Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 15. Tidak akan menyerah....


__ADS_3

Siang tadi Yoga tidak kembali ke kantor. Dia memilih pulang dan beristirahat di rumah. Perasaannya kacau balau, karena berpikir Erick telah mengungkapkan kebenaran tentang dirinya kepada Biqha.


Rasanya sungguh frustasi, membayangkan Biqha akan menjauhinya. Dan harapannya untuk bisa mendapatkan cinta Biqha kembali sirna. Dia tidak bisa memikirkan hal lain selain Biqha saat ini.


Yoga seakan kehilangan semangat bahkan tenaganya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berbaring, menatap langit-langit kamarnya sembari melamun. Berpikir keras bagaimana caranya, agar bisa meyakinkan Biqha. Akan perasaan cintanya yang hingga kini masih bersemi, hanya untuknya.


Hingga matahari terbenam pun, Yoga masih mengunci dirinya di dalam kamar. Membuat sang mama khawatir. Namun meski sudah berkali-kali mamanya mengetuk pintu kamar, Yoga tetap tidak memperdulikannya. Sekalinya dia menjawab hanya tiga kalimat yang ia katakan.


" Yoga gak papa ma..... Cuma pusing doang. Yoga cuma butuh istirahat. "


Setelah lama berpikir, Yoga tetap pada keputusan awal. Kalau dia tidak akan menyerah terhadap Biqha. Dia akan terus meyakinkan Biqha. Melakukan apapun agar bisa mendapatkan Cintanya, dan merajut mimpi bahagia bersama di masa depan dengan Biqha.


Yoga bangkit dari tempat tidurnya. Melangkah cepat ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Beberapa menit kemudian, Yoga selesai mandi dan langsung berjalan menuju walk in closet-nya.


Yoga memilih pakaian casual, dengan jeans panjang juga sweater panjang berwarna navy dan sepatu kets dengan kombinasi warna merah, navy dan putih pada alasnya.


Setelah selesai berbenah diri, Yoga langsung meraih kunci mobilnya. Ia langsung turun ke lantai bawah, bergegas menuju garasi. Namun setelah sampai garasi Yoga baru teringat, kalau kontrakan Biqha masuk ke dalam gang yang tidak bisa di lalui mobil.


' Sepertinya aku harus beli motor..... ' Ucapnya dalam hati.


Yoga memang tidak mempunyai motor meski memiliki beberapa koleksi mobil mewah. Sebab Yoga tidak di ijinkan menggunakan motor. Apalagi setelah dulu pernah mengalami kecelakaan saat sedang naik motor bersama Erick. Meski tidak parah tapi tetap membuat takut sang mama.


Karena itu meski Yoga merengek meminta dibelikan motor, orang tuanya tetap tidak membelikannya. Namun tetap saja, secara diam-diam dia belajar naik motor dengan Erick sahabatnya.


Disaat Yoga sedang memikirkan untuk membeli motor. Dia melihat satpam rumahnya, yang mendapat jadwal tugas malam baru saja datang dengan mogenya. Yoga pun kepikiran untuk meminjam motornya. Yoga bergegas menghampiri satpam rumahnya itu.


" Fadil...... Saya sedang ada urusan, dan saya buru-buru. Boleh saya pinjam motor kamu?"


Tanya Yoga to the point, pada satpamnya yang seumuran dengannya.


" Oh... boleh mas. Silahkan!"


Fadil pun memberikan kunci motor, bahkan STNK motornya pada Yoga. Tanpa basa-basi lagi, Yoga lalu berbalik arah berlari masuk ke dalam rumah untuk mengambil jaketnya. Tak berselang lama, dia kembali dan langsung menunggangi motor gede satpamnya itu. Dan segera membawanya melaju ke kontrakan Biqha.


****


Disebuah apartemen mewah, Erick baru saja menyelesaikan sholat magrib di kamarnya. Erick duduk di sofa kamarnya. Setelah itu meraih ponsel di atas nakas di samping tempat tidurnya.


Erick bermaksud membeli makanan secara online. Namun tiba-tiba ia teringat sahabatnya, yang sedari tadi tidak bisa di hubungi. Bahkan tidak kembali ke kantor. Erick mencoba menghubungi nomor Yoga kembali, tapi masih tetap sama.


Erick kemudian beralih menelepon nomor rumah Yoga. Asisten rumahnya bilang kalau Yoga ada di kamarnya, sedang beristirahat karena merasa pusing. Dan sepertinya tidak ingin di ganggu.


" Perasaan tadi pagi dia baik-baik aja. Segar bugar....."


Gumam Erick setelah mematikan sambungan teleponnya.


' Apa karena aku tegur tadi ya.....? Oh.... C'mon Erick. Stop to over thinking again !'


Ucap Erick dalam hatinya. Tidak mau bertanya-tanya lagi, Erick memutuskan untuk menemui Yoga di rumahnya. Melihat keadaan sahabatnya itu dan bertanya padanya langsung. Kenapa dia menghubungi tapi tidak bisa dihubungi balik?


Erick bergegas mengganti pakaiannya, Setelah itu ia langsung pergi meninggalkan apartemennya.


Sebelum sampai di rumah Yoga. Tidak lupa Erick singgah ke toko kue untuk membeli puding karamel kesukaan tante Hani. Mama dari sahabatnya itu, yang dulu juga begitu menyayanginya seperti anak sendiri. Sudah lama Erick tidak berkunjung ke rumah Yoga. Karena itu, dia berpikir untuk membawa sedikit buah tangan untuk tante Hani.


Sampai di depan kediaman keluarga Hermawan, seorang satpam langsung membukakan pintu gerbang untuk Erick. Erick pun memasuki pekarangan rumah mewah itu.Kemudian memarkirkan mobilnya di dekat deretan mobil pemilik rumah.


Erick memasuki rumah, setelah seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya. Dan kehadirannya langsung disambut hangat oleh tante Hani.


" Ricko..... Apa kabar sayang? Uh.... lama gak ketemu, makin gagah aja kamu. "


Puji tante Hani pada sahabat putranya, yang juga merupakan anak dari sahabat suaminya itu.


" Bisa aja tante. "


Erick pun mencium punggung tangan tante Hani, kemudian menyambut pelukan tantenya itu.


" Yoga ada tante? "


" Ada di kamarnya. Untung kamu datang Rick...., tante bingung. Dari tadi dia ngurung diri terus di kamarnya. Apa dia ada masalah Rick?"


Tanya tante Hani yang bingung akan sikap putranya. Erick hanya tersenyum menanggapinya.


" Ini Erick bawa puding karamel kesukaan tante. "


Erick menyerahkan paper bag berisi puding karamel itu kepada tante Hani.


" Kamu tau aja kesukaan tante Rick. Makasih ya...... ! "


Kemudian tante Hani memanggil asisten rumahnya untuk menyiapkan minuman untuk Erick dan juga membawakan makanan yang dibawa Erick ke dalam.


" Kamu langsung aja ke atas ya....! Bujuk dia turun untuk makan malam. "

__ADS_1


Perintah tante Hani sambil menunjuk ke arah atas dengan mengerakkan kepalanya. Namun asistennya yang masih berada di dekat mereka mengatakan kalau Yoga baru saja


keluar.


" Apa...? Kemana bik? "


" Den Yoga gak bilang mau kemana bu. Tapi kayaknya den Yoga keburu-buru gitu."


Jelas sang asisten pada majikannya.


" Tapi tadi Erick liat, mobil Yoga masih lengkap terparkir di garasi depan. "


Jelas Erick yang merasa heran. Karena tadi melihat ketiga mobil Yoga dan dua mobil lainnya milik papanya masih terparkir di garasi berpintu kaca anti peluru di rumah mewah itu.


" Kayaknya tadi pake motornya fadil deh Den."


" What??? Yoga naik motor? Kok bisa? Kok bibik gak ngelarang? Gimana sih? Yoga kan gak pernah naik motor bik...."


Tante Hani langsung panik mendengar pernyataan asistennya.


" Tan.... Yoga bisa kok naik motor. Tante jangan khawatir ya.....!"


Ucap Erick berusaha menenangkan tante Hani dengan merangkul dan mengusap pundak tantenya.


" Tapi Rick..... Yoga kan pernah kecelakaan naik motor bareng kamu dulu. Lagian dia juga gak pernah bawa motor sama sekali."


Tante Hani tidak bisa menutupi rasa khawatirnya, terhadap putra semata wayangnya itu.


" Yoga bisa kok Tante..... Kecelakaan dulu itu kan karena Yoga baru belajar, dan belum terlalu pinter bawa motor. Waktu di London kita juga sering kok jalan pake motor. Jadi tante gak perlu cemas. "


Ucapnya masih terus berusaha menenangkan tante Hani. Tante Hani terbelalak mendengar pernyataan dari Erick barusan.


" Maksud kamu kecelakaan waktu itu, Yoga yang bawa motornya? kalian bohongin tante?"


Erick tergagap menyadari kesalahannya, yang sudah mengungkap kebenaran tentang kecelakaan yang dulu menimpa mereka.


" Ah... itu..... Waktu itu.... "


Erick salah tingkah sendiri. Tidak tau harus menjawab apa. Hanya mengusap bagian belakang leher juga menggaruk-garuk kepalanya, yang tidak gatal sambil tersenyum kikuk. Pada akhirnya, Erick hanya bisa nyengir seperti kuda di hadapan tante Hani.


" khe.. he.... Peace tante !"


Tante Hani menarik nafas dan menghembuskannya pelan, sambil menatap Erick dengan mata tajam.


" Jadi.... Kamu yang ngajarin Yoga bawa motor?"


Tanya tante Hani dengan tatapan mengintimindasinya, yang dijawab lagi dengan nyengiran kuda ala Erick. Dengan kedua jari tangan yang di angkat ke depan membentuk huruf 'V'.


" Dasar anak nakal.... "


" Akhhhh........ Ampun tante. "


Tante Hani menarik telinga Erick hingga membuatnya meringis kesakitan.


" Ada apa ini? Kok ribut-ribut? "


Tiba-tiba om Adi, papa dari Yoga turun dari lantai atas. Lalu menghampiri mereka yang terlihat sedang ribut kecil. Seketika itu tarikan di telinga Erick pun terlepas.


" Ericko....? ada apa ini? "


Tanya om Adi yang melihat Erick memegangi telinganya yang tadi di tarik oleh istrinya.


" Ah... Gak papa om. Tante Hani cuma lagi kangen aja kali, dah lama banget gak jewer Erick......"


Jawab Erick sambil bercanda di sertai kekehan kecil dari om Adi, dan senyuman serta lirikan sinis dari tante Hani. Kemudian Erick meraih tangan om Adi dan menciumnya.


" Duduk Rick.....!"


Perintah om Adi sembari menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tamu itu.


" Gak usah deh om, Erick langsung pulang aja. Lagian Yoga juga gak ada."


" Loh... kok langsung pulang? Emang Yoga kemana ma?"


Om Adi beralih bertanya pada istrinya tentang keberadaan Yoga putranya.


" Itu dia pa.... Yoga pergi gak tau kemana. Naik motor pula. Gimana mama gak cemas...?!"


Jawab tante Hani masih merasa cemas pada Yoga.


" Naik motor ? Naik motor siapa? kita kan gak punya motor. " Tanya om Adi lagi.

__ADS_1


" Dia pinjam motornya Fadil kata bik Imah. "


" Ya udalah ma.... Yoga kan udah dewasa. kalau dia sampe berani pinjam motor orang, berarti dia memang bisa bawa motor dengan baik. Biarkan saja....! Mungkin dia lagi bosan."


" Bener tan.... Tante gak usah cemas. Yoga juga udah punya SIM C kok. Yoga gak mungkin dapatin SIM itu kalo gak bisa bawa motor dengan baik. "


Ucap Erick menambahkan perkataan om Adi, agar tante Hani tidak lagi cemas berlebihan.


" Ya udah... Kamu duduk dulu Rick ! Kita ngobrol dulu sebentar. "


" Maaf om.... Erick masih ada keperluan. Lain kali aja Erick main lagi kesini."


Erick mencari-cari alasan agar bisa pulang secepatnya. Dari pada nanti ujung-ujungnya om Adi membahas hal yang tidak dia inginkan.


****


Biqha sedang mencuci piring di dapur setelah selesai makan malam, ketika tiba-tiba lampu alarm yang terpasang di beberapa bagian kontrakannya menyala.


Karena kondisi Biqha yang tuna rungu, Rendra sengaja memasang bel rumah tersambung dengan beberapa lampu berwarna merah. Yang dipasang di beberapa bagian sudut kontrakan mereka. Yaitu di kamar Biqha, di dapur, juga di ruang tamu.


Dengan begitu bila Rendra sedang tidak di rumah, Biqha bisa mengetahui bila ada orang yang datang ke kontrakan mereka.


Biqha segera berlari ke kamarnya mengambil hijab instan untuk menutupi kepalanya. Sebelum membukakan pintu, Biqha mengintip dari jendela rumah kontrakannya. Melihat siapa kiranya orang yang bertamu malam hari begini.


' Yoga.....' Gumamnya dalam hati.


Biqha pun bergegas membuka pintu rumahnya.


" Hai Bi......."


Sapa Yoga dengan mengangkat tangan kanannya, ketika Biqha muncul di balik pintu rumah itu.


" Yhogha..... hadha happah? khok khammuh khe shinnih malham-malham ghinnih?" ( Yoga... ada apa? Kok kamu ke sini malam-malam gini? )


Tanya Biqha pada Yoga yang terlihat canggung seperti orang yang sedang bingung.


" Bisa kita bicara sebentar? "


Biqha mengangguk dan mempersilahkan Yoga untuk duduk di kursi depan rumahnya.


" Thungghu shebhenthar yhah..! " (Tunggu sebentar ya...!)


Yoga tersenyum menanggapinya. Lalu Biqha kembali masuk ke dalam rumahnya. Beberapa menit kemudian Biqha keluar dengan secangkir teh hangat dan meletakkannya di atas meja di hadapan Yoga.


" Dihmhinhum Gha'.... !" ( Diminum Ga'...!)


" Makasih Bi.... "


Sejenak suasana jadi hening. Yoga terlihat gugup. Dia bingung harus memulai dari mana.


" Khathanyhah mhau hommhong.... Khokh dhiem? " ( Katanya mau ngomong.... kok diem?)


Yoga tersenyum canggung menanggapi pertanyaan Biqha.


" Bi.... aku mohon tolong dengerin penjelasan aku dulu ! Dan tolong percaya sama aku ! Aku akan beresin semuanya Bi....... Demi kamu apapun akan aku lakukan. Tolong percaya sama aku Bi.... "


Biqha bingung dengan apa yang di maksud oleh Yoga. Biqha sampai mengerutkan keningnya.


" Ciee.... mbak Biqha. Siapa tuh? Ganteng banget. Pacarnya ya?"


Tiba-tiba seorang ibu, tetangga Biqha melintas di depan mereka dan menggoda Biqha. Yoga pun beralih pada ibu itu, dan Biqha juga mengikuti arah pandangan Yoga.


" Themhen bhuh.... " ( Temen bu....)


Jawab Biqha sambil tersenyum tipis setelah di beritahu Yoga apa pertanyaan yang di ucapkan ibu itu.


" Temen doang..... Bukan pacarnya nih?" Tanya tetangga itu kembali menggoda.


" Bhukhan..... Hinhih themhen shayah." ( Bukan.... Ini temen saya)


Biqha megerakkan tangannya cepat sebagai isyarat. Melihat reaksi Biqha yang seperti itu, Yoga tersenyum kecut. Dia merasa kecewa.


Setelah tetangga itu berlalu Biqha kembali mengalihkan pandangan pada Yoga. Terlihat jelas dalam pandangan Biqha raut wajah Yoga yang muram.


" Khammuh thadhih hommhong happhah shih? hakhuh ghakh ngherthi....." ( Kamu tadi ngomong apa sih? Aku gak ngerti... )


Tanya Biqha sekaligus memecah keheningan di antara mereka.


" Itu..... Tentang yang Erick bicarakan tadi siang sama kamu. Tolong kamu jangan percaya gitu aja Bi..... Tolong dengerin dulu penjelasanku."


Biqha semakin dalam mengerutkan kedua alisnya, karena bingung dengan apa yang dibicarakan Yoga.

__ADS_1


__ADS_2