
Pukul 10 pagi, Biqha bersiap untuk pergi.Setelah sebelumnya dia sibuk mengompres matanya dengan air es. Untuk menghilangkan sembab dimatanya. Tak lupa Biqha juga menggunakan kacamata.
Meski sembab dimatanya sudah berkurang, namun matanya masih terlihat sedikit membengkak. Namun Biqha memutuskan menggunakan kacamata berlensa transparan biasa daripada kacamata yang gelap.
Biqha bersiap mengunci kontrakkannya. Disaat yang sama, Erick sampai dengan motor kesayangannya.
" Ehrhik......"
" Lo mau pergi Bi.....?
Biqha menganggukkan kepalanya. Sementara Erick, turun dari motornya dan berjalan mendekati Biqha.
" Khamhu haphain kheshinhi?" ( Kamu ngapain kesini ?)
" Nih.... Balikin ini."
Erick menyerahkan paperbag yang berisikan kotak bekal kecil milik Biqha semalam. Akhirnya Erick menggunakan kotak kecil itu sebagai alasan untuk menemui Biqha. Demi memenuhi permintaan Rendra yang sangat mengkhawatirkan keadaan sang kakak.
Erick memperhatikan penampilan Biqha, terlebih bagian matanya yang masih sedikit sembab.
' Syukurlah....... Sepertinya Biqha tidak terlalu terpuruk dengan kesedihannya. Buktinya dia mau keluar rumah dan gak mengurung diri terus di kamar. Matanya memang terlihat sembab, tapi..... Gak separah itu deh..... Berlebihan banget si Rendra, masa dia bilang bengkaknya sampe kayak disengat lebah. Lebay.... Buat orang cemas aja.'
Meski pada awalnya Erick sempat menolak. Karena takut Biqha akan salah paham, dan merasa terganggu olehnya. Namun pada akhirnya, kalimat-kalimat terakhir Rendra membuatnya tidak bisa menolak.
" Kak please.... Tolongin Rendra! Rendra gak tenang kalo ngebiarin mbak Biqha sendirian dirumah dalam keadaan kayak gitu. Kakak juga tau kan, kalo mbak Biqha punya riwayat maag sama kayak ibu. Dalam keadaan kayak gitu, mbak Biqha pasti gak inget buat makan. Terus kalo dia jadi sakit gimana? Kalo aja Rendra gak lagi ujian hari ini, Rendra pasti....."
" Ok....ok.... Kakak akan temui mbak kamu dan liat keadaannya nanti. Tapi kalo soal nemenin, kakak gak janji. Kamu tau sendiri kan mbak kamu sebelnya kayak apa sama kakak. Yang ada, bisa jadi kakak malah di usir sama dia."
" Lebih baik kalo mbak Biqha sebel sama kakak. Dari pada dia sedih terus. Setidaknya dengan bertengkar sama kakak, sementara waktu mbak Biqha bisa lupa sama kesedihannya. "
" Iya deh..... Ntar kakak coba. Kamu yang fokus ujiannya. Jangan sampe IP kamu turun semester ini. Bisa kena ceramah habis-habisan kamu nanti."
" Hehehe.... Iya kak. Makasih ya kak."
Erick termenung, mengingat percakapannya dengan Rendra di telpon pagi tadi.
" Awww..... ."
Tiba-tiba Erick mengaduh kesakitan, karena Biqha menekan jari telunjuknya pada pipi Erick yang lebam semalam.
" Sakit Bi..... Apaan sih? pencet-pencet pipi orang."
" Khirhahin ghakh shakhit, ohrhang khelhihathannyhah dhah ghakh bhengkhak lhaghi. Lhaghian khamhu dhithayhahin, mhalhah bhenghong...." ( Kirain gak sakit, orang keliatannya udah gak bengkak lagi. Lagian kamu ditanyain, malah bengong.)
" Kira-kira dong mencetnya..... "
Keluh Erick dengan mimik wajah kesal sembari memegang pipinya.
" Emang lo nanya apa tadi? Sory Gue gak denger." sambungnya.
" Khamhu kheshinhi mhahu bhalhikhin hinhi hajha, athau mhashih hadha urhushan lhahin lhaghi? Khalho ghakh dhah urhushan lhahin lhaghi, hakhu mhahu pherghi." ( Kamu kesini mau balikin ini aja, atau ada urusan lain lagi? Kalo gak ada urusan lain lagi, aku mau pergi.)
Ucap Biqha sembari menenteng paperbag, yang diberi Erik tadi di depannya.
" Memangnya lo mau kemana sih? Jangan-jangan..... Lo janjian mau ketemuan lagi sama Yoga? Iya....?!"
Biqha tersentak dengan tuduhan Erick. Matanya jadi memerah karnanya.
" Khamhu mhahu hakhu thonjhok jhugha? Shembharhangan khalho homhong." (kamu mau aku tonjok juga? Sembarangan kalo ngomong.)
Biqha menunjukkan kepalan tangannya dihadapan Erick. Sementara Erick yang merasa tak enak hati, karna rasa bersalah pun terdiam dan langsung menutupi kedua pipinya dengan tangan.
" Hakhu hinhi mhahu pherghi khe phashar. Mhahu bhelhi bhahan-bhahan khuwe bhuhat khuwe ulhang thahun homha. Khan khamhu yhang mhintha hakhu bhuahat bhikhin khuwe ulhang thahun hunthuk homha?! Hacharanyah bheshok khan....?"
( Aku ini mau pergi ke pasar. Mau beli bahan-bahan kue buat kue ulang tahun oma. Kan kamu yang minta aku buat bikin kue ulang tahun untuk oma?! Acaranya besok kan...?)
" Astaga..... Iya. Gue lupa."
Erick memukul jidatnya sendiri, karena nyaris melupakan ulang tahun omanya.
" Ya ampun Bi..... Untung aja lo inget. Ya udah deh.... Yuk gue anter aja sekalian !"
__ADS_1
Erick pun bergegas menunggangi motornya kembali.
" Ghimhanha shih.... Khok khamhu mhalhah lhupha shendhirhi." ( Gimana sih.... Kok kamu malah lupa sendiri.)
" Namanya juga lupa. Ini juga gara-gara Pacar gelap lo tuh...... Pake pukul-pukul kepala gue. Jadi lupa kan gue sama ulang tahun oma. AKhh....."
Biqha memukul pundak Erick dengan cukup keras.
" Mhanthan." ucapnya tegas.
" Yakin putus? Jangan-jangan cuma manipulasi doang, tapi dibelakang..... diem-diem masih menjalin hubungan terlarang. AKHHH......"
Erick berteriak dengan cukup keras, saat kedua jari Biqha mendaratkan cubitan di sisi samping perutnya.
" Kenapa harus pake nyubit sih Bi...? Sakit tau."
" Mhakhanyha jhadhi ohrhang jhanghan shukha hashal homhong. Nyhebhelhin thahu ghakh. Khamhu phikhir.... Hakhu chewhek haphahan?" (Makanya jadi orang jangan suka asal ngomong. Nyebelin tau gak. Kamu pikir... Aku cewek apaan?)
Biqha sangat tersinggung dengan ucapan Erick. Dia sampai kembali berlinang airmata saat mengucapkan kata-kata balasan pada Erick. Erick pun terdiam, melihat kelopak mata Biqha yang kembali berkaca-kaca.
" Bhisha ghakh shih, ghakh hushah bhahas-bhahas dhia lhaghi......" ( Bisa gak sih, gak usah bahas-bahas dia lagi.....) ucapnya lirih.
" Sory..... Ya udah, kita berangkat aja yuk...!"
Erick perlahan meraih lengan Biqha, lalu menariknya mendekat ke arah boncengan motornya. Dan mereka pun melaju.
Dalam perjalanan Biqha masih membisu.Kemudian Erick mengatur spionnya, agar menangkap wajah Biqha di belakang. Erick semakin merasa bersalah, melihat Biqha kembali murung. Tiba-tiba Erick teringat kata-kata Rendra yang mengatakan, kalo lebih baik Biqha kesal padanya daripada terus bersedih karena patah hati.
Erick menarik sedikit sudut bibirnya. Setelah itu dengan tiba-tiba, Erick meliukkan motornya. Hingga Biqha sangat terkejut dan nyaris tergelincir ke samping. Kalau saja dia tidak cepat-cepat meraih pinggang Erick dan memeluknya, Biqha bisa saja terjatuh.
" EHRHIK........"
Biqha secara spontan memukuli pundak Erick.
" Akh....akh...aw...."
" Yhang bhenher dhong bhawha mhothornyhah ! Khamhu mhahu khitha chelhakha?!" ( Yang bener dong bawa motornya ! Kamu mau kita celaka?! ) Teriaknya dari belakang.
" Sory Bi..... Tadi ada kucing yang tiba-tiba nyebrang. "
Padahal Erick dengan sengaja menjahili Biqha. Supaya Biqha tidak lagi murung, memikirkan Yoga.
Saat tiba dipersimpangan, Erick kembali berulah. Dia menginjak rem motornya dengan pakam dan tiba-tiba. Membuat dahi Biqha terantuk helm Erick dan badan mereka menempel sempurna.
" Hadhuh. Ehrhiiikkkkk...... Khamhu shenghajha yha....?!" ( Aduh. Eriiiicckkkk...... Kamu sengaja ya....?!)
Biqha memegang dahinya yang sakit karena terbentur helm. Dengan kekuatan penuh, Biqha kembali mendaratkan cubitannya ke sisi samping perut Erick.
" AKHHH....... Ampun Bi..... Ampun."
Erick berteriak sembari memegangi tangan Biqha, yang masih setia menyubit perutnya hingga terlepas.
" Khamhu shengajha khan?! "
" Sengaja gimana? Orang memang tadi ada motor yang mau nyebrang, masak mau ditabrak aja. Gimana sih?"
" Thaphi ghakh harhus shamphe sheghithunyah khan..... Khephalhaku jadi shakhit nih...... " (Tapi gak harus sampe segitunya kan.... Kepalaku jadi sakit nih....)
" Sama. Perut gue juga sakit. Lebih parah malah. Dijamin pasti biru-biru nih...."
Biqha menunjukkan dahinya yang memerah, akibat terbentur helm Erick. Sementara Erick pun tidak mau kalah, menunjuk ke arah perutnya yang dicubit oleh Biqha. Mereka bertengkar diatas motor tanpa memperdulikan apapun.
Sebelum melajukan motornya kembali, Erick memperhatikan Biqha yang sedang mengusap-ngusap dahinya dari kaca spion. Erick melihat Biqha mengomel dengan memanyunkan bibirnya.
' Ya.... lo boleh marah Bi. Mengomel lah sepuasnya. Lampiaskan semua kemarahan dan kekesalan lo sama gue. Gue gak masalah kalo harus jadi sasaran kemarahan lo terus Bi.... Asal lo bisa melupakan kesedihan lo. Biarpun itu cuma sejenak, setidaknya gue bisa menghapus kesedihan lo dalam sesaat.' ucap Erick dalam hatinya.
***
Pukul 4 sore, Erick dan Biqha baru kembali ke kontrakan. Seharian Biqha membawa Erick berkeliling di pasar, dari satu toko ke toko lainnya. Bahkan mereka juga berburu pernak pernik aksesoris ulang tahun. Erick hanya bisa pasrah. Karna dari banyak cerita yang dia dengar, obat wanita yang sedang galau dan patah hati itu hanya satu, yaitu shopping.
Walaupun sedikit berbeda, karena kebanyakan wanita memilih mall. Sementara Biqha, kepasar berburu kebutuhan pokok dan bahan-bahan kue saja, itu sudah cukup. Keluar dari pasar, Biqha mengajak Erick makan bakso mang udin depan sekolah mereka dulu.
__ADS_1
Mereka cukup lama memghabiskan waktu disana. Membahas masa lalu, berdebat kecil seperti biasa. Kemudian Erick juga sempat menanyakan kehidupan Biqha saat kuliah. Mendengarkan Biqha bercerita tentang sahabatnya semasa kuliah yang tiba-tiba menghilang.
Itulah sebabnya, komunikasi antara Biqha dan Yoga terputus saat mereka diluar negri. Karena selama 2 tahun kuliah, Biqha dan Yoga berkomunikasi via email sang sahabat.
Sampai dikontrakkan, ternyata Rendra sudah lama menunggu mereka dirumah.
" Buset.... Banyak banget belanjaannya mbak?"
" Mhumphung hadha hojhek grhathishan, jhadhi mbhak bhelhanjha bhulhanhan hajha shekhalhihan. Khamhu khok ghakh kherjha?" ( Mumpung ada ojek gratisan, jadi mbak belanja bulanan aja sekalian. Kamu kok gak kerja?)
Biqha berkata sembari menenteng belanjaannya.
" Rendra ambil cuti hari ini."
" Hinhi khan whikhen. Bhukhanyah khamhu ghakh bhisha ambhil chuthi phas whikhen?" (Ini kan weekend. Bukanya kamu gak bisa ambil cuti pas weekend?)
" Iya sih mbak. Tapi karna Rendra bilang Rendra lagi kurang enak badan, akhirnya di ijinin. Mungkin juga karena udah berapa bulan ini, Rendra gak ambil cuti."
Rendra berkata sambil melirik ke arah Erick. Dan Erick paham kalo Rendra sengaja mengambil cuti kerjanya karena khawatir pada sang kakak.
" Khamhu lhaghi ghakh enhak bhadhan?" ( kamu lagi gak enak badan?)
" Gak sih mbak..... Cuma agak capek aja. Lagi pengen istirahat dirumah."
Rendra dan Erick kembali saling lirik. Kemudian Rendra membantu Erick membawa belanjaan kakaknya masuk ke dalam rumah. Sementara Erick langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi diteras depan rumah, karena kelelahan.
" Masuk aja kak, istirahat disofa dalam. Biar lebih enakan."
" Gak usah deh. Kakak langsung pulang aja ya.... Capek."
Ucap Erick setengah berbisik di ujung kalimatnya.
" Ghitu hajha chaphek. Thadhi shok-shokhan mhahu bhanthuhin shamphe shelheshai bhuhat shemhua khuwenyah. Mhahu bhuhat hadhiah spheshihal hunthuk homha, khuwe hashil bhuhathannyah shendhirhi. Mhanha..?" ( Gitu aja capek. Tadi sok-sok'an mau bantuin sampe selesai buat semua kuenya. Mau buat hadiah spesial untuk oma, kue hasil buatannya sendiri. Mana...?)
Sindiran Biqha telak, membuat Erick langsung menarik sudut bibirnya kesal.
" Iya.... Ntar gue juga balik lagi kesini. Sekarang gue pulang dulu, bersih-bersih. Dah lengket nih badan. Seharian keliling, panas, keringetan." keluh Erick.
" Kakak bersih-bersih disini aja. Kalo soal baju, kan kakak bisa pake baju Rendra. Rendra juga punya stok daleman yang masih baru, kalo kakak mau."
Biqha dan Erick terbelalak dengan pernyataan Rendra. Merasa malu dengan pernyataan sang adik, Biqha masuk ke dalam rumah dengan membawa belanjaannya.
" Daripada kakak bolak-balik, kan tambah capek jadinya. Sekalian mandi disini aja kak." sambung Rendra masih berusaha membujuk Erick agar tetap tinggal.
Akhirnya Erick memilih mengikuti saran Rendra. Rasanya juga masih terlalu lelah, untuk buru-buru pulang dan kembali lagi. Lagipula dia sudah terlanjur berucap pada Biqha, akan membantu membuat kue untuk oma. Karena kelak saat berjumpa dengan omanya, dia ingin membanggakan kue itu sebagai hasil jerih payahnya juga. Spesial untuk sang oma.
Saat magrib tiba, Rendra dan Erick pergi ke mesjid bersama. Setelah makan malam, mereka baru mulai bekerja sama, membuat satu persatu kue untuk ulang tahun oma. Rendra dan Erick ditugaskan Biqha untuk membentuk adonan onde-onde, yang sudah dia siapkan. Sementara dirinya sibuk memasak beras ketan untuk membuat kue talam.
" Yhah.... Habhis. Khirhahin mhashih hadha." (yah... Abis. Kirain masih ada.) ucap Biqha sembari memegang botol kecil ditangannya.
" Apanya mbak?"
" Phastha choklhat dhan mhokhanyah." (Pasta coklat dan moccanya.)
" Ya udah biar Rendra yang beli. "
" Biar kakak aja yang beli." jawab Erick cepat.
" Emang kakak tau belinya dimana?"
Pertanyaan Rendra tidak bisa Erick jawab, karena memang dia tidak tau. Berbeda dengan Rendra yang sudah sejak kecil berurusan dengan bahan-bahan kue.
" Rhen....."
" Gak papa mbak, bentaran doang. Kalo mbak khawatir ama prasangka tetangga. Buka aja pintunya lebar-lebar. Biar orang-orang bisa liat langsung kalian lagi apa. Lagian gak sampe lima menit juga Rendra udah balik."
Rendra langsung bisa menebak kekhawatiran sang kakak. Rendra pun pergi meninggalkan Biqha dan Erick dirumah. Dengan membiarkan pintu rumah kontrakkan mereka terbuka lebar. Demi menghindari fitnah yang mungkin bisa saja terjadi. Tanpa pernah berpikir akan kemungkinan yang lainnya.
Kemungkinan akan adanya tamu tak diundang, yang bisa saja masuk tanpa permisi.
" Apa-apaan ini Bi..... ? Apa yang kalian lakukan? kenapa kamu membiarkan dia masuk, saat tidak ada siapapun didalam sini kecuali kalian berdua Bi..... ? Sementara aku, tidak pernah sekalipun kamu membiarkanku masuk."
__ADS_1