
Keesokan harinya, seseorang datang ke kontrakkan Biqha atas perintah Erick. Untuk mengambil kue pesanannya dari Biqha.
" Kenapa bukan kak Erick yang langsung ambil kuenya? Semalam kan kak Erick bilang dia yang bakal ambil kuenya sendiri. Mbak udah pastikan langsung ke kak Erick?" Tanya Rendra yang tiba-tiba muncul.
" Bharhushan dhia khirhim pheshan, khathanhya dhia shedhang hadha hurushan. Jhadhi dhia lhangshung shuruh hojhek honlhen kheshinhi. " ( Barusan dia kirim pesan, katanya dia sedang ada urusan. Jadi dia langsung suruh ojek online kesini.)
Biqha menerangkan pada adiknya sambil memotret kue tersebut. Setelah itu dia memasukan kuenya ke dalam kotak, dan segera ia serahkan pada ojek online yang dipesan Erick. Setelah kepergian ojek online tersebut, Biqha mengirimkan gambar kue tersebut pada Erick via chat.
// Ini hasil akhirnya. Semoga tidak mengecewakan.//
Tak berselang lama, muncul balasan dari Erick.
// Cantik. Thank's Bi.//
Sudut bibir Biqha sedikit tertarik ke bawah, merasa kecewa dengan jawaban dari Erick.
' Gitu doang? Dulu waktu dia mikir itu buatan ibu, heboh banget reaksinya. Muji-muji ibu setinggi langit. Giliran tau kalo aku yang buat, tanggapannya cuma tiga kata doang? Dasar Erick nyebelin..... Pasti tensin mau muji hasil karya aku.' ucapnya dalam hati.
Sementara di tempat yang berbeda, Di dalam apartemennya, Erick memandang layar ponselnya dengan sorot mata yang sedikit sendu. Erick masih menatap gambar kue yang di kirim Biqha, setelah membalasnya.
' Thank's Bi. Hasil karya lo luar biasa. Sama sekali gak mengecewakan. Oma juga pasti seneng banget liatnya. Rasanya juga pasti enak. Hem.... Jadi pengen.' gumamnya.
Tiba-tiba Erick merasa perutnya memberontak, meminta untuk di isi.
" Harusnya pagi ini gue bisa sarapan sama kue-kue buatan gue sendiri. Tapi semua malah di ambil sama Yoga. Sialan bener...."
Keluh Erick mengingat kejadian tadi malam, saat Yoga meminta semua kue yang Erick bawa dari rumah Biqha. Kue-kue yang hasilnya tidak sempurna, namun rasanya tetap lezat. Tiba-tiba sorot matanya kembali sayu, mengingat permintaan Yoga yang menginginkannya menjauh dari Biqha.
' Berjanjilah Rick.... Berjanjilah.....'
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang ditelinganya. Membuatnya bimbang kala ingin melangkah pergi untuk mengambil kue pesanannya tersebut. Hingga akhirnya dia membatalkan niatnya.
***
Di sebuah cafe, terlihat seorang wanita cantik duduk bersama dua orang pria berpawakan tegap. Salah satu pria memperlihatkan layar laptopnya pada wanita tersebut. Wanita itu melihat beberapa gambar Biqha dan Yoga, yang sedang duduk di depan kontrakkannya. Juga sebuah video yang memperlihatkan pertengkaran antara Yoga dan Erick kemarin malam.
" Sepertinya.... Mereka memang menjalin hubungan sebelumnya nona. Tapi wanita itu tidak tau tentang status tuan Yoga yang sudah bertunangan. Karna itu setelah dia mengetahuinya, dia langsung memutuskan hubungan mereka. Tapi tuan Yoga masih bersikeras terhadapnya."
" Bahkan dari video terakhir, tuan Yoga jelas mengatakan kalau wanita itu sudah memutus akses komunikasi dengan tuan Yoga." sambung pria yang satunya.
Wanita di depan mereka hanya terdiam. Dengan Headset di telinga sebelah kirinya, dia sepertinya fokus dengan video yang dia lihat.
' Sebegitu berartinya kah wanita itu bagimu Yoga? Sampe kamu rela bertengkar dengan sahabat terbaikmu sedari kecil, demi mempertahankan dia.' Bisiknya dalam hati.
Kemudian wanita itu mengeluarkan amplop coklat, dan memberikannya kepada pria yang ada di depannya.
" Ini bayaran kalian. Informasi ini sudah cukup bagiku. Jadi kalian tidak perlu membuntuti wanita itu lagi. Terima kasih telah membantuku. " ucapnya sembari menyodorkan tangan hendak bersalaman.
" Sama-sama nona. Kami senang bisa membantu anda. "
Mereka pun saling berjabat tangan. Dan setelah itu wanita itu berlalu begitu saja sembari membawa flashdisk, berisikan rekaman gambar-gambar dan video yang dia lihat tadi.
***
Weekend sudah berlalu. Kini rutinitas bekerja kembali dimulai. Biqha yang sedang mencoba menata hatinya kembali juga berusaha profesional, dengan tetap bekerja seperti biasa.
Hari ini Biqha mendapat tugas dari bu Diana, untuk mengkonfirmasi dan merevisi laporan anggaran divisi marketing yang tidak sesuai. Divisi marketing terletak di lantai bawah.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Biqha segera keluar dari kantor divisi marketing. Ketika menunggu di depan lift, dua orang karyawati menghampirinya.
" Hallooo...."
Ucap salah satunya dengan melambaikan tangannya di depan wajah Biqha, yang berada di depan mereka. Biqha pun sontak membalikkan wajahnya, memandang mereka.
" Kamu karyawan baru di divisi acounting, yang bernama Nabiqha itu kan? "
__ADS_1
Biqha menganggukkan kepalanya sembari menarik sedikit sudut bibirnya.
" Kamu tinggal di daerah XX ya? Dekat sekitaran jalan A? " tanya yang lainnya.
Biqha mengernyitkan dahinya. Namun dengan sedikit ragu dan bingung, Biqha tetap mengangguk. Meski dalam hatinya bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa mengetahui hal itu.
" Hiya..... Themphat thingghal shayha mhemhang mhelhewhathi jhalhan A. Mhemhangnyha hadha hapha yha? " ( Iya..... Tempat tinggal saya memang melewati jalan A. Memangnya ada apa ya? )
" Ah.... Gak. Gak ada apa-apa. Cuma pernah liat kamu disekitar situ aja. "
Biqha senarik sedikit sudut bibirnya. Kemudian kembali menghadap pintu lift yang belum juga terbuka, dan membelakangi mereka.
" Tuh kan bener...... " ucap karyawati itu pada temannya dibelakang Biqha.
" Berarti pak Yoga dan pak Erick bertengkar di jalan kemarin, setelah dari rumahnya? " ucap yang lainnya sedikit berbisik.
" Iya lah..... Jelas-jelas juga kita denger mereka menyebut namanya kemarin. Apalagi pak Yoga, yang terlihat sangat emosi. Dia bahkan beberapa kali berteriak menyebut namanya kan."
" Hush..... Jangan kuat-kuat ntar dia denger loh."
Ucap salah satunya sambil menggerakkan dagunya ke arah Biqha di depan.
" Lo lupa ya...? Dia kan T**i. Mana bisa dia denger...."
Jawab yang lainnya dengan menunjuk ke telinganya, sembari tertawa-tawa.
" O...iya...ya...."
Mereka pun tertawa bersama dibelakang Biqha. Tanpa mereka tau, bahwa Biqha melihat semua yang mereka lakukan dan bicarakan. Melalui pantulan gambar mereka, yang terlihat dipintu lift baja berwarna silver itu. Layaknya pantulan gambar di cermin.
Biqha sempat terkejut melihat pembicaraan mereka, yang menyebutkan bahwa Yoga dan Erick bertengkar di jalanan kemarin. Dan itu mungkin terjadi karna dirinya.
' Apa itu sebabnya, semalam Erick tidak jadi mengambil kuenya sendiri? Apa Yoga kembali memukulnya seperti waktu itu? ' gumamnya dalam hati.
" Berarti bener dong tentang rumor kedekatan mereka itu?"
" Sejak awal memang udah mencurigakan, kan? Masa seorang CEO, merekomendasikan karyawati kayak dia sih. Biar otaknya secerdas apa juga, pasti pikir panjang lah. Udah gitu ya..... waktu itu, katanya ada yang pernah liat mereka ketemuan di cafe dekat SPBU sana setelah pulang kantor. Mereka bergandengan tangan mesra tau....."
Biqha membulatkan matanya, setelah melihat bayangan gerak bibir mereka. Biqha terkejut mengetahui ada yang melihat kebersamaan mereka waktu itu.
" Gak nyangka ya.... Penampilan doang yang alim, kelakuan mines. Menghalalkan segala cara demi mendapat pekerjaan yang layak. Udah gitu gak cuma seorang lagi yang digoda.
" Bukan cuma pekerjaan dong..... Pastinya demi pundi-pundi yang lainnya juga. Kalo gak, masa iya dia godain laki orang juga. "
Seketika airmata Biqha nyaris tumpah melihat pembicaraan mereka tentangnya. Prasangka mereka membuat hatinya seperti teriris sembilu. Namun Biqha tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela dirinya. Biqha hanya bisa terdiam sambil berusaha menahan airmatanya.
" Iya...iya. Masih mending pak Erick, single. Lah ini pak Yoga digodain juga. Lagian, pak Yoga aneh, Kok mau sih sama ni cewek. Padahal tunangannya top supermodel. Masih kurang......?"
" Orang kaya mah bebas..... bisa jadi karna supermodel itu kali, jdinya kan sama-sama sibuk. Gak ada waktu deh jadinya. Pak Yoga jadi jarang dapat belaian. Sementara disini ada belaian cewek yang sok alim gitu. Sensasi baru kan....."
Ucap seorang karyawati dengan disertai tawa candanya, yang disambut tawa renyah teman disebelahnya. Membuat Biqha tak bisa menahan airmatanya. Namun secepat kilat Biqha menghapus airmatanya. Kemudian dia memencet tombol lift berkali-kali, berharap pintu lift bisa secepatnya terbuka. Hingga dia bisa pergi secepatnya dari sana. Namun pintu itu tidak juga terbuka.
" Kalian merasa lebih baik, dengan membicarakan orang dibelakangnya? "
Tiba-tiba muncul sosok wanita cantik, tinggi, putih mulus, dan seksi di belakang mereka. Membuat kedua karyawati dibelakang Biqha berhenti tertawa seketika, dan berbalik arah mencari sumber suara itu. Namun tidak dengan Biqha. Biqha mengalihkan pandangannya dari bayangan mereka dipintu lift itu. Dia tidak ingin lagi melihat pembicaraan apapun dari mereka.
" Mbak A.... Alina. "
Wajah kedua karyawati itu pucat pasi, saat tau siapa pemilik suara barusan yang menyindir mereka.
" Siapa yang sedang kalian bicarakan? Apa pak Yoga yang kalian maksud, adalah pemilik sekaligus CEO diperusahaan ini? "
Kedua karyawati tersebut menundukkan kepalanya, hingga nyaris tak terlihat sedikit pun wajahnya.
" Berani sekali kalian menggunjing bos kalian sendiri? Kalian tidak takut di pecat?"
__ADS_1
" Gak, mbak. Mbak tadi salah dengar. Kita gak sedang membicarakan pak Yoga bos kita disini, i...iya kan?! "
Ucap salah satu karyawati, mencoba berdalih dan meminta persetujuan rekannya. Rekannya dengan gugup, mengangguk mengiyakan ucapannya.
" Kalian pikir saya tuli? "
Ucap Alina dengan nada yang sedikit keras. Membuat mereka semakin bergidik ngeri.
" Dan siapa wanita yang kalian bicarakan tadi? Apa dia orangnya? " tunjuk Alina ke arah Biqha yang membelakanginya.
Alina berjalan melewati mereka dan mendekati Biqha. Lalu menyentuh pundaknya.
" Hey.... Kamu. "
Biqha berbalik kebelakang. Biqha sangat terkejut saat melihat wanita yang menyentuh pundaknya, adalah wanita yang dia lihat di layar ponsel Erick beberapa hari lalu. Wanita yang memeluk dan mencium mesra Yoga pada video itu.
' Di...dia....Alina.....'
Biqha sangat gugup. Karena tidak menyangka akan bertemu dengan Alina, wanita yang tanpa sengaja sudah ia sakiti. Membuat matanya memerah. Namun seketika Biqha mencoba menguasai emosinya.
" Kamu t**i ya?! Kamu gak denger mereka tadi membicarakan dan mengataimu sebagai wanita gak bener tadi? Kok kamu malah diem aja sih...."
Biqha memandang kedua orang itu dan Alina bergantian. Biqha bingung harus bagaimana. Menyadari kalau Alina mendengar semua ucapan mereka saja, sudah membuatnya merasa sangat bersalah. Sekuat tenaga Biqha berusaha menahan airmatanya. Dengan gugupnya Biqha mencoba untuk berbohong demi menghindari masalah lainya lagi.
" Mhahaf mbhak.... Shayha phunyha mhashalah dhenghan phendhengarhan. Shayha phenyhandhang thunha rhunghu. " (Maaf mbak.... Saya punya masalah dengan pendengaran. Saya penyandang tuna rungu.)
" Oh..... Maaf. "
Alina sampai menutup mulutnya, saat meminta maaf pada Biqha. Dan Biqha mencoba tersenyum untuk menutupi kegundahannya.
" Hiya... Ghak phapha mbhak. Shayha phermhishi dhulhu. " ( Iya... Gak papa mbak. Saya permisi dulu. )
Ketika lift terbuka, Biqha tidak mau menyiakan waktu lagi untuk segera menghindari mereka semua. Terlebih Alina, yang membuat perasaannya semakin campur aduk.
Biqha segera masuk kedalam lift. Namun usaha Biqha untuk menghindar tidak berhasil. Karena dengan cepat, Alina menghalangi pintu lift agar tidak tertutup.
" Tunggu..."
Alina segera masuk. Sementara kedua orang tersebut langsung kabur. Tinggal lah mereka berdua di dalam lift.
" Maaf ya... Soal tadi. Saya agak emosi dengan omongan mereka. Tuduhan mereka keterlaluan. Saya akan laporkan mereka nanti."
Biqha menarik sedikit bibirnya. Suasana begitu mencekam bagi Biqha. Namun Biqha mencoba memberanikan diri, membuka percakapan.
" Mbhak..... Thunhanghan phak Yhogha khan?! Mbhak ghak mharhah hathau mhenharhuh churhigha shamha shayha, shethelhah mhendhenghar homhonghan mherhekha thadhi? " ( mbak..... Tunangan pak Yoga kan?! Mbak gak marah atau menaruh curiga sama saya, setelah mendengar omongan mereka tadi? )
Alina tersenyum mendengar ucapan Biqha.
" Saya sempet denger rumor tidak sedap itu beberapa bulan lalu. Dan saya memang belum sempat menanyakan langsung padanya. Tapi saya percaya..... seseorang yang direkomendasikan oleh CEO perusahaan ini, pastilah orang yang berkompeten. Walaupun.... seorang pemilik perusahaan bisa sampai merekomendasikan seseorang itu, pasti karena dia mengenal dengan baik seseorang tersebut. "
Jawab Alina, dengan lembut dan elegan. Sementara Biqha hanya bisa memandangnya takjub, dengan mata sedikit berlinang.
" Kalo boleh saya tahu..... Bagaimana kalian bisa saling mengenal? O...ya... Perkenalkan dulu, nama saya Alina. "
Alina menyodorkan tangan di depan Biqha. Biqha pun menyambutnya dengan perasaan haru sekaligus rasa bersalahnya.
" Nhabhiqha. Shayha dhan phak Yhogha hadhalhah themhan eshemha. Shayha ghak shenghajha bherthemhu bhelhiau bhebherhapha bhulhan lhalhu, shahat shayha shedhang mhencharhi phekherjhahan. Mhungkhin bhelhiau khashihan shamha shayha, shethelhah mhendhenghar shayha bhelhum jhugha mhendhaphat phekherjhahan shethelhah lhulhus khulhiah. Jhadhi bhelhiau mhembherhikhan kharthu nhamhanyha dhan mhemhintha shayha dhthang kheshinhi. "
( Nabiqha. Saya dan pak Yoga adalah teman SMA. Saya gak sengaja bertemu beliau beberapa bulan lalu, saat saya sedang mencari pekerjaan. Mungkin beliau kasihan sama saya, setelah mendengar saya belum juga mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah. Jadi beliau memberikan kartu namanya dan meminta saya datang kesini. )
Biqha menjelaskan dengan wajah sedikit menunduk.
" Shayha mhintha mhahaf mbhak. Kharnha khehadhirhan shayha dhishinhi, mhembhuhat bhanyhak horhang bherprhashangkha bhurhuk therhadhap phak Yhogha. " ( saya minta maaf mbak. Karna kehadiran saya disini, membuat banyak orang berprasangka buruk terhadap pak Yoga.)
" Kenapa kamu yang harus minta maaf? Bukan kamu yang seharusnya minta maaf. Memangnya kamu berbuat salah apa sama saya, sampai kamu meminta maaf sama saya seperti itu? "
__ADS_1