
Pagi ini di kediaman Hermawan....
Mama Hani dan papa Adi turun dari kamar menuju meja makan untuk sarapan. Disana sudah tersaji beberapa menu, ada roti dengan beberapa varian rasa selai. Ada juga nasi goreng dan telur mata sapi setengah matang. Mereka sudah bersiap untuk sarapan. Hanya tinggal menunggu kehadiran Yoga, agar mereka bisa sarapan bersama.
" Bik.... Tolong panggilan Yoga supaya cepat turun untuk sarapan ya...!"
Perintah mama Hani pada asisten rumahnya. Karena Yoga belum juga turun.
" Den Yoga sudah berangkat tadi, pagi-pagi sekali nyonya."
" Oya...? Tapi dia sudah sarapan kan bik....?"
Tanya mama Hani, khawatir sang anak melupakan sarapannya.
" Gak nya.... Den Yoga bilang dia masih kenyang. Karena tadi malam dia menghabiskan cake ulang tahunnya sendirian."
" Cake ulang tahun?"
Kini giliran papa Adi yang buka suara, bertanya dengan kerutan tajam di pangkal alisnya.
" Iya tuan. Cake ulang tahun yang den Yoga bawa sore kemarin. Katanya sih, hadiah dari seseorang. "
Papa Adi seketika memasang wajah serius, melirik tajam ke arah istrinya. Kemudian tampak berpikir keras, sedangkan mama Hani hanya bisa terdiam.
***
Yoga sampai dikantor sebelum banyak karyawan tiba disana. Bahkan sebelum sekretarisnya hadir. Dia sengaja berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari pembahasan yang sama dengan sang papa.
Dia benar-benar merasa lelah hari ini. Tadinya dia berpikir untuk istirahat saja dirumah. Karena semalaman dia sulit tertidur, memikirkan permasalahan hidupnya. Namun demi menghindari sang ayah. Dan lagi, tadi malam dia membuat alasan pada semua orang, kalau dia ada meeting pagi ini. Jadi dia memutuskan untuk tetap ke kantor.
Di ruangannya, Yoga berusaha menghubungi Biqha, sebelum memulai pekerjaannya. Karena sejak tadi malam, Biqha tidak mengangkat panggilan video darinya. Pagi tadi Biqha juga tidak bisa dihubungi. Yoga cemas memikirkan Biqha yang mungkin saja marah padanya, karena dia sudah membatalkan janji mereka tadi malam.
" Gak.... Biqha bukan tipe cewek yang suka ambekan kayak gitu. Dia sangat pengertian, gak mungkin dia marah. Apalagi aku bilang harus nemuin klien penting dari luar. Biqha pasti ngerti. Tapi kenapa dia gak angkat telephon dariku?"
Gumam Yoga pada dirinya sendirinya.
Sementara di lain tempat, berbanding terbalik dengan Yoga yang sedang dilanda kegelisahan. Erick sampai di ruangannya dengan segar bugar dan hati yang berseri. Kejadian tadi malam sepertinya memberi pengaruh yang positif bagi hati dan jiwanya.
Setelah sekian lama dia tidak merasakan kehangatan ditengah keluarga, hidup dengan rasa sepi dan sendiri dalam pengasingan. Tadi malam dia bisa kembali merasakannya. Meski bukan keluarga yang sesungguhnya, hanya makan bersama seorang teman dan adiknya. Itu cukup mengobati rasa sepi dihidupnya.
Erick duduk disofa ruang kerjanya, untuk sarapan bubur ayam yang dia beli saat diperjalanan tadi. Saat akan memakan kerupuk, Erick tersenyum lucu melihat kerupuk itu. Karena teringat kejadian lucu tadi malam. Dimana dia dan Biqha rebutan kerupuk yang ada di kantong plastik, seperti anak kecil.
" Khamhu khan udhah mhakhan bhanyhak thadhi. Inhi bhaghian hakhu dhong. " (Kamu kan udah makan banyak tadi. Ini bagian aku dong.)
" Ya elah Bi.... Itu juga masih banyak. Bagi dikit lagi kenapa sih?! Pelit banget."
" Ya udah lah mbak.... Cuma kerupuk ini. Besok juga bisa beli lagi. " ucap Rendra membela Erick.
" Khamhu thu adhiknyhah shapha shih? Bhelhahin dhia mhulhu dharhi dhulhu." (Kamu tu adiknya siapa sih? Belain dia mulu dari dulu.)
" Rendra kan adik gue juga. Lo lupa kalo ibu dulu udah angkat gue jadi anaknya juga. Putra sulungnya. "
" Ghakh hadha yha..... Hithu chumha chandhahan. Lhaghi thethep hadjha hakhu yhang khakhak khandhungnyha." (Gak ada ya..... Itu cuma candaan. Lagi tetep aja aku kakak kandungnya.)
" Sekandung ato gak, bukan masalah. Yang jelas nyatanya Rendra lebih nyaman punya kakak gue daripada lo."
Biqha benar-benar berang diledek seperti itu olehnya. Kalo tidak di lerai Rendra, perdebatan itu pasti akan menjadi panjang dan meluas kemana-mana.
Erick tertawa lucu mengingat hal itu. Dia sampai mengeleng-gelengkan kepala, sambil terus tertawa sembari melihat kerupuk di tangannya. Hanya karena perkara kerupuk, mereka jadi cekcok hingga nyaris membuat keributan tadi malam.
__ADS_1
Sedangkan di lain sisi, orang yang sedang dipikirkan kedua pria itu tengah terjebak macet di jalan.
' Duh..... Macet banget sih. Bisa telat nih kalo gini.'
Gumam Biqha dalam hatinya, sambil bolak balik melihat jam tangannya dan jalanan yang padat merayap.
Biqha semakin kesal mengingat dirinya yang bangun kesiangan pagi ini. Karena dia tidur kemalaman, hingga lewat tengah malam. Gara-gara ada tamu tak diundang yang menyebalkan datang kerumahnya malam-malam.
Untung saja dia sedang cuti sholat. Jika tidak subuhnya akan terlewat pagi ini. Dan sang adik juga tidak protes, saat dia hanya menyajikan nasi putih dan telur dadar dengan irisan cabe dan daun bawang di dalamnya.
Biqha telat masuk kantor sekitar lima belas menit. Untungnya dia tidak sendiri. Ada beberapa karyawan yang juga telat karena terjebak macet, termasuk dua rekan satu divisinya. Desi dan Lina juga kabag mereka, bu Diana. Jadi keadaan cukup aman.
Sebelum memulai pekerjaannya, Biqha pergi ke pantry untuk membuat teh hangat. Lalu menyempatkan diri untuk memberi kabar via chat pada Yoga, yang ternyata sudah menghubunginya sejak tadi malam.
// Ga' maaf ya. Aku baru bisa kasih kabar sekarang. //
//Tadi malam aku ketiduran. Paginya aku liat hpku mati. Aku baru tau kamu hubungi aku sebelum berangkat ke kantor.//
// Tapi karna aku buru-buru, jadi aku gak sempet telephon balik.//
// Ini aku juga baru sampe kantor. Telat, gara-gara macet.//
Tak lama chatnya lamgsung dibalas oleh Yoga.
// Gak papa sayang....//
// Syukurlah..... Aku pikir kamu marah sama aku.//
// Siang ini, kita makan siang bareng ya....! //
Biqha tidak sempat membalasnya, karena seorang Office girl mengatakan kalau bu Diana mencarinya.
Hingga dia melihat dua rekannya memperbincangkan pria tersebut. Baru dia tau bahwa pria itu adalah ayah dari Yoga. Yang dulu pernah Yoga perkenalkan padanya, saat hari kelulusan mereka.
" Ada apa ya...? Sampe pak Adi menemui pak Erick di ruangannya? Kalau ada masalah di kantor.... Kan pak Adi bisa minta pak Erick yang menemuinya. "
Pertanyaan yang Desi utarakan, mewakili pertanyaan banyak karyawan yang ada disana. Tak terkecuali Biqha. Dimana biasanya bos akan memanggil bawahannya bila ada masalah atau keperluan lainnya. Dan lagi kabar yang dia dengar, sudah lama ayah Yoga tidak aktif lagi di kantor. Dia lebih aktif di bisnis kecilnya yang baru.
Dan di dalam ruangan manager, Erick mempersilahkan masuk seseorang yang sudah mengetuk pintu ruangannya. Erick terkejut dengan kedatangan pemilik perusahaan tempatnya bekerja saat ini. Erick langsung berdiri dan berjalan menghampirinya, menyambut riang kedatangan bosnya itu.
" Om Adi....? Duduk om.....!"
Erick langsung mempersilahkan ayah dari sahabatnya itu, untuk duduk di sofa yang ada diruangannya.
" Ada apa om ? Tiba-tiba om datang kesini. Kalau om ada keperluan sama Erick, om kan bisa telephon Erick. Biar Erick yang datang menemui om. "
" Om mau ngomong serius sama kamu Rick... Ini tentang Yoga. Om harap kamu mau jujur sama om dan juga bersedia membantu om mengatasinya."
Melihat wajah om Adi yang sangat serius dan ada siratan emosi di matanya, Erick menduga ada sesuatu yang buruk tengah terjadi.
" Ada masalah apa om? Apa pesta kejutan tadi malam tidak berjalan lancar?"
" Lebih dari itu. Yoga ingin membatalkan rencana pernikahannya dengan Alin."
" Apa...?"
Erick terkejut bukan main mendengar pernyataan dari om Adi.
" Tapi.... kenapa om? " tanyanya lagi.
__ADS_1
" Harusnya om yang tanyakan itu sama kamu. Kamu adalah sahabatnya. Kamu pasti tau apa yang terjadi. Dia selalu cerita apapun sama kamu. Atau kamu memang sengaja menutupinya dari kami. Dan mendukung keputusannya yang ingin mengikuti jejekmu. "
Kalimat terakhir terdengar seperti sindiran keras bagi Erick. Erick langsung mendongakkan kepalanya dengan mata yang membulat, menatap om Adi. Dia cukup tersinggung mendengar kalimat yang dilontarkan ayah dari sahabatnya itu.
" Erick bener-bener gak tau om. "
" Oya...? Lalu bagaimana dengan karyawan baru bernama Nabiqha itu? Om yakin ini ada kaitannya dengan dia."
Lagi-lagi perkataan om Adi sontak membuatnya mengangkat kepala, karena begitu terkejutnya.
" Kamu pasti tau kan apa yang terjadi diantara mereka." sambungnya.
Erick mengelengkan kepalanya sambil menunduk kembali. Dia mengerti kemana arah pembicaraan ini. Erick mulai berpikir kemungkinan tentang hal itu dan kecurigaannya dulu.
' Itu gak mungkin. Yoga dan Biqha gak mungkin diam-diam berhubungan. '
Erick berusaha menyangkal pemikirannya sendiri. Melihat om Adi yang mulai terlihat emosi, Erick mencoba untuk menyangkal semua itu.
" Erick gak ngerti maksud om apa? Kenapa semua ini berkaitan dengannya? Kalau maksud om adalah tentang Yoga yang merekomendasikan dia untuk bekerja disini. Erick juga awalnya gak tau menau tentang itu. Dan Erick udah berulang kali memastikan ke Yoga, kalau keputusannya itu gak ada hubungannya dengan perasaannya dulu terhadap Biqha." jelasnya.
" Jadi benar.... Yoga menyukai gadis tuna rungu itu?"
Erick tersentak mendengar kata-kata hinaan dari pria dihadapannya itu. Tapi melihat kilatan emosi yang semakin besar dimata om Adi, membuat Erick tidak bisa menyelanya. Malah Erick menyesali ucapannya sendiri, yang sepertinya memperunyam masalah.
" Itu gak seperti yang om bayangkan. Itu hanya ketertarikan saat masa remaja. Cinta monyet waktu SMA. Dan Biqha sendiri gak pernah menanggapi perasaan Yoga. Jadi tidak ada hubungan apapun diantara mereka, selain pertemanan. "
penjelasan Erick, mencoba menghilangkan kecurigaan dihati om Adi. Sedangkan om Adi hanya diam, sembari menatapnya lekat. Seolah menelisik kebenaran dari mata Erick.
" Waktu itu, Yoga tidak sengaja bertemu dengan Biqha yang sedang mencari pekerjaan om. Karena kita juga sedang membutuhkan seorang akuntan. Makanya dia meminta Biqha untuk datang ke kantor. Karena dia tau kemampuan Biqha itu di atas rata-rata om. Itu semata untuk kepentingan perusahaan. Dan itu terbukti, hasil kerjanya selama ini sangat baik. " Lanjutnya.
Om Adi masih tetap diam, mencerna penjelasan Erick.
" Tentang kecurigaan om itu.... Erick rasa itu tidak benar om. Karena sejauh ini, Erick lihat tidak ada yang mencurigakan diantara mereka. Mereka bahkan tidak pernah terlihat berinteraksi sama sekali di kantor. " sambungnya lagi.
Penuturan Erick kali ini tidak sepenuhnya jujur, karena sebelumnya Erick juga sempat mencurigai Yoga. Dan kecurigaan itu kembali menggangu pikirannya. Tapi sebelum memastikan semuanya, Erick pikir lebih baik menutupi masalah ini dari om Adi.
" Bagaimana di luar kantor? "
Erick melebarkan matanya mendengar pertanyaan dari om Adi.
" Bagaimana jika mereka memang sengaja menutupi hubungan mereka di kantor, dan diam-diam menjalin hubungan diluar? "
Erick terdiam, dan mulai menarik mundur ingatan-ingatannya beberapa waktu kebelakang. Dari mulai pernyataan Yoga tentang keinginannya menikah, namun seketika dia ralat dan kemudian mengatakan kalau bertunangan belum tentu berjodoh.
Lalu Erick juga sempat beberapa kali mendapati Yoga pulang kantor ke arah yang berlawanan dari rumahnya. Namun itu searah dengan kontrakkan Biqha. Tapi itu semua bisa saja kebetulan. Seperti yang Yoga bilang kalau dia sedang ada urusan. Kemudian dia juga ingat dengan perkataan Rendra, tentang Biqha yang sering telephonan di malam hari.
' Apa mungkin orang yang teleponan dengan Biqha setiap malam itu adalah Yoga? Bukannya Fajar? Aku harus memastikan semua ini lebih dulu. Sebelum itu, lebih baik aku menutupi kecurigaan ini dari om Adi.' Gumamnya dalam hati.
" Rasanya itu gak mungkin om. Karena... Yang Erick dengar Biqha sedang dekat dengan salah satu rekannya disini. Yah.... Walaupun Erick tidak tau pasti, itu benar ato tidak."
Erick terpaksa membuat kebohongan demi menenangkan om Adi. Dan menyelamatkan kedua sahabatnya. Tapi jika kecurigaan itu benar, Erick tidak bisa membayangkan kekacauan apa yang akan terjadi pada mereka. Namun sebisa mungkin Erick akan berusaha memastikan kekacauan itu tidak terjadi.
Semoga saja kecurigaan ini tidak benar adanya. Itulah harapan dihati Erick saat ini.
" Semoga saja apa yang kamu katakan itu benar. Tapi jika terbukti Yoga dan gadis itu memiliki hubungan, dan kamu sengaja menutupi semua itu. Om tidak akan segan-segan untuk bertindak Rick. Tegaskan hal ini pada kedua temanmu itu ! Terlebih Yoga. Pastikan dia tidak bertindak lebih jauh lagi. Ini bukan hanya tentang perasaan lagi. Tapi tentang nama baik keluarga dan bisa berpengaruh pada kelangsungan perusahaan ini."
Erick tidak bisa membantah ucapan om Adi, karena ini adalah masalah keluarga mereka.
" Dan tentang gadis itu, om bisa saja menyingkirkannya saat ini juga. Tapi om tidak mau bertindak semena-mena sebelum semua terbukti jelas. Karena itu om minta, kamu juga harus memastikan keberadaannya disini tidak membuat masalah. "
__ADS_1
Setelah mengucapkan ancaman itu, om Adi hendak pergi meninggalkan ruangan. Dan Erick pun mengantarnya sampai di depan lift, hingga beliau berlalu.