
Waktu semakin sore, maka Yoga dan Biqha pun memutuskan untuk pulang. Sesuai harapannya, Yoga berjalan menuju parkiran dengan menggandeng tangan Biqha. Dia terus menyungging senyum di bibirnya, sambil mamandang wajah Biqha dan tangan mereka yang menyatu bergantian berulang kali.
Biqha menjadi sangat malu, kemudian dia menarik tangannya. Namun Yoga tidak membiarkan tangan mereka terpisah, sampai di depan mobil Yoga.
Seperti biasa Yoga membukakan pintu untuk Biqha. Baru setelahnya dia akan masuk di kursi kemudi. Mobilnya pun melaju untuk mengantarkan sang pujaan hati pulang ke kontrakannya.
Dalam perjalanan, Biqha tiba-tiba teringat dengan ucapan salah satu karyawati di pantry pagi tadi. Yang tadi sempat mengganggu pikirannya. Biqha ingin menanyakan pada Yoga tentang hal itu, namun dia ragu. Dia takut Yoga akan marah mendengar tentang gosip itu.
Di sisi lain, Biqha merasa perlu menanyakan langsung pada Yoga agar semuanya jelas. Agar dia juga tidak berpikiran buruk, dan tidak mudah terpancing lagi apabila ada gosip yang sama.
" Gha'.... hadha yhang hinghin hakhu thanyhahin shamha khamhu. " ( Ga'.... Ada yang ingin aku tanyain sama kamu.)
Yoga langsung teralihkan fokus menyetirnya, ketika mendengar suara sang kekasih.
" Tanya apa sayang....? Kapan aku nikahin kamu? Secepatnya. Aku pasti akan nikahin kamu secepatnya. "
Yoga malah menanggapi pertanyaan Biqha dengan bercanda, dan mengodanya. Membuat Biqha tersipu dan dengan refleks memukul paha Yoga, yang sedang tertawa kecil melihatnya.
" Mhalhah bhechandha ih.... " ( Malah becanda ih.....) "
" Siapa yang becanda? Orang aku serius. Tapi sabar ya sayang...... Tunggu aku selesain pekerjaan-pekerjaan penting dulu, baru setelah itu kita bicarain masalah ini. " Ucap Yoga masih dengan tatapan menggoda pada Biqha.
" Bhukhan hithu..... " ( Bukan itu... )
" Oke... oke.... Mau tanya apa? " Ucap Yoga yang kembali Fokus menyetir.
" Hakhu thadhi shemphet lhihat, hadha yhang bhilhang khalhau khamhu hudhah phunyhah chalhon histrhi. Hap....." ( Aku tadi sempet liat, ada yang bilang kalau kamu udah punya calon istri. Ap....)
Yoga seketika langsung menghentikan laju mobilnya, mendengar ucapan Biqha. Bahkan sebelum Biqha sempat menyelesaikan ucapannya. Kata-kata Biqha bagai kilatan di langit yang membuatnya sangat terkejut. Yoga memalingkan wajah menatap Biqha lekat.
" Siapa yang bilang begitu sama kamu, Bi? Apa Erick yang bilang begitu? " Tanya Yoga dengan menggebu-gebu.
Dengan polosnya Biqha menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan Yoga. Kemudian Biqha menjelaskan tentang dua karyawati yang ditegur oleh Erick di pantry. Bahwa sebelum itu dia melihat mereka sedang membicarakannya, dan melihat mereka menyebutkan kalau Yoga sudah memiliki calon istri yang nyaris sempurna.
Yoga terbelalak. Yoga langsung memalingkan wajahnya kearah yang berlawanan dengan Biqha karena panik. Yoga dilanda kecemasan, sampai menelan ludahnya sendiri pun terasa sulit baginya. Secepatnya Yoga berusaha mengendalikan kepanikannya, agar Biqha tidak curiga.
" Khhe.....Gosip macam apa itu? Sembarangan banget mereka ngomong. Katakan sayang siapa mereka...?! Aku akan berikan peringatan keras pada mereka, karena sudah bergosip yang tidak-tidak di kantor. "
Kilatan Emosi terlihat jelas di mata Yoga. Melihat hal itu, Biqha jadi tidak enak hati. Biqha berusaha untuk menenangkan Yoga dengan memegang lengan bawahnya.
" Jhanghan mharhah Gha'...... Hakhu chumha mhahu mhemhasthikhan lhangshung shamha khamhu, khalho ithu ghakh bhenher. Khamhu ghakk mhungkhin dhekhethin hakhu, khalhau khamhu hudhah phunyhah chalhon histrhi khan? " (Jangan marah Ga'..... Aku cuma mau memastikan sama kamu, kalo itu gak bener. Kamu gak mungkin deketin aku, kalau kamu udah punya calon istri kan?)
" Tentu aja sayang..... "
Dengan cepat Yoga menjawab, sembari memegang tangan Biqha yang ada di lengan kirinya.
" Kamu harus percaya sama aku! Aku cuma sayang sama kamu Bi....... Gak ada yang lain di hatiku selain kamu. "
Biqha tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya, membuat Yoga bernafas lega. Namun meskipun begitu, di dalam dadanya tetap bergemuruh, ada rasa cemas, ketakutan, dan amarah di hatinya. Mengingat bukan hanya Erick yang bisa menyampaikan kenyataan itu pada Biqha. Tapi ternyata beberapa karyawannya juga tau tentang itu.
__ADS_1
" Hakhu thahu hithu ghakh mhungkhin. Khamhu ghakh mhungkhin bhohong shamha hakhu. Thaphi.... Bhghaimhanha bhisha hadha ghoship shepherthi hithu Gha'.....? " ( Aku tau itu gak mungkin. Kamu gak mungkin bohong sama aku. Tapi.... Bagaimana bisa ada gosip seperti itu Ga'....? )
Biqha kembali mrngajukan pertanyaan yang membuat jantung Yoga seakan berhenti berdetak. Kemudian kembali berdetak dengan kencang hingga membuatnya sesak.
" Shepherthi phephathah yhang mhenghathakhan, ghak hakhan hadha hashap khalhau thidhak hadha haphi. Phasthi hadha shebhab shamphai bhisha hadha ghoship shepherthi hithu. " ( Seperti pepatah yang mengatakan, gak akan ada asap kalau tidak ada api. Pasti ada sebab sampai bisa ada gosip seperti itu.)
Yoga semakin diserang kepanikan mendengar penuturan Biqha. Yoga tidak tau harus menjawab apa. Dia berusaha menarik nafas pelan disela-sela rasa sesak di dadanya.
Yoga mulai mengendarai lagi laju mobilnya. Mengulur waktu agar dia bisa menenangkan diri, sembari membuat alasan yang tepat untuk Biqha.
" Mungkin itu..... emm... Begini sayang. Sebenarnya rumor itu sudah lama terjadi. Dan aku yang salah karena membiarkannya. " Ucap Yoga berusaha menjelaskan.
" Thaphi khenhapha? " ( Tapi kenapa?)
" Begini Bi.... Ada seorang wanita, putri dari salah satu investor di perusahaan kita. Dia seorang model namanya Alina. Dulu dia sering datang ke kantor, dan kami cukup dekat. Juga pernah beberapa kali jalan bersama. Tapi.... bukan jalan dalam artian kami punya hubungan khusus, gak. Kami cuma beberapa kali makan siang bersama, ya.... untuk membicarakan tentang kerja sama perusahaan kita. "
Yoga berusaha menjelaskan dengan tenang, dan menekan rasa gugupnya. Sambil terus fokus mengemudikan mobilnya.
" Mungkin karena kami sering terlihat keluar bersama dan terlihat akrab, makanya banyak orang kantor yang menyangka kami memiliki hubungan. Tapi sebenarnya gak sama sekali Bi.... Cuma aku membiarkan saja orang-orang berpikiran seperti itu. Karena aku pikir itu lebih baik, dari pada karyawati kantor terus saja mengganggu dan menggodaku. "
Biqha membulatkan mata dan menaikkan alisnya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya dari gerak bibir Yoga.
" Sejak pertama kali masuk kantor, aku menjadi idola semua karyawati kantor Bi.... Tidak sedikit dari mereka yang berusaha mendekat dan menggodaku. Kekasihmu ini sangat tampan sayang..... Makanya aku membiarkan saja rumor itu tersebar, agar mereka tidak lagi mencoba mendekatiku. "
Biqha tersenyum kesal sambil menggelengkan kepalanya, melihat penjelasan yang keluar dari mulut Yoga.
" Kamu percaya sama aku kan sayang.... " Ucap Yoga sambil sesekali mengalihkan pandangan pada Biqha.
Biqha tersenyum dan mengangguk dengan polosnya, tanpa menaruh curiga sedikit pun pada Yoga. Dia yakin Yoga tidak akan membohonginya, sebab Yoga adalah pria yang baik dan sangat tulus padanya sejak dulu.
Sementara itu, Yoga yang melihat senyum yang menenangkan dari Biqha menjadi lega. Mulai bisa menarik nafas panjang, karena merasa berhasil meyakinkan kekasih hatinya itu.
' Syukurlah Biqha percaya dengan ucapanku. Tapi ini tidak bisa dibiarkan terus berlarut. Aku harus segera bertindak. Aku harus secepatnya menyelesaikan masalahku dengan Alin. Setelah dia kembali dari Eropa, aku akan mengakhiri hubunganku dengannya. Hubungan diantara kami harus berakhir sebelum Biqha mengetahuinya. Aku tidak boleh lemah lagi menghadapi Alin. Hubungan kami harus berakhir. ' Yoga bertekad dalam hatinya.
" Alhinha hithu phasthi chanthik dan bhadhanyhah jhugha phasthi bhaghus. Mhakhannyha mherehkha bhilhang dhia nyharhis shemphurnha khan....... Mhemhangnyhah khamhu ghakh thertharhik shamha dhia Gha'? " ( Alina itu pasti cantik dan badannya juga pasti bagus. Makanya mereka bilang dia nyaris sempurna kan... Memangnya kamu gak tertarik sama dia Ga'?)
Tiba-tiba Biqha melontarkan lagi pertanyaan yang membuat Yoga kembali serangan jantung.
" Khe..... Kamu ini ngomong apa sih sayang..."
Yoga berusaha menutupi kegugupannya dengan tertawa kecil menanggapi pertanyaan Biqha.
" Ya... Aku akui dia memang cantik. Tapi untuk menjalin sebuah hubungan butuh kecocokan dan rasa nyaman kan.... Dan kecantikan fisik tidak cukup membuat hatiku jatuh cinta padanya. Bagiku kamu tetap yang tercantik di dunia ini Bi..... Dan hanya kamu yang bisa membuatku merasa nyaman. "
Dengan cepat Yoga menarik tangan Biqha yang digenggamnya sejak tadi, dan menciumnya. Biqha bahkan tidak sempat mengelak. Biqha sangat terkejut. Pipinya memerah, dadanya berdebar, karena sentuhan kecil dari Yoga. Kemudian. Biqha menarik tangannya dari genggaman tangan Yoga.
" Maaf Sayang.... cuma kiss di tangan doang, gak papa kan...? "
Biqha tidak menjawab, hanya menunduk. Dadanya masih berdebar mendapat perlakuan seperti itu.
__ADS_1
Sejenak suasana menjadi hening. Yoga takut Biqha marah, atau bahkan Biqha sedang menyiapkan pertanyaan-pertanyaan mengejutkan yang akan membuat jantungnya melonjak lagi. Karena itu, Yoga berpikir untuk mengalihkan pembicaraan lain, agar dirinya tidak lagi merasakan sesak di dadanya karena pembahasan tentang ini.
" Oya sayang.... tadi siang kamu naik motor sama Erick kan? Naik motor siapa? Setau aku Erick kan udah gak punya motor. Apa dia beli motor baru?"
Yoga memulai pembicaraan setelah menggenggam tangan Biqha, hingga Biqha mengalihkan pandangan ke arahnya lagi.
Ucapan Yoga mengingatkan Biqha kejadian tadi siang tentang Erick dan motornya. Biqha pun menceritakan kejadian itu pada Yoga. Yoga yang medengarkan sambil terus fokus menghadap ke depan pun terdiam. Biqha bahkan menceritakan rumor tentang Erick yang dikatakan oleh rekannya.
" Shebhenhernyhah hakhu udhah lhamha phenghen thanyha shamhah khamhuh. Shejhak hakhu lhihat nhamha Ehrhiko Ardhihansyhah dhi lhaphorhan kheuanghan pherhushahahan. Phadhahal nhamha bhelakhang Ehrhik bhukhan hithu khan? " (Sebenernya aku udah lama pengen nanya sama kamu. Sejak aku lihat nama Ericko Ardiansyah di laporan keuangan perusahaan. Padahal nama belakang Erick bukan itu kan?)
Yoga masih terdiam mendengar pertanyaan Biqha.
" Hakhu thahu khamhu phasthi mhengethahui hapha yhang shebhenarnyha therjhadhi shamha Ehrhik. Dhan khamhu hengghan mhembhicharhakhannyha shamha hakhu. Kharnha hithu hakhu ghakh mhahu thanyha haphaphun shamha khamhu. " (Aku tau kamu pasti mengetahui apa yang sebenernya terjadi sama Erick. Dan kamu enggan membicarakannya sama aku. Karna itu aku gak mau tanya apapun sama kamu.) Sambungnya.
" Maaf sayang.... Bukan aku gak mau cerita sama kamu. Tapi ini masalah pribadi Erick. Aku gak enak sama Erick kalo sampe aku menceritakan hal yang privasi tentangnya sama orang lain. Karena ini masalah yang cukup pelik. Intinya Erick bertengkar hebat dengan ayahnya. Dan membuat om Danu murka sampai mengusirnya dari rumah tanpa boleh membawa apapun. Termasuk motor kesayangannya itu. Bahkan Erick dilarang menggunakan nama belakangnya lagi. Juga di larang keras menggunakan nama besar keluarganya untuk mendapatkan pekerjaan baru. "
Yoga menjelaskan pada Biqha garis besar permasalahan Erick dan keluarganya, tanpa memberitahukan detail masalahnya apa.
" Kamu tau sendiri lah sayang..., seberapa keras kepalanya Erick. Susah banget membujuknya. Dia memilih meninggalkan rumah, perusahaan dan segala kemewahan yang dia punya. Daripada melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hatinya. "
Biqha hanya diam mengamati gerak bibir Yoga yang fokus memandang ke depan, dan hanya sesekali berpaling ke arahnya.
" Erick pasti emosi banget liat Jack jadi milik orang lain. "
Biqha mengangguk saat Yoga melihat ke arahnya setelah mengucapkan kalimat itu.
" Jack itu berarti banget buat Erick Bi.... Itu adalah hadiah sweet seventeen dari opanya. Erick suka banget sama bidang otomotif, terutama motor. Tapi keluarganya gak ada yang mendukung kecuali omanya. Gak tau kenapa opanya tiba-tiba memberikan hadiah motor saat ulang tahunnya. Ternyata gak lama setelah itu opanya meniggal dunia.Makanya dia sayang banget sama motor itu."
Penjelasan Yoga membuat Biqha merasa prihatin pada Erick. Karena dia tau rasanya kehilangan orang tua.
" Kenapa tiba-tiba mereka menjualnya ya.....? Om Danu pasti sengaja melakukannya untuk memancing emosi Erick. "
" Thaphi khenhapha? " ( Tapi kenapa?)
Setelah sedari tadi hanya diam mengamati, Biqha memberanikan diri bertanya.
" Karena ternyata semua tidak berjalan sesuai harapannya. Tadinya om Danu mengira Erick tidak akan mampu bertahan. Lalu akan kembali dengan sendirinya dan menyerah akan keputusan orang tuanya. Tapi Erick berhasil membuktikan kalau dia bisa berdiri sendiri tanpa nama besar keluarganya. Bahkan usaha kecil-kecilannya berkembang pesat dalam waktu setahun. "
Penjelasan Yoga membuat Biqha semakin tidak habis pikir dan bertanya-tanya dalam benaknya.
' Seberapa besar kekacauan dan masalah yang diperbuat oleh Erick, sampai orang tuanya begitu murka terhadapnya. Apa itu karena dia terlibat scandal seperti rumor yang mbak Desi katakan?'
Melihat kekasihnya Tiba-tiba melamun, Yoga meraih tangan Biqha lagi dan menyadarkannya dari lamunannya.
" Kamu pasti kepikiran sama masalah Erick ya...? Maaf aku gak bisa menjelaskan lebih detail tentang masalah Erick Bi.... Karena aku sendiri juga gak tau pasti kebenarannya. Tapi Erick adalah sahabatku dari kecil. Jadi aku percaya padanya. "
Yoga menjeda perkataannya karena harus membelokkan mobilnya masuk ke jalan kecil perkampungan menuju kontrakan Biqha.
" Sekarang kita lupakan masalah tentang Erick. Karena itu bukan urusan kita. Kita fokus aja sama masalah kita sendiri ya sayang....! Oya..., kalo di depan Erick, kamu jangan ungkit masalah ini ya... ! Bersikaplah seakan kamu gak tau apa-apa tentangnya ! "
__ADS_1