Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 32. Hadiah terbaik.


__ADS_3

" Nabiqha Azzahra.... Bukankah itu nama yang sama dengan gadis yang kamu taksir dulu? Apa memang itu dia? "


Pertanyaan mama Hani lagi-lagi membuat Yoga terperangah, di dalam kekalutannya. Mama Hani mengingat betul sosok Nabiqha Azzahra yang selalu Yoga banggakan dalam ceritanya. Meski hanya sekali bertemu secara langsung, saat hari kelulusan.


Sosok yang juga pernah membuat kisah sedih dihidup anaknya, saat dia menghilang tanpa diketahui jejaknya. Membuat mama Hani juga menduga hal yang sama dengan suaminya.


Yoga yang menyadari sang mama masih mengingat sosok wanita pujaan, yang selalu dia ceritakan dulu itu pun, segera berusaha membantah dugaan yang mungkin sedang dipikirkan oleh mamanya.


" Benar Ma.... Tapi itu gak seperti yang papa kira. Masalah antara Yoga dan Alin, sama sekali gak ada hubungannya sama dia. Lagian dia juga lagi deket sama temen satu divisinya di kantor."


Dalih Yoga dengan sedikit salah tingkah saat mengucapkannya. Yoga terpaksa berbohong demi menutupi hubungannya dengan Biqha. Karena dia takut Biqha akan mendapat masalah, jika hubungan mereka diketahui saat ini.


Bisa-bisa papanya langsung memecat Biqha saat ini juga. Dan hal yang paling Yoga takuti adalah, hal itu akan membuat Biqha mengetahui kebohongannya selama ini. Dan itu akan berujung kekecewaan dihati Biqha, yang mungkin saja akan menimbulkan kebencian terhadapnya.


" Yoga mempekerjakan dia di perusahaan kita bukan hanya karena ingin membantunya, tapi karena kita juga butuh seorang akuntan yang handal seperti dia ma..... Ini real profesional kerja. Gak ada hubungannya dengan perasaan. Perasaan itu udah masa lalu. Dan Yoga udah punya Alin sekarang. Meskipun sekarang Yoga merasa gak nyaman lagi dengan sikap berlebihan Alin."


Yoga berucap panjang lebar tanpa mampu menutupi kekesalannya.


" Kalau mama gak percaya, mama bisa tanya sama Erick sebagai atasannya langsung di kantor. Bahkan di kantor, gak pernah sekalipun kami bertegur sapa. "


Tegas Yoga berusaha meyakinkan sang mama, yang sepertinya meragukannya.


" Lalu darimana kamu tau dia sedang dekat dengan teman satu divisinya, kalau kalian tidak saling bertegur sapa? "


Yoga terbelalak dengan pertanyaan sang mama, namun sekejap kemudian dia langsung menjawab dengan tenang.


" Yoga..... Cuma pernah beberapa kali melihat dia pergi makan siang dan pulang bersama dengan rekan prianya itu. "


" Ok, mama percaya sama kamu. Lalu bagaimana dengan Alin? Apa yang menyebabkan kamu merasa gak nyaman sama Alin? "


Yoga terdiam dengan pertanyaan sang mama. Dia tidak tau lagi harus berkata apa. Alasan apa yang kira-kira bisa dia jadikan alibi kuat, untuk mendukung pernyataannya. Yoga menundukkan kepala dengan kedua tangan yang menyokongnya. Rasanya benar-benar penat.


" Yoga gak tau gimana cara jelasinnya ke mama? Sikap posesif dan kecurigaannya pada Yoga yang terus menerus, membuat Yoga sangat lelah menjalani hubungan ini ma...."


" Kamu harus bisa mengerti sayang..... Dia begitu karena sikap kamu juga. Jangankan Alin, mama dan papa pun merasa heran dengan perubahan sikap kamu ini. Sesibuk apapun, setidaknya kamu harus bisa menjaga komunikasi yang baik dengan Alin. Tapi kamu malah sering kali mengabaikan telphon darinya. Kalau mama jadi Alin.... Mama juga akan curiga pada pasangan mama. Karena memang begitu lah wanita. Cenderung bertindak dengan perasaan. "


Mama Hani berusaha menasehati putranya dengan lembut, agar Yoga bisa mengerti dan bersikap lebih tenang. Sementara Yoga yang mendengarkan nasehat sang mama, merasa kepalanya semakin berat. Karena seolah mendapati jalan buntu, dari permasalahan ini. Kemudian dengan penuh kasih sayang, mama membelai lembut kepala Yoga.


" Dengar sayang.... Yang namanya hubungan itu pasti akan mengalami pasang surut. Mama mengerti saat ini kamu sedang berada di titik jenuh. Tapi jangan langsung mengambil keputusan di saat hati sedang emosi. Karena nantinya kamu juga akan mengalami hal yang sama lagi dihubungan selanjutnya. Kalau jenuh lalu langsung berpisah, jenuh... berpisah, mau sampai kapan? "


Mama merangkul pundak putranya, berusaha memberi rasa nyaman. Agar Yoga tidak semakin tertekan.


" Karena gak ada hubungan yang akan bahagia seterusnya sayang..... Bahkan setelah berumah tangga pun masalah itu akan tetap ada. Rasa bosan, jenuh pada pasangan itu akan dirasakan oleh pasangan manapun. Tapi kembali lagi pada komitmen kita. Itu sebabnya cinta itu harus terus dipupuk, agar selalu bersemi. "


Disaat sang mama terus berucap kata-kata bijak, Yoga justru semakin kalut karena memikirkan cintanya yang sepertinya begitu sulit terwujud.


" Seperti bunga yang tumbuh mulai dari kuntum, lalu merekah hingga mekar sempurna. Perlahan akan mulai layu dan gugur. Tapi jika kita terus merawat, menyiraminya secara teratur, dia akan kembali berbunga lagi." Lanjut mama.


Yoga beranjak dari duduknya, karena merasa tidak tahan lagi dengan tekanan yang dia rasakan saat ini.


" Maaf ma.... Yoga benar-benar lelah. Yoga mau istirahat dulu."


Yoga berlalu meninggalkan mamanya, yang memandang kepergiannya dengan gelisah.


Sampai di kamarnya, Yoga langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Yoga memandang langit-langit kamarnya dengan pikiran yang melayang. Yoga kembali teringat kata-kata Alina sebelum mereka berpisah tadi.


Yoga kini hanya bisa berharap, Alina benar-benar menepati perkataanya. Dan berhasil membujuk orang tuanya untuk mengundur rencana pernikahan mereka. Bahkan Yoga berharap mereka akan langsung membatalkannya hingga mengakhiri hubungan mereka.


***

__ADS_1


Flashback ke beberapa saat sebelumnya....


Setelah mendapatkan telephon dari Alina, yang masih berusaha membujuknya agar hadir di pesta kejutan ulang tahun Yoga, Erick masih termenung sambil memandang langit-langit kamarnya. Memikirkan pesta kejutan ulang tahun sahabatnya, membuat Erick teringat akan seseorang yang sangat ia sayangi, yang sebentar lagi juga akan berulang tahun.


Sosok yang begitu dekat dan selalu mendukungnya. Yang sejak kecil selalu bersamanya, disaat kedua orang tuanya sibuk bekerja. Dialah sang oma yang sangat Erick cintai. Bahkan disaat semua orang meragukanya, omanya masih mempercayai dan memiliki keyakinan penuh terhadapnya.


Memikirkan sang oma membuat Erick berlinang airmata. Karena kerinduan akan sosok oma yang sudah setahun lebih tidak bisa ia temui. Bahkan untuk menanyakan kabarnya, Erick pun tidak bisa. Erick harus menunggu sang oma memberi kabar terlebih dulu, baru bisa bicara dengannya.


Karena sang papa mencabut haknya sebagai bagian dari keluarga Atmadja. Dan melarangnya berhubungan dengan semua yang berkaitan dengan keluarga Atmadja. Sebagai konsekuensi dari keputusannya, yang memilih pergi meninggalkan rumah dan melepaskan posisi sebagai alih waris utama serta segala kemewahan yang dia miliki.


Itu sebabnya tahun lalu, Erick tidak bisa memberikan hadiah apapun untuk sang oma. Tapi sekarang keadaannya sudah jauh lebih baik, jadi dia berpikir ingin memberikan sesuatu sebagai hadiah untuk oma tercintanya.


Erick meraih ponselnya di atas nakas, dan mulai berkelana mencari-cari hadiah yang cocok untuk sang oma. Di tengah kebingungannya memilih hadiah untuk oma, Erick teringat hadiah ulang tahunnya yang pernah membuat oma sangat bahagia. Yaitu kue-kue buatan ibu Biqha, yang susun berbentuk menyerupai cake ulang tahun bertingkat-tingkat.


Hadiah itu bahkan dibanggakan oleh oma, sebagai hadiah ulang tahun terbaik yang pernah dia dapatkan. Karena kue-kue itu adalah kue-kue kesukaan oma. Karena oma lebih menyukai panganan tradisional dari pada kue-kue kekinian.


Pikiran Erick melayang ke masa-masa itu. Teringat saat dirinya sedang berada dirumah Biqha, untuk latihan persiapan olimpiade. Ketika menunggu Biqha pulang dari pasar, Erick membantu ibu dan Rendra di dapur.


" Kamu kenapa Rick? Tumben diem aja. "


" Erick lagi bingung bu." jawabnya


Erick tidak lagi memanggil ibu Biqha dengan sebutan tante, karena ibunya sendiri yang mengatakan lebih suka dipanggil ibu daripada tante. Merasa orang kampung, jadi gak pantes dipanggil tante.


" Aaahhh... Kenapa gak dikasih ini aja ya ?!"


Ucapnya tiba-tiba dengan setengah berteriak, setelah mendapatkan ide untuk hadiah sang oma. Membuat ibu dan juga Rendra kaget.


" Apa sih Rick? Kamu ngagetin aja. "


" Tau nih kak Erick..... Jatuh kan kuenya."


Ucap Rendra kecil sambil memungut kue yang terjatuh di lantai. Sedangkan Erick malah tertawa melihat wajah lucu Rendra yang kaget.


" Buat apa? Memangnya dirumah kamu mau ada acara?" Tanya ibu sambil membuat adonan kue.


" Iya, acara ulang tahun oma. Erick mau kasih kue-kue ini buat hadiah ulang tahun oma."


" Masa hadiah ulang tahun untuk omanya kue-kue jajan pasar gini sih Rick...."


" Abisnya Erick bingung bu.... "


Ucap Erick sambil menggaruk kepalanya dan tersenyum menanggapi perkataan ibu.


" Tapi pasti oma seneng deh. Soalnya oma suka sama kue buatan ibu."


Erick menceritakan saat ibu membawakan Erick beberapa kue untuk dibawa pulang, kue-kue itu ludes dimakan oma dalam sekejap. Karena itu ibu setuju membuatkan kue untuk hadiah sang nenek.


Saat hari itu tiba, Erick takjub melihat kue-kue pesanannya tersusun indah menyerupai cake. Lengkap dengan pita di pinggirnya serta lilin dan aksesoris ulangtahun di atasnya.


" Wah... cantik banget bu. Ibu memang top."


Erick memperlihatkan kedua jempol tangannya pada ibu. Kemudian Erick hendak mengeluarkan dompet dari kantong celananya, untuk membayar kue tersebut. Namun ibu melarangnya.


" Udah gak usah. Kamu bawa aja. Anggap hadiah dari ibu juga buat oma kamu."


" Tapi bu.... Ibu kan keluar modal buat bikin ini."


" Gak papa. Kamu juga sering bantu ibu kan.... Kadang kamu juga suka anter ibu ato Biqha ke pasar. Ibu jadi irit ongkos. "

__ADS_1


" Apa sih bu..... Begitu aja pake dihitung."


Mereka tersenyum bersama di tengah dua kakak beradik, yang hanya diam melihat interaksi mereka.


" Ya udah deh, lain kali Erick ganti pake yang lain aja. Kira-kira ibu mau apa? Atau lagi pengen apa? "


" Gak perlu...."


Erick sudah menduga ibu akan menjawab seperti itu. Karena itu dia beralih pada pada bocah kecil, yang sedang dirangkul sang kakak.


" Kalau kamu boy.... Mau apa?"


" Pizza kak. Kalau liat di tv kayaknya enak."


" Rendra....."


" Hushht...."


Ibu dan juga Biqha pun langsung memperingatkan Rendra.


" Ok. Lain kali kakak bawain ya.... Terus mau apa lagi?"


Tanya Erick lagi pada bocah lelaki itu, Sementara sang kakak membungkam mulut sang adik. Namun dengan cepat Rendra menarik tangan sang kakak.


" Kalau steak itu enak gak kak? "


" Ren....."


Tanyanya polos, yang langsung ditanggapi pelototan dari sang kakak. Dan peringatan keras sang ibu.


" Rick.... Kamu jangan suka manjain Rendra kayak gitu. Nanti dia jadi kebiasaan. Ibu gak mau nanti Rendra jadi kebiasaan minta-minta sama kamu."


" Gak kok buk.... Rendra anak yang baik, dia gak pernah minta-minta sama Erick. Kecuali Erick yang tawarin duluan."


Ucapnya sambil memegang kepala Rendra, yang kini jadi tertunduk karena merasa sudah berbuat salah.


" Lagian Erick juga sering kan di traktir makan disini. Jadi gak ada salahnya dong.... kalau sekali-sekali gantian Erick yang traktir ibu sama Rendra. "


" Ibhu shamha Rhendrha dhoang?" ( Ibu sama Rendra doang?)


Biqha pun ikut bersuara setelah sedari tadi hanya diam.


" Iyalah.... Kan ibu sama Rendra doang yang baik ama gue, lo gak. Kalo lo mau.... Ya lo baik-baik lah ama gue...."


" Chih.... Oghah. " ( Cih.... Ogah.)


" Ye.... Ya udah."


Ibu dan Rendra pun tertawa lucu melihat mereka. Tentu ucapan ketus Erick itu hanya dimulut saja. Kenyataannya saat kembali berkunjung untuk latihan bersama Biqha, Erick membawa satu kotak besar pizza dan empat porsi lengkap steak. Termasuk untuk Biqha juga.


Erick tersenyum mengenang memori indah yang dia rasakan, saat berada ditengah-tengah keluarga bahagia itu. Keluarga sederhana, namun sangat hangat dan penuh kasih sayang. Tidak seperti keluarganya, yang berlimpah kemewahan, namun tidak pernah ada kehangatan keluarga di dalamnya.


Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Tanpa pernah menghiraukan satu sama lain. Bahkan Erick juga tidak dekat dengan kedua kakak perempuannya. Karena itu Erick suka sekaligus iri melihat keakraban Biqha dan Rendra. Meski mereka terkadang suka bertengkar, tapi mereka terlihat sangat dekat dan perduli satu sama lain sejak dulu.


Mengenang masa-masa itu, membuat Erick merindukan kehangatan keluarga mereka. Terutama sosok ibu Rahma, yang tidak bisa ia temui lagi sekarang. Sosok ibu yang kuat, lembut, perhatian, ramah dan juga sangat baik padanya. Tiba-tiba ada perasaan sedih dihatinya, menyayangkan takdir yang begitu cepat menjemput sosok wanita hebat itu.


Erick bangkit dan duduk di atas kasurnya. Lalu memejamkan matanya sejenak sembari menengadahkan tangan, lalu melafalkan surah Al-fatihah untuk ibu Rahma. Sebagai bentuk ungkapan kerinduannya akan sosok ibu Rahma, yang dikenalnya sebagai seorang yang sangat baik.


Erick kembali memikirkan tentang hadiah untuk omanya. Dia berniat meminta bantuan Biqha, untuk membuatkannya kue-kue yang sama persis seperti yang ibunya buat waktu itu.

__ADS_1


" Kira-kira Biqha mau gak ya bantuin aku? Coba aja dulu deh...."


Erick beranjak dari tempat tidurnya, bergegas untuk berganti pakaian. Kemudian segera melaju dengan motor kesayangannya, untuk menemui Biqha di rumah kontrakkannya.


__ADS_2