
Erick terus melajukan mobilnya, menyusuri jalanan di derasnya hujan. Meski lelah, namun Erick tidak mau menyerah. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Biqha dan juga Rendra. Lagi dan lagi Erick juga berusaha terus menghubungi Rendra dan juga Biqha. Tapi sekarang nomor mereka justru tidak bisa dihubungi.
" Kenapa sekarang malah jadi gak aktif sih...?
Kecemasan Erick memikirkan keadaan mereka, membuatnya jadi emosi sendiri.
" Apa mereka sengaja tidak mau menjawab telponku? Mereka pasti tidak mau membebaniku dengan masalah baru yang menimpa mereka. Tapi ini sudah malam..... Dan tidak mungkin mereka bisa menemukan kontrakan baru dalam semalam. Mana hujan lagi. Biqha.... Rendra.... Apa salahnya sih, memberitauku dulu sebelum pergi?! Padahal aku sudah bilang, kalau ada apa-apa telpon aku. "
Erick mengomel sembari menjalankan mobilnya pelan-pelan, sambil menengok kanan dan kiri sisi jalan mencari keberadaan mereka. Hingga tak jauh dari perempatan jalan, Erick melihat ada beberapa pengendara motor yang berteduh di depan deretan toko yang sudah tutup.
Di perhatikan satu persatu pengendara motor yang berteduh disana. Namun Hujan yang sangat deras, membuat kaca mobil Erick menjadi buram dan menghalangi pengelihatannya. Erick pun menurunkan kaca mobil di sebelah kirinya, dan mulai mengamati orang-orang yang ada disana.
Betapa leganya perasaan Erick, kala dia menemukan kakak adik itu ada di antara orang-orang disana. Seketika Erick merasa miris melihat keadaan mereka. Mereka duduk berjongkok sambil memegang tas besar mereka. Meski dari kejauhan, Erick bisa melihat sisa airmata di mata mereka yang sembab, terlebih di mata Biqha.
Rasa haru juga menyelimutinya, melihat kasih sayang antara kakak adik itu. Rendra memakaikan jaketnya pada sang kakak, yang sepertinya kedinginan karna pakaiannya yang basah. Dan senyum kecil terukir dibibir mereka dengan mata yang berkaca-kaca. Tanpa berkata apapun keduanya saling menyemangati dalam duka yang mereka rasakan.
Melihat keromantisan kakak adik itu, mata Erick pun ikut berkaca-kaca. Kemudian Erick segera mengambil payung yang ada di laci mobilnya dan menghampiri mereka.
" Kak Erick......."
Rendra langsung berdiri saat menyadari kehadiran Erick. Begitu pun dengan Biqha. Dan Erick langsung menutup payungnya, begitu dia sampai di dekat mereka.
" Kak Erick kok bisa ada disini? "
Pertanyaan basa basi Rendra menyulut emosi Erick dan membuatnya kesal.
" Kenapa kakak bisa ada disini? Kamu pikir ngpain kakak disini ? "
Rendra terdiam lalu menundukkan kepalanya, menyadari Erick sedang marah.
" Kalian tau.... Hampir dua jam kakak berkeliling mencari kalian kesana... Kemari..... Kalian itu sudah pikun ya, hah ?! Kakak kan sudah bilang, kalau ada apa-apa telpon kakak! Ini bukannya nelpon malah telpon kakak juga gak diangkat. Kalian gak mikir apa, kalau kakak bakalan cemas mikirin kalian? Kakak kebingungan mencari kalian dari tadi. "
Erick melampiaskan kekesalannya sejak tadi dengan mengomelin mereka, tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang disana.
" Maaf kak.... Tadinya Rendra mau nelpon kak Erick. Tapi......"
Rendra tidak menegaskan jawabannya, melainkan melirik sang kakak yang ada disampingnya. Dan Erick pun paham akan hal itu.
" Astaga Bi..... Gue tau lo gak suka ngerepotin orang lain. Tapi apa salahnya sih kasih tau gue dulu sebelum pergi ? Minimal angkat kek telpon dari gue. Berapa kali coba gue telpon kalian gak diangkat-angkat. Susah banget ya gitu doang?! "
Erick terus mengomel, namun Biqha hanya diam dan menunduk dengan mata berlinang. Tanpa ingin membela diri didepan Erick atau berdebat dengannya seperti biasanya.
" Maaf kak.... Karna hujan, Hp kami letakkan di dalam jok motor. Jadi kami gak tau kalo kakak menelepon."
Erick pun terdiam setelah mendengar jawaban Rendra. Kemudian dia melirik Biqha yang hanya diam dan terus menunduk di hadapannya. Erick jadi merasa tidak enak hati. Dan entah kenapa Erick merasa seperti ada yang hilang, melihat sikap Biqha yang kini berubah menjadi pendiam. Karna kalau dulu Biqha pasti akan balas marah dan kesal dengan semua omelannya.
Erick langsung menggelengkan kepalanya, saat menyadari pikiran aneh yang tiba-tiba hadir dalam benaknya.
" Ya udah, ayo pergi....! "
" Kemana kak? "
" Udah ikut aja, gak usah banyak tanya ! "
Erick langsung mengambil tas yang di pegang oleh Biqha. Dan memerintahkan Rendra membawa tasnya. Lalu mereka berjalan bersama ke arah mobil, memakai payung yang Erick bawa tadi.
Setelah menyimpan tas mereka ke dalam mobil. Erick pun memerintahkan Rendra tetap menunggu di dalam mobil. Kemudian meminta kunci motornya. Baru setelah itu dia kembali menjemput Biqha.
" Ayo..... ! "
" Thaphi mhothor Rhendrha......."
" Lo tenang aja, sebentar lagi bakal ada yang datang ambil motornya. Sekarang gue anter lo ke mobil dulu. Yuk.....! "
Mereka pun berjalan di tengah hujan. Erick memayungi Biqha dengan langkah perlahan. Erick membiarkan bahu kanannya basah terkena tetesan hujan, demi melindungi Biqha sepenuhnya. Dan Biqha pun menyadari hal itu. Biqha mengangkat wajahnya menatap Erick dengan berkaca-kaca.
' Bagaimana mungkin orang yang selama ini selalu ku anggap menyebalkan, kini selalu hadir bak pahlawan di hidupku? Terima kasih Rick...... Terima kasih banyak. Terima kasih...'
__ADS_1
Dalam hati Biqha tak henti berucap terima kasih pada Erick, hingga tanpa sadar setetes airmata lolos mengalir di pipinya. Dengan cepat Biqha menyeka airmatanya. Dia tidak mau Erick melihatnya.
Sampai di mobil, Erick membukakan pintu untuk Biqha tepat di belakang Rendra. Tiba-tiba sebuah motor yang ditunggangi dua pemuda menghampiri Erick. Erick pun berbincang sebentar dengan mereka dan menyerahkan kunci motor Rendra pada mereka.
" Mereka siapa kak? "
Tanya Rendra begitu Erick memasuki mobilnya.
" Mereka karyawan Boba Beib. Kebetulan rumah mereka dekat sini. Jadi kakak suruh mereka bawa motor kamu dulu. Besok pagi-pagi sekali mereka bakal antar kok. Mereka baru pulang kerja, kasihan kalo harus disuruh antar sekarang juga. "
" Iya kak gak papa. "
Erick pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan area itu. Melesat dengan kecepatan sedang hingga sampai di basement sebuah gedung apartemen mewah.
" Kak, ini.... Ngapain kita kesini? "
" Pulang. "
" Hah.....??? "
" Untuk sementara waktu kalian bisa tinggal disini bareng kakak. Apartemen kakak ada dua kamar. Satu kamar bisa untuk mbak kamu. Satu kamar lagi buat kita, gak masalah kan? "
Rendra menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.
" Thaphi......"
" Cuma untuk sementara waktu Bi..... Sampai Nanti kalian menemukan kontrakan baru untuk kalian. Ini udah malam banget. Mau ke mana lagi kalian akan cari kontrakan di tengah hujan begini ? "
Biqha tidak bisa menolak, karna Erick benar. Terlebih wajah sang adik juga terlihat sudah sangat kelelahan. Erick juga paham ketidaknyamanan Biqha, namun dia tidak bisa memikirkan solusi lain untuk masalah saat ini.
Sampai di dalam apartemennya, Erick langsung masuk ke kamarnya dan merapikan barang-barangnya. Mengambil sajadah dan beberapa pakaian ganti juga tumpukan badcover untuknya tidur, baru setelah itu dia keluar dan menghampiri Rendra dan Biqha diruang tamu.
" Masuklah Bi..... Cepatlah mandi dan ganti pakaian kalian ! Kalo gak kalian bisa sakit nanti. "
Ucap Erick memerintahkan Biqha untuk masuk ke kamarnya. Baru kemudian dia beralih pada Rendra.
Tunjuk Erick ke arah toilet yang berada di dekat pantry.
" Iya kak. "
Rendra pun bergegas melangkah ke arah toilet itu, namun Biqha menghentikannya.
" Rhen.... Khamhu hajha yhang......."
" Bi, dengar ...... Gue tahu lo pasti nggak nyaman . Tali maksud gue nyuruh Lo mandi di dalam, supaya setelah selesai mandi lo bisa langsung istirahat dan tidur di kamar gue. "
Jawab Erik cepat, memotong ucapan Biqha. Karna dia sangat mengerti kecanggungan yang pasti dirasakan Biqha.
" Karna sebelumnya gue tinggal sendiri, jadi kamar itu gue jadikan tempat penyimpanan barang. Jadi untuk malam ini lo tidur di kamar gue dulu. Besok gue bakal panggil orang buat beresin kamar itu buat lo. "
" Therhus..... khalhihan ? "
" Gue sama Rendra bisa tidur di sofa ini. Cuma untuk malam ini aja kok. "
Rendra mengangguk sembari tersenyum tipis meyakinkan sang kakak.
" Rendra tidur di lantai juga gak papa kok kak. "
" Ada sofa kenapa harus tidur dilantai ?! "
" Thaphi Rhik..... Khamhu khan thuhan rhumhahnyha. Jhadhi khamhu hajha yhang thidhur dhi dhalham, bhihar hakhu dhan Rhendrha yhang dhishinhi. "
" Bi please...... Dengerin gue ! Lo masih belum fit sekarang. Liat wajah lo aja masih pucet begitu. Kalo lo tidur disini lo bisa tambah sakit nanti. Udah buruan sana pada mandi ! "
Biqha tidak bisa membantah lagi. Dengan menunduk lemah dan langkah yang canggung akhirnya Biqha masuk ke kamar Erick. Rendra pun bergegas ke toilet yang ada di dekat pantry itu.
Beberapa menit kemudian Rendra keluar dari toilet. Dilihatnya Erick sedang membentang bedcover di atas sofa, berusaha menyiapkan tempat tidur yang nyaman untuknya. Rendra Merasa sangat terharu dengan sikap Erick, hingga matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
" Sudah selesai ? Kemarilah ! "
Rendra pun berjalan mendekati Erick, dengan mata yang masih berlinang.
" Ini tempat tidurmu, dan ini tempat tidur kakak."
Ucap Erik sembari menunjuk sofa panjang untuk Rendra dan sofa yang lebih kecil untuknya
" Maaf, kakak gak punya bantal lain selain yang di dalam kamar. Jadi Malam ini kita gunakan bedcover dulu aja ya....."
" Rendra aja Kak yang di sana, Kakak di sini..."
" Hei....Jangan mulai seperti mbak kamu yang suka mendebat kakak! Ini, minumlah.....! Kakak sudah siapkan susu jahe dan roti panggang untuk kalian. Ini....antarkan ke dalam untuk mbak kamu juga. Biar badan kalian bisa lebih enakan. Dia masih lebih suka strowberry daripada selai coklat kan?! "
Rendra mengangguk dengan mata yang semakin berlinang.
" Makasih kak..... Kakak baik banget sama kami. Rendra gak tau, apa jadinya kalo gak ada kakak dihidup kami. Kakak udah jadi malaikat penolong buat Rendra dan juga mbak Biqha. "
Ucap Rendra dengan tergagap karna isak tangis yang tidak bisa dia kendalikan lagi. Dan mata Erick pun memerah karna tersentuh oleh kata-kata Rendra.
" Hei... Kenapa jadi cengeng gini sih.... Khem? "
Erick merangkul pundak Rendra, lalu mengacak rambutnya dengan penuh kasih sayang.
" Jangan lebay gitu ah..... Kakak seneng bisa bantu kalian. Kakak juga udah anggap kalian seperti keluarga kakak sendiri. Jadi jangan terlalu di pikirin ya....! Udah sana... Anter ini buat mbak kamu. "
Rendra menyeka airmatanya dengan cepat, sebelum mengambil piring berisi roti panggang dan secangkir susu jahe di tangan Erick. Kemudian dia pun pergi melaksanakan perintah Erick.
Saat Rendra kembali, Erick sudah mengganti pakaiannya. Erick duduk santai menikmati minumannya, memakai kaos tanpa lengan dan celana ponggol. Rendra pun menghampirinya dan duduk ditempat yang sudah dipersiapkan untuknya.
" Gimana mbak kamu? Sudah lebih baik kan? "
Rendra sedikit menarik sudut bibirnya. senyum itu terlihat sangat dipaksakan di mata Erick.
" Apa yang terjadi Ren? Kenapa tiba-tiba pemilik kontrakkan mengusir kalian? Kakak sempat mendengar cerita yang gak mengenakkan dari tetangga kalian tadi. "
Rendra bukannya menjawab malah sibuk menyeka matanya, karna tidak ingin sampai airmatanya kembali mengalir.
Perlahan Rendra mulai menceritakan kejadian siang tadi. Saat dia pulang kuliah, dia menemukan pintu rumahnya terbuka dan mendengar suara sang kakak bicara dengan seseorang disertai isak tangis. Bahkan tetangga mulai berkerumun mengintip dan menguping di dekat kontrakkannya.
Flash back on....
" Shayha ghak hakhan phernhah mhenchabhut lhaphorhan shayha. Kharnha hapha yhang shayha khathakhan hithu adhalhah bhenhar. Shayha ghak phernhah mhemfhitnhah phutrha handha. " ( saya gak akan pernah mencabut laporan saya. Karna apa yang saya katakan adalah benar. Saya gak pernah memfitnah putra anda )
" SUDAH CUKUP ! JANGAN PERNAH MENGUJI KESABARAN SAYA ! Katakan Berapa yang kamu inginkan? Kamu pikir saya tidak tau apa yang diinginkan orang-orang murahan sepertimu.... Heh? Sebutkan saja berapa harga yang kau inginkan? "
" KAMI GAK BUTUH UANG ANDA ! "
Rendra segera masuk dan langsung menyambar ucapan Wanita terlihat sangat elegan itu.
" Rhen......."
Melihat sang kakak berlinang airmata, Rendra pun menghampiri dan merangkul sang kakak. Lalu Rendra menatap nyalang pada wanita yang sudah membuat sang kakak meneteskan airmata.
" Seberapa pun banyaknya harta anda, tidak akan pernah bisa membeli harga diri kami. DAN ANDA JANGAN PERNAH COBA MERENDAHKAN DAN MENGHINA KAKAK SAYA! "
Ucap Rendra lantang sembari menunjuk ke arah mama Hani.
" Kakak saya adalah kebanggaan saya.....
panutan saya. Jadi saya gak akan pernah membiarkan siapa pun menghinanya. Apalagi ANDA....."
Biqha memegangi dada sang adik, berusaha menenangkan amarahnya dengan deraian airmata.
" Khe... Panutan? Apa seperti ini penutanmu ini mendidikmu? Dasar tidak tau sopan santun. Begini cara kalian berbicara dengan orang yang lebih tua? Tidak heran memang.... jika sikap kalian sangat tidak tau diri seperti ini, karna mungkin memang beginilah cara orang-orang rendahan seperti orangtua kalian mendidik putra dan putri mereka. "
Rendra semakin terbakar amarah mendengar ucapan yang sangat tidak pantas diucapkan oleh orang yang terhormat. Rendra mengepalkan tangan dan bersiap maju untuk melawan perkataan wanita yang menghina didikan orangtuanya. Tapi Biqha mendekap erat lengan sang adik, menggelengkan kepalanya sebagai isyarat agar Rendra tidak bertindak melewati batas.
__ADS_1
" Pasti mereka juga yang mengajarkanmu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kau inginkan kan? Sampai kau berani memutar balikan fakta dan memfitnah anak saya. "