Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 24. Tom and Jerry


__ADS_3

Biqha hanya bisa mengikuti perintah Erick. Dia yakin ada yang ingin Erick sampaikan padanya. Karena itu, Erick berani memerintahkannya langsung di depan karyawan yang lain.


Biqha naik ke boncengan motor tersebut. Untung saja hari ini dia memakai celana panjang berbahan katun warna hitam.


" Tolong bawakan! "


Erick melepaskan jasnya dan memberikan pada Biqha. Kemudian dia menggulung kedua lengan kemejanya. Baru setelah itu memakai helm. Hari ini Erick tidak memakai dasi, karena tidak ada jadwal rapat dengan petinggi perusahaan. Jika tidak ada agenda penting, Erick lebih suka berpenampilan tidak terlalu formal di kantor.


" Jangan sampai kusut. Lipat yang bener! " Perintahnya.


Biqha menatapnya sinis. Namun dia tetap melakukan perintah bosnya itu. Melipat jas Erick dengan rapih, lalu meletakkan jas itu di lengannya. Sementara di belakang, keempat rekannya memperhatikan interaksi mereka.


" Kok mereka kayak orang pacaran jadinya. Jangan-jangan bener kata lo Des....Pak Erick dan Biqha ada something. "


" Sststttttt.... "


Ucap Lina setengah berbisik pada Desi. Namun belum sempat Desi menjawab, Fajar dan Doni sudah memberi kode pada mereka untuk diam.


" Udah yuk jalan! Mereka udah jalan tuh.... " Ucap Fajar.


Mereka pun melaju ke tempat tujuan, dengan kecepatan sedang. Setelah memasuki jalanan tikus, Erick melepas helmnya dengan satu tangan sambil terus melajukan motornya. Lalu memasukan helm itu ke lengan kirinya. Erick melakukan itu, agar dia bisa bicara dengan Biqha.


Karena helm Doni tertutup dibagian mulutnya, Erick khawatir Biqha tidak bisa melihat gerak bibirnya. Karena itu, dia melepaskan helmnya. Erick menggerakkan kepalanya ke samping kiri, dan mulai bicara.


" Bi.... Tentang yang mereka bicarakan tadi. Tolong jangan beritau siapapun nama asliku yang sebenarnya ! Tolong tetap rahasiakan apapun yang kamu tau tentangku ! "


Biqha menatap wajah Erick dengan sendu. Karena dia melihat ada siratan kesedihan di mata Erick, saat dia mengucapkan kalimat-kalimat itu. Erick sampai menggunakan bahasa formal pada Biqha, itu berarti pembicaraan ini serius dan penting baginya.


Biqha menganggukkan kepalanya, karena tak kuasa menolak permintaan Erick. Bagaimana pun itu adalah privasi Erick, jadi dia tidak berhak ikut campur.


Setelah mendapatkan tanggapan dari Biqha, Erick kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Dan fokus mengemudikan Jack Black.Tatapan mata Erick tajam ke depan. Sorot mata yang diselimuti emosi itu, kembali terpancar dimatanya. Tak lama, Biqha membuka suara.


" Khalhau khamu ghakh mhahu ohrhang thahu shihaphah khamhuh... Harhusnyhah khamhuh bhisha mhenhahan dhirhi. Jhanghan ghamphang therphanching ehmhoshi, khalhau hadha ohrhang yhang bhicharahin thenthang khamhuh hathau khal-khal yhang bherkhaithan shamhah khamhuh. Khamhuh harhus bhisha khendhalikhan ehmhoshi khamhuh, shuphayhah ohrhang-ohrhang ghakh khan churhigha shamhah khamhuh. "


( Kalau kamu gak mau orang tau siapa kamu.... Harusnya kamu bisa menahan diri. Jangan gampang terpancing emosi, kalau ada orang yang bicarain tentang kamu atau hal-hal yang berkaitan sama kamu. Kamu harus bisa kendalikan emosi kamu, supaya orang-orang gak curiga sama kamu.)


Erick tersenyum mendengar nasehat dari Biqha. Dia tidak menyangka kini Biqha berubah sangat dewasa dan bijak. Kalau dulu Biqha pasti akan memarahi Erick karena berbohong.


' Kenapa kamu bohong? '


' Kenapa kamu gak jujur aja sih. '


' Bohong itu Dosa. Gak ada yang namanya bohong demi kebaikan. Bohong ya tetep aja bohong. Dosa. '


Erick teringat kata-kata Biqha dulu, saat mereka berdebat karena Erick ketauan berbohong.


Senyum Erick memudar, saat ia merenungi nasehat dari Biqha. Menyadari dirinya yang tadi terpancing emosi, melihat motor kesayangannya ada di tangan orang lain. Biqha memang benar, tidak seharusnya dia bersikap seperti itu. Tapi dia sungguh tidak rela, jika Jack Black menjadi milik orang lain.


Jack Black adalah motor pemberian almarhum Opa-nya sebelum meninggal dunia, saat dia berulang tahun ke 17. Karena sang Opa mengerti, kalau Erick lebih tertarik dengan motor daripada mobil. Jack Black juga koleksi pertamanya.


Saat remaja, Erick sangat menyukai motor. Sejak SMP, dia diam-diam belajar naik motor dengan supir di rumahnya. Bahkan dia sering diam-diam meminjam motor bebek supirnya ke sekolah saat SMA, sebelum memiliki Jack black dan juga SIM C. Karena itu dia tidak rela motor kesayangannya dimiliki orang lain.


Sementara Biqha memandangi Erick dari belakang dengan bertanya- tanya dalam hatinya.


' Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu Rick? Kenapa kamu harus merahasiakan identitasmu? Sampai kamu harus mengganti nama belakangmu. '


Biqha merasa prihatin, walau dia tidak tau apa alasan Erick melakukannya. Dan Entah mengapa Biqha merasa ada kisah sedih di balik ini semua.


' Dari apa yang Desi bilang tadi.... Keluarga Erick gak mengalami kebangkrutan sama sekali. Lalu kenapa Erick bisa ada di sini dan bekerja dengan Yoga? Dan siapa Ericko Danuatmadja yang menetap di Inggris itu? Sedangkan Ericko Danuatmadja yang ku kenal, lagi boncengin aku sekarang. '


Biqha masih saja bertanya-tanya dalam hatinya. Dia benar-benar penasaran, namun dia tidak bisa menanyakannya pada Erick. Selain dia tidak mau Erick menganggapnya kepo terhadapnya, Biqha juga tidak enak hati. Karena merasa itu akan membuka luka dihatinya.


' Apa Ericko Danuatmadja yang di Inggris itu... adalah keturunan Atmadja yang sesungguhnya? Karena itu Erick tersisih dan terbuang dari keluarganya. Seperti cerita-cerita sinetron di televisi, anak yang tertukar atau pewaris tahta yang tertukar. '


Biqha mulai berspekulasi sendiri dalam benaknya.

__ADS_1


' Apa sih, Biqha..... Sinetron banget pikirannya.' Biqha memukul-mukul pelan kepalanya sendiri.


' Tapi kalau bener ada Ericko Danuatmadja yang tinggal di Inggris..... Bisa aja kemungkinan itu bener kan?! Biasa kalau orang kaya kan punya banyak musuh. Terus ada yang dengan sengaja nukar anak mereka, dengan anak orang lain? '


Sekalipun Biqha tidak mau memikirkan spekulasi apapun, tapi pikirannya tetap menebak-nebak apa yang terjadi.


' Aduuuhhhhhh.... Dong-dong..... stop Biqha stop.... ! Jangan mikir terlalu jauh, Stop...! Jangan kepo lagi urusannya si Erick! Buat pusing aja. ' Biqha kembali memukul kepalanya sendiri.


Sampai di tempat tujuan, mereka semua langsung memarkirkan motornya dan masuk ke dalam. Suasana warung itu, belum terlalu ramai, karena anak-anak sekolah belum keluar. Mereka duduk di meja panjang yang ada di sisi kanan dekat kasir.


Cewek-cewek di kursi bagian kanan, dan cowok-cowok dibagian kiri. Mereka saling berhadapan. Erick mengambil posisi di hadapan Biqha, yang berada di paling pinggir tepat di sebelah meja kasir. Sambil menunggu bakso pesanan mereka siap, mereka pun berbincang-bincang. Tiba- tiba ada seseorang yang menyebut nama Biqha.


" Nabiqha.... "


Erick dan yang lainnya menoleh ke asal suara. Biqha pun mengikuti arah pandangan mereka.


" Erick..... "


Ucap seseorang tersebut, yang ternyata juga mengenali Erick.


" Pak Arya.... "


Erick langsung berdiri mendapati wali kelas mereka dulu juga ada di sana. Begitu pun dengan Biqha. Mereka mendekati dan menyalami guru mereka tersebut, dengan mencium tangannya secara bergantian.


" Bapak masih ngajar di sini? Tanya Erick.


" Ya masih lah. Kalian juga ternyata masih suka main kesini ya?! "


Mereka pun tersenyum bersama. Sementara keempat rekan mereka terbengong melihat mereka.


" Bapak juga mau makan bakso? Mari pak... Gabung sama kita aja di sini. " Tawar Erick.


" Gak. Bapak mau bawa pulang buat si bungsu. Dia lagi sakit jadi minta di bawain bakso." Jelas pak Arya.


Ucap Erick mengingat putri bungsu wali kelasnya itu. Yang sering dibawa kesekolah oleh pak Arya, setelah menjemput putrinya itu pulang sekolah.


" Iya dong. Siapa dulu ayahnya.... " Canda pak Arya.


Erick dan Nabiqha memang sangat dekat dengan pak Arya dulu. Karena selain pernah menjadi wali kelas mereka, pak Arya juga guru pembimbing mereka dalam persiapan olimpiade matematika.


Pembawaan pak Arya yang juga santai dan suka bercanda namun tegas itu, membuat mereka mudah dekat dengannya.


" Dhudhuk dhulhu phakh ! Shambhil nhungghuh bhakshohnyhah shelheshai. " ( Duduk dulu pak! Sambil nunggu baksonya selesai.)


Mereka pun duduk bersama di satu meja.


" Udah 17tahun kan pak usianya. Udah boleh dong pak di jodohin sama Erick......"


Balas candaan dari Erick pada gurunya. Spontan membuat Biqha tertawa lucu. Mengingat Erick yang dulu suka sekali menggoda gadis kecil putri wali kelasnya itu, yang masih berusia sepuluh tahun.


" Kamu itu udah ada calon, masih aja nakal. "


" Calon..?? "


Pak arya menggerakkan kepalanya menunjuk ke arah Biqha. Biqha langsung melotot dan menggelengkan kepalanya. Begitu pun dengan rekan-rekan mereka yang kaget mendengar ucapan sang guru.


" Bapak dari dulu candaannya suka gitu.... Garing. " Jawab Erick malas.


" Loh.... Bukannya kalian makan berdua disini buat kencan ya...." Ucap sang guru dengan senyum menggoda.


" Ghakh.... " ( Gak....)


" Sembarangan. "


Jawab mereka serentak. Biqha langsung melihat ke arah rekan-rekannya karena takut mereka salah paham. Rekan-rekannya pun memandang mereka dengan penuh tanya.

__ADS_1


" Kita di sini gak berdua aja. Kita bareng temen-temen kantor juga pak." Jelas Erick.


Pak Arya pun melihat rekan-rekan mereka, sambil tersenyum menyapa. Begitu pun dengan Fajar, Doni, Desi, dan Lina.


" Kalian satu kantor? " Tanya pak Arya yang dijawab anggukan kepala oleh semua.


" Bener-bener jodoh ya kalian..... Sampai kerja pun satu kantor. Gak mau terpisahkan. "


Candaan pak Arya membuat Biqha dan Erick terdiam salah tingkah. Karena semakin meladeni candaan pak Arya, maka akan semakin membuat mereka kehabisan kata-kata.


Bakso pesanan mereka pun datang, bersamaan dengan pesanan pak Arya.


" Ya sudah. Bapak duluan ya..." Pamit pak Arya.


Biqha mengangguk, kemudian kembali mencium tangan pak Arya. Erick pun mengikuti apa yang dilakukan Biqha.


" Pak biar saya yang bayar. Mbak masukin ke bon kita sekalian ya.... " Ucap Erick pada pak Arya kemudian beralih pada kasir warung tersebut.


" Gak usah. Bapak masih ada uang kok. "


" Gak papa pak. Kan buat calon istri Erick juga. " Canda Erick sambil menaikturunkan alisnya.


" Bapak gak akan menikahkan anak bapak sama om-om kayak kamu. Udah kamu nikahin aja tuh si Biqha. Udah cocok, klop banget. Kalau kalian menikah, nanti pasti anak kalian akan jadi anak yang jenius. "


" Gak lucu candaanya pak.... Bisa pusing tujuh keliling saya kalau punya istri kayak dia. "


Ucapan Erick membuat Biqha dengan cepat menyanggah ucapannya.


" Shihapha jhugha yhang mhahu jhadhi histrhih khamhuh. Hoghah bhanghet. " ( Siapa juga yang mau jadi istri kamu. Ogah banget.)


Pak Arya pun tertawa melihat tingkah murid-murid kesayangannya dulu itu.


" Kalian ini... masih saja seperti Tom and Jerry. Ya sudah bapak pamit. Makasih ya Rick... Bapak doakan semoga kalian langgeng-langgeng ya.... "


Erick menunjukkan wajah tak senangnya mendengar ucapan pak Arya. Begitu pun Biqha yang sudah cemberut sedari tadi.


" Persahabatannya. " Sambung pak Arya.


Pak Arya pun melangkah menjauh. Namun setelah beberapa langkah pak Arya berbalik dan memanggil Erick kembali.


" Rick... Jangan lupa undang-undang bapak kalau kalian jadi menikah ya....! "


Erick hanya bisa tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya menanggapi candaan gurunya itu. Sedangkan Biqha memegang keningnya dengan lesu.


Setelah kepergian pak Arya, suasana menjadi sedikit canggung bagi Erick dan juga Biqha. Karena tatapan penuh tanya dari rekan-rekan mereka.


" Jadi pak Erick dan Biqha dulu sekolah di depan?! " Tanya Desi sembari menunjuk sekolah di sebrang jalan sana.


" Iya " Jawab Erick.


Biqha pun mengangguk, ikut membenarkan.


" Pasti Pak Erick dan Biqha berprestasi, makanya sampe di inget banget sama guru. Soalnya cuma dua alasan guru inget sama muridnya. Pertama karena muridnya berprestasi, kedua karena muridnya bandel dan suka buat masalah. " Lanjut Desi.


" Iya. Kalau pak Erick gak mungkin di kenal karena alasan yang ke dua ya kan..... " Tambah Lina.


" Shihaphah bhilhang....?!. Dhiyha hinnhih dhulhu thukhang bholhos. " ( Siapa bilang....?!. Dia ini dulu tukang bolos.)


Erick langsung menatap tajam pada Biqha. Sadar melakukan kesalahan karena sudah membuka aib bosnya, Biqha langsung menggigit kedua bibirnya.


" Biar saya suka bolos tapi saya tetap jadi yang terbaik di sekolah. " Ucap Erick sambil menunjuk kepalanya dengan sombong, untuk membalas Biqha.


" Saya suka bolos aja.... kamu sulit ngalahin saya. Apalagi kalau saya gak pernah bolos, Kamu pasti gak akan pernah bisa dapat juara umum di sekolah. " Lanjut Erick memancing amarah Biqha.


Sudah cukup lama mereka jaim-jaim-man di kantor. Hari ini seakan kembali ke masa lalu, dimana mereka saling berdebat untuk memperlihatkan siapa yang terbaik. Sementara keempat rekan mereka tercengang melihat tingkah mereka. Setelah melihat karakter kedua orang tersebut, yang diluar dugaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2