Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 52. Tidak seperti dulu.


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Biqha, Erick berencana mengajak Yoga makan siang bersama dan berbicara dengannya. Namun saat Erick menelepon sekretaris Yoga untuk menanyakan jadwal atasannya tersebut, sang sekretaris direktur itu mengatakan kalau atasannya tidak masuk kantor hari ini.


Erick keluar dari ruangannya dan dilihatnya Biqha berjalan sendirian tanpa seorang teman.


" Dimana teman-teman lo Bi....? Lo gak makan siang bareng mereka? "


Tanya Erick begitu dia sampai di dekat Biqha, yang menunggu pintu lift terbuka.


" Mherhekha shudhah lhebhih dhulhu thurhun. Kharnha hakhu thadhi harhus mhenyhelheshaikhan phekherjhahankhu dhulhu. " ( mereka sudah lebih dulu turun. Karna aku tadi harus menyelesaikan pekerjaanku dulu. )


" Gimana kalo lo ikut gue aja, kita makan ditempat mang udin? " Tawar Erick pada Biqha.


" Bhukhannyha thadhi khamhu bhilhang khamhu hakhan bhicharha shamha Yhogha shihang hinhi jhugha? " ( Bukannya tadi kamu bilang kamu akan bicara sama Yoga siang ini juga? )


" Dia gak masuk kerja hari ini. Sekretarisnya bilang dia memintanya untuk mengatur ulang schedule-nya hari ini, karna dia sedang kurang fit. Jadi mungkin abis pulang kantor aja gue temuin dia di rumahnya. "


Biqha merenung sejenak memikirkan keadaan Yoga. Setelah itu Biqha akhirnya memutuskan ikut dengan Erick. Karna dia juga sedang jenuh menghadapi rasa penasaran kedua rekan wanitanya, yang sejak semalam terus bertanya padanya, tentang apa yang terjadi semalam.


Sampai diwarung mang udin, mereka langsung memesan bakso favorit mereka.Sepanjang perjalanan tadi tidak ada pembicaraan sama sekali. Biqha sibuk dengan pikirannya sendiri. Dan Erick berusaha memahami keadaan Biqha, jadi dia pun membiarkannya termenung disepanjang jalan.


" Bhaghaimhanha khalhau Yhogha mhashih hajha kherhas khephalha dhan thidhak mhahu mhendhengarkhanmhu? " ( Bagaimana kalau Yoga masih aja keras kepala dan tidak mau mendengarkanmu? )


Biqha akhirnya membuka suara, saat sedang menunggu makanan yang mereka pesan. Erick terdiam sejenak, lalu menghela nafasnya resah dengan tatapan menerawang. Erick menggelengkan kepalanya lemah.


" Gue juga sebenernya gak yakin sih.... Yoga bakal mau dengerin omongan gue sekarang. Tapi sebagai sahabat, kita harus berusaha mengingatkan bila sahabat kita melakukan kesalahan kan? Dan itulah yang sedang kita upayakan. Kalo memang dia tetap bersikeras, kita gak punya pilihan lain selain bertindak tegas padanya."


Erick kembali mengalihkan pandangannya pada Biqha.


" Mungkin memang keputusan yang lo buat ini lah jalan yang terbaik. Tapi gue pikir..... ini gak adil buat lo Bi..... setelah sekian lama, akhirnya lo bisa wujudtin cita-cita lo jadi karyawan kantoran. Mendapatkan pekerjaan yang baik dengan upah yang sesuai, yang terpenting bisa membantu perekonomian keluarga. Cita-cita yang sangat sederhana. Tapi lo harus ngelepas gitu aja karna sikap kekanakan Yoga. "


Erick masih mengingat dengan jelas cita-cita yang Biqha utarakan dulu, saat mereka sedang membahas angan-angan masa depan. Kalo dulu Erick sengaja meledek Biqha dengan menyebutkan cita-citanya gak bermutu, hanya untuk membuat Biqha kesal. Kini mereka sudah dewasa, dan Erick pun paham mengapa Biqha memiliki cita-cita yang sangat sederhana seperti itu.


Bukan karna pesimis, melainkan bersikap realistis. Dengan kondisi fisik yang memiliki kekurangan, Biqha sadar betul akan ada rintangan besar baginya bila bermimpi terlalu tinggi. Sulit baginya mendapatkan pengakuan atas kemampuannya.


Bahkan saat kecil dia dikeluarkan dari sekolah karna dianggap tidak akan mampu bersaing dengan teman-temannya, setelah ia kehilangan pendengarannya. Membuat orangtuanya terpaksa memasukkan ia ke sekolah luar biasa, karna tidak ada sekolah umum yang mau menerimanya. Membuat mental Biqha kecil semakin down.


Dengan semangat dan dukungan ayah dan ibunya yang luar biasa, Biqha bisa menerima keadaannya dan kembali ceria. Butuh perjuangan yang sangat keras bagi Biqha untuk bisa melanjutkan pendidikannya di sekolah umum setelah lulus sekolah dasar. Itu pun dia masih harus mendapatkan perundungan dari teman-temannya disekolah.


Itu sebabnya Biqha tidak mau bermimpi terlalu tinggi. Yang terpenting baginya dia bisa membantu ibunya menghasilkan uang, demi meringankan beban sang ibu.


Mengingat hal itu, Biqha menarik sedikit sudut bibirnya dengan getir.


" Hakhu bhisha mhendhaphatkhan phekherjhahan hinhi jhugha hanyha kharnha Yhogha. Khalhau bhukhan kharnha dhia..... Mhungkhin hakhu ghak hakhan phernhah bhisha. " ( aku bisa mendapatkan pekerjaan ini juga hanya karna Yoga. Kalau bukan karna dia..... Mungkin aku gak akan pernah bisa. )


Erick terdiam mendengar kalimat pesimis dari Biqha. Dia merasa prihatin atas nasib sahabatnya yang satu ini.


" Tapi lo berhasil membuktikan kalo lo layak Bi...... Bahkan bu Diana sampe berat mau melepas lo pergi."

__ADS_1


Ucap Erick berusaha membesarkan hati Biqha.


" Sebenarnya bu Diana bisa aja langsung mengabulkan permohonan pengunduran diri lo kalo dia mau. Tapi dia tidak melakukannya, karna merasa sangat disayangkan kalo perusahaan sampe kehilangan karyawan sebaik lo. " sambungnya.


" Jhanghan shok mhenghibhurkhu Rhik..... Hithu mhembhuhatmhu jhadhi khelhihathan hanheh. " ( Jangan sok menghiburku Rick.... Itu membuatmu jadi keliatan aneh. )


Erick langsung memasang wajah tak terima dengan merapatkan bibirnya, sembari menatap tajam pada Biqha.


" Siapa juga yang mau menghibur lo ? Gue bicara fakta. Memang bu Diana ngomong begitu tadi. "


" Shohalnyha khan dhulhu khamhu hithu shukha nyhebhelhin. Dhulhu hajha khamhu bhilhang chitha-chithakhu ghak mhuthu. Shekharhang khamhu mhahu mhembhelhakhu. Hanheh khan....?! " ( soalnya kan dulu kamu itu suka nyebelin. Dulu aja kamu bilang cita-citaku nggak mutu. Sekarang kamu mau membelaku. Aneh kan....?! )


" Siapa yang ngebelain lo? Gue ngomong apa adanya. Lagian lo ya..... ternyata selain punya masalah pendengaran, lo juga punya masalah dengan penglihatan ya..... Lo nggak bisa lihat, gue ini dari dulu memang orangnya baik. Lo aja yang suka salah paham ama gue. "


" Dhih......."


Kini giliran Biqha yang memasang wajah tak terima dengan perkataan Erick.


" Kita sekarang juga udah dewasa Bi.... Masa mau berdebat dan berantem terus kayak dulu. "


Ekspresi wajah Biqha seketika berubah.


" Iyha khamhu bhenher. Thengsh Rhik....! " ( Iya kamu bener. Thank's Rick.... ! )


" Apa? " ucap Erick pura-pura tidak mendengar.


" Mhakhashih...... udhah mhahu mhembhelhakhu dhan mhembhanthukhu shelhamha hinhi. " ( makasih.... Udah mau membelaku dan membantuku selama ini. )


Erick mulai pada mode nyebelin dan jahilnya, yang dengan sengaja membalas ucapan Biqha yang sebelumnya. Biqha pun sontak kembali melirik Erick dengan tajam, dengan bibir yang dirapatkan dan tertarik ke belakang. Erick pun langsung terkekeh melihat ekspresi wajah Biqha, dan tak lama setelah itu Biqha pun ikut tersenyum lucu karnanya.


Setelah itu mereka makan bersama, dan menikmati makan siang mereka tanpa banyak bicara. Karena meskipun Biqha sempat tersenyum, namun sesekali Biqha masih suka termenung. Dan Erick memahami mengapa itu bisa terjadi. Karena masih banyak beban pikiran yang sedang berkecamuk dalam benak Biqha.


Suasana di warung yang mulai didominasi oleh siswa-siswi dari sekolah mereka dulu, membuat mereka seakan kembali ke masa lalu. Masa-masa SMA yang begitu berkesan bagi mereka. Namun setiap kali mereka mengingat Yoga, senyum dibibir mereka kembali menghilang. Terutama Biqha yang saat ini masih sangat terluka dengan sikap Yoga.


" Kenapa dulu lo menghilang Bi....? Kenapa lo gak pernah mau balas email dari Yoga lagi? Gue ngerti keadaan lo sangat sulit saat itu, karna kondisi kesehatan ibu. Tapi seenggaknya lo bisa balas email dari Yoga seperti biasanya dan memberitaunya tentang kondisi lo saat itu. Mungkin keadaannya akan berbeda sekarang, kalo aja lo gak menghilang dulu. "


" Khamhu thahu shendhirhi bhaghaimhanha khondhishikhu Rhik...... hakhu bhukhan dharhi khelhuargha yhang bherkhechukhuphan shecharha mhatherhi. Hakhu bhahkhan bhelhum phunyha phonshel shahat hithu. Mhungkhin khalhau hakhu mhemhinthanyha, ibhu hakhan bherhushaha kherhas unthuk bhisha mhembherhikhannyha. Thaphi hakhu ghak mhungkhin mhelhakhukhannyha. Ibhu shudhah chukhup kheshushahan dhemhi mhenhafkhahi khamhi. Hakhu ghak mhahu mhenhambhah bhebhan ibhu lhaghi....."


( kamu tau sendiri bagaimana kondisiku Rick..... Aku bukan dari keluarga yang berkecukupan secara materi. Akhu bahkan belum punya ponsel saat itu. Mungkin kalau aku memintanya, ibu akan berusaha keras untuk bisa memberikannya. Tapi aku gak mungkin melakukannya. Ibu sudah cukup kesusahan demi menafkahi kami. Aku gak mau menambah beban ibu lagi. )


Erick perlahan menganggukkan kepalanya, sebelum dia kembali bertanya....


" Lalu bagaimana kalian bisa berkomunikasi sebelumnya? Yoga cerita ke gue kalau sebelumnya kalian sering berkomunikasi melalui email, dan sesekali dia juga melakukan panggilan video sama lo. Lo balas emailnya lewat warnet? "


Biqha menggelengkan kepalanya.


" Khamhi berkomhunhikhashi mhelhalhui phonshel dhan imheil themhan khulhiahkhu. Khalhau hakhu mhondhar-mhandhir khe wharnhet chumha unthuk bherkhomhunhikhashi dhenghan Yhogha, ithu nhamhanyha phembhorhoshan bhuatkhu. "

__ADS_1


( kami berkomunikasi melalui ponsel dan email teman kuliahku. Kalau aku mondar-mandir ke warnet cuma untuk berkomunikasi dengan Yoga, itu namanya pemborosan buatku.)


" Teman? Lo punya temen waktu kuliah? "


Biqha melotot mendengar pertanyaan itu dari Erick.


" Khenhapha? Mhemhangnyha hakhu ghak bholheh phunyha themhen ?! " ( Kenapa? Memangnya aku gak boleh punya temen ?! )


" khem..... Mulai. Bukan begitu maksud gue Nabiqha Azzahra...... Ya gue ikut seneng kalo lo punya temen setelah kita pergi. Lagian siapa gue ngelarang lo punya temen....... Aneh. "


Ucap Erick sedikit kesal dengan kesalahpahaman Biqha atas pertanyaan spontannya. Karna hal itulah yang dulu sempat dikhawatirkan Erick, mengingat Biqha tidak memiliki teman dekat selain Yoga dan dirinya.


Bahkan dihari terakhir sebelum dia dan Yoga berangkat ke London dulu, Erick menyempatkan waktu datang kerumah Biqha untuk berpamitan dengan ibu dan juga Rendra. Saat itu dia berkata pada Biqha, agar dia tetap menjadi dirinya sendiri, dan jangan biarkan siapa pun memanfaatkannya lagi, hanya karena ingin memiliki teman.


Mendengar penuturan Biqha tadi, Erick bersyukur Biqha memiliki teman yang tulus padanya. Dan dari cerita Biqha, Erick bisa menyimpulkan bahwa hubungan mereka sangat dekat.


" Terus kenapa lo tiba-tiba berhenti ngebalas email dari Yoga? Apa karena temen lo itu udah gak mau minjemin lo ponsel ato laptopnya? "


Biqha menggelengkan kepalanya.


" Pherthengahan shemhesther lhimha, thibha-thibha dhia mhenghilhang. Dhia thidhak phernhah therlhihat lhaghi dhi khamphus. Bhahkhan dhia jhugha phindhah rhumhah." (pertengahan semester lima, tiba-tiba dia menghilang. Dia tidak pernah terlihat lagi di kampus. Bahkan dia juga pindah rumah. )


" Kenapa? "


Biqha mengedikkan bahunya.


" Shebhelhumnyha dhia shemphat bhercherhitha khalhau hushaha phamhannyha bhangkrhut, dhan shedhang therlhilhit bhanyhak huthang. Mhungkhin hithu yhang mhenyhebhabkhan dhia bherhenthi khulhiah. ( sebelumnya dia sempat bercerita kalau usaha pamannya bangkrut, dan sedang terlilit banyak hutang. Mungkin itu yang menyebabkan dia berhenti kuliah. )


Sejenak Erick terdiam, karena merasa prihatin dengan cerita teman kuliah Biqha itu.


" Terus..... Setelah itu lo gak sekalipun berusaha mengabari Yoga lagi? Harusnya lo kabari Yoga saat itu Bi.... Setidaknya sekali aja, lo bisa kabari Yoga lewat warnet ato gak lo bisa kirim surat. Yoga pasti juga udah kasih alamat tempat tinggal kami kan ?! "


" Ghak lhamha shethelhah hithu..... ibhu jhathuh shakhit. Dhan hakhirnyha khamhi thahu thenthang phenyhakhit ibhu yhang shudhah krhonhis. Shahat hithu hakhu ghak bhisha mhemhikhirkhan khal lhahinnyha Rhik...... Hakhu hanyha hinghin fhokhus phadha kheshembhuhan ibhu. "


( Gak lama setelah itu..... Ibu jatuh sakit. Dan akhirnya kami tau tentang penyakit ibu yang sudah kronis. Saat itu aku gak bisa memikirkan hal lainnya Rick.... Aku hanya ingin fokus pada kesembuhan ibu. )


Erick tidak bisa berkata apa-apa lagi mendengar penjelasan Biqha. Rasa bersalah menyeruak di hatinya, karena telah membuat Biqha mengingat masa-masa sulit itu.


Dan dulu Erick juga sempat ikut menduga-duga dan menyalahkan Biqha atas keterpurukan dan perubahan sikap Yoga yang frustasi karnanya. Padahal kenyataannya Biqha justru sedang mengalami saat-saat yang tersulit dalam hidupnya.


" Sory Bi....."


Biqha menaikkan kedua alisnya menganggapi ucapan Erick, bertanya-tanya mengapa Erick meminta maaf padanya.


" Dulu gue sempet kesel banget sama lo, dan menyalahkan lo atas keterpurukan Yoga. Gue juga sempet minta seseorang buat mencari keberadaan lo, cuma karna gue pengen banget maki lo dan nyeret lo ke depan Yoga. Gue bener-bener minta maaf Bi....."


Biqha tersenyum getir menanggapi perkataan Erick. Meski di dalam hatinya, Biqha sempat terkejut mendengar kejujuran Erick yang sangat frontal itu, namun Biqha memahami mengapa Erick bisa begitu marah dan kesal padanya. Karna sejak dulu Erick selalu menjadi pelindung bagi Yoga.

__ADS_1


" Shebhenharnyha shahat Yhogha mhenjhadhikhan khal hinhi shebhaghai halhashannya mhenherimha pherjhodhohan dhenghan mbhakh Halhin..... hakhu jhugha shemphat bherhandhai-andhai bheghithu. Thaphi hakhu shadhar khalhau shemhuha yhang therjhadhi mhungkhin pherthandha dharhi Allah, bhahwha khamhi mhemhang thidhak dhithakdhirkhan bhershamha. Thaphi khenhapha Yhogha thidhak mhahu mhenherhimha khenyhathahan hithu? Khenhapha bheghithu shulhit mhembhuhatnyha mhengherthi shekharhang? Dhia thidhak shepherthi Yhogha yhang khu khenhal dhulhu. "


( Sebenarnya saat Yoga menjadikan hal ini sebagai alasannya menerima perjodohan dengan mbak Alin.... Aku juga sempat berandai-andai begitu. Tapi aku sadar kalau semua yang terjadi mungkin pertanda dari Allah, bahwa kami memang tidak ditakdirkan bersama. Tapi kenapa Yoga tidak mau menerima kenyataan itu? Kenapa begitu sulit membuatnya mengerti sekarang? Dia tidak seperti Yoga yang ku kenal dulu. )


__ADS_2