Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 11. Menjadi karyawan kantoran.


__ADS_3

Erick, Rendra dan Biqha berjalan beriringan menuju 'BOBA BEIB'. Biqha masih menggandeng lengan adiknya sambil berjalan.


Erick melirik ke arah Biqha, melihat sikap Biqha yang begitu posesif pada adiknya membuatnya tersenyum geli.


" Biqha.... Lo sakit apa gimana sih? Kaki lo gak kenapa-napa kan? Pegangan mulu sama Rendra. Emang gak ada pegangan yang lain?"


Erick berkata sambil tersenyum geli. Mencoba menggoda Biqha untuk mencairkan suasana. Biqha langsung melirik sinis padanya.


" Bhiarhin. Hemmhang nhapphah?" ( Biarin. Emang napa?) Jawabnya ketus.


" Iya mbak. Lepas dong... ! Pegel tau. Udah bawaannya banyak, dipegangi mulu tambah berat jadinya."


Ucap Rendra mengeluh dan berusaha melepaskan gandengan tangan Biqha. Biqha pun sontak mengerucutkan bibirnya manja pada sang adik. Melihat hal itu Erick tertawa.


" Bi....Bi.... Muka lo gak usah di imut-imutin gitu, kayak bocah aja. Sadar Umur kali. Lo itu kakak, dia yang adek. Bukan malah sebaliknya. Pantesnya Rendra yang manja sama lo, bukan lo yang manja sama dia. Gimana sih......"


Erick masih tertawa geli melihat tingkah Biqha. Rendra pun tersenyum lucu mendengar perkataan Erick menggoda kakaknya. Tapi itu justru membuat Biqha jadi kesel. Dia memandang Erick yang mulai berangsur menghentikan tawanya, dengan pandangan sinis. Sedetik kemudian Biqha memukul lengan Erick karena kesal.


" Aduh.... "


Erick mengaduh, merasakan lengannya panas karena pukulan dari Biqha.


" Bhiarhin... "


Jawab Biqha cepat, dengan sedikit mengulurkan lidahnya keluar meledek Erick. Lalu kembali menggandeng lengan adiknya. Rendra pun meluruhkan bahunya pasrah.


Erick menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Ya udah deh. Sini..... biar kakak aja yang bawa belanjaannya!"


" Eh... Gak usah kak."


Erick mengambil alih bawaan dari tangan Rendra. Namun Rendra berusaha mempertahankan.


" Gak papa. Lagian tangan kakak kosong."


Erick memperlihatkan tanggannya yang tidak membawa beban apapun. Erick hanya membawa tas yang ia selempangkan di badannya.


Biqha mengambil beberapa belanjaannya dari tangan Rendra, dan mengalihkannya ke tangan Erick. Ia membagi rata beban yang ada pada adiknya dengan Erick.


" Tholhong yhah.... ! Mhakhashih.... " ( Tolong ya....! Makasih...)


Ucap Biqha cepat, tanpa menunggu jawaban ia langsung mengucapkan terima kasih pada Erick. Sambil memperlihatkan cengirannya. Kemudian kembali menggandeng adiknya. Dan menarik adiknya berjalan mendahului Erick. Erick terpaku sesaat.


" Tadi aja galak.... Giliran butuh pertolongan nyengir kayak kuda. Dasar cewek...... "


Gumam Erick kemudian bergegas menyusul mereka.


Sampai di outlet Boba milik Erick, mereka langsung disambut oleh Neta. Yang sedari tadi sudah melihat kedatangan Erick, dan keributan kecil diantara mereka dari kejauhan.


" Kok balik lagi. Ada apa kak? "


Tanya Neta penasaran, sembari melihat dua orang yang seperti sepasang kekasih di sebelah bosnya.


Erick meletakkan barang-barang bawaannya, di atas meja persegi dengan empat kursi diantaranya. Erick menarik salah satu kursi dan duduk di atasnya. Kemudian di ikuti oleh Rendra dan Biqha. Biqha duduk di hadapan Erick sementara Rendra duduk di sebelah kanannya.


Melihat ada pelanggan yang datang, Erick menyuruh Neta melayani pelanggan terlebih dulu. Karena Tika pegawainya yang lain sedang melayani pembeli yang lebih dulu datang.


" Kamu mau makan apa Ren? Di situ ada restoran jepang. Sebelah sana ada makanan korea. Ada juga McD, atau kamu mau makan yang lain? Biar nanti kakak pesankan. Kita makannya di sini aja. Gimana? "


Tanya Erick pada Rendra, kemudian beralih pada Biqha.


" Kalau lo mau apa Bi....? Gue traktir. Jarang-jarang kan gue baik sama lo. Anggap ini salam damai dari gue. Ok...? Yang dulu-dulu gak usah di inget lagi."


" Chih... " Ucap Biqha sambil mengernyitkan kedua alisnya.


Biqha menaikkan sudut bibirnya dengan sinis.


Rendra memperhatikan kedua orang di dekatnya itu dengan tersenyum.


" Jadi mau makan apa? "


" McD aja deh kak. Kalo makanan luar yang mentah-mentah, lidah kampung kita agak susah nerimanya. Ya kan mbak...."


Erick tertawa mendengar penuturan Rendra. Biqha dan kedua karyawan Erick yang mendengarnya pun tersenyum lucu.

__ADS_1


" Tika.... "


Erick memanggil Tika yang dia lihat sudah selesai melayani pembeli. Tika pun mendekat.


" Tik, tolong belikan makanan ke McD ya. Beli Ayam goreng, nasi, sama kentang gorengnya juga."


Erick mengambil dompet dari dalam tasnya hendak mengambil uang di dalamnya.


" Sekalian anggotanya di traktir juga... boleh kali? "


Tiba-tiba dari balik meja bartender Neta nyeletuk, sembari memberikan minuman pesanan pembeli yang baru selesai dia buat.


" Bawel ah. Emang tadi bonusnya kurang? Baru gajian juga..... Plus bonus lagi. Masih kurang aja. Dasar mata duitan."


Jawab Erick pada karyawannya itu. Sebelum pergi ke lantai atas, Erick sudah memberikan bonus. Bukan hanya pada Neta, tapi juga rekannya. Karena Erick tidak mau ada kecemburuan diantara pegawainya.


Meskipun tugas Neta memang lebih banyak dibanding yang lainnya. Termasuk mengecek semua outlet jika Erick sedang sibuk. Semua akan di handle oleh Neta. Tapi itu sudah di sesuaikan dengan gaji Neta yang lebih besar dari yang lainnya.


" Ya... kali aja mau sekalian gitu, traktir anggotanya juga. Kan lumayan.... Uang makan kita bisa utuh. Ya gak Tik.... "


Semuanya tersenyum melihat perdebatan bos dan karyawan itu. Neta memang suka bercanda seperti itu pada Erick. Meski terkadang, jawaban Erick terdengar pedas tapi Neta tidak sakit hati.


Karena Neta tau di dalamnya, Erick adalah orang yang sangat baik dan dermawan. Bahkan Erick membiayai Neta untuk mengejar program pendidikan paket C.


Seperti sekarang, meski pada awalnya Erick mengomel tapi pada akhirnya dia melakukannya juga. Meminta Tika membeli lima porsi nasi dan ayam serta kentang goreng untuk mereka semua.


" Oya. Beli air mineral juga ya Tik !"


Erick menyerahkan sejumlah uang, dan Tika pun langsung pergi melaksanakan tugas.


" Aseeekkk..... Di traktir juga. Bos Neta mah top markotop."


Ucap Neta begitu bersemangat menunjukan kedua jempol tangannya.


" Udah ganteng, keren, kaya, baik hati, dermawan.... "


Belum sempat Neta menyelesaikan pujiannya sudah lebih dulu dipotong oleh Erick.


" Udah... Udah. Gak usah sok muji-muji segala. Muji cuma kalo ada maunya doang. Dasar.... Buruan buatin minuman buat tamu kakak nih...! " Perintah Erick.


Neta pun mendekat, dengan membawa menu berbagai varian rasa minuman Boba yang mereka tawarkan.


Ucap Erick pada Rendra dan Biqha. Rendra dan Biqha menerima daftar menu yang Neta berikan.


" Boba Beib. Kayaknya Rendra pernah liat ada di mall xx Juga ya kak? "


Tanya Rendra pada Erick. Namun belum sempat Erick menjawab, Neta sudah menyambarnya.


" Iya mas.... Alhamdulillah sekarang kita sudah punya delapan outlet boba beib. Masnya mau rasa apa? " Tanya Neta kembali ramah.


" Terserah aja deh mbak. Yang penting seger."


" Yang seger juga ada banyak varian rasa mas. Ada creamy manggo boba, dan rasa buah yang lain juga. lemon tea cocktail boba. ada juga yoghurt boba."


Rendra garuk-garuk kepala bingung, akhirnya dia kembali pada daftar menu di tangannya.


" Creamy manggo boba aja mbak." Jawabnya.


" Ok.... Terus pacarnya mau yang mana? "


Spontan Erick terbahak mendengar perkataan Neta. Sedangkan Rendra lagi-lagi garuk kepala, jenuh mendengar dugaan yang seperti itu. Dan Biqha hanya tersenyum.


" Kok ketawa sih? Emang salahnya? " Tanya Neta bingung melihat bosnya.


" Mereka ini kakak adek. Bukan pasangan kekasih. " Jawab Erick disela tawanya.


" Oh... kirain. Soalnya keliatan mesra banget dari tadi gandengan terus. Ternyata mbak ini adiknya toh."


" Kebalik mbak. Saya yang adiknya. Ini kakak saya."


Jelas Rendra dengan nada kesal. Menunjuk ke arahnya lalu menunjuk Biqha. Sementara Biqha hanya senyum-senyum saja.


" Hah... ? Serius....?" Tanya Neta tidak percaya.


" Iya... Yang cewek ini namanya Nabiqha. Temen SMA kak Erick. Dan ini adiknya Rendra."

__ADS_1


Neta semakin melebarkan bola matanya tak percaya.


" Temen sekolah kak Erick?"


Mereka bertiga mengangguk kompak.


" Jangan bilang kalau muka saya keliatan lebih tua ya mbak. Sumpah kesel banget dengernya."


Erick kembali terkekeh mendengar pernyataan Rendra.


" Bukan masnya yang keliatan lebih tua. Tapi ini sih mbaknya yang imutnya kebangetan. Masa iya mbaknya temen sekolah kak Erick?"


" Sekelas malah." Jawab Erick lagi.


Biqha mengangguk ke arah Neta meyakinkan jawaban Erick.


" Wah... Awet muda banget mbaknya ya. Kirain Neta, masih seumuran Neta tadi."


Ucap Neta menatap Biqha penuh kekaguman.


" Jadi mbaknya mau yang mana? " Tanyanya lagi.


" Lhemhon thinyhah hadjah." ( Lemon tea nya aja.)


Neta tiba-tiba membulatkan matanya, kaget mendengar suara Biqha. Semua pun berubah ekspresi melihat kekagetan Neta.


" Lemon tea cocktail boba Net. Buruan buatin sana...! Udah haus nih. Buatin untuk kakak juga ya...! "


Erick mengerti dengan ekspresi kecanggungan dari Biqha melihat keterkejutan Neta. Karena itu, Erick langsung menyebutkan pesanan Biqha. Dan segera memerintah Neta untuk membuatnya. Neta pun seketika tergapap mendengar perintah Erick. Kmudian segera pergi menyiapkan minuman untuk mereka.


Tak berselang lama setelah minuman yang Neta buat selesai, makanan pun datang. Dan Mereka pun makan siang bersama.


Setelah pukul setengah dua siang, mereka pun bergerak meninggalkan mall tersebut. Karena Rendra harus pergi bekerja. Dan Erick pun harus mengunjungi beberapa outlet yang lainnya.


****


Hari yang Biqha tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dimana dia akan bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan untuk pertama kalinya. Biqha mempersiapkan diri sebaik mungkin, termasuk penampilannya.


Biqha memakai outfit yang dia beli semalam. Blezer putih dipadukan dengan kemeja dan rok berwarna merah bella. Dan hijab Warna senada bermotif garis- garis, yang diikat meliliti leher jenjangnya. Kemudian meraih tas berwarna putih tulang pemberian Yoga. Oleh-oleh darinya saat pertama kali pulang untuk liburan.


Saat keluar kamar, Biqha dikejutkan oleh Rendra yang sengaja menunggunya di depan pintu kamarnya. Dengan sebuah kotak persegi panjang, yang dililit pita berwarna pink di tangannya.


" Buat mbak... "


Rendra menyodorkan kotak itu pada Biqha. Biqha menerimanya dengan perasaan haru. Perlahan Biqha membuka kotak itu. Dilihatnya sepasang heels yang sangat cantik. Perasaannya begitu membuncah, melihat hadiah yang diberikan sang adik untuknya.


Ditatapnya wajah Rendra dengan mata berlinang. Tanpa bisa dicegah air itu pun mengalir dari mata indahnya.


" Kok nangis...? Jangan nangis dong...! Inikan hari pertama mbak kerja. Masa sedih begini."


Rendra menghapus airmata yang mengalir di pipi kakaknya. Sedangkan Biqha menggelengkan kepalanya.


" Mbhakh bhahaghia... Mhakhashih yhah." (mbak bahagia...makasih ya.)


Biqha membelai lembut wajah adiknya. Mata Rendra pun ikut memerah melihat airmata bahagia kakaknya.


Rasa haru dan bahagia memenuhi relung hatinya. Seketika Biqha teringat pesan sang ibu kepada mereka, sebelum meninggal dunia. Ibu mereka selalu berpesan agar mereka bisa selalu saling menjaga. Saling mendukung, menyayangi dan mengasihi, juga bisa saling mengandalkan satu sama lain.


Kini mereka hanya tinggal berdua sekarang. Dan Biqha bersyukur, karena baik Biqha ataupun Rendra bisa menjalankan amanah ibunya.


" Gimana mbak suka gak? Pilihan Rendra bagus kan? Pas banget sama outfit mbak hari ini."


Tanya Rendra penuh semangat dan bangga pada dirinya sendiri. Karena berhasil membuat kakaknya merasa terharu hingga meneteskan airmata.


Biqha hanya mampu mengangguk sambil tersenyum dengan sisa-sisa airmatanya.


***


Kini Biqha telah berdiri di depan bangunan megah, tempatnya akan memulai mewujudkan mimpi menjadi karyawan kantoran. Dengan sepatu pemberian sang adik, Biqha melangkah mantap memasuki gedung itu.


Biqha masuk ke ruang HRD di lantai lima. Dari sana Biqha di arahkan ke lantai sepuluh tempat divisi keuangan dan pembukuan berada. Disana Biqha langsung menghadap kepala bagian keuangan dan pembukuan yaitu ibu Diana. Salah satu orang yang menginterview dirinya waktu itu.


Biqha masuk ke ruangan Bu Diana setelah mengetuk pintu. Lalu duduk di depan meja kerja sang kepala bagian.


" Mbak Nabiqha Azzahra, kami ucapkan selamat bergabung dengan perusahaan kami." Ucap bu Diana sembari menjabat tangan Biqha.

__ADS_1


" Sesuai prosedur perusahaan, selama tiga bulan ke depan, anda dalam masa probation. Jadi, kami akan memantau kinerja dan sikap anda dalam bekerja sama dengan tim kami. Bila dalam tiga bulan ke depan, anda bisa bekerja dengan baik dan memenuhi standart kerja kami. Maka kami akan menjadikan anda karyawan tetap di perusahaan kami. Namun jika ternyata dalam tiga bulan itu, kinerja anda tidak memenuhi standart kami. Maka mohon maaf...... Sebagai konsekuensinya adalah pembatalan kerja. Yang berarti anda tidak bisa bergabung dengan perusahaan kami lebih lama lagi. " Jelas bu Diana.


Biqha mengangguk mantap mendengar penjelasan dari Bu Diana tadi. Kemudian Biqha pun mengucapkan rasa terima kasihnya, dan menjabat tangan Kabag. keuangan dan pembukuan itu.


__ADS_2