
" Terima kasih tante. Tapi sebaiknya kami ke tempat lain saja. "
Yoga hanya terdiam, meski dalam hatinya dia tidak ingin membiarkan Biqha pergi bersama Erick. Namun dia tidak berdaya berada di tengah-tengah orangtua dan calon mertuanya.
" Kenapa harus cari tempat lain? Makanlah bersama kami disini, agar kita bisa mengobrol sebentar. "
Om Haris mendekat setelah mengakhiri obrolannya di telephon dengan seseorang.
" Oya.... om juga baru aja ngobrol sama papa kamu di telephon. Sepertinya masalah kalian belum terselesaikan juga ya ? Sampai-sampai dia langsung ingin mengakhiri obrolan kami, begitu mendengar om menyapamu tadi."
Perkataan om Haris sontak membuat ekspresi Erick berubah garang. Dia tau kemana arah pembicaraan om Haris selanjutnya. Bahkan papa Adi dan mama Hani serta Yoga dan Alina sendiri, serentak memandang ke arah papi Alina itu.
" Papi......" Ucap Alina berbarengan dengan maminya.
" Maaf.... Papi bukan mau ikut campur masalah keluarga mereka. Papi hanya menyayangkan saja. " jelasnya pada istri dan anaknya.
" Padahal saat ini bisnis Atmadja Corp semakin berkembang pesat, setelah gebrakan yang kamu buat Rick. Kamu sungguh briliant dalam berbisnis. Om sangat terkesan dengan kinerjamu." sambungnya beralih pada Erick.
Bukannya tersanjung dengan pujian yang diberikan Om Haris , Erik justru semakin menatap dingin padanya .
" Om tidak tahu apa masalah di antara kalian. Tapi om sangat menyayangkan sikapmu, yang justru memilih meninggalkan semua dan memilih hidup sebagai seorang manajer biasa. Oh ya Rik, Apa kamu tahu? Beberapa hari yang lalu, papa kamu sempat dirawat di rumah sakit karena kelelahan. "
Sorot mata Erick sekejap berubah. Ada rasa kaget mendengar berita itu, juga ada perasaan cemas. Bagaimana pun kerasnya sang ayah padanya, beliau tetaplah ayah yang Erick hormati dan jauh dilubuk hatinya Erick juga menyayangi sang ayah.
" Dia begitu kerepotan setelah Kepergianmu. Tidakkah kamu kasihan pada pria tua itu? Kalau Om boleh kasih saran, pulanglah....! Jangan ikuti egomu terus. "
Erick menunduk dan membuang pandangannya sejenak, seraya menarik nafas panjang. Dengan kesal dia masih berusaha menahan emosinya. Biqha yang ada disampingnya namun sedikit kebelakang, melihat jelas raut wajahnya yang menahan amarah.
Biqha meregangkan tangannya yang meremas sisi dalam lengan kemeja Erick. Perlahan dia mengelus-elus bagian dalam lengan Erick. Erick melirik ke arah Biqha, dari sorot mata Biqha dan sentuhan kecilnya, Erick mengerti Biqha berusaha menenangkannya dan memintanya bersabar. Kemudian dengan tangan kanannya yang tetap dibawah, Biqha memberikan isyarat pada Erick.
' Ayo kita pergi '
Erick menganggukkan kepala pada Biqha. Namun sebelum sempat Erick kembali berpamitan, papi Alina kembali memancing emosinya.
" By the way.... who is she? She's your girlfriend? "
Hampir semua orang yang ada disana terperanjat dengan pertanyaan om Haris. Terlebih Yoga, dia langsung melotot kearah calon mertuanya itu. Sedangkan Erick menatap lekat pada pria paruh baya itu. Dan Biqha yang tersentak, langsung menggelengkan kepalanya.
" Apa dia alasan dibalik sikapmu yang menentang keras ayahmu, dan akhirnya meninggalkan semua yang kamu miliki, bahkan keluargamu sendiri? "
" Papi....." Alina berusaha memberi peringatan keras.
Erick semakin menatap tajam pada calon mertua sahabatnya itu. Namun dia masih berusaha menahan amarahnya. Tapi tidak dengan Yoga, yang kini hatinya makin terasa terbakar oleh perkataan calon mertuanya.
" Itu tidak benar. Biqha bukanlah kekasih Erick. Tapi dia adalah......"
" Dia adalah sahabat mereka sejak SMA. "
Dengan cepat papa Adi memotong ucapan Yoga. Kemudian menatapnya penuh intimidasi agar Yoga membungkam mulutnya. Yoga sangat kesal, sampai membuang wajah dari sang ayah dengan mendengus kesal. Berkali-kali menarik nafas cepat karena emosi, hingga dada kekarnya terlihat naik turun.
" Iya itu benar mas Haris. Nabiqha ini hanya teman mereka. " tambah mama Hani.
" kebetulan beberapa bulan lalu, dia baru bergabung diperusahaan kami sebagai staf accouting, dibawah pimpinan Erick dikantor. " sambung papa Adi.
__ADS_1
" Oh..... Aku pikir mereka memiliki hubungan khusus. Karna sedari tadi mereka terlihat mesra dan terus bergandengan tangan. "
Yoga mendongakkan kepala dan seketika memutar kepala, memfokuskan padangannya ke arah tangan Biqha dan Erick. Matanya semakin membulat sempurna dan memerah karna terbakar cemburu, melihat Biqha baru saja menarik tangannya dari lengan Erick.
Sebelumnya tidak ada yang sadar akan hal itu selain papi Alina, karena Biqha berdiri sedikit kebelakang. Hingga sisi kiri tubuhnya sedikit tertutup oleh tubuh kekar Erick. Namun setelah mendengar ucapan papi Alina, semua mata kini memperhatikan mereka.
" Ah.... Itu... Bukan seperti itu. Sejak dulu mereka memang dekat. Mereka suka sekali membantu gadis ini, karena kekurangannya. Bukan karena punya perasaan khusus padanya. Lagian mana mungkin Erick melepaskan putri cantik yang nyaris sempurna dari pejabat tinggi di negri ini, demi seorang gadis penyandang tuna rungu dan gaguk seperti dia."
Sontak Yoga kembali mendongakkan kepalanya, menatap nyalang pada sang ayah. Kemudian beralih pada Biqha, yang menunduk sedih. Hatinya seperti tertusuk melihat Biqha terluka karena perkataan sang ayah. Hal yang tidak jauh berbeda dilakukan oleh Alina. Dia merasa prihatin melihat Biqha yang dicemooh oleh calon papa mertuanya.
Sementara Erick, tatapannya tajam dan lurus ke depan. Meski tidak fokus pada apapun, namun kilatan amarah sangat jelas dimatanya. Ucapan papa Adi telah mematik emosi yang sedari tadi berusaha dia tahan.
" Apa...? Jadi dia punya masalah dengan....."
Om Haris berbicara dengan setengah berbisik, seraya menunjuk dengan memutar jari telunjuknya di area telinga untuk memperjelas maksudnya. Papa Adi mengangguk dengan sedikit tersenyum. Kemudian om Haris juga mengukir senyum, sebelum akhirnya memulai bicara lagi dengan Erick.
" Oh.... Maaf.... Maafkan om Erick. Om benar-benar tidak tau. Om sudah salah menduga dia sebagai kekasihmu. Karena om lihat dia cukup cantik. Syukurlah kalau dia bukan pacarmu, karena kalo sampe papamu tau kamu dekat dengan gadis....."
" Gaguk dan tu*i."
Sambung Erick cepat melengkapi kalimat yang ingin om Haris ucapkan. Dengan tegas dia mengucapkan hal itu dengan pandangan yang masih tidak fokus. Kemudian dengan tajam dan menusuk, sorot matanya beralih pada om Haris, lalu berpindah pada ayah sahabatnya. Sementara Biqha menatapnya sedih dan tak percaya, Erick mengatakan hal itu.
" Memangnya kenapa kalo dia gaguk dan tu*i? Apa kalian pikir kalian lebih sempurna darinya? "
Ucapan Erick begitu dingin dan menusuk, hingga semua terdiam. Sementara Biqha terperanga dengan perkataannya. Dia tidak menyangka ternyata dibalik kata-kata kasar Erick tentangnya, justru Erick bermaksud membelanya. Biqha terkesan dan memandangnya dengan haru.
" Memiliki kesempurnaan fisik tidak bisa menjamin seseorang itu juga memiliki kedewasaan dan akhlak yang baik. Temanku ini memang memiliki kekurangan fisik yang kalian tertawakan..... Tapi dibalik itu, dia memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki wanita lainnya."
Sambung Erick masih dengan sikap dingin dan tegas, membuat Alina dan maminya serta mama Hani merasa tidak enak hati pada Biqha. Namun tidak dengan dua pria paruh baya di depan Erick, mereka justru merasa tersinggung dengan ucapannya.
" Apa maksudmu berkata seperti itu Rick? Memangnya apa yang dilakukan tunanganmu sebelumnya, sampai kamu bisa berkata seperti itu? "
" Dan apa yang membuat anda sampai begitu tertariknya dengan masalah pribadiku? Apa karna berita tentangku begitu menjual? Atau anda ingin menjadikan privasiku sebagai senjata untuk menekan ayahku, agar dia mau bekerjasama dan berinvestasi pada proyek yang sedang dijalankan putra anda? "
" Erick jaga bicaramu !"
Om Adi memberi peringatan keras pada Erick, yang mulai berkata kasar dan meluapkan emosinya. Sebagai orang yang cukup dekat dengan Erick sejak kecil, om Adi merasa perlu menegur Erick yang sudah melewati batas.
" Kenapa om? Karna aku lebih muda dan kalian adalah orang tua, jadi aku tidak boleh bicara seenaknya? Sedangkan kalian boleh mengutarakan pendapat sesuka hati kalian, begitu?! Dimana intelejensi sosial kalian sebagai orang yang berpendidikan? Yang mengaku sebagai kalangan terhormat, namun nyatanya lupa untuk saling menghormati sesama."
Erick membantah om Adi dengan kata-kata yang menohok, membuat kedua pria paruh baya itu menatap tajam padanya. Melihat suasana semakin memanas, Biqha kembali menarik lengan kemeja Erick dari belakang. Ketika Erick menoleh ke arahnya, Biqha menggelengkan kepalanya pelan dengan mata berlinang.
" Rick maafkan aku. Tolong maafkan sikap papi. Aku benar-benar minta maaf Rick... Biqha.... Aku bersalah pada kalian. Harusnya aku tidak mengajak kalian kesini. Tapi aku benar-benar tidak tau, kalau mereka juga akan datang kesini. "
Alina yang semakin merasa bersalah, setelah melihat kemarahan Erick dan suasana yang memanas, berusaha menenangkan keadaan. Namun Yoga yang sejak tadi sudah sangat kesal, akhirnya memanfaatkan rasa bersalah Alina untuk kembali menekannya.
" Ya.... Ini semua salahmu. "
" Sayang... kenapa kamu bicara seperti itu pada tunanganmu? "
" Tapi semua ini memang salahnya ma. "
Melihat Yoga bicara kasar pada Alina, Biqha memberanikan diri membuka suara.
__ADS_1
" Thidhak. Mbhakh Halhin shamha shekhali ghak shalhah. Ghak hadha yhang shalhah dhi shinhi. Hanyha whakthu dan shithuwashinyha yhang thidhak thephat. Mhahaf shudhah mherhushak hacharha khelhuwargha hinhi. Shayha phermhishi. "
( Tidak. Mbak Alin sama sekali gak salah. Gak ada yang salah disini. Hanya waktu dan situasinya yang tidak tepat. Maaf sudah merusak acara keluarga ini. Saya permisi. )
" Gak Bi.... Kenapa jadi kamu yang minta maaf. Kamu gak salah. "
Yoga berusaha menghalangi Biqha, yang ingin berbalik dan keluar dari ruangan itu. Membuat papa Adi langsung melotot kearahnya, dan mama Hani seketika menarik lengannya.
" Biqha bener. Karna level kami tidak setinggi kalian, maka kami tidak pantas ada disini. Jadi kami permisi.... Ayo Bi. "
Erick langsung menarik pergelangan tangan Biqha, kemudian membawanya pergi darisana. Seketika itu Yoga juga ingin berhambur pergi menyusul mereka, namun lagi-lagi sang ayah menghalanginya.
" Mau kemana kamu? "
" Aku harus bicara dengan Erick dan juga Biqha pa. "
" Kamu bisa bicara dengan mereka kapan pun di kantor setelah ini. Jadi kamu tidak perlu mengejar mereka."
" Tapi pa.... "
" Cukup. Jangan buat masalah lagi Prayoga Hermawan ! Sudah cukup. "
****
Begitu memasuki mobil, Erick tidak langsung menyalakan mesinnya. Erick menarik nafas panjang demi melegakan hatinya yang terasa sesak karna emosi. Kalau bukan karna memikirkan Biqha, rasanya Erick masih ingin berdebat dengan mereka yang sudah menyinggung masalah pribadinya.
Setelah beberapa detik memejamkan mata, akhirnya Erick beralih pada Biqha.
" Sekarang kamu mau makan dimana Bi ? "
" Khitha charhi mhakhan dhidhekhat shinhi hajha. Whakthu khitha thingghal shedhikhit khan?! " ( Kita cari makan didekat sini aja. Waktu kita tinggal sedikit kan?! )
" Atau kamu tetep mau makan disini aja? Kita bisa makan dibawah. Atau pesan private room yang lain. "
Biqha menggelengkan kepalanya pelan.
" Lhebhih bhahik khitha charhi themphat mhakhan lhain yhang bhihasha-bhihasha hajha. Dharhiphadha habhishin huwhang bhuwat mhakhan dhithemphat mhewhah khayhak ghinhi. " ( lebih baik kita cari tempat lain yang biasa-biasa aja. Daripada habisin uang buat makan ditempat mewah kayak gini.)
" Ini bukan masalah uang Bi. Kalau cuma sekedar makan, gue masih mampu. "
Tiba-tiba Erick meninggikan suaranya pada Biqha. Hingga Biqha terkejut dan merasa takut melihat sorot mata Erick yang menyala. Namun ketika melihat raut wajah Biqha yang shock, Erick sadar dia telah melakukan kesalahan dengan melampiaskan kemarahannya pada Biqha.
Kata-kata Biqha tadi membuatnya sedikit tersinggung. Karna sebelumnya om Haris juga seolah merendahkannya, yang kini hanya seorang manager diperusahaan calon menantunya. Bahkan pria itu juga menjadi salah satu investor disana.
Erick memalingkan wajahnya dari Biqha sejenak, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
" Hakhu thahu khamhu mhamphu. Shamphe shekharhang khalhau dhibhandhingkhan dhenghankhu, khamhu mhashih thethap orhang khayha. Hakhu chumha ghak mhahu, shampe khamhu khethemhu lhaghi shamha orhang yhang mhungkhin mhengenhalmhu. Kharnha hithu phasrhi hakhan mhembhuhatmhu ghak nyhamhan khan?! "
( Aku tau kamu mampu. Sampe sekarang kalau dibandingkan denganku, kamu masih tetep orang kaya. Aku cuma gak mau, sampe kamu ketemu lagi sama orang yang mungkin mengenalmu. Karna itu pasti akan membuatmu gak nyaman kan?! )
Ucap Biqha yang berusaha memahami emosi Erick, meski dia tidak tau masalah yang sebenarnya.
" Sory Bi..... Gue gak maksud menbentak lo tadi. Gue masih kebawa emosi soal tadi. "
__ADS_1
Biqha menganggukkan kepalanya. Setelah itu Erick menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menjauh dari sana. Di perjalanan tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka. Baik Erick dan Biqha sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Sesekali Biqha melirik ke arah Erick yang fokus mengemudi dengan sorot matanya, yang masih diselimuti emosi. Biqha paham kejadian hari ini benar-benar mempengaruhi emosi Erick, karna itu Biqha tidak ingin mengganggunya.