
Tanpa pikir panjang, Yoga melangkahkan kakinya cepat menaiki tangga ke lantai atas. Sampai di lantai khusus room VVIP itu, Yoga melihat Erick memasuki salah satu ruangan. Yoga langsung saja melesat menuju ruangan itu. Yoga terdiam sejenak di depan pintu ruangan tersebut. Dia sempat ragu untuk membukanya. Namun tiba-tiba pintu itu dibuka dari dalam.
Seorang waitress terlihat sedikit terkejut, melihat Yoga yang terpaku dibalik pintu. Sedangkan Yoga, matanya langsung menangkap sosok Biqha yang sepertinya baru saja menyelesaikan makannya. Yoga memandangnya sendu, melihat mata Biqha yang sembab dan memerah.
" Bi......."
Mendengar suara lirih Yoga memanggil Biqha, Erick langsung memutar badannya ke asal suara. Sedangkan Biqha yang tidak menyadari panggilan itu, hanya memperhatikan gerakkan Erick, lalu mengikuti arah pandangan Erick. Biqha terkejut melihat Yoga disana, dan langsung bangkit dari duduknya.
" Kamu boleh pergi...." ucap Erick pada waitress yang sempat terpaku diantara mereka.
Setelah waitress itu pergi, yoga segera masuk mendekati Biqha dan langsung memeluknya erat. Biqha terbelalak sangking terkejutnya dengan perlakuan Yoga. Sementara Erick hanya terdiam melihat kelakuan sahabatnya.
Hati Biqha berdebar, namun seketika itu dia tersadar, dan langsung mendorong tubuh Yoga sekuat tenaga. Hingga pelukan Yoga terlepas dan dia terhuyung ke belakang. Namun dengan cepat Yoga mampu menjaga keseimbangan tubuhnya, hingga ia tidak sampai terjatuh.
" Maaf sayang...! Sejak tadi aku begitu cemas memikirkanmu..... Jadi....."
" Hakhu bhaik-bhaik shajha. Khamhu ghakh pherlhu mhenchemhaskhan hakhu." (Aku baik-baik saja. Kamu gak perlu mencemaskan aku.)
Kemudian Biqha bergerak, melangkah ke arah yang berlawanan dengan Yoga. Mengitari meja makan dan mendekat ke sisi Erick. Entah sadar atau tidak Biqha bersikap seperti seorang adik yang meminta perlindungan sang kakak.
Melihat hal itu, hati Yoga menjadi panas. Dia melirik tajam ke arah sahabatnya dengan kilatan amarah yang tidak bisa ia tutupi. Sedangkan Erick tidak berkutik sedikit pun. Dia masih saja terdiam melihat mereka. Kemudian Yoga kembali beralih pada Biqha dengan tatapan sendu dan penuh cinta.
" Bi.... Tolong dengarkan dulu penjelasanku...."
" Ghakh dha yhang pherlhu dhijhelhashin. Shejhak hawhal hubhunghan khitha dhibhanghun dhenghan khebhohonghan. Hithu harthinyha shemhua hanyha khephalshuhan, khephurha-phurhahan, hanyha phermhainhan. Khamhu shudhah mhenhang. Dhan hakhu therhimha khekhalhahankhu. Jhadhi ghakh dha yhang pherlhu dhibhahas lhaghi. Hakhu phermhishi."
( Gak ada yang perlu dijelasin. Sejak awal hubungan kita dibangun dengan kebohongan. Itu artinya semua hanya kepalsuan, kepura-puraan, hanya permainan. Kamu sudah menang. Dan aku terima kekalahanku. Jadi gak ada yang perlu dibahas lagi. Aku permisi.)
Dengan mata yang kembali berlinang, Biqha berkata dengan cukup tegas pada Yoga. Kemudian memutuskan untuk pergi dari sana. Namun baru dua langkah saja, Yoga sudah menghadangnya di depan. Biqha tercegat.
" Gak sayang..... Gak ada kepalsuan sama sekali. Aku bener-bener sayang sama kamu. "
Yoga mendekati Biqha. Namun seketika itu, Biqha juga memundurkan langkahnya kembali mendekat kesisi Erick. Malahan sekarang dia memposisikan tubuhnya dibelakang Erick. Bahkan hingga separuh tubuhnya tak terlihat, karena ia tempatkan dibalik tubuh kekar Erick.
Yoga menjadi kian panas melihat hal itu. Kembali di tatapnya Erick dengan mata nyalang penuh emosi. Tapi Erick masih saja berdiam diri dengan tatapan yang tidak berubah. Sedikit datar namun tersirat sedikit rasa empaty dimatanya.
Yoga kembali menatap lembut pada Biqha, dengan mata yang mulai berlinang. Dia tidak memperdulikan Erick yang berdiri diantara mereka. Yang terpenting baginya ialah menjelaskan semua pada Biqha. Dan meyakinkannya kembali akan cintanya yang begitu besar padanya.
" Aku akui sayang..... Aku salah. Aku telah berbohong sama kamu. Tapi aku melakukan itu karna aku gak mau kehilangan kamu lagi Bi...... aku terpaksa menerima perjodohan itu dulu, karna aku putus asa mencarimu. "
Sebaik mungkin Yoga berusaha menjelaskan pada Biqha. Dengan linangan airmata dikelopak matanya, dia berusaha keras meyakinkan Biqha.
" Please sayang..... Jangan begini. Aku gak mau putus sama kamu. Aku tau kamu marah.... Kamu kecewa sama aku. Kalau kamu mau kamu boleh pukul aku, Gak papa. Ayo tampar aku Bi.....! Tapi aku gak mau kita putus. "
Ucap Yoga begitu memelas pada Biqha. Airmata Biqha pun kembali luruh karnanya. Dan Erick tetap diam ditempat.
" Aku janji sayang.... Aku akan selesain semuanya. Setelah itu secepatnya kita akan menikah. "
Yoga menjeda ucapannya, lalu menarik nafas agar sesak didadanya bisa sedikit berkurang. Kemudian dia kembali mendekat pada Biqha dan berlutut.
" Sumpah demi apapun Bi.... Aku sayang kamu. Aku cuma cinta sama kamu. Jangan tinggalin aku Bi..... Jangan putuskan hubungan kita. Aku gak mau.... Aku gak bisa kalau harus jauh dari kamu sayang..... Maafin aku ya....! Please.....!"
__ADS_1
Yoga meraih kedua tangan Biqha dan menggenggamnya. Bahkan Yoga menempelkan dahinya pada punggung tangan Biqha. Membuat Biqha yang sedari tadi sudah meneteskan airmata, kini airmatanya semakin bercucuran.
Erick yang menyaksikan adegan itu, tak mampu berkata apa-apa. Dan melihat Biqha yang tak bereaksi sama sekali, membuat Erick mendesah kesal. Erick bergerak menjauh, bermaksud meninggalkan ruangan. Karna berpikir usahanya sia-sia menasehati mereka. Bahkan Biqha yang dia pikir kuat akan pendiriannya, akhirnya luluh juga pada cinta Yoga.
Melihat Erick bergerak menjauh, dengan cepat Biqha menarik kedua tangannya dari genggaman Yoga. Lalu meraih lengan kanan Erick dengan tangan kirinya. Erick pun terhenti dan berbalik menatap Biqha. Mereka saling pandang tanpa berucap sepatah kata pun. Melihat interaksi antara Erick dan Biqha berkali-kali membuat Yoga seperti terbakar api.
" Hidjhinkhan hakhu ihkhut shamha khamhu yha...?! " ( Ijinkan aku ikut sama kamu ya....?!)
Biqha berbalik arah menatap Yoga sembari menghapus airmatanya.
" Chukhup Gha..... Haphaphun yhang khamhu khathakhan, shemhua shudhah therlhambhat. Khitha ghakh mhungkhin bhisha shamha-shamha. Hakhu ghak mhahu jhadhi pherhushak hubhunghan ohrhang. Lhuphakhan shemhua.... Hangghap ghakh phernhah therjhadhi hapha-hapha dhihantharha khitha."
( Cukup Ga.... Apapun yang kamu katakan, semua sudah terlambat. Kita gak mungkin bisa sama-sama. Aku gak mau jadi perusak hubungan orang. Lupakan semua.... Anggap gak pernah terjadi apa-apa diantara kita.)
Dengan sisa-sisa isak tangisnya, Biqha mencoba membuat Yoga mengerti. Namun Yoga tidak mau menerima keputusan Biqha. Dia terus menggelengkan kepalanya dengan wajah memelas dan airmata yang semakin memenuhi kelopaknya.
Kemudian ia mencoba kembali meraih tangan Biqha. Namun dengan cepat Erick menepis pelan tangan Yoga dengan tangannya yang terbebas, sedang lengan yang sebelahnya masih dipegang oleh Biqha.
" Udahlah Ga.... Hargai keputusan Biqha! Jangan mempersulitnya lagi. Ini keputusan yang terbaik buat kalian."
Akhirnya Erick membuka suara, mencoba menasehati sahabatnya sekali lagi. Tapi Yoga justru semakin berang terhadapnya.
" Jangan... ikut campur.... urusanku."
Ucap Yoga perkata menekankan kalimatnya, dengan merapatkan gigi-giginya. Nyaris tidak membuka mulut sama sekali.
" Ga.... "
BBHHUUKKK......
Dengan cepat tanpa bisa dihindari lagi, sebuah tinju keras mendarat di pipi Erick. Erick yang tidak dalam keadaan sigap, tidak dapat mengantisipasi pukulan dari Yoga hingga dia terjatuh. Dan Biqha yang masih memegang lengan Erick pun sempat ikut tertarik, namun Yoga dengan cepat menarik tangan Biqha yang lain. Hingga dia tidak ikut terjatuh.
" AAHHKHHHH.... Ehrhik. Gha..... Hapha yhang khamhu lhakhukhan? Khenhapha khamhu phukhul Ehrhik?" (Akhhh... Erick. Ga... Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu pukul Erick?)
" Itu pelajaran buat dia, agar jangan suka ikut campur urusan orang."
" Chukhup Gha..... Chukhup." (Cukup Ga.... Cukup.)
Biqha menghempaskan tangan Yoga hingga tangannya terlepas. Sementara Erick pun sudah kembali berdiri tegak diantara mereka dengan memegang pipinya.
" Shemhua hudhah bherhakhir. Hakhu ghak mhahu dhengher haphaphun lhaghi dharhi khamhu. Dhan hakhu ghakh hakhan ubhah khephuthushanku. Khalhau hakhu thahu, shejhak hawhal hakhu ghakh khan therhimha chintha khamhu. Khamhu hudhah bhuhat hakhu shepherthi ohrhang bhodhoh, yhang dhenghan mhudhah khamhu khelhabhui dhari harhi ke harhi Gha.... Hakhu ghakh khan bhiarhin dhirhikhu jhadhi mhanhushia bhodhoh therhus mhenherhus. Jhadhi shethoph...... Chukhup.... Shemhua udhah chukup."
( Semua udah berakhir. Aku gak mau denger apapun lagi dari kamu. Dan aku gak akan ubah keputusanku. Kalau aku tau, sejak awal aku gak kan terima cinta kamu. Kamu udah buat aku seperti orang bodoh, yang dengan mudah kamu kelabui dari hari ke hari Ga.... Aku gak kan biarin diriku jadi manusia bodoh terus menerus. Jadi stop.... Cukup.... Semua udah cukup.)
Biqha berkata sambil kembali meneteskan airmata. Dia meluahkan rasa marah, kecewa dan sakitnya yang sedari tadi berusaha ia redam.
" Jangan ngomong gitu sayang... Please.....! Aku minta maaf karna udah bohong sama kamu. Tapi aku gak pernah berniat mengelabui kamu apalagi mainin kamu sayang. Bi.... Aku...."
" Whakthu histhirhahat shudhah bherhakhir. Khitha harhus khembhalhi khe khanthor. Ahyho Rhik...!" ( Waktu istirahat sudah berakhir. Kita harus kembali ke kantor. Ayo Rick...!)
Biqha menarik lengan Erick dan menyeretnya untuk keluar dari tempat itu. Tapi Yoga tetap tidak mau menyerah. Yoga kembali menarik tangan Biqha yang lain untuk menghentikannya.
__ADS_1
Namun kali ini Erick tidak tinggal diam. Dia kembali menepis tangan Yoga. Kali ini dia menepis tangan Yoga dengan cukup keras. Hingga genggaman Yoga terlepas dari tangan Biqha.
" Sudah Ga.... Hentikan ! Kami harus kembali ke kantor. Biqha bisa dapat masalah kalau sampe terlambat."
" Biqha akan ikut sama gue. Bukan sama lo...."
Bantah Yoga cepat. Dia tidak rela membiarkan Biqha bersama dengan Erick kali ini. Karena sikap Erick hari ini benar-benar membuatnya marah.
" Stop it, Ga....! Berhentilah bersikap kekanakan dan egois seperti ini."
Kali ini Erick mulai menunjukkan emosinya.
" Diluar sana.... ada dua orang yang mengikuti Biqha sejak dari kantor tadi. Aku gak tau pasti apa tujuan mereka. Tapi aku curiga mereka orang suruhan bokap lo."
Yoga terbelalak. Begitu pun dengan Biqha. Dengan emosi yang tidak tertahankan lagi, Erick menjelaskan situasi mereka yang mungkin sedang di awasi saat ini.
" Karena saat di kantor sebelumnya, bokap lo bilang ke gue. Kalau dia akan bertindak tegas pada Biqha kalau terbukti diam-diam kalian menjalin hubungan."
Yoga semakin terperanga mendengar penjelasan Erick. Dia terpaku tak mampu berucap lagi. Sedangkan Biqha hanya bisa menutup mulutnya dan kembali meneteskan airmata.
" Lo pikir dari mana gue bisa tau kalau kalian janjian disini, hah? Gue gak tau sama sekali, kalo bukan karena ngeliat gelagat dua orang yang mencurigakan itu terus ngikutin Biqha sampe kesini. Aku khawatir pada Biqha. Bahkan di depan tadi, salah satu dari mereka memotret Biqha saat memasuki tempat ini. "
Dengan nada yang semakin meninggi, Erick menjelaskan pada Yoga.
" Jadi biarkan Biqha ikut sama gue. DAN LO..... "
Erick menunjukkan jarinya tepat di depan wajah Yoga dengan sangat tegas.
" Lebih baik tunggu disini beberapa menit setelah kami keluar. Jangan membantah lagi. Kalo lo memang sayang sama Biqha dan gak ingin dia berada dalam masalah, maka turuti kata-kata gue Ga.... Gak ada pilihan lain selain menghindari masalah saat ini."
Erick kemudian beralih pada Biqha.
" Hapus airmata lo..... ! Kita keluar sekarang. Ayo.....!"
Biqha menuruti perkataan Erick. Kali ini Erick yang memegang lengan Biqha dan menariknya keluar dari ruangan itu. Dan Yoga hanya bisa pasrah memandang kepergian mereka.
****
Sampai dikantor......
Erick, Biqha dan juga Yoga berusaha memfokuskan kembali diri mereka pada pekerjaan. Namun sekuat apapun mereka mencoba, tidak satu pun dari mereka yang bisa fokus bekerja lagi hari ini. Terutama Biqha dan Yoga yang sedang mengalami patah hati.
Apalagi Biqha, yang baru pertama kali merasakan sakit yang seperti ini. Meski berkali-kali mencoba untuk tidak memikirkannya, namun rasa sakit dihatinya nyata dia rasakan. Hingga berkali-kali matanya kembali berembun, meski ia sudah berusaha keras untuk menahannya.
Saat tidak bisa menahan kesedihannya lagi, di dalam toilet Biqha kembali menangisi kejadian hari ini. Menyesali semua yang sudah terjadi. Menyalahkan dirinya sendiri atas kebodohannya yang begitu mempercayai Yoga.
Biqha kembali dengan mata yang semakin sembab. pemandangan itu tak luput dari perhatian rekan-rekannya. Fajar dengan penuh perhatian menanyakan keadaan Biqha dengan menggunakan bahasa isyarat. Karena masih dijam kerja, fajar khawatir pembicaraan mereka akan terdengar dan mengganggu yang lainnya.
/Kamu kenapa Bi...? Lagi ada masalah ya?/
Biqha berusaha tersenyum dan menjawab jika dia baik-baik saja. Tentu jawaban itu tidak bisa Fajar percayai. Melihat dengan jelas mata Biqha yang sembab, Fajar terus meyakinkan Biqha untuk berbagi padanya kalau ada masalah. Biqha kembali menjawab dengan bahasa isyarat kalau dia tidak apa-apa.
__ADS_1
Meski sulit untuk menutupi kesedihannya, tapi Biqha tidak mungkin menceritakan kisah sedihnya pada orang lain. Dia tidak mungkin berbagi rasa sakit patah hati yang ia rasakan pada rekan-rekannya.