang lainnya."


" Hah... lagi? Perasaan minggu kemarin Neta, minggu lalu Neta. Masa ini Neta lagi." Jawab Neta sambil mendengus kesal.


" Enak banget ya jadi bos, tinggal nyuruh-nyuruh aja."


Neta bergumam saat berbalik ingin kembali ke meja bartender.


" Apa... ? Ngedumel ...? Ngeluh....?"


Ucap Erick berakting kesal mendengar keluhan Neta. Neta pun berbalik dengan memanyunkan bibirnya.


" Mau dapat bonus gak kamu bulan ini....? "


Ucap Erick sambil mengibas-ngibaskan amplop putih di tangannya, dengan wajah sengoknya.


" Kalo gak mau.... ya udah." Sambungnya sambil memasukkan kembali amplop itu kedalam tas kecilnya.


" Eh... Iya. Mau... mau... mau.... "


Dengan cepat Neta menarik tangan Erick yang hendak memasukkan amplop putih itu kembali. Neta langsung mengambil amplop itu, membukanya lalu menghitung uang di dalamnya.


" Ini mah gaji Neta..... Mana bonus nya?"


Tanya Neta kesal, setelah menghitung jumlah uangnya sesuai gajinya saja.


" Emang itu gaji kamu. Kan kakak tadi cuma nanya. kamu mau bonus gak? kalo gak mau ya gak papa. Siapa yang bilang itu bonus buat kamu. "


Erick terkekeh melihat ekspresi Neta yang kesal. Bibirnya maju hingga beberapa centi.


" Dasar mata duitan. Duit aja cepet......"


Erick menekan sedikit kepala Neta yang tertutup hijab, sambil berjalan melewatinya. Erick melangkah ke arah meja bartender, menghampiri karyawannya yang lain dan memberikan gajinya bulan ini.

__ADS_1


Setelah selesai dengan outlet 'Boba Beib', Erick melangkah menuju eskalator untuk naik menuju outlet 'ice cream honey boba' nya.


Meski dia sudah mendapatkan laporan penjualannya tadi dari Neta. Tapi dia rasa dia perlu mengunjungi outletnya itu. Sekedar berbincang dan mendengar apa ada keluhan dari karyawannya. Dan juga untuk menyerahkan gaji mereka bulan ini secara langsung.


Dalam perjalanan menuju eskalator, Erick menangkap sosok yang dikenalnya dan baru-baru ini dia temui.


" Rendra..... "


Gumamnya melihat Rendra dari kejauhan, bergandengan tangan mesra dengan seorang gadis memakai baju dengan warna yang sama.


" Itu bocah.... Udah pacar-pacaran aja."


Gumam Erick lagi, sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat sepasang kekasih itu dari belakang. Kemudian seketika ekspresinya berubah.


' Tapi tunggu. Dia kan masih kuliah. Kalo inget kakaknya yang sok idealis itu, rasanya gak mungkin dia di ijinin kakaknya pacar-pacaran sebelum lulus juga. Tapi ya.... gak tau juga sih. Siapa tau kakaknya itu berubah pikiran pas kuliah. Kan masuk tahun ketiga kuliah, udah lose contact sama Yoga. Akhh.... Tapi kayaknya gak mungkin deh. '


Erick berdialog sendiri dalam benaknya.


" Atau jangan-jangan..... Rendra diem-diem pacaran dibelakang kakaknya. Wah....... Bisa ngamuk tuh si Biqha kalo tau adiknya pacaran sembunyi-sembunyi. Khemm.... Mesti di nasehati nih si Rendra."


Erick memperhatikan mereka lagi yang semakin menjauh. Mungkin lain kali Erick akan menemui Rendra di tempat kerjanya dan mencoba bicara denganya.


Kemudian Erick berbalik bergegas melangkah lagi menuju eskalator di depan. Namun sebelum sampai eskalator, Erick kembali teringat sosok gadis yang menggandeng tangan Rendra itu.


Tubuhnya yang mungil, tingginya hanya sebatas bahu Rendra. Dengan hijab pasmina yang di ikat kebelakang, justru mengingatkannya akan sosok kakak dari Rendra sendiri.


" Jangan-jangan itu malah si Biqha kakaknya. "


Erick kembali berbalik arah, karena ingin memastikan. Saat dia tidak mendapati mereka lagi, Erick melangkahkan kakinya cepat. Tak lama kemudian Erick menemukan mereka. Dan benar saja dugaannya. Gadis itu adalah Biqha teman sekaligus rivalnya dulu.


Erick melihat wajah Biqha dari samping, saat gadis itu sedang mencubit kedua sisi pipi adiknya. Melihat Biqha memainkan pipi adiknya kekanan dan kekiri, sambil menggoda adiknya. Erick bahkan ikut tersenyum lucu melihat tingkah kakak adik itu.


" Dasar cewek aneh. Masa godain adeknya begitu sih..... "


Erick menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Erick sempat berpikir ingin menghampiri mereka. Sudah lama tidak bertemu, ada rasa ingin menyapa rivalnya itu. Tapi urung dia lakukan, mengingat Biqha dulu selalu sinis padanya.


' Kalo...... dia udah gak sewot lagi sama gue. Kalo dia ternyata masih dendem aja sama gue Gimana? Yang ada nanti malah dia jadi gak happy lagi, menikmati waktu sama adeknya gara-gara ketemu gue. Ya udah lah biarin aja."


Erick pun kembali berbalik arah menjauh dari mereka.


" Kak Erick... " gumamnya.


Biqha melihat adiknya bergumam. Dia mengangkat kepalanya bertanya pada sang adik.


" Tadi Rendra kayak liat kak Erick disana. " Rendra menunjuk ke arah eskalator.


" Herhikh shapphah? " (Erick siapa?)


Biqha menatap adiknya bingung, kemudian kembali berjalan ke depan.


" Kak Erick... Temen mbak yang dulu sering datang ke rumah, sama temennya yang ngebet sama mbak Biqha itu." Jelas Rendra mencoba mengingatkan Biqha.


" O... iya. Renda belum cerita ya sama mbak, kalo kemarin itu Rendra ketemu sama kak Erick di tempat kerja. Dia juga titip salam sama mbak."


Rendra menjelaskan kejadian beberapa hari yang lalu saat ia bertemu dengan Erick.


" Wha lhaikhum shalhamm. " ( wa alaikum salam)


Meski Biqha tidak terlalu suka dengan orang yang dibicarakan Rendra, tapi kalau salam wajib di jawab.


" Kak Erick sama temennya itu dulu sempet nyari-nyari kita loh mbak. Waktu mereka pulang buat liburan disini. Tapi kita udah pindah." Sambung Rendra lagi.


Biqha hanya manggut-manggut menanggapinya.


Mereka melanjutkan tujuan untuk berburu baju kerja Biqha. Dan Rendra juga berniat ingin mencari hadiah untuk sang kakak. Saat kakaknya berburu blus dan kemeja, Rendra membuat alasan ingin ke toilet. Alasan itu Rendra pergunakan untuk pergi ke toko sepatu.


Rendra akhirnya memutuskan mengambil beberapa ratus ribu dari tabungannya di ATM,untuk membelikan sepatu kakaknya. Sama seperti yang kakaknya lakukan padanya dulu saat akan mulai bekerja.


Rendra memilih sepatu heels berwarna peach, dengan heels yang tidak terlalu tinggi namun sangat elegan.


Awalnya Rendra sudah lesu duluan melihat harga sepatu itu. Tapi setelah diberitau oleh pegawai toko tersebut, bahwa hari ini ada diskon khusus edisi aniversary toko mereka. Rendra langsung sumringah. Akhirnya sepatu itu ia dapatkan.


Setelahnya Rendra langsung menghampiri kakaknya kembali. Saat dia sampai, dia juga melihat kakaknya telah selesai dan sedang membayar belanjaannya di kasir.

__ADS_1


" Khathannyah khe thoilhet... Thaunyhah bhelhanjhah jhughah. Dhashar... " ( Katanya ke toilet.... Taunya belanja juga. Dasar...)


Ucap Biqha saat melihat tas belanja yang ditenteng adiknya. Rendra hanya cengengesan sambil memegang tengkuknya.


Selesai kakaknya membayar, Rendra langsung menenteng tas belanjaan kakaknya. Dan Biqha kembali menggandeng lengan adiknya. Lalu mereka pergi meninggalkan toko tersebut.


" Mau kemana lagi mbak? "


Tanya Rendra melihat belanjaan kakaknya sudah cukup banyak. Jadi tidak mungkin kakaknya akan belanja lagi.


" Charhih mhakhan yhukh....!" ( Cari makan yuk...! )


Jawab Biqha yang langsung dibalas anggukan mantap dari Rendra. Karena berhubung waktu juga menunjukkan sudah saatnya makan siang.


Ketika sedang mencari-cari tempat makan, Rendra melihat Erick yang baru saja menuruni eskalator dari lantai atas. Dan dia langsung menyapanya.


" Kak Erick.... !" Panggilnya.


Erick pun menoleh. Melihat Rendra melambaikan tangan padanya, dia pun menghampiri mereka.


" Hei...... Lagi belanja? " Tanyanya berbasa-basi.


Kalau Rendra mengangguk semangat, maka lain hal dengan Biqha yang hanya mengangguk malas.


" Hai Bi.... Apa kabar lo? " Erick mencoba berbasa-basi lagi, sambil mengangkat tangannya menyapa Biqha.


" Bhaikh... " Jawabnya singkat.


" Banyak banget belanjaanya?" Erick bertanya sambil memperhatikan bawaan Rendra.


" Iya kak. Ini mbak Biqha baru aja keterima kerja jadi.....kita belanja deh buat keperluannya." Jawab Rendra.


" Oh..... kerja dimana Bi ? " Tanya Erick pada Biqha.


Biqha terbelalak, bingung mau jawab apa.


' Masa aku bilang sama dia, kalau aku kerja di kantornya Yoga. Bisa-bisa dia ngetawain aku. Karna dia pasti menduga kalau aku mengandalkan pengaruh Yoga sebagai CEO disana. Yah... Walaupun itu benar. Tapi kan tensin juga kalo sampe si Erick tau. 'Biqha bermonolog dalam hatinya.


" Mhau thau hadjah."( mau tau aja.)


" Yee..... Masih sensian aja sih lo. Dah lama gak ketemu juga."


Jawab Erick agak kesal dengan sikap Biqha. Rendra hanya senyum-senyum melihat kedua orang itu. Entah kenapa walau kakaknya dan Erick selalu begitu, tapi Rendra merasa mereka serasi.


" Kak Erick ngapain disini? "


Tanya Rendra yang kemudian dijawab oleh Erick dengan apa adanya. Kalau dia sedang mengecek outletnya sekalian mengantar gaji karyawannnya.


" Wah..... Kak Erick hebat ya. Udah kaya masih mau punya usaha kecil-kecilan lagi."


Erick tersenyum miris seperti merasa tersindir oleh ucapan Rendra.


Melihat raut wajah Erick, Biqha merasa ada yang aneh. Tapi belum sempat Biqha menebak. Erick sudah mengajak mereka singgah ke outletnya.


" Kalian mau kemana lagi sekarang? " Tanya Erick, yang langsung dijawab cepat oleh Rendra.


" Mau cari makan sih kak. Udah laper, ples haus juga dari tadi keliling-keliling."


" Mampir ke tempat kakak aja dulu yuk ! Di sebelah tempat kakak, juga ada tempat makan enak kok."


Biqha menyikut pinggang adiknya karena merasa gak nyaman.


" Apa sih mbak? "


Tanya Rendra sambil mengelus pinggangnya yang baru disikut si kakak.


" Kenapa sih Bi....? Lo masih ada dendam ama gue? Gitu amat ekspresinya..... Kenapa? gara-gara masalah soal Yoga dulu? Atau gara-gara gue ngerebut posisi lo sebagai juara umum? "


Tanya Erick mencoba ingin menyelesaikan masalah, yang menurutnya tidak perlu di ingat-ingat lagi. Karena sudah berlalu lama sekali.


Dan sebenarnya Biqha pun tidak mempermasalahkan apapun lagi. Tapi karena dulu, Biqha merasa sikap Erick padanya selalu menyebalkan dan membuatnya kesal. Jadi sampai sekarang perasaan itu masih terbawa.


" Gak boleh tau mbak.... nyimpen dendam. Dosa. " Ucap Rendra.

__ADS_1


" Tuh dengerin adiknya ngomong. "


Lagi, mereka kompak menyudutkan Biqha. Mereka tidak sadar sikap mereka yang kompak ini, juga jadi salah satu pemicu Biqha makin kesel sama Erick. Karena dia merasa tersisihkan sebagai kakak kandungnya Rendra. Karna adiknya itu selalu lebih berpihak pada Erick. Meskipun sebenarnya nya itu hanya perasaan Biqha saja.


__ADS_2