
Waktu terus berjalan, hingga tak terasa 3 bulan sudah berlalu. Biqha dan Yoga kini semakin dekat. Kini Yoga menjalani hari-harinya dengan penuh semangat dan rasa bahagia, lebih dari sebelumnya. Semua sejak kehadiran Biqha kembali.
Bisa melihat Biqha setiap hari di kantor, walau hanya dari kejauhan. Sudah membuat hatinya bahagia. Meski tidak bisa berinteraksi langsung dengannya, tapi sekarang Yoga bisa bertukar kabar setiap saat dengan Biqha.
Melalui kecanggihan teknologi yang ada, Yoga bisa menyapanya setiap pagi. Saat siang, Yoga akan mengingatkannya untuk makan. Sore hari Yoga selalu memperingatkannya untuk berhati-hati, saat pulang dengan angkutan umum atau ojol.
Bahkan mengobrol dan melihat wajah Biqha sebelum tidur menjadi kebiasaan baru baginya saat ini. Sesekali Yoga juga berkunjung ke kontrakan Biqha, dan mengajaknya jalan. Mereka sudah seperti layaknya sepasang kekasih yang dimabuk asmara.
Sebenarnya Yoga ingin sekali mengantar Biqha pulang setiap harinya. Namun keadaan tidak memungkinkan. Pernah Yoga memberi solusi agar mereka bertemu diluar, tak jauh dari kantor. Namun Biqha menolak. Karena ia takut, nanti terlihat oleh karyawan yang lain. Justru akan menjadi rumor negatif.
Jadi Yoga hanya bisa pasrah membiarkan Biqha pulang dengan ojol atau angkutan umum, dengan syarat Biqha harus langsung mengabarinya bila sudah sampai di rumah. Kalau istilah jaman sekarang, Yoga itu sudah BUCIN akut sama Biqha.
Sebucin itu Yoga terhadap Biqha. Sampai-sampai ia sudah tidak perduli lagi pada hal lainya. Termasuk tentang bagaimana nasib pertunangannya dengan Alina nanti. Juga nasib kerja samanya dengan perusahaan orang tuanya Alina, yang sudah memiliki saham 10 persen di perusahaannya.
Sekalipun Yoga belum bisa memutuskan hubungannya dengan Alina saat ini, Namun dia nyaris sudah tidak perduli lagi pada Alina. Bahkan tidak jarang dia mengabaikan panggilan telepon ataupun chat dari Alina. Dengan alasan sedang sibuk karena banyak proyek yang sedang ia tangani.
" Kamu berubah. "
Keluh Alina, saat mereka tengah makan malam di sebuah restoran mewah.
" Berubah? Berubah gimana? "
Tanya Yoga, yang berpura-pura tidak mengerti maksud Alina.
" Kamu udah gak perduli sama aku. Kamu juga udah gak pernah telphon ataupun tanya kabar aku lagi. Bahkan telphon aku juga jarang diangkat. Kenapa sih kamu berubah? Apa kamu udah gak sayang lagi sama aku? Kamu udah gak cinta ya.... sama aku? "
Ucap Alina mempertanyakan perubahan sikap Yoga dengan tatapan sendunya.
" Apa jangan-jangan.... Kamu punya wanita lain yang kamu..... ? "
Alina langsung mengungkapkan kecurigaannya pada Yoga. Membuat Yoga menelan makanannya dengan susah payah, karena merasa tersudutkan. Namun seketika Yoga bereaksi, menatap tajam pada Alina dengan emosi. Yoga meletakkan kembali sendok dan garpu yang dia pegang, ke piring hidangan di depannya dengan kasar.
Alina yang melihat reaksi Yoga yang seperti itu, menunduk takut. Dia menyadari jika ia sudah melakukan kesalahan, karena telah mengubah suasana hati Yoga menjadi buruk.
" Kamu kalo ngomong jangan sembarangan ! Aku gak suka kalo terus dicurigai seperti ini. Aku kan udah jelasin sama kamu. Kalau saat ini aku sedang sangat sibuk. Banyak proyek besar yang sedang ku tangani. Dan itu benar-benar menyita waktu dan pikiranku Alina...."
Jelas Yoga disertai emosi, berusaha menekan Alina. Membuat Alina terdiam.
" Kamu tau kan, baru setahun ini aku dipercaya mengemban tanggungjawab sebagai CEO. Dengan menangani proyek-proyek besar ini, akan menjadi kesempatan emas buatku memajukan perusahaan. Jadi aku harus bisa menangani proyek ini dengan sebaik mungkin. "
Tambahnya masih dengan nada emosi. Yoga tidak sungkan memperlihatkan emosinya itu, karena mereka berada di private room.
" Kalau kamu gak bisa percaya sama aku. Lebih baik kita akhiri saja hububgan ini. "
" Apa...? "
Ucapan Yoga sungguh membuat Alina terkejut bukan main. Tadinya dia hanya ingin menarik perhatian Yoga, dengan merajuk dan mengeluhkan sikap cueknya. Berharap setelah itu, Yoga akan merayunya dan bersikap mesra kembali padanya. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
__ADS_1
Sementara Yoga menjadikan kesempatan ini, untuk membuat alasan ketidakcocokan antara dia dan Alina. Agar dia bisa mengakhiri hubungan yang membelenggunya ini.
Namun saat mata Alina berlinang, dan dia mulai terisak sembari memohon maaf pada Yoga. Hatinya luluh. Yoga menjadi tidak tega. Pada dasarnya Yoga memiliki hati yang lembut. Dia tidak tega menyakiti hati wanita. Apalagi Alina sampai memohon padanya, agar tidak memutuskan hubungan mereka.
Yoga menjadi sangat dilema. Dia sangat ingin mengakhiri hubungannya dengan Alina. Agar dia bisa bersama dengan Biqha. Tapi melihat Alina begitu terluka dan bersedih, Yoga menjadi tidak tega.
Yoga berpikir mungkin saat ini bukan waktu yang tepat, untuk mengakhiri hubungannya dengan Alina. Yoga memutuskan untuk menenangkan Alina dan berbaikan dengannya. Untuk sementara waktu ini, Yoga berpikir akan bertahan dengan Alina. Sampai dia menemukan cara yang tepat, mengakhiri semuanya.
Setelah berbaikan, dan menyelesaikan masalah diantara mereka. Yoga mengantar Alina pulang. Di dalam perjalanan pulang, Alina mendiskusikan pada Yoga tentang sebuah tawaran job. Untuk ikut bergabung dalam pagelaran Tour Fashion show di Eropa.
Yoga memutuskan untuk mengijinkannya pergi. Walaupun kemungkinan pekerjaan Alina itu akan berlangsung hingga 2 sampai 3 bulan lamanya.
" Kamu yakin sayang..... Ijinin aku ambil job ini? Biasanya kamu gak suka, kalo aku ambil job ke luar negri dalam kurun waktu yang lumayan lama. Kok sekarang kamu malah suruh aku pergi? "
Tanya Alina, yang masih merasa heran dengan keputusan Yoga.
" Kenapa? Curiga lagi sama aku? "
Bukannya menjawab, Yoga justru balik bertanya. Membuat Alina kembali tertunduk.
" Bukan..... Aku cuma heran aja kok. "
Jawab Alina pelan. Takut Yoga akan marah lagi, karena merasa dicurigai.
" Udah ya..... Aku gak mau ribut lagi sama kamu. Aku ijinin kamu pergi.... Karena aku juga lagi sibuk banget sekarang. Dan mungkin sampe beberapa bulan ke depan. Rasanya gak adil aja, kalo aku ngelarang kamu kerja ke luar. Sedangkan aku juga gak punya banyak waktu untuk kamu beberapa bulan ke depan."
" Daripada kamu nanti berpikiran yang gak-gak lagi, gara-gara merasa aku gak punya waktu untuk kamu. Lebih baik kamu juga menyibukkan diri dengan pekerjaan kamu. " Tambahnya lagi.
Padahal sebelumnya Yoga hanya mengijinkan Alina menerima job di luar kota atau pun luar negeri, hanya untuk sekali event yang memakan waktu beberapa hari saja. Namun kali ini Yoga tidak mempermasalahkan bila Alina harus berada di luar negri dalam waktu yang cukup lama.
" Yang penting kamu gak terikat kontrak, yang mengharuskan kamu menetap disana hingga bertahun-tahun lamanya. Seperti tawaran dari agency di Paris waktu itu sayang..... Aku gak kan sanggup kalau harus berjauhan dari kamu selama itu. Ini saja aku belum tentu sanggup.... Apalagi bertahun-tahun."
Ungkap Yoga pada Alina, untuk memperlihatkan rasa cinta dan kasih sayangnya. Meski itu tidak sungguh-sungguh dari hatinya, melainkan hanya untuk menutupi rasa curiga Alina yang merasakan perubahan sikapnya.
Tentu saja kata-kata Yoga itu berhasil membuat Alina tersipu. Namun saat Alina mengatakan akan lebih baik kalau mereka menikah saja. Dengan begitu mereka tidak akan berjauhan lagi. Karena dengan senang hati, Alina akan meninggalkan karirnya di dunia modeling. Dan mengabdikan hidupnya menjadi ibu rumah tangga.
Yoga kembali berkilah kalau kesibukannya saat ini, membuatnya belum bisa memikirkan pernikahan. Padahal Yoga dengan sengaja mengijinkan Alina menyibukkan diri dengan pekerjaannya di luar negeri, agar dia juga punya banyak waktu untuk bersama Biqha. Tanpa harus memikirkan Alina dan terganggu olehnya.
Namun demi menenangkan perasaan Alina, Yoga terus menjanjikan akan menggelar pernikahan impian mereka secepatnya. Setelah proyek-proyek besarnya mulai berjalan stabil. Sehingga ia bisa sedikit bernafas lega dan tenang dalam mempersiapkan pernikahan mereka nanti.
Meski sesungguhnya dia sedang
mencari celah untuk mengakhiri hubungannya dengan Alina. Karena dia merasa, ternyata cintanya dulu pada Alina hanya sebatas ketertarikan sesaat. Terbukti saat dia kembali bertemu dengan Biqha, cinta di hatinya kembali bersemi bahkan semakin besar.
Seakan di hatinya hanya ada nama Nabiqha Azzahra. Namun dulu, dia terpaksa harus menguburnya. Karena kehilangan jejak Biqha dan tidak berhasil menemukan keberadaannya. Meski sudah mencoba mencarinya.
Karena itu, sekarang Yoga tidak mau kehilangan Biqha lagi. Dia akan melakukan segala cara untuk bisa bersama dengan Biqha. Sekalipun harus mengorbankan banyak hal. Seperti hubungannya dengan Alina, yang mungkin juga akan berimbas pada perusahaannya.
__ADS_1
Tentu itu tidak akan mudah, karena kedua orang tuanya juga mungkin tidak akan setuju. Namun ia akan berusaha meyakinkan orang tuanya dan memperjuangkan cintanya. Tekadnya adalah yang terpenting dia bisa bersama dengan Biqha sang pujaan hati.
***
Sore ini seperti biasa, Yoga menunggu Biqha keluar dari pintu masuk gedung perusahaannya. Dari dalam mobilnya, Yoga terus memperhatikan pintu masuk gedung. Hingga beberapa menit kemudian, Yoga pun melihat Biqha berjalan bersama karyawan-karyawan yang lain.
Mata Yoga membulat sempurna, karena lagi-lagi dia melihat pemandangan yang tidak mengenakkan diantara Biqha dan rekan kerjanya. Yang belakangan dia ketahui bernama Fajar itu. Melihat keakraban diantara mereka membuatnya panas hati. Karena dia merasa yakin, kalau Fajar menaruh hati pada Biqha.
Dia sering melihat tatapan kekaguman dari mata Fajar untuk Biqha. Semakin hari mereka berdua terlihat semakin akrab. Bahkan mereka sekarang terlihat tak canggung bercanda, dan tertawa bersama sambil berjalan keluar gedung.
Hati Yoga semakin terbakar, melihat Biqha tertawa dengan lepasnya sambil menyentuh pundak Fajar. Kemudian mereka berjalan bersama ke arah parkiran motor. Mata Yoga semakin terbelalak tak percaya, melihat Biqha dengan santainya naik di boncengan motor yang di kendarai Fajar.
Sedangkan Biqha tadi mengatakan akan pulang dengan ojek online seperti biasa. Namun yang dia lihat sekarang Biqha malah berboncengan dengan rekan kerjanya, yang selalu berhasil membuat hati Yoga panas. Tiap kali melihat mereka bersama.
Tanpa pikir panjang lagi, Yoga pun mengikuti mereka. Perasaannya semakin tak menentu, saat melihat mereka berbelok dan memasuki area sebuah cafe. Emosinya seakan ingin meledak, hingga wajahnya memerah karena menahan amarah. Tangannya meremas setir mobil dengan kuatnya hingga terlihat buku-buku jarinya memutih.
Rasanya saat ini juga ia ingin keluar menghampiri mereka, dan segera menarik Biqha menjauh dari pria itu. Tapi ia sadar kalau dia tidak boleh gegabah. Kalau tidak mau semuanya berantakan. Karena Kalau sampai dia berbuat gegabah dan emosional, bisa-bisa Biqha malah kecewa dan marah kepadanya.
Tentu Yoga tidak mau itu terjadi. Dia tidak mau Biqha menjauh darinya lagi. Karena itulah Yoga berusaha bersabar. Ia memutuskan untuk meminta penjelasan pada Biqha.
Tadinya dia ingin langsung melakukan panggilan video kepada Biqha, namun diurungkan. Karena mengingat pria itu pasti ada di dekat Biqha dan bisa melihatnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menanyakan via chat.
// Bi..... kamu udah sampai di rumah? //
Yoga mengirim pesan seolah-olah dia tidak mengetahui keberadaan Biqha saat ini. Dia memutuskan berpura-pura tidak tau, agar Biqha tidak curiga kalau dia mengikutinya. Sekaligus ia ingin menguji kejujuran Biqha terhadapnya.
Bila Biqha nantinya menutupi kebenaran ini, maka itu artinya ada sesuatu di antara mereka. Atau Biqha mulai membuka hati untuk pria bernama Fajar itu. Pikiran seperti itu membuatnya semakin cemas juga merasa sesak di dadanya. Dia merasa seperti orang yang sedang dihianati oleh pasangan yang sangat ia cintai.
Tak lama terdengar nada pesan masuk di ponsel Yoga. Ternyata Biqha membalas pesan Yoga. Yoga pun dengan cepat membuka pesan dari kontak bernama 'My B' itu.
My B :
// Ga, maaf..... Tadi aku gak sempet cerita sama kamu. Aku gak langsung pulang ke rumah. Aku ada urusan sebentar. //
Yoga pun segera membalasnya.
// Urusan apa? Sekarang kamu ada di mana? Aku jemput ya...! //
Pesan balasan yang di kirim Yoga tidak langsung di baca oleh Biqha. Hal itu membuat perasaan Yoga menjadi semakin gundah.
Beberapa menit kemudian, pesannya baru terbaca dan tak lama muncul balasan dari Biqha.
My B :
// Gak usah Ga'.... Aku pergi sama mas Fajar. Gak akan lama kok. Sebelum magrib juga nanti udah sampe rumah. Nanti aku jelasin kalau udah sampe rumah ya....! //
Yoga sedikit lega setelah membaca pesan dari Biqha. Meski dia masih merasa tidak nyaman, memikirkan Biqha berduaan dengan pria lain di dalam cafe itu. Namun setidaknya Biqha jujur padanya, kalau dia pergi dengan Fajar. Dan dia berjanji akan menjelaskannya nanti.
__ADS_1
Yoga memutuskan untuk mempercayai Biqha. Dan membiarkan Biqha menyelesaikan urusannya bersama Fajar. Walau dihatinya masih diselimuti perasaan cemburu, namun dia berusaha bersikap bijak dengan memberi kepercayaan pada Biqha.