
Erick terduduk lemah di depan ruangan UGD, setelah menyelesaikan segala urusan administrasi untuk perawatan Biqha selama di rumah sakit. Hari ini terlalu melelahkan secara fisik dan mental baginya.
Erick menelangkupkan kedua tangannya ke wajah dengan bertumpu pada lututnya. Tak lama setelah itu dokter pun keluar.
" Bagaimana keadaan teman saya dok ? "
" Bisa saya bicara dengan wali pasien ? "
Erick menggelengkan kedua kepalanya.
" Kedua orangtuanya sudah meninggal dok. Dia hanya punya seorang adik. Saat ini adiknya masih berada di tempat kerjanya. "
" Kalau begitu tolong hubungi dia secepatnya. "
Dokter itu ingin melangkah pergi, namun Erick menghentikannya.
" Tunggu dulu dok. Tolong beritau saya bagaimana kondisinya ! Saya sahabatnya sejak SMA. Kami sudah seperti keluarga. "
Dokter itu menatap Erick sejenak, lalu menarik nafas panjang.
" Kondisi tubuhnya tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Dia tidak sadarkan diri mungkin karna terlalu kelelahan, tapi....... "
Dokter wanita yang berusia empat puluh tahunan itu menjeda ucapannya, dan kembali mengamati wajah Erick yang diliputi kecemasan. Dia kembali menarik nafas dalam.
" Pasien sepertinya mengalami tindak kekerasan seksual. Secara fisik tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan, tapi sepertinya mentalnya terguncang. "
Tubuh Erick melemah mendengar diagnosa yang tepat itu dari sang dokter.
" Meski tidak sadarkan diri, tubuhnya sesekali masih gemetar. Ada beberapa luka gores di sekitar rahangnya. Sepertinya itu disebabkan oleh jarum dihijabnya. Seseorang mungkin memaksa membuka hijabnya tapi dia berusaha melawan. Kedua pergelangan tangannya juga memerah, seperti terikat dengan sangat kuat sebelumnya. "
Mata Erick kembali berkaca-kaca mendengar penjelasan dokter tersebut. Dia hanya bisa menunduk lemah tanpa bisa bicara apapun menanggapi ucapan sang dokter.
" Kami sudah memberinya cairan infus untuk menambah tenaga. Karna sepertinya kondisinya sangat lemah. Saran saya pasien harus menjalani proses visum agar lebih jelas. Tentunya.... itu jika pihak pasien dan keluarga ingin menempuh jalur hukum. "
Dokter itu menepuk pundak Erick yang terlihat terpukul dengan keadaan Biqha. Seketika itu Erick berusaha menegakkan kepalanya di hadapan dokter tersebut.
" Saya akan berusaha bicarakan masalah ini dengannya lebih dulu, saat dia sudah sadar nanti dok. "
" Yang terpenting orang-orang terdekatnya harus bisa merangkul dan membangkitkan semangatnya. Karna korban-korban kekerasan seksual cenderung akan mengalami trauma. Saya permisi....."
Erick kembali terduduk lemas setelah kepergian dokter tersebut. Erick menunduk dengan sebelah tanganya menopang dan memegang erat kepalanya. Dengan memejam mata, tak lama kemudian airmata pun mengalir di pipinya.
' Seandainya aku bisa datang lebih cepat..... Maafin Erick bu..... Erick gagal memenuhi permintaan terakhir ibu. '
Erick langsung teringat pesan almarhumah ibu Rahma, yang memintanya menjaga Biqha bila dia sudah tidak ada. Membuat Erick merasa sangat bersalah. Karna dulu sempat tidak mempercayai firasat seorang ibu, dan menganggap itu hanya kekhawatiran yang berlebihan. Kini firasat itu menjadi nyata. Perasaan Yoga yang terlalu berlebihan dan menggebu-gebu pada Biqha, telah membuat putrinya itu tersakiti begitu dalam.
Erick benar-benar menyesal dan terus menyalahkan dirinya sendiri dalam hati.
' Ini semua salahku. Harusnya aku tidak menghalangi Biqha resign dari kantor. Seandainya aku tidak menghalanginya saat itu...... Mungkin ini gak akan terjadi....'
Airmata Erick kembali menetes dalam diamnya. Dengan segera Erick menyeka pipinya yang basah. Lalu perlahan Erick merogoh kantongnya dan mengambil ponselnya, berniat memberi kabar pada Rendra. Yang pastinya sedang cemas mengetahui sang kakak belum juga pulang hingga saat ini.
' Tapi apa yang harus ku katakan? Bagaimana aku menjelaskan semua keadaan ini padanya? Dia..... Anak itu juga pasti akan hancur mendengar apa yang telah dialami kakaknya. Ya Allah..... Aku harus bagaimana? '
Erick kembali memegangi kepalanya dan mengusap-usap dahinya.
' Apa yang udah lo lakukan Ga? Kenapa lo bisa nekat bertindak sekeji ini? '
Erick menegakkan tubuhnya lalu menarik nafas dalam-dalam, setelah lelah berkelut dalam benaknya sendiri. Kemudian Erick mengaktifkan ponselnya, yang baru dia sadari ternyata belum juga dia aktifkan kembali sejak tadi.
__ADS_1
Dalam hitungan detik, banyak pesan masuk ke ponselnya. Erick kaget saat melihat beberapa pesan masuk berasal dari nomor Biqha. Erick pun langsung membuka dan membacanya satu persatu. Tangan Erick langsung gemetar membaca pesan dari Biqha. Diremasnya kuat ponselnya sndiri.
" Jadi ini yang lo jadikan alasan untuk membuat Biqha bekerja sampai larut malam hingga dia kelelahan. Supaya lo bisa berbuat seenaknya dan bertindak semena-mena terhadapnya. Lo bener-bener keterlaluan Ga...... Lo gak punya hati. "
Airmata Erick kembali berderai setelah mengetahui fakta bagaimana hal ini bisa terjadi. Yoga sudah dengan sengaja merencanakannya, dan secara tidak langsung Erick lah yang memberinya peluang melakukan hal itu.
" Harusnya aku ikut lembur bersama mereka. Bu diana udah lebih dulu ijin tidak bisa lembur karna anaknya sedang sakit. Dan aku..... aku menganggap enteng pekerjaanku dan lebih fokus pada Bisnis dan kepentinganku sendiri. Khe...khe....khe... ini semua salahku..... Aku bersalah padamu Bi...... Maaf.... Ma....af..."
Erick tersedu menyesali apa yang telah terjadi. Rasa bersalah menyelimuti jiwanya. Sedetik kemudian ponsel Erick berdering. Ternyata Rendra menghubunginya lebih dulu. Seketika Erick menutup matanya dengan telapak tangan kirinya, dan tangisnya semakin menjadi hingga dering ponselnya berakhir. namun tak berselang lama Rendra kembali menghubunginya.
Meski berat, Erick harus menghadapinya. Rendra harus tau semua yang terjadi. Erick kembali menyeka airmatanya dan berusaha bersikap tenang sebelum mengangkat telponnya.
// Halo, assalammu'alaikum. Kak.... Apa kak Erick masih lembur ya bareng mbak Biqha di kantor? Soalnya udah jam segini kok mbak Biqha belum pulang juga ya? Biasanya kalopun lembur gak pernah sampe selarut ini. //
Erick masih terdiam berusaha menenangkan dirinya sendiri.
// Kak... halo.... Apa mbak Biqha masih lembur ? Kira-kira jam berapa ya selesainya? Biar nanti pulangnya Rendra jemput. Soalnya udah malam banget kan, handphone mbak Biqha juga gak bisa dihubungi. Rendra jadi cemas mikirnya. Kak....//
" Ren..... Mbak kamu sekarang ada di rumah sakit. Kamu buruan kesini ya....! "
// Apa? Mbak Biqha kenapa kak? Kenapa bisa ada di rumah sakit? //
" Kamu kesini aja dulu. Insha Allah mbak kamu juga udah baik-baik aja. Udah dirawat juga. Kamu jangan lupa bawakan pakaian ganti untuk mbak kamu ya ! jangan lupa... Dalemannya juga. Siapa tau dia juga butuh. Pasti dia juga gak nyaman kan seharian belum ganti. Bawakan hijab yang instan aja, biar gak ribet dan gak bikin mbak kamu gerah. "
Meski agak canggung namun Erick terpaksa mengatakannya, mengingat penutup dada Biqha yang talinya sudah terputus, pasti akan membuatnya tidak nyaman. Erick ingin memastikan kenyamanan untuk Biqha, hingga kamar rawat Biqha pun, Erick tempatkan di kelas satu. Agar Biqha tidak terganggu dengan pasien lain, dan dia bisa menjaga privasi Biqha dengan baik.
Setelah itu Erick menutup telponnya. Entah apa yang akan terjadi setelah Rendra tau yang sebenarnya. Tapi Erick memutuskan untuk menjelaskannya setelah Rendra sampai di rumah sakit. Erick khawatir Rendra akan terbawa emosi saat mengendarai motornya, dan membahayakan nyawanya sendiri nantinya bila dia mengetahuinya sekarang.
Di dalam kamar perawatan Biqha terbaring lemah, dengan selang infus yang tertancap dipunggung tangannya. Sementara Erick duduk disampingnya dan terus menatap wajah pucat Biqha.
Erick mengamati setiap goresan luka dan bercak yang ada ditubuh Biqha. Matanya yang sembab karna terus menangis, goresan dirahangnya, bercak kemerahan yang ditinggalkan Yoga dilehernya, sampai pergelangan tangannya yang memerah.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, dan sedetik kemudian Rendra muncul dari balik pintu.
" Bagaimana keadaan mbak Biqha kak? "
Erick langsung berdiri dan menghampiri Rendra.
" Dia sedang tidur. Dokter memberinya suntikan penenang agar dia bisa istirahat. "
" Iya, tapi mbak Biqha sakit apa kak? Apa kata dokter? "
Erick masih bingung mau menjawab bagaimana. Melihat kecemasan dimata Rendra, Erick sudah bisa membayangkan bagaimana reaksinya bila dia tau kebenaran tentang kondisi kakaknya.
" Kamu bawa hijab untuk mbakmu kan? Lebih baik kamu pakaikan dulu. Takutnya dia gak nyaman kalo bangun nanti... dia tidak memakai hijabnya sementara ada kakak disini. "
Sedari tadi Biqha memang tidak menggunakan hijab, pakaiannya juga sudah diganti dengan pakaian dari rumah sakit. Karna pakaian Biqha sudah tidak bisa dipakai lagi, dan dokter juga tidak mungkin membiarkan Biqha memakai jaket Erick yang cukup tebal itu.
Awalnya Erick melarang suster untuk membuka hijabnya, namun setelah mendengarkan penjelasan dokter akhirnya Erick menyetujuinya. Sementara Rendara langsung menuruti apa yang diperintahkan Erick. Dia pun membuka ranselnya dan mengambilkan hijab untuk kakaknya.
Rendra pun berjalan mendekati kakaknya. Namun sebelum sempat dia memakaikan hijab dikepala sang kakak, Rendra terpaku. Diamatainya kondisi sang kakak yang terbaring lemah dengan wajah pucat dan luka serta bercak yang ada di lehernya. Matanya memerah dan membulat sempurna.
Rendra menjadi kaku. Dia memandang sang kakak kemudian beralih pada Erick dan kembali memandang sang kakak seperti sebuah robot.
" A...apa ini kak? Ba....bagaimana luka-luka itu bisa ada ditubuh mbak Biqha? Apa yang....."
" Ren kamu tenang dulu ya.... !"
Erick mendekati Rendra dan memegang kedua pundaknya.
__ADS_1
" jawab aku Kak ! Kenapa Mbak Biqha bisa seperti itu ? Aku bukan anak kecil lagi dan aku bukan orang bodoh. Itu bukan luka memar karena terjatuh, terbentur atau apapun. Itu...."
Rendra bicara dengan nada yang mulai meninggi sembari menunjuk ke arah sang kakak. Mata Erik pun kembali memerah melihat reaksi Rendra yang seperti itu.
" Biqha.... Dia.... Mengalami pelecehan s*ksual. "
Tubuh Rendra lunglai seakan tak bertulang dan perlahan terhuyung ke belakang hingga membentur dinding. Airmatanya jatuh tak terbendung lagi.
" Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? "
Rendra menatap Erick dengan amarah yang terlihat jelas dibalik tetesan airmatanya.
" Bukankah mbak Biqha sedang lembur bersama kakak di kantor. Tapi kenapa itu bisa terjadi? Kenapa kakak biarkan itu terjadi? "
Rendra kembali mendekat pada Erick dengan memperlihatkan emosinya.
" Kakak gak ikut lembur hari ini Ren. Kakak bahkan gak tau kalo mbak kamu masih lembur sendirian sampe selarut ini dikantor. Kakak kesana karna ingin mengambil flashdisk kakak yang tertinggal, dan kakak menemukan dia......."
" Di kantor???? Siapa yang tega melakukan ini pada mbakku kak? Siapa manusia bejat itu? Di mana dia sekarang? JAWAB AKU KAK ! "
" Ren tenanglah..... Ini rumah sakit. Mbakmu bisa bangun nanti. "
Erick berusaha menenangkan Rendra dengan memegang kedua pundaknya.
" Gimana Rendra bisa tenang. Seseorang sudah melecehkan mbakku Kak. Kakakku.... satu-satunya. Aku gak mungkin biarin orang itu gitu aja. Dia harus mendapatkan balasan yang berkali-kali lipat dari apa yang mbak Biqha rasakan. "
Ucap Rendra lantang pada Erick.
" Katakan siapa orang itu kak ! kakak pasti tau kan siapa orang itu kak. Kasih tau Rendra siapa dia dan dimana Rendra bisa menemukannya ! "
" Yoga....."
Ucap Erick sembari menunduk. Dan Rendra pun kembali terpaku mendengar kenyataan itu. Beberapa detik kemudian Rendra bergerak melangkah dengan cepat. Erick mengejarnya dan menarik tangannya.
" Kamu mau kemana? "
" Mencari manusia bejat itu. Dan menyeretnya ke kantor polisi. "
Rendra menghempas tangan Erick dan segera ingin keluar, namun Erick lebih dulu menarik sikunya.
" Tenangkan dirimu Ren....! "
" Tenang kakak bilang?! LIHAT MBAKKU DISANA KAK ! DIA SUDAH DIANIAYA. Dan kakak memintaku untuk tenang. Kenapa? Karna dia sahabat kakak? Jadi kakak membiarkannya begitu saja? Hah?"
" Jaga ucapanmu Ren.....! Apa kamu pikir kakak akan membiarkannya? Kakak juga sudah nyaris membunuhnya tadi. Mbak kamu juga sahabat kakak. Kalo kakak tau dari awal, kakak gak mungkin membiarkannya. "
Erick akhirnya ikut terbawa emosi dan bicara dengan nada yang mulai meninggi diserta mata yang berkaca-kaca.
" Sekarang bukan saatnya untuk mengedepankan amarah Ren. Kita akan bicarakan itu nanti. Saat ini yang terpenting adalah Biqha. Kamu harus jadi kuat untuknya Ren. Kamu satu-satunya yang dia punya di dunia ini. Saat ini dia sangat membutuhkanmu..... Dia membutuhkan sandaran dan support dari kita. "
Rendra terduduk dilantai dan menangis sejadi-jadinya memikirkan nasib sang kakak yang begitu malang.
" Apa yang akan terjadi padanya kak? Mbak Biqha pasti hancur..... Bagaimana dia bisa melewati semua ini? "
" Karna itu kita harus ada untuknya. Membantunya dan memapahnya bangkit kembali. Kamu harus lebih tegar darinya Ren. Kamu harus bisa jadi kekuatan untuknya bertahan dan bangkit kembali menatap masa depan."
Rendra menatap Erick dengan sorot mata yang putus asa.
" Masa depan yang mana kak? Apa setelah ini kakakku itu masih bisa memiliki masa depan yang baik? Hidupnya sudah hancur. YOGA KEPARAT ITU SUDAH MERENGGUT KEHORMATAN KAKAKKU. APALAGI YANG TERSISA DARINYA?"
__ADS_1
" DAN KAU AKAN BIARKAN KAKAKMU HANCUR BEGITU SAJA? BANGUNLAH NARENDRA ALKHALIF ! APA IBU PERNAH MENGAJARI KITA MENYERAH DALAM HIDUP. GAK.... IBU SELALU MENGAJARKAN KALIAN AGAR TERUS BERJUANG DALAM KONDISI APAPUN. Jangan pernah menyerah..... Kita akan sama-sama melewati semuanya. "