
Malam ini Yoga tidak mampu memejamkan mata. Pikirannya benar-benar kacau balau, setelah siang tadi dia seolah menjalani persidangan di depan kedua orangtuanya dan juga orangtua Alina.
Para orangtua laki-laki bisa memaklumi perbuatan mereka, mengingat mereka sebentar lagi juga akan menikah. Apalagi mereka juga lama hidup diluar negeri dan banyak bergaul dengan orang-orang asing yang terbiasa hidup bebas.
Namun orangtua perempuan khususnya mami Alina begitu protect terhadap putri satu-satunya itu. Meski dua orang kakak Alina dulu pernah hidup bersama diluar negeri sebelum menikah, namun mami Alina tidak ingin putrinya ikut bergaul bebas seperti itu, meski dia seorang model. Hingga dia menuntut untuk mempercepat pernikahan mereka.
Pernikahan mereka yang rencananya akan di adakan dua bulan lagi, akhirnya di majukan menjadi minggu depan. Yoga sempat menolak dengan alasan jadwal padat mereka yang tidak bisa diubah. Namun akhirnya tetap saja dia tidak bisa berkutik sedikit pun.
" Aku harus bicara dengan Biqha. Sebelum pernikahanku dengan Alin terjadi, aku harus menikahi Biqha lebih dulu. "
Yoga bergegas ingin pergi menemui Biqha, namun saat dia membuka pintu kamarnya, asisten rumahnya sudah ada di depan pintu kamarnya.
" Den.... Aden dipanggil bapak. Disuruh ke ruang kerjanya sekarang. "
Yoga merasa kesal, namun dia tidak bisa menolak dan terpaksa mengurungkan niatnya sejenak. Dengan segera Yoga pun menemui sang ayah diruang kerjanya.
" Ada apa Pa? "
" Tadi asisten kamu Fahri datang dan memberikan ini......"
Ucap sang ayah sembari menyerahkan dua amplop putih pada Yoga. Yoga pun membaca tulisan di amplop tersebut.
" Surat resign ? "
" Ya.... Fahri bilang sore tadi Erick datang ke kantor dan menyerahkan surat resign dirinya dan juga gadis gaguk itu. "
Tangan Yoga langsung gemetar mendengar pernyataan sang ayah.
" Kalau gadis gaguk itu, papa tidak perduli. Justru bagus kalau dia keluar dari kantor. Tapi Erick..... kenapa dia tiba-tiba ingin resign? Apa kalian bertengkar? "
Yoga berusaha keras mengendalikan tubuhnya yang bergetar karna gugup dan panik, sebelum menjawab pertanyaan papanya. Karna dia tidak ingin papanya menaruh curiga padanya.
" Sama sekali gak Pa. Sebenarnya...... Erick sudah membicarakannya denganku sejak lama. Dia ingin fokus meluaskan usahanya. Dalam waktu dekat rencananya dia ingin membuka cafe. Lagipula Erick bekerja di kantor juga atas permintaanku, karna waktu itu keuangan perusahaan sedang kacau. Kesepakatannya waktu itu juga kan hanya sampai perusahaan kembali stabil atau paling lambat satu tahun. Tapi waktu itu aku masih menghalanginya untuk resign, karna ku pikir aku masih sangat membutuhkannya. Sekarang sudah hampir dua tahun dia bekerja dengan kita, aku rasa mungkin memang sudah saatnya......"
" Ya..... Bener juga. Danu juga pasti senang kalau dia resign dari Perusahaan kita. Semenjak Erick bekerja di kantor, Danu tidak pernah mau menghadiri rapat pemegang saham. Khem..... Ayah dan anak itu benar-benar keras kepala. Mereka benar-benar gak mau akur. "
Ucap papa Adi sedikit menyesalkan yang terjadi antara sahabatnya dan putra dari sahabatnya itu. Dan Yoga menarik sedikit sudut bibirnya menanggapi perkataan papanya.
" Tapi kenapa dia harus resign bersamaan dengan gadis gaguk itu? Aneh....."
Yoga kembali kelabakan saat sang ayah kembali mencurigai sesuatu. Namun dengan cepat Yoga kembali berusaha mengendalikan diri, agar bisa terlihat tenang di depan papanya.
" Sebenarnya.... Biqha juga sudah pernah menyerahkan surat resign sekitar sebulan yang lalu. Setelah dia mengetahui ancaman Papa dari Erick, dia merasa tidak enak hati karna kehadirannya di perusahaan sudah membuat banyak kesalahpahaman. Belum lagi masih banyak karyawan yang memandangnya sebelah mata, dan menilai negatif pada dirinya hanya karna dia bekerja atas rekomendasiku. Tapi saat itu aku dan Erick memintanya bertahan sampai dia menemukan pekerjaan yang baru. "
" Begitu...?! Baguslah kalau gadis itu sadar diri. "
Yoga menghembuskan nafas lega, karna sang papa mempercayai kebohongan yang dia buat.
" Apa mungkin mereka akan join di bisnis barunya Erick? "
Yoga mengernyitkan dahinya mendengar ucapan sang papa.
" Gadis gaguk itu dulu menjual kue kan?! Apa mungkin Erick ingin merekrutnya untuk membantu mengelola cafe yang akan dia buka? "
" I....iya..... Mungkin saja..... Bisa jadi Pa. "
" Ya.... Terserahlah. Itu bukan urusan kita. Jadi bagaimana, apa kau sudah menyiapkan seseorang untuk mengisi jabatan manager keuangan yang baru? "
Yoga berpikir sejenak, sebelum mengutarakan idenya.
" Bagaimana kalo kita naikan bu Diana sebagai manager keuangan yang baru? Meski dia tidak secekatan Erick, karna usianya yang sudah tua, tapi loyalitasnya pada perusahaan cukup baik. Lalu kita bisa memilih salah seorang staf keuangan untuk menduduki posisinya. Jadi kita tinggal mencari staf keuangan yang baru. "
" Iya baiklah. Papa percayakan semua masalah ini sama kamu. "
Yoga pun kembali bernafas lega karna akhirnya pembicaraan ini usai juga.
" Ya sudah.... Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Yoga pergi dulu Pa....."
Yoga berbalik dan hendak melangkah keluar, namun sang ayah langsung menghentikannya dengan mempertanyakan kemana dia akan pergi.
" Kamu mau kemana malam-malam gini? "
" Yoga mau keluar sebentar Pa. "
" Ini sudah malam. Lebih baik kamu kembali ke kamar dan beristirahat. Lihat kondisimu itu.... Kamu harus segera memulihkan kondisimu. Besok kamu harus kembali ke kantor dan menyelesaikan segala urusan kantor sebelum mengambil cuti menjelang pernikahanmu. Jadi istirahatlah...! "
__ADS_1
" Tapi Yoga ada....."
" Jangan keras kepala ! Mamamu juga gak akan mengijinkanmu keluar malam ini. Dia bisa marah besar dan dilanda kepanikan luar biasa kalau tau kamu keluar setelah apa yang terjadi semalam. "
Siang tadi saat mamanya shok dan langsung menangis melihat kondisinya yang babak belur, Yoga terpaksa mengarang cerita dengan mengatakan kalau semalam dia nyaris dirampok dua orang pria. Namun dia berhasil melawan.
" Baiklah Pa.... Yoga balik ke kamar sekarang. "
Yoga tidak mau terjadi perdebatan panjang dan membuat papanya curiga. Karna itu dia memilih berpura-pura menuruti kata-kata papanya. Dengan perasaan yang gelisah, Yoga melangkah keluar meninggalkan sang papa di ruang kerjanya.
' Biqha sudah mengundurkan diri dari kantor. Apa dia berencana pergi dan menghilang lagi dariku, seperti yang pernah dia katakan waktu itu? Gak.....ini gak boleh terjadi. Aku harus segera bicara dengannya. '
Yoga bergumam dalam hatinya resah memikirkan Biqha. Lalu dia melihat ke sekitar ruangan, tidak ada seorang pun terlihat berkeliaran di area rumah. Dia pun langsung melangkah cepat ke arah pintu keluar. Namun langkahnya harus terhenti, ketika mendengar panggilan sang mama dari arah belakang.
" Kamu mau ke mana Sayang ?"
Tanya sang mama sembari berjalan menghampirinya.
" Yoga ada urusan sebentar Ma. "
" Malam-malam begini ada urusan apa ? Memangnya gak bisa dilakukan besok? Kamu kan masih sakit sayang.......harus banyak istirahat. Lihat wajah kamu masih lebam-lebam begini."
Ucap mama Hani yang mencemaskan keadaan putranya sambil membelai lembut wajah Yoga.
" Yoga nggak papa Ma ..... ini cuma luka kecil kok . "
" luka kecil apanya,.... Wajah kamu sampai babak belur begini kok dibilang luka kecil. Pokoknya kamu nggak boleh ke mana-mana malam ini. Gimana kalau para perampok itu masih mengincar kamu? Gimana kalau perampok itu dendam sama kamu, terus membututi kamu dan bawa teman-temannya buat mengeroyok kamu? "
" Ma please........ Jangan overthinking begitu. Yoga nggak apa-apa kok, lagian Yoga cuman mau keluar sebentar......"
" enggak.....Pokoknya nggak. Sayang .... Kamu ini Putra mama satu-satunya, kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama kamu, mama bisa mati. "
" Mama apaan sih ngomongnya begitu....."
Mama Hani langsung berhambur memeluk Yoga sambil menangis.
' Apa yang harus ku lakukan sekarang? Aku harus secepatnya bicara dengan Biqha. Aku gak mau sampai dia meninggalkanku. Bagaimana kalau malam ini dia pergi? Bagaimana kalau aku tidak bisa bertemu dengannya lagi? Tapi aku tidak bisa meninggalkan mama seperti ini. ' batinnya.
Yoga dengan sangat terpaksa mengurungkan niatnya menemui Biqha malam ini. Dengan menggantungkan harapan pada keyakinan, kalau Biqha tidak akan pergi secepat itu. Karna dia tidak akan bisa meninggalkan adiknya seorang diri. Sedangkan kuliah adiknya saat ini sudah menjelang tahun terakhir.
Keesokan harinya, Yoga pergi ke kantor dengan terburu-buru. Karna dia ingin menyelesaikan beberapa urusan di kantor lebih dulu, baru setelah itu dia akan menemui Biqha di kontrakannya.
// Dimana kau? //
Nada tegas penuh emosi langsung terdengar dari benda pipih berbentuk persegi panjang itu.
" Ya... Yoga ada di kantor Pa. "
Jawabnya sedikit tergagap sembari bertanya-tanya dalam hatinya.
// Sekarang juga kamu pulang ! //
" Pulang...? Tapi Pa, Yoga sedang banyak pekerjaan sekarang.
// Tinggalkan semua dan segeralah pulang. //
" Tapi kenapa Pa? Memangnya ada apa?"
// Jangan banyak tanya! Sekarang juga kamu pulang! Papa tunggu kamu dirumah.//
Yoga meremas ponselnya, dan menghantamkan lengannya pada body mobilnya. Dia merasa sangat kesal, karna rencananya menemui Biqha selalu saja digagalkan. Tapi disisi lain dia juga penasaran dan merasa aneh dengan sikap papanya.
Yoga merasa dilema. Tapi mau tidak mau dia harus memilih menemui papanya lebih dulu. Papanya terdengar begitu emosi, itu berarti ada hal yang sangat penting dan begitu mendesak.
Sampai di rumah, Yoga melihat dokter keluarga mereka baru saja keluar dari pekarangan rumahnya. Yoga pun seketika dilanda kecemasan.
" Bik,, apa yang terjadi ? Untuk apa dokter Dian kesini ? Siapa yang sakit ? "
Tanya Yoga begitu memasuki rumah dan melihat asisten rumahnya.
" Itu den..... Ibu.... Ibu tadi pingsan den. "
" Pingsan ? Kenapa mama bisa pingsan bik ? "
Yoga bertanya sembari melangkah cepat ke dalam rumah, disusul bik imah di belakangnya.
__ADS_1
" Tadi ada polisi datang den....."
Langkah Yoga terhenti mendengar jawaban dari sang asisten.
" Polisi ? Untuk apa polisi datang kesini ? "
" Mereka bilang....... "
" Kau sudah pulang ? "
Suara tegas dari papa Adi memutus pembicaraan mereka.
" Ikut Papa ke ruang kerja ! "
" Sebentar Pa, Yoga mau liat keadaan mama dulu. "
" PAPA BILANG IKUT PAPA KE RUANG KERJA, SEKARANG.....! "
Yoga seketika mematung mendengar dan melihat luapan amarah sang ayah. Yoga semakin tidak mengerti sekaligus yakin ada hal yang tidak beres yang terjadi.
Dengan patuh Yoga berjalan mengikuti papanya ke ruang kerja. Sampai di ruang kerja sang ayah, Yoga tidak sabar mengetahui apa yang telah terjadi.
" Ada apa Pa? Apa yang sebenarnya terjadi? "
Bukan menjawab pertanyaan putranya, papa Adi justru melemparkan sebuah amplop ke arah Yoga.
" JUSTRU ITU YANG INGIN PAPA TANYAKAN. JELASKAN APA INI ? "
Yoga memungut amplop putih yang terjatuh ke lantai itu.
" Surat perintah penangkapan ? "
" Yah.... Itu surat perintah penangkapan untukmu. Gadis gaguk itu melaporkanmu atas tindak pelecehan terhadapnya. APA YANG KAU PIKIRKAN? KAU GILA, HAH? "
Tubuh Yoga langsung bergetar. Seketika jantungnya seperti berhenti berdetak.
" I...ini..... Ini gak mungkin. "
" APANYA YANG TIDAK MUNGKIN? APA KAU BUTA? KAU TIDAK BISA MEMBACA ? BAHKAN ERICK SUDAH MEMBERIKAN KESAKSIAN YANG MEMBENARKAN LAPORANNYA. SEKARANG JELASKAN PADA PAPA YANG SEBENAR-BENARNYA.....! "
Yoga semakin shok dan kesulitan bernafas mendengar kenyataan yang terjadi.
" KENAPA KAU DIAM ? JAWAB PAPA YOGA....! "
" I....ini....ini fitnah Pa. I..ini fitnah. "
Melihat kemurkaan sang ayah, membuat Yoga semakin ketakutan. Hingga tercetus dari bibirnya bantahan atas apa yang terjadi.
" Fitnah kau bilang. Bagaimana mungkin mereka berani memfitnahmu seperti ini? "
" Yoga tidak tau Pa. Tapi yang pasti.... Ini....tidak benar. Ini.... Fitnah. Justru yang terjadi adalah sebaliknya......."
Ketakutan dan kepanikannya membuat Yoga menjadi begitu lancar berbohong. Entah belajar darimana Yoga bisa begitu cepat mengarang cerita tanpa berpikir panjang. Dan Papa Adi pun mengerutkan pangkal alisnya dalam, mendengar ucapan Yoga.
" Erick lah yang sudah melecehkan Biqha. "
" JANGAN BERBOHONG PADA PAPA YOGA...! "
" Aku tidak berbohong Pa. Yang benar saja, aku tidak mungkin melakukan itu pada Biqha. Memangnya aku tidak waras? Lagipula aku sudah punya Alin. Kalau.... aku menginginkan hal itu, aku bisa melakukannya kapan saja dengan Alin. Dan Papa tau sendiri semalam aku menghabiskan waktu bersamanya. Bahkan tubuh Biqha tidak sebanding sama sekali dengan Alin. "
Papa Adi terdiam, dia mulai berpikir.
" Tapi kalau kau memang benar, kenapa mereka melakukan ini padamu? Kenapa gadis gaguk itu justru menuntutmu, bukan Erick? "
Yoga benar-benar kelabakan dengan cecaran pertanyaan dari papanya. Namun dengan cepat bibir Yoga terus mengarang cerita dengan begitu mudahnya memutar balikan fakta.
" Biqha pasti diancam oleh Erick Pa. Dia pasti dipaksa melakukan ini semua. "
" Apa maksudmu Yoga? Kenapa Erick melakukan hal itu? "
" Dia melakukannya karna marah dan sakit hati padaku. Saat aku memergokinya melakukan perbuatan itu, Erick memintaku untuk tidak ikut campur. Tapi aku tidak tega melihat Biqha. Dia begitu ketakutan. Bahkan dia terus menangis dan berteriak kesakitan. Jadi aku melawannya. Dia benar-benar murka saat itu. "
" Papa benar-benar tidak mengerti Yoga, bagaimana mungkin Erick bisa melakukan hal ini? Rasanya tidak masuk akal. "
Yoga panik, tapi dia tidak mau menyerah dan terus berpikir. Mencari alibi dan cerita yang bisa meyakinkan sang papa.
__ADS_1
" Sebenarnya sebelumnya kami sempat bertengkar, karna aku mendapatinya melakukan penyelewengan dana perusahaan. "
" Apa....? "