
" Hemhang khamhuh phikhir Ehrhik bhakhal nghomhong haphah shamha hakhu? Shamphe khamhu bherphikhir hakhu bhakhal mhenjhauh dharhi khamhu...." ( Emang kamu pikir Erick bakal ngomong apa sama aku? Sampe kamu berpikir aku bakal menjauh dari kamu... )
Tanya Biqha karena merasa heran, dan tidak mengerti maksud perkataan Yoga sebelumnya.
" Ya....itu.... Aku cuma khawatir dia akan melakukan hal yang sama seperti dulu, menyinggung dan menyakiti perasaan kamu. Atau memintamu menjauhiku hanya karena dia tidak suka melihat kita bersama? "
Awalnya Yoga sedikit tergagap, namun sedetik kemudian ia berhasil mengatasi rasa gugupnya. Dan segera menjawab pertanyaan Biqha dengan baik.
" Thaphi Ehrhik ghakh phernhah nghomhong hapha-hapha khokh. Dharhi dhulhu jhugha Ehrhik ghakh phernhah nglharhang khamhuh dhekhet shamha hakhu khan? Mheskhi phun Dhia ghakh shukha shamha hakhu, thaphi dhia thethep shelhalhu themhenhin khamhu khalho khe rhumhahkhu. Dhia jhustrhu mharhah shamha hakhu dhulhu khan... kharhenha hakhu nholhak khamhu therhus. "
( Tapi Erick gak pernah ngomong apa-apa kok. Dari dulu juga Erick gak pernah ngelarang kamu deket sama aku kan? Meskipun dia gak suka sama aku, tapi dia tetep selalu temenin kamu kalo ke rumahku. Dia justru marah sama aku dulu kan... karena aku nolak kamu terus.)
Kali ini Biqha tidak sependapat dengan Yoga. Meskipun Erick menyebalkan dan terkadang ketus terhadapnya, namun Biqha merasa Erick tidak pernah keberatan dengan kedekatan mereka. Biqha merasa sebagai sahabat Yoga, Erick selalu mendukung Yoga dalam hal apapun.
" Iya sih.... Itu cuma ketakutanku aja Bi... Soalnya waktu aku masukin kamu ke kantor kan dia sempet marah, karena merasa tindakanku gegabah dan ceroboh sampe jadi rumor di kantor. Yah... Dia emang bener sih. Makanya aku takutnya.... dia marah dan minta kamu jauhin aku, supaya rumor tentang kita tidak semakin buruk di kantor. Itu aja sih.... Dalah lupain aja."
Mendengar kata-kata Yoga, Biqha teringat kejadian pagi tadi. Saat Erick menegur dua karyawati dari divisi keuangan yang sedang menggunjingnya di pantry.
" Hakhu rhasha Dhia bheghithu kharnha dhia pherdhulhi shamha khamhu. Dhia ghakh mhahu ohrhang-ohrhang dhi khanthor nghomhonghin hal bhurhuk thenthang khamhu. Dhia ghakh mhahu nhamha bhaik khamhu shebhaghai phimphinhan therchorheng. " ( Aku rasa dia begitu karna dia perduli sama kamu. Dia gak mau orang-orang di kantor ngomongin hal buruk tentang kamu. Dia gak mau nama baik kamu sebagai pimpinan tercoreng.)
Biqha menceritakan kejadian yang dia lihat tadi pagi pada Yoga. Bagaimana Erick dengan emosinya menegur karyawati yang sedang bergunjing itu.
" Hakhu shamphai therharhu dhan shemphat ghakh pherchayha dhenghan phengelhihathankhu, khalhau Ehrhik mhahu mhembhelhakhu dhi dhephan kharyhawhan yhang lhain. Whahlauphun hakhu thahu dhia Mhelhakhukhan ithu shemhatha-mhatha hanyhah unthuk mhenjhagha nhamha bhahikmhu, bhukhan bhernhihat unthuk mhembhelhakhu. Thaphi hakhu thethap mherhasha therharhu jhugha. "
( Aku sampai terharu dan sempat gak percaya dengan pengelihatanku, kalau Erick mau membelaku di depan karyawan yang lain. Walaupun aku tau dia melakukan itu semata-mata hanya untuk menjaga nama baikmu, bukan berniat untuk membelaku. Tapi aku tetap merasa terharu juga.)
" Gak sayang..... Erick itu sebenarnya juga perduli sama kamu. Erick itu memang orangnya suka ceplas-ceplos dan terkadang suka nyebelin, tapi sebenernya dia itu baik. Dia itu orang yang punya rasa empaty yang besar. Dia itu sebenernya paling gak bisa kalau liat ada orang yang lagi kesusahan, apalagi di tindas. "
Yoga menjelaskan pada Biqha tentang sifat Erick yang sebenarnya, agar Biqha tidak salah paham.
" Sebenernya dulu tanpa sepengetahuan kamu, Erick itu sering ngebela kamu sayang... Cuma kalo di depan kamu ya... gitu, suka nyebelin. Aku pikir itu karna kamu juga sih.... Karna dari awal kamu selalu anggap dia sebagai pesaing. Dan sikap kamu juga gak ramah dan ketus sama dia, jadi dia juga balik begitu sama kamu. "
Penjelasan Yoga tentang Erick membuat Biqha teringat masa lalu. Saat awal-awal masuk sekolah, sebelum dia mengenal Yoga.
Erick sering marah-marah padanya, karena selalu diam saat diejek teman-teman sekelasnya. Bahkan Biqha sering diperlakukan seperti pesuruh oleh teman-teman wanita di kelasnya.
" Lo kenapa diem aja sih diperlakukan kayak gitu sama mereka? kalo lo terus diem, mereka bakal makin seneng ngerjain lo. "
" Lo itu harusnya jangan mau di suruh-suruh mereka kayak gitu. "
" Lo pikir dengan lo kerjain semua yang mereka minta. Mereka bakal mau temenan sama lo? Lo itu bego atau apa sih? Lo tau kan kalo lo cuma di manfaatin doang sama mereka?!! "
" Otak doang yang pinter, tapi nalar gak dipake."
Kata-kata Erick memang kasar dan terdengar pedas. Tapi kalau dicerna dengan baik, sesungguhnya itu adalah bentuk keperduliannya pada Biqha. Meski pada awalnya Biqha kesal dengan semua perkataan Erick padanya, namun tanpa Biqha sadari kata-kata Erick itu menjadi pecutan baginya menjadi pribadi yang lebih berani.
__ADS_1
Pernah satu saat Erick mendapati Biqha keluar dari toilet sekolah dengan mata yang sembab. Seketika itu pula Erick memarahinya.
" Apa nih....? "
Erick mengambil sisa airmata di ujung mata Biqha dengan jari telunjuknya.
" Ini yang lo bilang... 'aku gak selemah itu'. Waktu gue belain lo depan mereka, lo bilang lo bisa atasi semuanya sendiri. Dengan apa? Dengan lo lakuin semua yang mereka minta? Sampe kerjain semua PR mereka, biarin mereka ambil tugas yang udah lo kerjai susah payah. Lo pikir dengan gitu lo keliatan hebat? Gak Bi...... Lo malah keliatan menyedihkan tau gak..... "
Erick menarik nafas dalam, demi bisa menata emosinya.
" Bi..... Dengan lo ngelawan dan bersikap tegas sama mereka bukan berarti lo jadi jahat seperti mereka. Dan dengan lo diem, terus turutin semua yang mereka suruh bukan berarti lo jadi orang baik. Lo juga jahat. Lo jahat dan gak adil sama diri lo sendiri. "
Erick berpaling dan melangkah menjauh, namun sedetik kemudian dia berbalik kembali menatap Biqha.
" Lo takut gak punya temen? Kalo gue.... lebih baik gue gak punya temen, daripada punya temen munafik dan selalu semena-mena kayak mereka. "
Kata-kata Erick itulah yang berhasil mengubah pemikiran Biqha untuk lebih fokus pada dirinya sendiri di sekolah. Daripada mencoba berteman dengan orang-orang yang tidak tulus dan hanya ingin memanfaatkannya.
Lamunan Biqha tentang Erick dimasa lalu, membuatnya tidak fokus dengan Yoga. Hingga Yoga menyentuh dagunya, dan membuatnya tersadar.
" Kok ngelamun?" Tanya Yoga.
Biqha menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Kemudian meminum minuman yang sudah Yoga pesankan untuknya.
Yoga berpikir kalau Biqha ngambek, karena tiba-tiba terdiam dan melamun setelah dia berkata seperti itu. Ketika Biqha menggelengkan kepalanya, Yoga baru merasa lega.
" Mhungkhin khamhu hadha bhenhernyhah jhugha. Abhisnyhah dhia shukha bherlhaghakh phalhing kherhen dhan phalhing phinther. Bhikhin kheshel hajha.... " (Mungkin kamu ada benernya juga. Abisnya dia suka berlagak paling keren dan paling pinter. Bikin kesel aja....)
" Itu cuma dimulut aja sayang. Di dalamnya sebenernya Erick gak begitu kok. Dia bukan orang yang suka pamer. Kamu mau tau gak. satu rahasia lagi tentang Erick dulu? "
Biqha mengernyitkan dahinya, hingga kedua pangkal alisnya hampir menyatu.
" Tapi kamu janji jangan marah ya.....! "
Biqha mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya.
" Inget kan waktu Erick ngelabrak kamu gara-gara kamu nolak aku itu?! Ujian semester setelahnya Erick sengaja mengosongkan 5 jawaban soal di setiap mata pelajaran, Supaya kamu yang jadi juara umum semester itu. Dia bilang, itu untuk nebus kesalahannya sama kamu. Dia bener-bener merasa bersalah banget sama kamu. Dia sendiri gak tau kenapa dia bisa jadi segitu emosinya saat itu."
Biqha terperangah mengetahui kenyataan itu. Ada rasa kesal karena merasa diremehkan. Namun ada juga rasa tak percaya Erick bisa melakukan itu untuknya. Karena yang dia tau Erick bukan orang yang mau mengalah.
" Aku tau hal itu, karena waktu itu aku meminta contekan beberapa jawaban soal yang sulit darinya. Termasuk jawaban dari lima soal yang dia kosongkan dari kertas jawabannya. Dan saat hasil ujian semester dibagikan, semua jawaban yang Erick kasih ke aku itu benar semua. Jika Erick mengisi semua jawaban itu, nilainya sempurna Bi... Gara-gara itu juga peringkatnya merosot jadi tiga besar."
Kenyataan yang Yoga ungkapkan saat ini membuat Biqha terdiam. Ada perasan marah karena Erick tidak sportif. Biqha hanya ingin kemenangan yang jujur bukan dibuat-buat seperti itu. Itu lebih memalukan bagi Biqha.
Yoga kembali menggenggam tangan Biqha, menyadari sorot mata Biqha yang terlihat kesal.
__ADS_1
" Bi.... Sebenarnya Erick gak perduli dengan nilai, peringkat ataupun gelar juara umum dan bintang sekolah. Dia gak pernah perduli semua itu. Kamu tau apa konsekuensi yang dia dapatkan gara-gara hal itu? Dia di hukum ayahnya, gak boleh keluar rumah sampai lulus. Dia hanya boleh keluar untuk sekolah, ikut kelas bimbel dan les-les lainnya. jadi waktunya cuma belajar..... belajar.... dan belajar."
Raut wajah Biqha mulai berangsur normal. rasa marahnya berubah mendengar penjelasan Yoga.
" Untung saja saat di kelas tiga, dia sama kamu kembali terpilih mengikuti olimpiade. Jadi dia bisa sedikit bernafas. Dan bisa membuat alasan dan mencari kesempatan untuk bisa bermain. Makanya dia bisa keliatan happy banget kalo main sama adik kamu. Karena sejak kecil, hidupnya sudah dipenuhi dengan tuntutan. "
Yoga semakin terlarut menceritakan kisah sahabatnya itu.
" Di pundaknya sudah dibebankan tanggung jawab sebagai pewaris perusahaan besar. Hidup Erick penuh tekanan Bi.... Sebenernya Erick dulu ingin melanjutkan ke sekolah kejuruan otomotif. Tapi orang tuanya gak mengijinkan, karena sebagai laki-laki satu-satunya dia harus mengembangkan bisnis keluarganya. Tapi kalau tidak di ijinkan masuk sekolah kejuruan, Erick tidak mau melanjutkan di sekolah international lagi. Karena dia merasa bosan bertemu dengan orang-orang yang sama sejak kecil. "
Yoga sedikit tersenyum lucu mengingat alasan Erick saat itu. Sedangkan Biqha semakin merenung, karena merasa prihatin pada Erick.
" Akhirnya orang tuanya memilih sekolah unggulan yang lain, dengan syarat... Erick harus bisa jadi yang terbaik di sekolah. Kalau di international school, Erick bisa menduduki tiga besar terbaik. Maka di sekolah unggulan Negri, dia harus mencapai puncak. Dan disana dia ketemu kamu yang juga berambisi menjadi yang terbaik. "
Yoga kembali tertawa kecil, mengingat bagaimana Erick dan Biqha bersaing dan nyaris selalu ribut saat bersama.
" Jadi deh, dia gak bisa sedikit bersantai sesuai harapannya. Makanya terkadang kalau dia sudah merasa penat dan sangat tertekan, dia akan membolos. Sekedar untuk menenangkan hati dan pikirannya dengan memghirup udara bebas. Kamu tau kemana Erick kalau membolos? "
Biqha menggelengkan kepala sebagai jawaban pertanyaan Yoga. Biqha menjadi terenyuh dan merasa bersalah, mengingat siang tadi dia mengolok Erick sebagai tukang bolos di depan rekan-rekannya, tanpa tau alasan dibalik itu.
" Dia bermain bersama anak-anak jalanan. Terkadang ikut mereka mengamen, berjualan kantong kresek di pasar traditional. Bahkan dia juga pernah mengamen bersama anak-anak funk. Dia bilang, dia kagum pada mereka yang berani mengekspresikan diri dan keinginan mereka tanpa beban. "
Menyadari dirinya sudah keasikan bercerita tentang Erick sampai lupa waktu, Yoga langsung menepuk dahinya sendiri.
" Kenapa jadi ngomongin Erick terus ya..... Masa' kencan pertama jadi ngomongin sahabat mulu. Kamu sih sayang.... bahas-bahas Erick terus. Waktu kita abis cuma buat bahas Erick doang.
Keluhnya pada Biqha yang membuat Biqha seketika tertawa.
" Khan khamhuh yhang bhahas thenthang dhia, bhukhan hakhu. Ghimhanha shih.... " (Kan kamu yang bahas tentang dia, bukan aku. Gimana sih... )
Yoga memegang kepalanya dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Biqha semakin tertawa dibuatnya.
" Yhah hudhah.... khan khitha mhashih phunyhah bhanyhakh whakthu. Hemhang khenchan pherthamha harhus haphain shih... ? Shamha hadjha khan. Mhakhan, jhalhan, phulhang bharheng. Khitha khan hudhah sherhing bheghithu, dharhi dhulhu jhugha. (Ya udah.... Kan kita masih punya banyak waktu. Emang kencan pertama harus ngapain sih.....? Sama aja kan. Makan, jalan, pulang bareng. Kita kan udah sering begitu, dari dulu juga. )
" Beda dong sayang..... Kalo dulu kita jalan sebagai sahabat. Sekarang kan kita pacaran. Aku bisa genggam tangan kamu terus kayak gini. Terus... kita juga bisa gandengan tangan saat jalan. Terus......"
" Therhus haphah? Jhanghan mhikhir yhang hanheh-hanheh yhah..... Hakhu ghakh mhahu khamhuh mhintha mhachem-mhachem, shebhelhum khitha.... " ( Terus apa? Jangan mikir yang aneh-aneh ya..... Aku gak mau kamu minta macem-macem, sebelum kita....)
Kata-kata Biqha menggantung, karena Yoga langsung menyambar ucapannya.
" Sebelum kita apa? "
Tanya Yoga dengan senyum dan tatapan menggoda pada Biqha. Biqha jadi tersipu malu. Namun dengan cepat dia menjawab.
" Shebhelhum khitha halhal. " (Sebelum kita halal)
__ADS_1