
Biqha berusaha menjelaskan sedeteil mungkin agar Yoga tidak lagi berpikiran yang tidak - tidak tentangnya dan Fajar.
" Lhaghian khamhuh khenhaphah jhadhi mharhar-mharhah ghithu? Khelhihathan khayhak ohrhang lhaghi chembhurhu thahu ghakh. Khalhau ohrhang lhi... " ( Lagian kamu kenapa jadi marah-marah gitu? Keliatatan kayak orang lagi cemburu tau gak. kalau orang li...)
" Ya Iyalah aku cemburu. Cowok mana yang gak bakalan cemburu, kalau liat cewek yang dia sayang jalan sama cowok lain. "
Dengan cepat Yoga memotong perkataan Biqha, yang sebenarnya hanya ingin bercanda menggodanya. Biqha terpaku mendengar ucapan Yoga. Dia tidak menyangka Yoga akan menanggapi candaannya dengan begitu serius.
Tadinya Biqha mengira Yoga akan menghentikan pembahasan ini, setelah mendengar candaan berupa sindirannya itu. Karena Yoga pasti akan merasa malu dan gengsi mengakui dirinya sedang dilanda rasa cemburu.
Tapi ternyata malah sebaliknya. Yoga tidak segan mengakuinya, bahkan dengan tegas mengatakannya dengan pancaran emosi yang terlihat jelas di sorot matanya.
Perlahan sorot mata Yoga melembut. Kemudian Yoga meraih jemari Biqha di atas meja dan menggenggamnya. Biqha pun semakin terpaku, jantungnya berdebar merasakan hangatnya tatapan Yoga dan lembut sentuhan tangannya.
" Bi........ Kamu tau kan gimana perasaanku ke kamu?! Kita bukan ABG lagi yang harus pake acara tembak-tembakan segala kan? "
Mata Yoga semakin lekat menatap Biqha, membuat Biqha merasakan debaran jantungnya semakin kencang. Biqha benar-benar tidak menyangka, malam ini dia akan kembali mendengar pengungkapan cinta dari Yoga.
Biqha menelan ludah. karena merasa gugup, tiba-tiba tenggorokkannya terasa kering. Biqha pun mengambil minuman dengan tangan sebelahnya yang masih terbebas, lalu meneguknya sedikit.
" Aku pikir..... Kita udah melewati fase itu. Jadi udah gak perlu ada lagi hal-hal semacam itu. Karena aku yakin tanpa aku ungkapkan pun kamu pasti bisa merasakannya. "
Tiba-tiba tatapan mata Yoga menjadi sendu. Yoga kembali meraih tangan Biqha yang masih terbebas. Kini kedua tangan itu digenggam erat oleh Yoga. Sementara Biqha tak mampu berkata-kata.
" Perasaan ini gak pernah berubah, sekalipun kita udah berpisah bertahun-tahun lamanya. Justru rasa ini semakin kuat Bi..... Kamu pasti tau itu kan? Kamu bisa rasain itu kan Bi.....? Itu sebabnya aku gak bisa liat kamu dekat dengan lelaki lain. Aku takut..... Aku gak mau kehilangan kamu lagi. "
Mata Yoga mulai berlinang karena luapan emosi yang ada di hatinya. Biqha juga merasakannya. Matanya juga mulai terasa panas dan basah karena merasa sangat terharu dengan ungkapan cinta Yoga kali ini.
" Aku sayang kamu Bi.... Aku CINNTAAA banget sama kamu. "
Tanpa bisa dibendung, air mata itu pun menetes dari kelopak mata yang indah milik Biqha. Dia sungguh merasa terharu. Kali ini sungguh berbeda dari ungkapan cinta Yoga yang dulu-dulu. Ungkapan isi hatinya kali ini terasa begitu menyentuh, begitu romantisnya.
" Bi.... Aku mau kamu jadi pendamping hidupku. Aku ingin kita bisa selalu bersama selamanya. "
Dengan tatapan mata yang berkaca - kaca, Yoga mengutarakan harapannya pada Biqha. Biqha kembali meneteskan airmatanya. Ini juga merupakan harapannya, hal yang dia tunggu - tunggu dari Yoga. Tapi entah mengapa tiba - tiba ada sebersit keraguan di hatinya.
Padahal, dia sudah memikirkan tentang ini. Sebelumnya Biqha merasa sudah siap menjalin hubungan dengan Yoga. Andaikan Yoga memintanya kembali menjadi pasangannya. Karena di usianya yang memasuki 24 tahun ini, dia rasa sudah saatnya dia memikirkan tentang pasangan hidup.
Namun saat hal itu terjadi, Biqha malah ragu. Tiba-tiba ada perasaan tidak percaya diri di benak Biqha. Dia tidak yakin hubungannya dengan Yoga akan berjalan lancar.
" Thapphih.... hakhu.... " (Tapi.... Aku.... )
" Please Bi..... Jangan tolak aku lagi ! Aku bisa gila kalau kamu menolakku lagi kali ini. "
Dengan cepat Yoga menyambar ucapan Biqha. Kata - kata yang Biqha ucapkan tadi, seakan memberikan sinyal yang buruk untuknya. Yoga melepaskan genggaman tangannya pada Biqha. Kemudian dengan cepat menggeser tempat duduknya mendekat di sisi samping kanan. Lalu meraih kembali tangan Biqha.
__ADS_1
" Bertahun-tahun aku nunggu kamu Bi...... Dulu kamu nolak aku dengan alasan ingin fokus belajar sampai lulus kuliah. Sekarang bukan hanya lulus, kamu juga udah bekerja. Kita udah dewasa sekarang. So please Bi..... Jangan cari-cari alasan lagi sekarang ! "
Yoga menegakkan kembali tubuhnya yang tadi sempat menunduk sedikit sambil menatap wajah Biqha.
" Atau sebenarnya.... kamu memang sengaja membuat alasan itu, buat nolak aku karena kamu gak suka sama aku? Karena itu sekarang pun.... "
Biqha cepat-cepat menggelengkan kepalanya, bahkan sebelum Yoga menyelesaikan perkataannya.
" Bhukhan ghithu. Hakhu chumha thakhut khelhuhargha khammhuh ghak hakhan shethujhu khalhau khithah bherhubhunghan. ( Bukan gitu. Aku cuma takut keluarga kamu gak akan setuju kalau kita berhubungan. )
Tiba-tiba Biqha merasa kecil, dia tidak percaya diri akan bisa di terima oleh keluarga Yoga yang merupakan kalangan elit. Sementara dirinya hanyalah yatim piatu yang sangat sederhana. Bahkan rumah pun mereka sudah tidak punya. Belum lagi kondisinya yang tuna rungu.
Bila Biqha normal saja pun, keluarga Yoga belum tentu bisa menerimanya. Karena Biqha bukan wanita dari kalangan berada. Apalagi di tambah dengan kekurangannya itu. Biqha rasa mustahil keluarga Yoga bisa menerimanya.
" Hakhu bheghinhih Gha'..... Bhukhan hanyhah ghakh shebhandhing, thapphih hakhu jhugha ghakh shemphurnhah. Mhanhah mhungkhin ohrhang thuhah khammhuh mhahu nherhimmhah hakhu.... " ( Aku begini Ga'...... Bukan hanya gak sebanding, tapi aku juga gak sempurna. Mana mungkin orang tua kamu mau nerima aku....)
Biqha menjelaskan sembari menahan airmatanya yang akan tumpah dengan mendongakkan kepalanya ke atas. Yoga menatapnya sendu kemudian menyentuh dagu Biqha dan menariknya pelan agar kembali menatapnya.
" Hei.... No one is perfect, and neither am I...
Aku juga punya banyak kekurangan, dan kamu tau itu. Aku gak sepintar kamu. Aku juga gak setangguh dan seberani kamu. kamu ingat.... dulu kalau bukan karena kamu dan Erick, aku gak akan bisa apa-apa. "
Yoga berusaha membesarkan hati Biqha yang sedang tidak percaya diri akan kondisinya. Biqha menanggapinya dengan gelengan kepalanya.
Yoga mengangkat tangannya yang masih menggenggam erat tangan Biqha ke dadanya.
" Percaya sama aku Bi.....! "
Biqha menatap kedua bola mata Yoga, yang memandangnya lekat dengan penuh keyakinan. Meski begitu hati Biqha masih meragu. Dia benar-benar merasa insecure.
" Khamhuh yhakhin? Bhaghaimhanhah jhikha ohrhang thuhah khamhuh thernyhathah shudhah mhenyhihapkhan phendhamphing bhuhat khamhuh? Ohrhang thuhah khamhuh phasthi hinghin phendhamphing yhang therbhahik, hunthuk phutrhah shemhatha whayhangnyhah. " ( Kamu yakin? Bagaimana jika orang tua kamu ternyata sudah menyiapkan pendamping buat kamu? Orang tua kamu pasti ingin pendamping yang terbaik, untuk putra semata wayangnya.)
Yoga terbelalak, matanya membulat sempurna karena terkejut mendengar ucapan Biqha. Bagaimana Biqha bisa memiliki pemikiran seperti itu, sementara dia sudah berkali-kali meyakinkan Biqha. Bahwa dia sedang tidak memiliki hubungan dekat dengan siapapun.
Yoga sudah berusaha sebaik mungkin untuk menutupi kenyataan itu dari Biqha. Dia jadi sedikit salah tingkah. Yoga memalingkan wajahnya sebentar dari Biqha, berusaha mengendalikan dirinya yang tiba-tiba merasa gugup. Karena takut rahasianya terungkap.
Sedetik kemudian Yoga kembali mengalihkan pandangannya ke arah Biqha mencoba untuk meyakinkan gadis pujaannya itu sekali lagi.
" Itu gak akan terjadi Bi...... Kalau pun itu terjadi, aku gak akan menerimanya. Aku akan tetap memilihmu dan memperjuangkanmu. Kamu harus percaya sama aku Bi.... Lagipula aku satu-satunya putra mereka, jadi mereka gak akan tega melihat aku menderita. Aku pasti bisa meyakinkan mereka untuk menerima kamu Bi...... Aku yakin setelah mereka mengenal kamu, mereka juga pasti akan menyukaimu. Aku akan bukti'in itu ke kamu nanti. Ok... "
Yoga masih menggenggam tangan Biqha, dengan kedua tangannya mengepal di depan dadanya. Biqha masih menatap Yoga dengan keraguan di sorot matanya. Namun perasaan yang kini membuncah di hatinya membuat Biqha tidak bisa menolak Yoga. Cinta itu telah bersemi di hati Biqha untuk Yoga.
Perlahan Yoga mengangkat tangan Biqha mendekati bibirnya. Namun belum sempat Yoga mendaratkan ciuman di tangan Biqha, dengan cepat Biqha menarik tangannya demi menghentikan aksi Yoga tersebut. Meski itu tidak sampai melepaskan tangannya dari genggaman Yoga.
" Jhanghan bheghithu..... Ghakh henhakh nhanthi dhilhihat ohrhang. " ( Jangan begitu.... Gak enak nanti di liat orang.)
__ADS_1
Biqha melihat ke sekeliling mereka, karena merasa cemas dan malu. Untung saja keadaan agak sepi karena malam sudah semakin larut, dan ini bukan hari libur ataupun weekend. Jadi tidak banyak pengunjung yang datang malam ini.
Yoga mengerti kecanggungan yang Biqha rasakan, karena itu dia pun melepaskan tangan kanannya. Namun tidak dengan tangan kirinya, yang masih menggenggam lembut jemari tangan kanan Biqha. Lalu meletakkannya di pahanya sambil tersenyum pada Biqha.
Meskipun ada sedikit rasa kecewa karena tidak bisa mengecup tangan Biqha, tapi Yoga tetap merasa bahagia. Karena merasa Biqha tidak lagi menolaknya, sebab Biqha tidak memperdebatkan apapun lagi. Biqha hanya terdiam, sedikit tertunduk dan tersipu. Melihat senyum yang terukir indah di wajah Yoga.
" Jadi.... kita jadian kan? " Tanya Yoga dengan senyum menggodanya.
" Khathanyhah ghakh pherlhu hadha yhang bheghithuan lhaghi? Khenhaphah mhashih thanyha? " ( Katanya gak perlu ada yang begituan lagi? Kenapa masih tanya?)
Yoga terkekeh mendengar Biqha membalikkan kata-katanya tadi. Kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, melainkan karena salah tingkah sendiri.
" Ya...... buat masti'in aja sayang. "
Seketika wajah Biqha memerah mendengar Yoga memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Yoga yang melihat perubahan di wajah Biqha pun tersenyum lucu, karena merasa gemas melihat Biqha yang tersipu malu seperti itu.
Dengan cepat Biqha menarik tanganya dari genggaman Yoga. Meraih minumannya kembali, untuk menyegarkan tenggorokannya dan meredakan rasa gugupnya. Namun seketika rona bahagia di wajah Biqha itu berubah pada mode serius kembali.
" Thaphi hakhu ghakh mhahu phacharhan, khalhau chumha hunthuk mhahin-mhahin. " ( Tapi aku gak mau pacaran, kalau cuma untuk main-main.)
" Siapa yang mau main-main? Bi, kamu gak percaya kalau aku serius sama kamu? "
Yoga pun tak kalah serius menanggapinya. Suasana yang tadi sempat menghangat dengan candaan. Kini kembali memanas.
" Bi..... Hampir sepuluh tahun kita saling mengenal. Dari mulai aku berusia enam belas tahun, sampai sekarang usiaku beranjak dua puluh enam tahun. Tujuh tahun kita terpisah jarak. Bahkan lima tahun terakhir kita bener-bener lost contact. Aku sampai putus asa nyari kamu Bi..... Kamu ngilang gak ada kabar. Andai kamu tau gimana hancurnya aku waktu itu..... Tapi setelah terpisah begitu lama pun, hatiku tetap menjadi milikmu Bi..... Hanya kamu. Cuma kamu yang aku mau sayang...."
Ungkapan cinta yang menggebu itu pun Yoga curahkan pada Biqha, agar Biqha tidak lagi meragukannya. Tentu saja itu bukan sekedar kata-kata. Karena Yoga benar-benar bertekad untuk memperjuangkan cintanya pada Biqha.
Dan segala cara akan dia upayakan, untuk bisa menyelesaikan hubunganya dengan Alina. Agar secepatnya dia bisa mempersunting Nabiqha.
Malam yang semakin larut, memaksa mereka mengakhiri kebersamaan mereka di restoran itu. Dengan perasaan yang begitu bahagia, Yoga melajukan motornya untuk mengantar Biqha pulang ke kontrakkannya. Sepanjang perjalanan, Yoga terus menggenggam tangan Biqha.
Yoga menarik menarik tangan Biqha, dan dia paksakan melingkar di perutnya. Yoga tidak membiarkan Biqha menarik tangannya kebelakang lagi. Sambil terus bersenandung, Yoga terus menggenggamnya dengan tangan kirinya.
Sekalipun Biqha sudah memperingatkannya, bila mengendarai motor dengan satu tangan itu berbahaya, Yoga tidak memperdulikanya. Pada akhirnya Biqha pun menyerah. Dia berjanji tidak akan melepaskan tangannya di perut Yoga, agar Yoga mengemudikan motornya dengan benar. Yoga pun tersenyum lebar penuh kemenangan.
Yoga benar-benar di mabuk kepayang. Kini cinta pertamanya telah terwujud. Penantian bertahun-tahun lamanya itu sudah berakhir dan berbuah manis. Tidak perduli badai apa yang akan menerjangnya, akan dia hadapi demi bisa bersama Biqha selamanya. Itu lah tekadnya saat ini.
* Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan Up-nya ya readers......
kemarin sempet beberapa hari koneksi internet di daerah autor bermasalah. susah banget jaringannya.
eh.... tibanya koneksi internet dah normal, malah autor yang bermasalah sama asam lambung. Mohon di maklumi ya.....!
semoga gak pada kecewa dan tetap menanti kelanjutan cerita Biqha dan Yoga. Thank U readers..... *
__ADS_1