
Biqha merasa cemas memikirkan permintaan Yoga. Karena baru pagi tadi, ada dua orang karyawati yang menggunjingnya. Jika sekarang mereka terlihat makan siang bersama, apa tidak akan semakin menjadi perbincangan lagi nantinya.
Pemikiran seperti itu, membuat Biqha memutuskan mengirim pesan kembali pada Yoga. Agar membatalkan niatnya untuk makan siang bersama.
// Ga'. Kita batalin aja makan siangnya ya? Gak enak sama yang lain. Soalnya kan aku biasanya makan siang bareng mereka. //
Rasanya menjadi serba salah. Kalau mereka makan siang bersama, Biqha takut akan menjadi masalah. Tapi saat Biqha membatalkannya Biqha juga tidak tenang, karena takut Yoga marah dan salah paham lagi padanya.
// Gimana kalau kita pulang bareng aja? Nanti kita ketemu dimana gitu.... //
Biqha berusaha membujuk Yoga dengan opsi lain. Dengan ragu Biqha mengetik kalimat rayuan, berusaha menyenangkan hati Yoga. Agar Yoga tidak kecewa dengan penolakannya.
// Jangan marah ya...... sayang 💖 //
Biqha merasa malu sendiri melihat ketikannya. Dia ragu untuk mengirimkannya. Biqha mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan itu dan berniat menghapusnya. Namun belum sempat pesan itu terhapus, seseorang mengagetkan Biqha dengan menepuk pundaknya.
" Ngapain hayo.....? Senyum-senyum sendiri sambil liatin hp. " Ucap Doni.
Biqha langsung membalikkan ponselnya, agar rekan-rekannya itu tidak melihat isi dalam layar ponselnya.
" Lagi chat-tan sama pacar ya...? " Tambah Desi.
Biqha dengan cepat menggelengkan kepalanya dengan malu-malu. Dia jadi salah tingkah dengan godaan Doni dan Desi. Lina tertawa melihat gelagat Biqha dan godaan kedua temannya, sementara Fajar hanya tersenyum tipis disamping Biqha.
" Yuk kita makan siang...! " Ajak Fajar.
" Khalhihan dhulhuhan hadjhah. Nhanthi hakhu nyhushul. " ( Kalian duluan aja. Nanti aku nyusul.) Jawab Biqha.
Biqha mengintip kembali layar ponselnya. Bola mata Biqha membesar, melihat pesan yang hendak dihapusnya justru terkirim. Dengan cepat Biqha berusaha menghapus pesan tersebut, sebelum terbaca oleh Yoga. Namun usahanya sia-sia.
Karena sedetik sebelum berhasil menghapus pesan itu, dua centang abu-abu di pesan chatnya telah berubah berwarna biru. Yang berarti Yoga telah membacanya.
Biqha menutup wajahnya dengan telapak tangan kirinya. Merasa sangat malu dan menyesali chat yang sudah ia kirimkan tadi. Karena rasa malu yang teramat sangat, Biqha tetap menghapus pesan itu sekalipun Yoga sudah membacanya. Setelah itu ia langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku blezer.
" Kenapa Biqha? Ada masalah? " Tanya Fajar yang memperhatikan gelagat aneh Biqha.
Dengan kikuk, Biqha menggelengkan kepalanya. Kemudian berdiri dan mengambil dompet di dalam tasnya. Namun lagi-lagi pundaknya di tepuk oleh rekannya.
" Bawa aja tasnya. Kita mau ajak kamu makan siang diluar. " Jelas Fajar.
Biqha memandang satu persatu rekannya.
" Mhahu mhakhan dhimhanha? " (Mau makan dimana?) Tanya Biqha sembari menenteng tasnya.
" Kita juga gak tau sih.... Nih mereka berdua yang bilang mau ajak kita makan bakso di tempat langganannya. " Tutur Doni mengarahkan kepalanya menunjuk ke arah Lina dan Desi.
" Katanya si Lina lagi ngidam bakso. " Tambah Fajar.
Lina memukul pundak Fajar yang sudah mengejeknya. Yang kemudian diselingi tawa kecil dari yang lainnya, dan juga Biqha.
" Ya udah yuk....! Ntar kelamaan nyampenya, kelamaan juga kita balik kantornya. Soalnya tempatnya agak jauh dari sini. " Jelas Lina.
Mereka pun melangkah bersama menuju lift, sembari mengobrol. Dalam perjalanan menuju lift, Biqha merasakan getaran dari ponsel di saku blezernya. Biqha mengira itu pasti Yoga, namun dia membiarkannya saja.
" Emang dimana sih tempatnya? " Tanya Doni.
" Di depan SMA XX. Pokoknya dijamin enak deh..... " Sambung Lina.
Biqha terperanjat melihat Lina menyebut nama sekolahnya dulu.
" Wharhung bhaksho mhang Hudhin? " Tanya Biqha pada Lina.
" Kamu tau Biqha? Kamu suka ngebakso disana juga? " Tanya Lina balik dan Biqha langsung mengangguk dengan senyum mengembang.
" Lumayan tuh..... Apa keburu kalau kita makan disana? " Tanya Fajar.
" Kan kita naik motor. Jadi kita bisa motong jalan lewat jalan tikus, biar cepat nyampe. " Jawab Desi.
" Kalian mau makan siang di warung bakso mang Udin?
Keempat rekan Biqha memutar pandangan mereka ke belakang. Mencari sumber suara yang baru saja mereka dengar, saat mereka sampai di depan lift. Biqha pun mengikuti arah pandang mereka.
__ADS_1
Ternyata Erick berada di belakang mereka, dan sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.
" Eh... Pak Erick. Bapak tau warung bakso mang Udin juga? " Tanya Desi dengan merapikan rambutnya.
" Iya. Itu jadi tempat makan favorit kita dulu. Em... Maksud saya tempat makan favorit saya dulu waktu sekolah. "
Erick sedikit tergagap karena sempat merasa salah bicara. Saat menyebut kata 'kita' sembari mengarahkan pandangan pada Biqha. Karena itu secepatnya dia meralat ucapannya.
" Oh.... Kebetulan dong. Bapak gak mau gabung gitu sama kita? " Tanya Lina sekaligus menawarkan.
" Justru itu saya mau nanya, kira-kira saya boleh ikut gabung gak? "
" Boleh banget...... Apalagi kalau bapak yang traktir, dijamin kita gak bakal nolak deh pak. " Celetuk Desi membuat semua melotot, setelah itu ikut senyam-senyum melihatnya.
" Ok.... Saya yang traktir. Tapi.... saya boleh nebeng motor kalian ya....! " Tutur Erick.
" Oh... Gak masalah pak. Bapak bisa bareng sama saya. " Jawab Desi cepat.
Desi pun langsung bergerak ke sisi Erick dan menggantungkan kunci motor maticnya di depan Erick. Bermaksud menyerahkan kuncinya pada sang manager.
" Lah gue gimana Des? " Protes Lina.
" Lo kan bisa bonceng Fajar atau Doni. Eh... sama Doni aja deh. Soalnya kalo Fajar pasti bakal milih boncengin Biqha daripada lo. "
Ucapan Desi membuat Erick secara spontan memandang Fajar dan Biqha bergantian.
" Biar saya aja yang nebeng Fajar atau Doni. "
Ucap Erick berbarengan dengan terbukanya pintu lift. Membuat Desi tidak bisa memperpanjang masalah itu. Mereka pun masuk ke dalam lift, dan turun bersama.
Di dalam lift, Biqha memutuskan melihat ponselnya. Karena ponselnya bergetar berkali-kali. Dia sudah bisa menebak, Yoga pasti mengiriminya banyak pesan karena pesan yang dia hapus tadi. Di pojok lift, Biqha membaca satu persatu pesan yang Yoga kirimkan.
Yoga :
// Kok chatnya di hapus? //
// Kirim lagi gak chat yang barusan ! kalo gak aku bakal datangin kamu sekarang juga. //
// Bi.... Kamu nantangin aku? //
// Ok. Aku samperin kamu sekarang. //
Pesan Yoga terakhir membuat Biqha membuka mulut dan melotot bersamaan. Secepat kilat Biqha mengetik pesan yang sama persis, seperti pesan yang dia hapus tadi. Lalu mengirimnya pada Yoga. Tak sampai sepuluh detik pesannya sudah terbalas.
Yoga :
// Ok, sayang. Enjoy your lunch. //
// Sore nanti kita ketemu di cafe A ya...! //
// Sampai ketemu sore nanti, sayang..... //
Biqha tersenyum membaca pesan dari Yoga. Hatinya kembali berbunga-bunga dengan kata-kata Yoga. Setelah itu, Biqha buru-buru memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku blezernya. Tanpa dia sadari, Erick dan Fajar memperhatikan gerak-geriknya.
Sampai di parkiran motor, Fajar, Doni, dan Desi bergegas menunggangi motor masing-masing. Lina yang tidak memiliki motor, memilih ikut Desi. Tertinggal Erick dan Biqha yang masih terdiam. Kemudian Fajar memanggil Biqha untuk ikut dengannya. Sementara Erick terpaku melihat motor yang ditunggangi Doni.
Kawasaki Ninja berwarna hitam, dengan stiker berwarna merah. Dan modifikasinya yang keren menyita perhatian Erick. Namun sorot mata yang terpancar dari tatapan Erick, bukan tatapan terpesona dengan motor tersebut. Melainkan terpancar adanya emosi di sana.
" Ini motor kamu Don? " Tanya Erick.
" Iya pak. "
" Motor baru tu pak. Baru seminggu. " Jawab Desi.
" Beruntung banget kamu dapat motor itu Don. Walau secound tapi masih bagus dan terawat banget. Liat aja modifnya.... Keren banget. Limited Edition lagi. " Tambah Fajar yang juga terpukau dengan motor baru Doni.
" Limited Edition..... Jelas keren lah. Bukan cuma modifnya yang keren. Mau tau gak apalagi yang keren? "
Ucap Doni dengan bangga memamerkan motor barunya, sambil mengelus-elus motornya itu. Sementara Erick memperhatikan Doni dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
Menyadari tatapan aneh Erick pada motor Doni, Biqha pun memperhatikan motor itu dengan seksama. Sampai akhirnya Biqha menyadari, motor Doni itu mirip dengan motor Erick dulu saat sekolah. Biqha kembali beralih pada Erick. Biqha merasa ada amarah dalam tatapan Erick.
__ADS_1
Biqha kembali memperhatikan motor itu secara mendetail. Dari depan hingga ke belakang. Semakin di perhatikan Biqha semakin yakin motor itu bukan hanya mirip, tapi sama persis dengan motor Erick dulu. Biqha tau karena Biqha pernah beberapa kali naik motor itu, saat Erick mengantarnya pulang.
Dugaan Biqha itu di yakinkan dengan ukiran logo inisial 'E' yang ada di bagian depan dan belakang motor itu. Juga stiker tulisan Jack Black dibadan motor tersebut. Jack Black adalah nama yang Erick berikan untuk motornya dulu.
Dan seingat Biqha, Erick menambahkan stiker nama itu, setelah memenangkan olimpiade matematika dan fisika bersamanya. Dengan uang hadiah pertandingan itulah, Erick memodif motornya dengan desain yang dia buat sendiri.
Biqha akhirnya mengerti arti dari tatapan Erick pada motor tersebut. Pertanyaan-pertanyaan tentang Erick yang sebelumnya sempat membuatnya sangat penasaran, kembali menghantui pikirannya.
Sementara itu, Doni turun dari motornya. Dengan bangganya kembali ingin memamerkan motor barunya.
" Motor ini sebelumnya milik Ericko Danuatmadja. Putra dari Danuardi Atmadja. Kalian tau beliau siapa? "
Ketiga rekannya yang lain terlihat berpikir. Berbeda dengan Erick dan Biqha yang terdiam dan saling pandang. Tatapan mata Erick seolah memerintahkan Biqha untuk tetap diam. Tatapannya begitu mengintimidasi.
" Tunggu dulu. Ericko Danuatmadja pewaris dari Atmadja Group. Perusahaan properti terbesar di indonesia yang belakangan juga merambah ke bisnis perhotelan. Dan membangun tempat-tempat wisata dan taman bermain terbesar, yang tersebar ke seluruh penjuru negri. Danuardi Admadja yang tahun lalu berhasil menduduki peringkat tiga besar pengusaha terkaya di indonesia. Dan putranya Ericko Danuatmadja yang memenangkan penghargaan sebagai Esekutif muda tersukses tahun lalu. Yang itu mas Doni? "
Penuturan Desi panjang lebar membuat semua terbengong takjub, terkecuali Erick.
" That's right. " Jawab Doni dengan bangganya.
" Gila.... canggih banget lo Des. " Ucap Lina takjub pada temannya itu.
Biqha kembali memandang Erick dengan berjuta tanya dalam benaknya, yang tidak bisa ia ungkapkan.
" Katanya ini motor kesayangannya tau. " Tambah Doni lagi.
" Kok bisa mas Doni dapatin motor itu?"
" Kalo kesayangan, kenapa di jual? "
Tanya Desi dan Lina yang nyaris bersamaan.
" Kata Agen motornya sih.... Pemilik motor ini,si Ericko Danuatmadja itu. Sekarang menetap di inggris, untuk mengembangkan perusahaan mereka yang ada di sana. Jadi motor ini udah gak ada lagi yang make. Jadi ya udah, di jual deh ama keluarganya. Daripada mubazir kali ya...."
Sementara itu Erick yang sedari tadi bersedekap dada, masih terus memandang Doni dan motornya. Biqha juga hanya bisa terdiam melihat perbincangan mereka tentang Ericko Danuatmadja. Pria yang ada di dekat mereka tanpa mereka ketahui siapa dia sebenarnya.
Biqha kembali beralih pada Erick. Dia melihat ada sebersit raut kesedihan di pancaran wajahnya yang sedang menahan amarah. Biqha benar-benar tidak mengerti, Sebenarnya apa yang terjadi pada Erick. Ada banyak pertanyaan yang ingin sekali Biqha utarakan padanya. Namun Biqha tidak mungkin melakukannya.
" Berapa kamu beli motor ini Don?"
Akhirnya Erick membuka kembali suaranya yang tadi hanya terdiam. Sembari mendekati motor itu, dan menyentuhnya dengan lembut dari belakang hingga ke depan. Seperti memeriksa setiap inci dari motor tersebut.
" Tawaran awalnya sih 62 juta pak. Alhamdulillah saya dapatnya 60. " Jawab Doni.
" 70. Saya bayar 70. Bisa kamu berikan motor ini sama saya? "
Ucapan Erick membuat semuanya terpelongo, tak terkecuali Biqha.
" Maksud bapak... " Doni masih tidak mengerti, sekaligus tidak percaya dengan pendengarannya barusan.
" Saya akan transfer sekarang juga, kalau kamu setuju. Bagaimana? "
" Em.... "
Doni terlihat berpikir, dia masih bingung dan shock dengan perkataan Erick. Sementara tatapan Erick tajam dan dingin pada Doni. Tidak ada lagi wajah ramah di sana, seperti sebelum mereka sampai di parkiran. Membuat semua yang melihatnya merasa aneh dan terdiam karena takut. Seolah ada yang salah di sini.
" 75 ?! "
Karena Doni tidak bereaksi dengan tawaran yang sebelumnya, Erick menambahkan tawarannya dengan sorot mata yang semakin tajam. Doni pun semakin melebarkan matanya mendengar tawaran Erick.
Biqha melihat sorot mata Erick yang sepertinya tidak bisa lagi menahan emosinya. Melihat semua rekannya terpaku karena tatapan tajam Erick seolah menusuk pada Doni, membuat Biqha khawatir. Biqha berinisiatif untuk mereda dengan memecah keheningan yang terjadi.
" Khitha jhadhi mhahu mhakhan ghakh shikh? Khokh mhalhah jhadhi bhahas mhothor. Nhanthi khebhurhu whakthu mhakhan shiangnyhah habhis. " ( Kita jadi mau makan gak sih? Kok malah jadi bahas motor. Nanti keburu waktu makan siangnya habis.)
Pandangan Erick pun teralihkan pada Biqha. Melihat tatapan sendu Biqha, membuat Erick tersadar. Dia sudah merusak suasana dan mood semua orang karena emosinya. Kemudian Erick membuka kancing jasnya. Mencoba meredakan emosi dan ketegangan dalam dirinya.
" Don.... Boleh saya pinjam motor kamu sebentar ya......! "
Pinta Erick dengan suara lembut, agar Doni tidak lagi tegang. Doni pun mengangguk dan menyerahkan kunci motornya.
" Biqha..... Kamu ikut sama saya ! "
__ADS_1
Perintah Erick dengan mode seriusnya kembali. Membuat semua saling pandang dan bertanya-tanya. Namun tidak ada yang berani membantah.