Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 29. Kejutan.....


__ADS_3

Sebulan berlalu dengan penuh rasa bahagia bagi Yoga. Karena sejak jadian, Yoga bisa mengantar Biqha pulang setiap harinya dengan cara yang sama seperti waktu itu. Hari ini hatinya semakin berbunga-bunga, karena hari ini adalah ulang tahunnya ke 26 tahun.


Terlebih subuh tadi Biqha sudah membangunkannya dengan melakukan panggilan video, memberi kejutan melalui telepon. Dengan memperlihatkan cake cantik buatannya special untuk ulang tahun Yoga.


Biqha menyalakan lilin di atas cake tersebut, lalu mereka bernyanyi lagu selamat ulang tahun dan meniup lilinnya bersama. Hanya sesi potong kue yang tidak bisa mereka lakukan lewat panggilang video tersebut. Karena itu mereka memutuskan akan melakukannya setelah pulang kerja nanti.


Sampai di kantor pun banyak ucapan selamat yang Yoga dapatkan, dari beberapa karyawan terdekatnya. Termasuk Erick sahabatnya yang sudah mendatangi ruangannya pagi-pagi sekali.


" Kadonya mana? " Tanya Yoga setelah mendapat ucapan selamat dari Erick.


" Udah tua masih ngarep kado? " Erick malah balik bertanya sambil tertawa kecil.


" Enak aja tua.... Lo yang lebih tua. Kan lo yang lahir lebih dulu. " Ucap Yoga tak terima.


" Selisih dua bulan doang. "


" Ngapain kesini pagi-pagi? " Tanya Yoga lagi.


" Ya.... cuma mau ucapin happy birthday buat bos gue. "


" Udah kan..... sono balik kerja! "


Perintahnya pada Erick, kemudian mulai membuka berkas yang ada di atas meja kerjanya.


" By the way...., beberapa hari ini gue liat lo pulang selalu ke arah yang berlawanan. Lo kemana? "


Erick berjalan mendekati meja kerja bosnya itu. Sementara Yoga terpaku mendengar pertanyaan Erick, dengan terus menunduk menatap pada berkas di hadapannya. Yoga tidak menyangka Erick akan memperhatikannya. Secepatnya Yoga berusaha mengendalikan diri, menatap Erick agar dia tidak curiga.


" Gue ada urusan di satu tempat, makanya gue gak langsung pulang."


Yoga berusaha menjawab setenang mungkin, agar Erick tidak menaruh curiga. Karena dia selalu pulang kearah yang berlawanan karena harus mengantar Biqha pulang lebih dulu.


" Urusan apa? " Tanya Erick lagi.


" Ada deh.... Kepo banget sih lo. Sono kerja !"


Yoga menggerakkan tangannya sebagai isyarat perintah untuk Erick keluar, namun dengan menyungging senyum tipis di wajahnya. Erick menuruti perintah atasanya dengan senyum yang juga terukir di bibirnya. Erick tidak menaruh curiga sama sekali pada Yoga.


Dan karena jam kerja sudah di mulai, Erick berjalan mendekati pintu. Namun sebelum dia membuka handle pintu ruangan tersebut, dia berbalik.


" Ga'...."


Yoga menoleh mendengar panggilan dari Erick. Kemudian Erick mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan melemparkannya pada Yoga. Dengan cepat Yoga menangkapnya, dan melihat benda di tangannya itu lalu tersenyum.


" Kado buat lo. " Terang Erick.


" Dasar bocah. Lo pikir gue anak kecil dikasih kado permen karet. Sialan.... "


Erick pun tertawa mendengarnya. Lalu segera membuka pintu dan hendak melangkah pergi. Namun kembali terhenti karena mengingat sesuatu.


" Inget.... abis makan permen karet jangan ditempelin di bawah meja ato bawah kursi ya.... Ini kantor ! "


Setelah itu Erick baru melangkah pergi. Mengabaikan Yoga yang setengah berteriak padanya.


" Elo yang punya kebiasaan begitu bukan gue. Enak aja. "


Sekali lagi dia melihat permen karet pemberian sahabatnya itu. Yoga tertawa lucu sambil menggelengkan kepalanya. Erick memang selalu memberikan hadiah ulang tahun lain daripada yang lain. Dan Erick tidak pernah melupakan hari ulang tahunya.


" Thanks bro.... Gue harap lo akan selamanya jadi sahabat gue yang akan selalu mendukung keputusan gue Rick. " Gumam Yoga sendiri dalam ruangannya.


***

__ADS_1


Saat jam kerja telah usai, seperti biasa Yoga dan Biqha janjian bertemu di suatu tempat. Kemudian pulang bersama.


" Khenhapha thibha-thibha mherhubhah themphat jhanjhihan? " (Kenapa tiba-tiba merubah tempat janjian?) Tanya Biqha begitu memasuki mobil.


" Tadi pagi Erick nyamperin aku ke ruangan, buat ucapin selamat. Terus dia juga nanya, kenapa beberapa hari ini aku selalu pulang ke arah yang berlawanan dari rumah?! Ternyata selama ini dia liat mobilku keluar kantor ke arah yang berbeda. Makanya daripada nanti dia curiga gara-gara liat aku pergi ke arah yang berbeda terus, jadi aku pikir mulai sekarang lebih baik kita ketemunya di tempat yang searah dengan rumahku. Gak papa ya sayang....! " Jelas Yoga.


Biqha tersenyum tipis dan mengangguk. Namun sekejap kemudian senyumnya hilang dan berganti sendu.


" Gha'.... Shamphai khaphan khitha mhahu khayhakh ghinhi therhus? " (Ga'.... Sampai kapan kita makan kayak gini terus?)


Tiba-tiba Biqha jadi merasa tidak nyaman dengan hubungan diam-diam mereka. Seperti ada sesuatu yang salah diantara mereka.


Yoga yang mendengar pertanyaan dengan nada tersirat kesedihan itu pun menatap sendu pada Biqha. Dengan cepat Yoga menggenggam tangan Biqha, mencoba menenangkan.


" Maaf sayang...... Bukan maksudku untuk menyembunyikan hubungan kita selamanya. Tolong kamu jangan salah paham ya....! Aku...Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk mengungkap hubungan kita. "


" Hakhu thahu. Thaphi Ehrhik hithu shahabhat khamhu. Hapha ghakh shebhaiknyhah khitha jhujhur hadjha shamha dhia? Dhan khenhapha khamhu khelhihathan thakhut bhanghet khalhau Ehrhik thahu thenthang khitha? " ( Aku tau. Tapi Erick itu sahabat kamu. Apa gak sebaiknya kita jujur aja sama dia? Dan kenapa kamu keliatan takut banget kalau Erick tau tentang kita?) Tanya Biqha lagi.


Yoga terdiam. Dia mulai salah tingkah karena kecemasannya sendiri.


" Bu.... Bukan gitu sayang. Nanti pasti aku jelasin kok ke Erick tentang hubungan kita. Tapi gak sekarang.... Belum pas aja momentnya. Kamu jangan berpikiran aneh-aneh ya...! Percaya sama aku sayang....! "


Yoga mengangkat tangan Biqha dan menempelkan ke dadanya. Dengan tatapan lekat penuh cinta, Yoga berusaha meyakinkan dan menenangkan perasaan Biqha. Sampai Yoga melihat senyum tipis terukir dari bibir kekasih hatinya itu, baru dia bisa merasa lega.


" Sekarang kita pulang ya..... Aku udah gak sabar mau nyicip cake cantik buatan kamu. "


Yoga begitu bersemangat mengendarai mobil menuju kontrakkan Biqha. Sedangkan Biqha hanya tersenyum melihat rona bahagia diwajah Yoga. Sebisa mungkin Yoga berusaha mengalihkan pembicaraan, agar tidak perlu ada lagi pembahasan tentang hal yang membuatnya sakit kepala.


" Atau gimana kalau kita ke butik dulu cari gaun untuk kamu sayang ?! Aku ingin kamu tampil beda malam ini untukku. "


Yoga sudah merencanakan makan malam romantis di sebuah restoran mewah, untuk merayakan ulang tahunnya berdua saja dengan Biqha. Dia ingin malam ini menjadi malam yang sangat spesial.


" Ghakh hushah. Hakhu phunyhah khokh ghaun yhang bhaghus, mheskhiphun ghakh mhahal. Thaphi chukhup phanthes dhan therlhihat bhaghus khokh. " ( Gak usah. Aku punya kok gaun yang bagus, meskipun gak mahal. Tapi cukup pantes dan keliatan bagus kok.)


" Maaf sayang, aku gak bermaksud mengatakan kalau kamu...... "


Yoga menggantung ucapannya, karena tidak mau sampai nanti menyinggung perasaan Biqha.


" Aku cuma ingin kamu terlihat lebih memukau malam ini sayang. Karena aku ingin melewati malam ini berdua sama kamu."


Biqha hanya menanggapinya dengan anggukan kecil disertai senyuman di bibirnya. Tidak banyak yang mereka bicarakan dalam perjalanan pulang kali ini. Selain candaan dan rayuan dari Yoga. Agar Biqha tidak kepikiran dengan pembahasan mereka yang sebelumnya.


Sampai di depan gang kontrakannya, Biqha meminta Yoga menunggu di mobil saja. Menunggu Biqha mengambil cake spesial buatannya untuk Yoga bawa pulang, dan di nikmati bersama keluarganya nanti.


Beberapa menit kemudian, Biqha kembali dengan kotak dalam paperbag.


" Makasih sayang.... cakenya cantik banget, kayak yang buat. "


Yoga mengamati cake ditangannya dengan penuh kekaguman juga rasa haru dan bangga. Untuk pertama kali dalam hidupnya, mendapatkan cake ulang tahun spesial buatan dari kekasih hatinya. Sungguh sangat membahagiakan.


Biqha tersipu mendapati pujian dari pria yang sudah menempati hatinya itu. Saat Biqha melihat Yoga ingin mengambil sedikit cake tersebut, Biqha melarangnya.


" Jhanghan..... " ( Jangan....)


" Kenapa sayang...? Aku pengen suapin buat kamu. "


" Jhanghan, nhanthi bhenthuknyhah jhadhi ghakh bhaghus lhaghi. Mhasha khamhu bhawha phulhang khekh yhang hudhah bherhanthakhan bhenthuknyha." ( Jangan, nanti bentuknya jadi gak bagus lagi. Masa kamu bawa pulang cake yang udah berantakan bentuknya.)


" Tapi harusnya kan aku suapin potongan kue pertama buat kamu. "


" Ghakh hushah. Khamhu nhikmhathi hadjha shamha ohrhang thua khamhu dhi rhumhah nhanthi. Hakhu khan bhuhat hithu unthuk khamhu. " ( Gak usah. Kamu nikmati aja sama orang tua kamu di rumah nanti. Aku kan buat itu untuk kamu.)

__ADS_1


Yoga kembali meraih tangan Biqha menggenggamnya dengan erat.


" Makasih sayang. Aku bakal bilang ke mama dan papa dengan bangga, kalau ini adalah cake buatan calon menantu mereka yang cantik. " Ucap Yoga dengan senyum menggodanya.


Pipi Biqha langsung merona dengan perkataan Yoga barusan. Yoga pun semakin tersenyum lebar melihat Biqha yang tersipu malu. Baginya Biqha terlihat sangat menggemaskan saat tersipu seperti itu.


" Ya udah aku pulang ya...! Kamu siap-siap dandan yang cantik. Nanti aku balik lagi buat jemput kamu. "


Biqha tersenyum lalu mengaggukkan kepalanya. Kemudian dia keluar dari mobil Yoga. Setelah itu Yoga pun melajukan mobilnya berlalu menjauh dari Biqha.


***


Sampai di rumah, Yoga hendak bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Namun saat dia mulai menaiki anak tangga, suara bass khas pria dewasa membuatnya berhenti.


" Kamu baru pulang? " Tanya papa Adi pada putranya.


" Iya pa....."


" Ya sudah. Kamu cepat siap-siap nanti kita makan malam bersama keluarga Alin. "


Perkataan papa Adi membuat Yoga terperanga. Beberapa detik kemudian Yoga berbalik arah dan menghampiri ayahnya yang duduk di sofa.


" Harus malam ini pa? Kenapa papa gak bilang dulu sama Yoga? "


" Papa sudah hubungi kamu dari tadi, tapi kamu gak angkat-angkat. Memangnya kenapa? " Tanya papa Adi.


" Yoga gak bisa Pa kalau malam ini. Yoga udah ada janji. " Ucap Yoga yang mulai panik.


" Memangnya kamu janji sama siapa? lebih baik batalkan saja janji kamu itu. "


" Tapi pa.... "


Dengan cepat Yoga ingin membantah perintah sang ayah, namun dengan cepat pula sang ayah menimpali perkataannya. Bahkan sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.


" Yoga dengar..... Mereka tau ini hari ulang tahunmu. Karena itu mereka dengan sengaja mengundang kita makan malam bersama. Karena Alina masih berada di Paris, jadi mereka ingin menggantikan Alina untuk memberikan sesuatu yang spesial untukmu. "


Penjelasan papa Adi membuat Yoga frustasi. Yoga bingung harus membuat alasan apa agar bisa menghindarinya. Yoga tidak ingin rencana makan malam romantisnya dengan Biqha gagal, namun sepertinya sulit baginya menghindari rencana makan malam bersama kedua orang tua Alina.


" Sudah.... jangan terlalu banyak berpikir. Batalkan janjimu itu. Lagipula apa kamu tega menolak niat baik calon mertuamu sendiri. Mereka sangat perduli padamu. Mereka juga sudah memesan tempat. Dan mama kamu bahkan sudah bersiap, sampai memanggil Make Up artis untuk mendandaninya. " Terang papanya lagi.


Yoga masih terpaku memikirkan rencananya yang terancam batal, gara-gara rencana tiba-tiba dari orang tuanya. Pada akhirnya, Yoga merasa tidak ada jalan lain selain mengikuti kemauan orang tuanya. Dan dengan berat hati, dia terpaksa membatalkan janjinya dengan Biqha.


Dengan langkah lunglai, Yoga menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Setelah selesai membersihkan diri dan memakai pakaian formal lengkap. Dengan berat hati Yoga berusaha menghubungi Biqha. Namun Biqha tidak menjawab panggilannya hingga beberapa kali.


Yoga melihat arloji di pergelangan tanganya. Waktu masih menunjukkan saat maghrib. Yoga yakin Biqha pasti sedang sholat saat ini, karena itu Yoga memutuskan mengirimkan pesan pada Biqha.


// Sayang.... maaf. Rencana kita malam ini terpaksa batal. Karena papa mengajakku menemui klien yang datang dari luar negeri. Gak papa ya sayang..... Aku harap kamu ngerti. //


Yoga masih memandangi ponselnya setelah mengirim pesan itu. Rasanya sangat berat bila harus terus berbohong pada wanita yang dia cintai, demi menutupi kebohongan tentang statusnya saat ini. Tapi Yoga seolah tidak memiliki pilihan lain. Dia terlalu takut untuk jujur pada Biqha, karena begitu takut kehilangannya.


Beberapa menit kemudian, Biqha membalas pesan darinya.


My B: // Iya Ga'. Gak papa kok. Kita bisa makan malam lain waktu lagi. Good luck ya...! //


Yoga benar-benar merasa lega setelah membaca pesan dari Biqha. Setelah itu dia pun bergegas turun menemui kedua orang tuanya. Dan pergi bersama menuju tempat yang sudah dijanjikan.


Sampai di sebuah restoran mewah, Yoga dikejutkan dengan berbagai macam dekorasi yang indah dan alunan musik orkestra yang sengaja diundang untuk mengisi acara.


Dan di depan sana sudah berdiri gadis cantik, dengan gaun indahnya yang melekat sempurna ditubuh langsingnya. Dengan senyum yang mengembang dia menyanyikan lagu Happy birthday untuk menyambut kedatangan Yoga.


" Alin.... "

__ADS_1


Ucap Yoga yang tak percaya melihat kehadiran Alina disana. Bahkan Yoga hanya bisa mematung, saat Alina berjalan mendekatinya dengan membawa Cake yang bertabur lilin-lilin kecil yang menyala di atasnya.


" Surprise..... "


__ADS_2