
" Mbak.... mbak..... Bangun....! "
Biqha terbangun saat lengannya diguncang-guncangkan oleh Rendra. Perlahan Biqha membuka matanya. Biqha bangun dan duduk di atas kasurnya sembari mengusap wajahnya, kemudian memijat pelan kedua matanya yang terasa perih karena menangis semalaman.
" Tumben-tumbenan mbak kesiangan..... Mbak udah subuh belom?"
Tanya Rendra yang belum mendapati tanggapan dari Biqha. Karena Biqha masih sibuk memijat matanya yang semakin sembab dan sulit terbuka lebar. Jadi dia tidak bisa melihat gerak bibir adiknya. Kemudian Rendra menempelkan punggung tangannya pada dahi Biqha. Memeriksa suhu badan kakaknya, karena khawatir pada sang kakak.
Saat sang kakak membuka mata, Rendra langsung berubah ekspresi melihat mata sang kakak membengkak.
" Mbak nangis? Kenapa? "
Rendra langsung mendudukkan tubuhnya di ranjang kakaknya, menatap lekat wajah sang kakak. Biqha langsung mengelengkan kepalanya lemah sembari menarik kedua sudut bibirnya. Namun Rendra Tidak percaya begitu saja.
" Jangan bohong mbak...! Orang jelas-jelas mata mbak sembab begitu, udah kayak disengat lebah aja. Kenapa mbak? Mbak ada masalah apa? Cerita sama Rendra...!"
Biqha tetap menggelengkan kepalanya dan memperlihatkan senyumnya pada sang adik. Biqha tidak mungkin menceritakan permasalahannya pada sang adik, karena dia tidak ingin membuat adiknya kecewa. Apalagi kenyataan bahwa Biqha menjadi orang ketiga tanpa sepengetahuannya, pasti akan membuat Rendra marah.
Biqha melihat jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Biqha bergegas bangun dari ranjangnya dengan panik. Karena dia sudah kesiangan dan belum membuat sarapan untuk sang adik.
" Mhahaf.... Mbhak kheshihangan. Shebhenthar mbhak shihapin sharhaphan bhuhat khamhu." (Maaf.... Mbak kesiangan. Sebentar mbak siapin sarapan buat kamu.)
" Gak perlu mbak.... Mbak Biqha istirahat aja. Biar Rendra beli'in sarapan buat kita. Mbak mau makan apa? Bubur ayam, lontong sayur ato nasi uduk? Terus mbak udah subuh belum?"
Rendra pun ikut beranjak dari ranjang sang kakak.
" Ghakh. Mbhak lhaghi ghakh sholhat. Khamhu pherghi hajha. Bhelhi sharhaphan shekhalhihan pherghi khulhiah. Nhanthi khamhu thelhat.... Mbhak bhisha shrhaphan dhi khanthor nhanthi." (Gak. Mbak lagi gak sholat. Kamu pergi aja. Beli sarapan sekalian pergi kuliah. Nanti kamu telat.... Mbak bisa sarapan di kantor nanti.)
" Ini kan sabtu.... bukannya biasanya sabtu mbak gak masuk kerja?"
" Ho... Hiyha. Hinhi shabthu yhah?!"
Biqha sempat terbengong dengan pertanyaan Rendra. Sementara Rendra semakin menatapnya penuh curiga, dan sorot mata yang lara padanya.
' Mbak Biqha semalam pasti susah tidur, makanya dia kesiangan. Dia pasti baru bisa tertidur setelah kelelahan menangis. Ini pasti ada hubungannya dengan laki-laki yang selalu menelepon mbak Biqha setiap malam. Karena tadi malam, gak kedengaran mereka telponan kayak biasanya. Pasti laki-laki itu yang udah nyakitin mbak Biqha. Kalo gak.... Gak mungkin mbak Biqha nangis sampe segitunya. Aku harus cari tau apa yang terjadi dan siapa laki-laki itu.' gumam Rendra dalam hatinya.
" Bhurhuan bherhangkhat shanha....! Nhanthi khamhu thelhat." ( Buruan berangkat sana....! Nanti kamu telat.)
Biqha mendorong pelan kedua tangannya ke dada dan lengan Rendra, agar dia segera berangkat kuliah. Rendra dengan sedikit kesal di hatinya, memilih pasrah dan pergi berlalu meninggalkan kakaknya dirumah.
Setelah kepergian adiknya, Biqha kembali menjatuhkan tubuhnya terduduk di atas ranjang. Tubuhnya terasa lemas, terlebih matanya sulit terbuka. Perih dan berat karena sembab. Semua itu karena Yoga.
Semalaman Yoga tidak berhenti mengganggunya. Yoga terus menerus mencoba menghubungi Biqha melalui panggilan video. Padahal Biqha sudah mengabaikannya berulang kali, tapi Yoga tetap tidak mau menyerah.
Yoga juga mengirimkan banyak pesan chat. Berupa permintaan maaf dengan penjelasan panjang lebar, kata cinta dan janji-janji akan kesungguhan cintanya. Tapi itu semua tidak lagi membuat hati Biqha tersentuh dan berbunga-bunga, melainkan membuatnya tersiksa dengan rasa sakit yang teramat dalam.
Hingga akhirnya malam tadi Biqha menon-aktifkan ponselnya, karena merasa jera dengan sikap Yoga yang tidak mau menyerah. Membuatnya benar-benar merasa lelah. Karena terus menangisi cinta yang harus dia lepas, demi kebaikan banyak orang. Sebab dia sadar, sedari awal cinta itu ternyata memang bukan miliknya.
Biqha meraih ponselnya di atas nakas dan mulai mengaktifkannya kembali. Begitu ponselnya aktif, terlihat ada banyak pesan chat masuk. Sesuai dugaan Biqha, semua itu pesan dari Yoga.
// Baiklah sayang, kalo kamu belum mau ngomong sama aku gak papa. //
// Aku tau kamu butuh waktu untuk memaafkanku. Aku akan tunggu sampai kapan pun sayang......//
// Tapi jangan pernah putuskan hubungan kita. Aku gak akan terima keputusan itu.//
__ADS_1
// Kamu boleh marah. Bahkan kalo kamu mau, kamu bisa pukul aku sepuas hati kamu sayang. Tapi please.... Jangan menjauh dariku. Aku gak bisa hidup tanpa kamu.//
// Sampai kapan pun, aku akan tetap memperjuangkan cinta kita sayang..... //
// Bi..... Please. Jangan lama-lama ya marahnya....! Aku kangen sama kamu.//
// Aku butuh kamu sayang...... Aku butuh semangat dan dukungan dari kamu.//
// Antara aku dan Alina benar-benar sudah selesai. Hanya orang tua kami yang masih mempermasalahkan. Tapi aku gak akan menyerah.... Aku pasti akan memperjuangkanmu sayang..... Apapun resikonya.//
// Aku mencintaimu Bi.... aku sangat mencintaimu. Aku mohon tetaplah di sisiku Bi.....!//
Biqha melempar ponselnya ke atas kasur. Kemudian menelangkupkan kedua tangannya ke wajah dan menekan kedua matanya. Agar airmatanya yang terasa memenuhi kelopaknya, tidak lagi tumpah.
Biqha menarik nafas panjang, mencoba melegakan dadanya yang terasa sesak. Lalu ia mengusap matanya yang basah.
' Gak.... Aku gak boleh terus terpuruk seperti ini. Hidup masih panjang. Aku gak boleh menyia-nyiakan waktuku hanya untuk menangisi cinta yang tidak ditakdirkan untukku. Aku harus bisa mengiklaskan semua. Aku gak boleh terpengaruh lagi olehnya.'
Biqha meraih ponselnya kembali dan segera memblokir nomor Yoga. Biqha berpikir ini adalah keputusan yang tepat, untuk menegaskan sikapnya pada Yoga. Meski sakit tapi Biqha harus melakukannya, agar masalah ini tidak berlanjut lebih lama lagi.
Biqha beranjak dari kamarnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan tubuhnya, Biqha kembali ke kamar. Karena rasa lelah dan perih dimatanya, Biqha memutuskan untuk kembali beristirahat saja hari ini. Mencoba untuk kembali tertidur, agar rasa lelah dihati, pikiran, dan tubuhnya bisa sedikit berkurang.
Namun beberapa menit kemudian Biqha tersentak, dan langsung bangkit dari tidurnya. Seperti seseorang yang mendapatkan mimpi buruk.
" Ehrhik..... Khue hulhang thahun homha. Hakhu khan dhah jhanhji mhahu bhanthu Ehrhik bhuhat khue hulhang thahun unthuk homha." ( Erick..... Kue ulang tahun oma. Aku kan dah janji mau bantu Erick buat kue ulang tahun untuk oma.)
Biqha terperanjat sendiri saat mengingatnya. Dengan sedikit panik dia berdiri dari kasurnya.
' Aku hampir aja lupa. Padahal kan acaranya besok. Gimana nih.....? Aku belum beli bahan-bahan kuenya lagi. Mana mataku bengkak begini '
' Gimana nih? Apa beli online aja ya? Tapi kalo belanja online gak bisa periksa bahannya dengan baik. Kalo sampe ada bahan yang kadaluarsa lagi kayak waktu itu, aku harus beli lagi ke pasar. Duh..... Gimana dong.... Apa pake kacamata hitam aja ya?'
Biqha mencari kacamatanya di dalam kotak tempat aksesorisnya. Dia memakai kacamata berwarna coklat gelap, sembari bercermin.
' Masa ke pasar aja pake kacamata sih, berlebihan. Yang ada norak jadinya. Duh..... Kenapa sih Bi.... Kamu harus menangis meraung semalam, liat akibatnya sekarang. Gimana dong nih.....? Aku gak mungkin batalin ke Erick. Kalo aku batalin, dia pasti mikirnya karena kejadian semalam. Lagian kasian dia, gara-gara aku..... Dia sampe dipukul sama Yoga.'
Tiba-tiba mimik wajah Biqha berubah saat mengingat kondisi Erick semalam. Melihat secara langsung, betapa kerasnya pukulan Yoga yang mendarat di pipi Erick. Membuatnya kembali bersedih, dan sedikit mencemaskan Erick.
' Gimana ya kabarnya sekarang? Apa luka lebamnya udah mendingan? '
Sementara ditempat berbeda.....
Erick baru saja selesai sarapan bubur ayam, yang dia beli setelah jogging pagi ini. Sebelum membersihkan diri, Erick memilih mencuci piring-piring kotor, bekas makan malamnya semalam.
Erick membasuh satu persatu peralatan makan dan minum yang kotor di dalam kitchen sink. Saat Erick memegang sebuah kotak kecil, tiba-tiba sudut bibirnya tertarik. Membentuk senyum tipis di wajahnya.
Kotak yang tadinya berisikan sambal ikan teri dengan kacang tanah, yang Biqha berikan semalam, membuat Erick tersentuh. Tidak pernah terpikir olehnya, bisa mendapatkan perhatian seperti itu dari Biqha. Wanita yang nyaris selalu salah paham padanya dan tidak pernah mau menganggapnya teman, melainkan pesaing yang menyebalkan.
Semalam setelah mengantar Biqha pulang ke kontrakkannya. Tidak disangka, Biqha memintanya singgah sebentar. Biqha membuatkannya teh madu dan lemon. Agar Erick tidak mengalami demam setelah menerima pukulan keras dari Yoga. Biqha berpikir setidaknya minuman itu bisa sedikit menyegarkan Erick.
" Lo pikir gue selemah itu? Sekali pukulan aja, gak akan buat gue drop Bi....." ucap Erick sombong.
" Yhah hudhah, khalho ghakh mhahu...." ( Ya udah, kalo gak mau.....)
" Eh...ee...... Tunggu dulu."
__ADS_1
Biqha berbalik, ingin membawa secangkir teh madu lemon itu kembali ke dalam. Namun dengan cepat Erick menariknya.
" Masa udah dibuat mau dibawa masuk lagi. Mubazir tau....."
Dengan cepat Erick menenggak minuman tersebut sampai tandas. Dan Biqha hanya bisa menarik sudut bibirnya sinis.
" Ah.... Leganya. Boleh nambah lagi gak?"
" Hah....???"
Biqha sampai menaikan alisnya dan melebarkan matanya, menanggapi ucapan Erick.
" Iya.... Gue haus banget Bi..... Baru sadar, kalo dari jam makan siang tadi sampe sekarang, gue bahkan belum sempet minum sama sekali."
Biqha mengambil cangkir itu dari tangan Erick dengan sorot mata yang kembali sendu. Mengingat peristiwa pahit yang baru saja terjadi. Biqha semakin merasa bersalah, saat menyadari bahwa Erick juga tidak sempat memakan apapun sejak siang tadi.
Biqha segera kembali ke dalam, untuk membuatkan minuman itu lagi untuk Erick. Tak lama kemudian Biqha kembali dengan secangkir minuman dan kotak bekal kecil.
" Hakhu ghak bhisha mhenhawharkhan mhakhanhan haphaphun shamha khamhu. Kharnha hakhu bhelhum mhashakh. Hakhu chumha phunyha shambhal therhi khachang hinhi, shisha thadhi phaghi. Rhendrha shemhalham thibha-thibha rhikhues mhintha dhimhashakhin hinhi. Khamhu jhugha shukha khan? Khalhau khamhu mhahu, bhawha hajha."
( Aku gak bisa menawarkan makanan apapun sama kamu. Karna aku belum masak. Aku cuma punya sambal teri kacang ini, sisa tadi pagi. Rendra semalam tiba-tiba request minta dimasakin ini. Kamu juga suka kan? Kalau kamu mau, bawa aja.)
" Sambal ikan teri kacang tanah kayak buatan ibu dulu? Mau....mau.... "
Erick dengan semangat mengambil kotak itu dari tangan Biqha. Karena makanan yang sangat sederhana itu, pernah membuatnya ketagihan saat pertama kali mencobanya. Kala itu Erick sampai nambah beberapa kali sampai kekenyangan. Alhasil saat belajar bersama dengan Biqha, Erick tidak bisa fokus dan akhirnya malah ketiduran. Tak ayal hal itu membuat Biqha sangat kesal dan marah.
Erick tertawa lucu mengenang masa-masa itu, sembari masih membersihkan peralatan makannya. Selesai dengan kegiatannya mencuci piring, Erick bergegas membersihkan dirinya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Erick pun mengambil ponsel dari kantung celananya.
" Rendra....? Khem......"
Erick menarik nafas panjang, dan mulai berpikir.
' Biqha pasti menangis terus dirumah, sampe buat adiknya khawatir. Dan sekarang Rendra pasti mau mengintrogasi gue. Khe..... Gue mesti ngomong apa..... Ini? Yoga....yoga.... Kenapa sih.... lo masih aja terobsesi sama Biqha? Sampe buat masalah yang ruwet gini. Gak mungkin kan, gue ceritain yang sebenernya sama Rendra.....'
Sebelum mengangkat telpon dari Rendra, Erick kembali menarik nafas panjang terlebih dahulu.
" Ya..... Wa' alaikum salam..... Ada apa Ren?"
Erick dengan sabar mendengarkan keluh kesah Rendra. Lebih tepatnya, pertanyaan demi pertanyaan yang dia ajukan. Tepat seperti dugaannya, Rendra mempertanyakan sebab kesedihan sang kakak. Yang dia yakini berhubungan dengan laki-laki, yang sering menghubungi sang kakak saat malam hari.
" Ren.... Kalo mbak kamu gak mau cerita, itu berarti dia merasa masih sanggup mengatasi masalahnya sendiri. Mbak kamu itu udah lebih dewasa Ren..... Dia pasti gak mau kamu khawatir. Jadi lebih baik, kamu jangan memaksanya untuk cerita. Takutnya itu akan membuatnya gak nyaman. Kamu cukup dampingi dan hibur dia, agar dia bisa melupakan kesedihannya. Suport dari kamu itu pasti berarti banget buat mbak kamu. "
* Hai Readers......
Author mau minta maaf, tapi readers pasti bosen kan?!!!!
Semoga Readers bisa memaklumi ya soal keterlambatan update nya. Soalnya kan author lagi ada tugas tambahan, jadi perawat dadakan dirumah. Itu bener-bener menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Belum lagi anak juga ikutan rewel, karna gak bisa deket-deket neneknya sementara waktu. Karna anaknya aktif banget, takutnya malah nyenggol lengan neneknya yang patah...
Maaf ya... maunya sih author bisa sering up, tapi apalah daya. Author pemula ini sulit membagi waktu juga fokusnya. Kalau udah ke distract suka blank, jadi bingung ngatur kata-katanya. Akhirnya jadi hilang mood.
Please..... Please....... Dukung terus author ya biar tambah semangat lagi nulisnya.
Udah mau mendekati ******* nih, jadi deg-degan. Bisa gak ya..... Author mengolah emosinya.
Bismillah...... Bisa !!!!
__ADS_1
Thank U Readers.....💖💖💖💖