
" Kalo aja mereka mau dengerin gue dan membatalkan rencana pernikahan gue sama Alin. Gue gak akan milih jalan ini. "
Erick tertawa sinis mendengar perkataan Yoga.
" Lo sadar sama apa yang barusan lo bilang ? Jelas-jelas disini lo yang berbuat salah. Lo yang udah bermain api sama Biqha. Bisa-bisanya lo limpahkan kesalahan sama bokap nyokap lo. "
Biqha tersentak dengan ucapan Erick. Dia menunduk menyesali apa yang pernah terjadi antara dia dan Yoga. Meski dia tidak pernah berniat bermain api sedikit pun, dengan laki-laki yang sudah memiliki calon istri. Namun kenyataannya memang dialah alasan Yoga melakukan tindakan ini. Dialah penyebab masalah diantara Yoga dengan Alin, dan juga orangtuanya.
Namun Biqha sudah berusaha sebaik mungkin memperbaiki segalanya. Dia bahkan memutus akses komunikasi mereka. Tapi Yoga begitu keras kepala, dia benar-benar tidak mau menyerah dan melepaskan Biqha.
" Ya.... Gue akuin gue salah. Tapi itu karna gue cinta sama Biqha. Lo tau gue cinta sama Biqha dari dulu. Dan lo juga yang paling tau, betapa berartinya Biqha dalam hidup gue Rick. "
Jelas Yoga dengan sorot mata keputusasaannya.
" Tujuh tahun berlalu, akhirnya gue ketemu lagi sama Biqha Rick. Lo pasti tau gimana bahagianya gue saat itu..... Karna lo yang tau persis gimana sakitnya gue saat kehilangan Biqha. Gue udah gak bisa mikir apa-apa lagi. Gue langsung lupa sama semuanya. Yang ada dipikiran gue cuma Biqha. Gue gak mau sampe kehilangan Biqha lagi. Apapun akan gue lakukan untuk bisa bersama-sama Biqha lagi. "
" Meskipun dengan cara menipunya dan menipu Alin diwaktu yang bersamaan?! Dan sekarang lo mau menipu orangtua lo sendiri juga demi bersama Biqha ? "
" Stop it Rick. Gue gak pernah menipu Biqha. Gue bener-bener cinta sama dia. "
" Itu bukan cinta Ga. Lo cuma terobsesi sama Biqha, karna lo penasaran dengan cinta pertama lo yang belum kesampaian. Kalo lo bener-bener cinta sama Biqha, harusnya lo juga mikirin perasaannya. Bukan cuma mentingin perasaan lo sendiri. "
Sambung Erick dengan menggebu, sembari menujuk ke arah Biqha beberapa kali. Sementara Biqha yang masih duduk di sofa, sedikit menunduk sembari memegangi kepalanya yang mulai pusing menyaksikan perdebatan mereka.
Sementara sorot mata Yoga memperlihatkan emosi yang kian mendalam.
" Dan apa namanya kalo bukan menipu? Lo membohongi Biqha tentang status lo yang udah bertunangan. Lo juga membohongi Alin dengan berbagai macam alasan. Dan sekarang lo mau membodohi kedua orangtua lo, dengan mencuri aset dan uang perusahaan. Begitu?! "
Ucapan Erick semakin membuat Yoga berang. Yoga tidak terima dengan kalimat-kalimat Erick yang menyudutkannya di depan Biqha. Dengan kesal Yoga membalas Erick dengan mengungkit masa lalunya.
" Gak usah berlagak bijak lo Rick. Kayak lo sendiri gak punya masalah aja sama bokap nyokap lo. Lo juga udah ninggalin tunangan lo dan membuat murka bokap lo, sampe akhirnya lo diusir dan dicoret dari daftar ahli waris kaluarga. "
Biqha yang terkejut mendengar fakta tentang Erick, seketika kembali menatap kearahnya. Sementara Erick matanya memerah menatap nyalang pada Yoga. Perkataan Yoga sukses membakar hati dan jiwanya, hingga dia tidak mampu lagi menahan emosinya.
Erick menarik kerah jas Yoga dengan kasar. Melihat hal itu Biqha spontan ikut berdiri dan mendekati mereka.
" Jangan pernah samain gue sama lo. Gue gak pernah bermain api dengan wanita manapun. Sekalipun sejak awal gue gak pernah setuju dengan perjodohan itu. Dan apa yang gue lakukan itu benar. "
" Oh ya... Benarkah? Kenyataannya sampe sekarang, lo gak bisa kan membuktikan kalo lo benar? "
Erick terdiam menahan amarahnya yang ingin meledak. Rahangnya mengeras dan sorot matanya tajam menusuk pada Yoga. Diremasnya kerah jas Yoga dengan sangat kuat, hingga tangannya bergetar.
Melihat emosi Erick yang seperti tak terkendali lagi, Biqha mengambil inisiatif berusaha melerai dengan memegang lengan Erick. Begitu Erick melirik kearahnya, Biqha menggelengkan kepalanya. Sebagai isyarat agar Erick jangan sampai lepas kontrol. Erick pun menghempaskan Yoga dengan kasar sambil terus menatapnya penuh amarah.
Yoga merapikan jasnya yang sedikit kusut, dengan tatapan yang tak kalah sengit pada Erick. Kemudian dia tersenyum sinis.
" Satu hal yang gue setuju sama lo. Kita memang berbeda. Karna itu gue lakuin ini semua. Gue gak mau berakhir menyedihkan kayak lo. Memilih kehilangan segalanya dan hidup menggelandang mencari pekerjaan kesana kemari. Demi apa? Alasan demi membuktikan kebenaran. Yang ada itu cuma demi keangkuhan diri lo yang gak mau mengaku kalah dan salah. "
Yoga berucap penuh emosi sambil menunjuk-nunjuk ke arah Erick.
" Dan apa tadi lo bilang..... Gue terobsesi sama cinta pertama? Lo sendiri gak bisa melupakan cinta pertama lo yang bertepuk sebelah tangan. Sampe lo gak bisa move on hingga detik ini. Bahkan sekalipun lo udah melakukan kesalahan sama tunangan lo, lo tetep gak mau mengakui kesalahan itu dan memilih meninggalkannya tanpa rasa tanggung jawab sedikit pun. "
" Tutup mulut lo Prayoga Hermawan. "
__ADS_1
Erick berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya, sampai ia bicara dengan merapatkan gigi-giginya. Meski rasanya sangat sulit, tapi Erick harus sadar posisi. Yoga adalah atasannya dan mereka masih berada di kantor.
Erick berusaha mengatur nafasnya yang terasa berat karena menahan amarah. Hingga dadanya terlihat turun naik, rahangnya juga semakin mengeras. Bahkan kedua tangannya mengepal disisi kanan dan kirinya.
" Lihat diri lo sekarang..... Seorang pewaris tahta Atmadja corp yang dihapuskan. Untung aja gue berhasil membujuk bokap buat kasih lo pekerjaan ini. Kalo gak...... Lo belum tentu bisa bertahan sampe sekarang. Dan mungkin lo akan hidup menggelandang dijalanan. " sambungnya semakin merendahkan Erick dengan nada mengejek.
Biqha mengerutkan keningnya melihat Yoga. Dia tidak percaya Yoga bisa mengatakan hal tersebut pada sahabatnya. Padahal dulu dia sendiri yang mengatakan pada Biqha, kalau memang dialah yang meminta Erick bekerja di perusahaan untuk membantunya. Tapi kini dia bersilat lidah, seolah mengintimidasi Erick dengan budi yang dia berikan.
Sedangkan Erick tidak bisa menahan emosinya lagi, karena merasa sudah direndahkan oleh Yoga. Harga dirinya sebagai laki-laki tidak bisa menerima penghinaan Yoga. Erick kembali menarik kerah jas Yoga dengan kedua tangannya. Melihat hal itu, seketika Biqha berusaha melerai mereka dengan menarik lengan Erick.
" Ehrhik....... Shudhah lhephaskhan ! " ( Erick... Sudah lepaskan ! )
Erick mengabaikan Biqha, namun Biqha tetap berusaha menarik tangannya dari Yoga.
" Lo salah. Sekalipun gue nggak bekerja di sini, gue nggak akan hidup menggelandang di jalanan. Bahkan saat gue kehilangan segalanya, dan belum mendapatkan pekerjaan, gue masih bisa hidup dengan layak. "
Erick kembali menghempas Yoga dengan kasar. Jauh lebih kasar dari sebelumnya.
" Sekalipun gue tinggal di kosan kecil, gue masih bisa bertahan dan makan dengan baik. Dan sebelum lo memohon sama gue untuk bekerja di sini, gue juga udah punya usaha gue sendiri. Dan sekarang pun bukan masalah buat gue, kalau harus resign dari perusahaan ini. "
Tantang Erick dengan tegas pada Yoga. Dan Yoga menatapnya dengan kesal, karna merasa kalah dari Erick. Namun keangkuhannya sebagai seorang atasan tidak bisa menerima hal itu.
" Hanya berjualan minuman Boba saja membuat lo begitu sombong. Kalo bukan karna lo juga bekerja disini, belum tentu lo bisa mengembangkan usaha lo sampai memiliki banyak cabang dalam waktu singkat. "
Erick kembali terpancing dengan kata-kata merendahkan dari Yoga. Hingga ia kembali mengambil ancang-ancang berusaha meraih Yoga, namun Biqha menghalanginya dengan berdiri ditengah-tengah mereka.
" Shudhah chukhup. Shamphai khaphan khalhian mhahu therhus bherthengkhar? Hinhi khanthor..... Hapha khalhian mhahu bhakhu hantham dhishinhi? " ( Sudah cukup. Sampai kapan kalian mau terus bertengkar? Ini kantor..... Apa kalian mau baku hantam disini? )
Yoga dan Erick terdiam, namun sorot mata mereka masih beradu sengit.
" Dia yang tidak profesional di sini. Pagi-pagi datang ke sini mengganggu pekerjaan orang, hanya untuk membahas masalah pribadi demi kepentingannya sendiri. "
" Gue ke sini bukan untuk bicara sama lo. Gue ke sini hanya untuk Biqha. Tapi lo selalu aja ikut campur urusan kami. "
" Chukhup.....! " ( cukup....! )
Biqha meninggikan suaranya demi untuk menghentikan, kedua orang yang telah kehilangan kendali itu.
" Khamhu inghin bhicharha dhenghankhu khan?! Dhan hithu shudhah khamhu lhakhukhan. Shekharhang ghilhirhankhu. " ( Kamu ingin bicara denganku kan?! Dan itu sudah kamu lakukan. Sekarang giliranku. )
Biqha menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
" Khamhu mhahu hakhu bherhenthi bhekherjha dhan pherghi shejhauh-jhauhnyha dharhi shinhi khan ? Bhahiklhah...... Hakhu hakhan mhelhakhukhannyha unthukmhu. " ( kamu mau aku berhenti bekerja dan pergi sejauh-jauhnya dari sini kan? Baiklah.... Aku akan melakukannya untukmu. )
Erick mengerutkan pangkal alisnya tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Biqha. Dia sampai menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan jawaban Biqha. Sementara senyum yang indah semakin mengembang terukir dibibir Yoga.
" Bi.... "
Yoga berhambur ingin memeluk Biqha, namun Biqha mencegahnya dengan mendorong pelan tubuh Yoga.
" Maaf Bi..... Aku.... Aku sangat senang mendengar jawabanmu, jadi......"
" Bi apa lo juga ikut kehilangan akal? Gimana dengan Rendra? Lo mau ninggalin dia sendirian? "
__ADS_1
Erick masih berusaha mempengaruhi keputusan Biqha, yang dia rasa tidak tepat. Erick tidak percaya kalo Biqha akan lebih mengikuti perasaannya yang salah, daripada akal sehatnya.
" Jangan dengarkan dia sayang ! Kita bisa membawa Rendra bersama kita. Kamu jangan khawatir soal itu. Aku akan mengurus semuanya. Aku akan carikan universitas terbaik untuknya ditempat baru kita nanti. Aku juga akan membiayainya. Aku pasti akan bertanggung jawab atas kalian berdua. Adik kamu juga adik aku sayang....."
Yoga mendekati Biqha dan meraih kedua tangannya. Sementara Erick menunduk dan menggelengkan kepalanya melihat hal itu. Bila memang itu sudah menjadi keputusan kedua orang yang dimabuk cinta ini, maka Erick tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
" Aku janji Bi..... Aku gak akan membiarkan kalian kesusahan. Kita pasti akan bahagia bersama. "
Perlahan Biqha menarik kedua tangannya dari tangan Yoga.
" Hakhu mhemhang hakhan pherghi dharhi shinhi. Thaphi thidhak unthuk bhershamhamu. " ( Aku memang akan pergi dari sini. Tapi tidak untuk bersamamu. )
Yoga dan Erick seketika memandang Biqha penuh tanya. Terlebih Yoga yang sudah berharap besar pada Biqha.
" Apa maksudmu Bi...? "
" Hakhu thidhak hakhan pherghi dhenghanmhu. Hakhu hanyha hakhan pherghi dhan mhenghilhang shelhamhanyha dharhi hidhupmhu. " ( Aku tidak akan pergi denganmu. Aku hanya akan pergi dan menghilang selamanya dari hidupmu. )
Biqha bicara dengan tegas, membuat harapan indah dihati Yoga runtuh seketika. Yoga sampai tidak bisa berkata-kata lagi, sangking shocknya mendengar jawaban Biqha. Kemudian dia memandang Biqha dengan tatapan memohon dan mata yang memerah, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Gak Bi..... Tolong jangan katakan itu ! "
" Hakhu shudhah bherhulhang khalhi mhenjhelhaskhan phadhamu. Hubhunghan yhang phernhah therjhalhin dhiantharha khitha bhebherhapha whakthu lhalhu, ithu shalhah. Ithu therjhadhi hanyha kharnha khebhohonganmhu. Hakhu ghak mhahu bhershikhap bhodhoh dhenghan mhembhiarkhan ithu bherlhanjhut lhaghi. Akhu mhohon mhengherthilhah...... Hinhi shalhah Gha..... "
( Aku sudah berulang kali menjelaskan padamu. Hubungan yang pernah terjalin diantara kita beberapa waktu lalu, itu salah. Itu terjadi hanya karna kebohonganmu. Aku gak mau bersikap bodoh dengan membiarkan itu berlanjut lagi. Aku mohon mengertilah...... Ini salah Ga.....)
Airmata Biqha mulai mengalir saat berusaha menjelaskan kembali pada Yoga. Dengan cepat dia menghapusnya, sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
" khamhu shudhah mhemhilhikhi mbhak Halhin. Dhia whanhitha yhang shanghat bhahik. Dhia nyharhis shemphurnha unthukmhu. Jhanghan shia-shiakhan dhia Gha...... Dhialhah whanhitha yhang shudhah dhithakdhirkhan unthukmhu. "
( Kamu sudah memiliki mbak Alin. Dia wanita yang sangat baik. Dia nyaris sempurna untukmu. Jangan sia-siakan dia Ga..... Dialah wanita yang sudah ditakdirkan untukmu. )
" Tapi aku gak mencintainya Bi....."
" Bhohong. "
Biqha langsung mematahkan pernyataan Yoga dengan tegas.
" Hakhu shudhah mhelhihat shemhuanyha. Fhotho- fhotho jhugha vhidhio khalihan dhi hakhun mhedhia shoshihal mbhak Halhin. Shemhua therlhihat jhelhas, bhethapha khalhian shalhing mhenchinthai shebhelhumnyha. Bhahkhan khalhian ghak shungkhan bhermhesrhahan dhithemphat umhum. Hapha ithu bhukhan kharnha chintha? "
( Aku sudah melihat semuanya. Foto-foto juga video kalian di akun media sosial mbak Alin. Semua terlihat jelas, betapa kalian saling mencintai sebelumnya. Bahkan kalian gak sungkan bermesraan ditempat umum. Apa itu bukan karna cinta? )
Yoga masih saja berusaha ingin mengelak dengan menggelengkan kepalanya. Namun Biqha bukanlah wanita bodoh, yang bisa dia kelabui lagi.
" Khalhian shalhing mhemhelhuk dhan jhugha bherchiumhan, shahat bherlhibhur bhershamha. Hakhu shudhah mhelhihat shemhuanyha Gha.... Dhan khamhu mhasih mhahu mhengelhak? "
( Kalian saling memeluk dan juga berciuman, saat berlibur bersama. Aku sudah melihat semuanya Ga...... Dan kamu masih mau mengelak? )
" Bi....it....itu....."
Yoga tidak bisa berkata apa-apa lagi.
" Chukhup Gha.... Henthikhan shemhua kheghilhahan hinhi. Hakhu ghak hakhan phernhah bhisha mhenherhimhamhu lhaghi. Hakhu ghak pherdhulhi khamhu jhadhi mhenhikhah dhenghan mbhak Halhin hathau ghak, yhang phasthi hakhu ghak hakhan phernhah bhershamhamhu lhaghi. "
__ADS_1
( Cukup Ga..... Hentikan semua kegilaan ini. Aku gak akan pernah bisa menerimamu lagi. Aku gak perduli kamu jadi menikah dengan mbak Alin atau gak, yang pasti aku gak akan pernah bersamamu lagi. )