
Malam hari di sebuah mini market....
Rendra sedang menyusun barang-barang yang baru saja datang. Dia menyusun barang sesuai standnya masing-masing.
Sampai pada stand perlengkapan kebutuhan pria. Rendra menyusun barang-barang perlengkapan pria dari mulai shampo, sabun mandi, deodorant, parfum, gel rambut, alat cukur dan lain sebagainya.
Setelah selesai menyusun semua barang. Rendra bangkit sambil mengangkat keranjang besar, bekas wadah barang-barang yang disusunnya tadi. Dia langsung berbalik dengan cepat tanpa menyadari kehadiran orang lain di belakangnya.
Karena Rendra bergerak dengan tiba-tiba, pria yang di belakangnya pun tertabrak dengan cukup keras dari arah samping. Sampai pria itu sedikit terhuyung ke belakang.
" Eh... Maaf mas. Maaf.... Saya gak sengaja."
Rendra berkata sambil menunduk pada pria, yang saat ini sedang memegangi lengan kanannya yang sakit. Karena terbentur keranjang besar itu dengan cukup keras.
" Iya gak papa...... Lain kali hati-hati ya ! "
Ucap pria itu kemudian berlalu pergi, setelah mengambil barang yang dibutuhkannya.
Rendra mengerutkan keningnya. Dia berpikir sambil ekor matanya terus mengikuti kemana pria itu pergi.
" Kok kayak gak asing ya...... Siapa ya? Kayak pernah kenal. "
Gumam Rendra pelan, sambil terus melihat ke arah pria tersebut. Rendra masih memandang pria yang tadi sempat dia tabrak, sambil terus berusaha mengingat dan menebak siapa pria itu. Setelah beberapa saat dia baru mengingatnya.
Rendra melihat pria itu masih berdiri di depan lemari pendingin minuman. Dia sedang mengambil beberapa minuman. Rendra dengan rasa penasarannya menghampiri dan mencoba menyapa. Rendra ingin memastikan dugaannya benar atau salah.
" Mas.... kak Erick bukan ya? "
Erick mengerutkan dahinya menatap pemuda yang menyapanya itu. Erick memperhatikan pemuda itu dengan seksama.
" Iya benar. Nama saya Erick. Maaf, kamu.....?" Ucap Erick mencoba mengingat pemuda di depannya itu.
" Saya Rendra kak. Narendra adiknya Nabiqha azzahra, temen SMA kakak dulu. Kakak inget gak?" Jawabnya antusias.
Dulu Rendra memang lebih dekat dengan Erick dibanding dengan Yoga. Karena setiap Yoga mengajak Erick ke rumah Biqha, Erick yang selalu menemaninya bermain, belajar bahkan terkadang membantunya memperbaiki mainannya. Sedangkan Yoga hanya berfokus pada Biqha.
Itu sebabnya Rendra lebih mengingat sosok Erick daripada Yoga. Apalagi saat Erick dan Biqha terpilih mewakili sekolah untuk mengikuti olimpiade matematika dan fisika. Mereka jadi semakin dekat.
Karena hampir setiap hari Erick datang kerumahnya, untuk belajar bersama dengan Biqha. Demi mempersiapkan diri mengikuti pertandingan tersebut. Dan disela-sela belajar, Erick selalu menyempatkan diri bermain dengannya.
" RENDRA...! Hai boy.... "
Teriak Erick saat menyadari siapa pemuda dihadapannya ini.
" Gila..... udah sebesar ini kamu sekarang ya. Ya ampun...... Kakak sampe gak ngenalin kamu loh." Lanjutnya sambil menepuk-nepuk pundak Rendra. Rendra pun tersenyum lebar padanya.
Wajar kalau Erick tidak mengenali Rendra, meski dulu mereka cukup dekat. Karena dulu Rendra masih berusia sebelas tahun, masih bocil. Tapi sekarang Rendra sudah tumbuh menjadi pemuda tampan, dengan badan tinggi tegap hampir berimbang dengannya.
" Iya lah kak. Masa mau kecil aja." Jawab Rendra cengengesan.
" Jadi kamu kerja disini sekarang? "
Tanya Erick, yang dijawab dengan anggukan kepala dan senyum bangga oleh Rendra.
" Kamu gak kuliah? " Tanya Erick penasaran.
Tatapan matanya sendu melihat Rendra. Menyayangkan, jika bocah yang dulu dikenalnya memiliki otak yang juga cerdas seperti sang kakak. Tidak bisa melanjutkan pendidikannya hingga menjadi sarjana. Seperti harapan kedua orang tuanya, terutama sang ibu.
Dulu Erick tidak hanya dekat dengan Rendra. Erick juga sempat beberapa kali berbincang dengan ibu mereka. Mengingat bagaimana keadaan mereka dulu, dan perjuangan ibu mereka untuk membiayai hidup mereka. Erick merasa prihatin melihatnya.
Sungguh sangat disayangkan bila Pendidikan Rendra harus terhenti. Karena keadaan ekonomi yang tidak mendukung.
" Kuliah kok kak. Pagi Rendra kuliah, sore baru bekerja disini. Rendra ambil shift malam aja disini. " Jawab Rendra cepat dengan masih mengukir senyum di bibirnya.
" Wih...... Hebat kamu. Masih muda udah bisa mandiri. Udah bisa cari uang sendiri, tapi tetep mengutamakan pendidikan lagi. Kerrennnn...... "
Sanjung Erick pada Rendra. Dengan senyum bangga Erick mengacungkan jempolnya.
" Karena keadaan kak. Rendra cuma berusaha supaya gak jadi beban buat mbak Biqha. "
" Justru itu kakak bilang kamu hebat. Ini baru adiknya kak Erick...... " Ucap Erick dengan bangga, sambil merangkul pundak Rendra.
Sejak dulu Erick memang sering menyebut Rendra sebagai adiknya. Karena pada dasarnya Erick memang menyukai anak-anak.
Terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, dan satu-satunya anak lelaki. Membuat Erick ingin memiliki adik laki-laki. Makanya saat Yoga mengajaknya ke rumah Biqha, dia suka bermain dan menghabiskan waktu bersama Rendra.
__ADS_1
Begitu pula sebaliknya, Rendra yang tidak memiliki kakak laki-laki dan juga ayah. Karena ayahnya sudah meninggal sedari dia kecil. Menjadi tidak punya teman bermain saat dirumah. Tentu kehadiran Erick dan perhatiannya seolah mewujudkan keinginannya memiliki kakak laki-laki.
Karena malam yang sudah agak larut, pembeli yang lain juga sudah tidak ada. Jadi Rendra agak santai, dan bisa mengobrol sebentar dengan Erick. Sambil menunggu waktu tutup toko.
Teman satu shift dan supervisornya juga orang yang santai, gak kaku dan gak cerewet. Jadi aman-aman saja kalau rendra mengobrol sebentar dengan pembeli. Yang penting kerjaan beres.
Di depan kasir mereka lanjut mengobrol.
" Terus gimana kabar kakakmu Ren? Masih sensi gak kayak dulu? "
Tanya Erick sambil terkekeh sendiri, mengingat dulu dia sering beradu mulut dengan Biqha. Rendra pun tertawa kecil menanggapinya.
Dia tau betul bagaimana kedua orang itu, dulu suka sekali berdebat. Kadang dia juga sampai pusing mendengarnya. Mereka baru berhenti kalau sudah ditegur oleh ibunya.
" Ya..... Gitu deh. Kadang-kadang. Biasalah kak.... cewek kan begitu. "
Mereka pun tertawa bersama, mengingat sosok Biqha. Yang menurut versi Yoga adalah wanita yang lemah lembut. Tapi bisa garang dan galak kalau di depan Rendra dan Erick. Apalagi kalau mereka menjahilinya. Biqha bisa sangat marah pada mereka.
" Terus ibu gimana? Sehat kan? Salamin ya buat ibu nanti. kangen juga sama kue buatan ibu."
Ucapan Erick seketika memudarkan tawa kecil di wajah Rendra. Dan kini berubah menjadi senyum tipis, yang miris hampir tak terlihat.
" Ibu udah gak ada kak. Udah meninggal 4 tahun lalu, waktu Rendra masih SMA. "
" Innalillahi wa innaillahi rojiun.... "
Seketika wajah mereka berdua berubah sendu. Ada guratan kesedihan juga di wajah Erick, mengingat kebaikan ibu.
" Sakit apa Ren? " Tanya Erick.
" Asam lambung kak. Ibu gak pernah mau bilang kalau dia lagi sakit. Kalau ditanya jawabnya cuma kecapean. Tau-tau udah parah aja. Kata dokter penyakit lambung ibu udah kronis, jadi merembet kemana-mana. "
Penjelasan Rendra membuat Erick semakin prihatin kepadanya. Erick menepuk pundak Rendra memberinya semangat.
" Jangan sedih. Ibu udah tenang sekarang dan udah gak sakit lagi. Sekarang tugas kita sebagai anak mendoakan ibu disana." Erick berusaha menghibur.
" Iya kak... Insha Allah Rendra gak kan pernah lupa bacakan Al-fatihah untuk ibu sama ayah, setiap sehabis sholat."
" Good boy... " Jawab Erick dengan mengacungkan jempolnya lagi.
" Kok kakak tau kita pindah rumah? Kakak pernah datang ke rumah lama kita ya? "
" Iya lah. Tiap liburan kan kakak selalu pulang kesini. Dan kalo udah disini, temen kakak yang dulu tergila-gila sama mbak kamu itu pasti ngajak main ke rumah kalian."
Mereka sama-sama tertawa geli mengingat sosok Yoga, yang pantang menyerah meski berkali-kali ditolak Biqha.
Setelah itu Rendra pun menceritakan, bahwa rumah mereka sudah dijual untuk biaya berobat ibu. Dan sekarang mereka mengontrak rumah untuk tempat berteduh. Rendra pun memberikan alamat tempat tinggalnya pada Erick.
Erick mendengar cerita Rendra dengan perasaan iba namun juga bangga. Melihat Rendra yang walau dari segi ekonomi tidak berkecukupan, tapi masih bisa berprestasi dan tumbuh dengan baik.
" Ren.... udah waktunya tutup. Yuk kita beres-beres."
Tiba-tiba supervisor Rendra menegurnya, karna waktu memang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
" Akhh... Iya maaf mas ya ! Keasikan ngobrol jadi lupa kalau Rendra masih harus kerja. "
Ucap Erick kepada supervisor mini market tersebut. Erick menjadi tidak enak hati. Dia takut Rendra akan mendapat sanksi karena hal ini.
" Gak papa mas..... Santai. Lagian hari ini juga agak sepi. Jadi kita gak banyak kerja. Cuma ini memang udah waktunya tutup aja. Jadi mohon maaf kalo harus saya potong obrolannya. " Ucap sang supervisor ramah dan sopan.
" Iya gak papa mas. Saya yang salah udah ngajak ngobrol karyawan sini saat jam kerja.Soalnya udah lama banget gak ketemu. Tolong jangan dikasih sanksi Rendranya ya mas ! " Ucap Erick sambil menyatukan kedua tanganya ke depan.
" Akhhh... Gak papa kak. Udah biasa mah begini. Mas teguh juga santai orangnya. Ya kan mas?"
Rendra menaik turunkan alisnya menatap sang supervisor, sambil membereskan pekerjaannya.
" Ya udah Ren, kakak pamit ya...? Oya... kamu pulang naik apa? "
" Naik motor kak."
" Oh... Ya udah. Hati-hati nanti ya naik motornya. Jangan ngebut-ngebut. Jangan lewat jalan yang sepi. "
" Jam segini mana ada lagi jalan yang rame mas... "
Jawab sang supervisor bermaksud bercanda, menanggapi nasehat yang Erick sampaikan pada Rendra. Mereka pun tertawa bersama, bahkan teman satu shift Rendra pun ikut tertawa.
__ADS_1
Kemudian sebelum melangkah pergi, Erick mengambil dompetnya. Dia mengeluarkan kartu nama dan beberapa lembar uang seratus ribuan dari sana. Lalu memberikannya pada Rendra.
" Nih buat jajan.... "
Ucap Erick sambil meletakkan uang itu ke tangan Rendra. Erick sejak dulu memang suka begitu pada Rendra, Setiap kali dia berkunjung ke rumah Biqha. Dia pasti akan membelikan jajanan untuk Rendra dan juga memberinya uang.
Sampai ibunya Rendra pernah menegurnya karena takut Rendra akan jadi manja dan kebiasaan meminta-minta pada Erick.
" Apaan sih kak....? Rendra bukan anak kecil lagi. Masa dikasih uang jajan gini. Rendra udah kerja kok jadi gak perlu... "
Rendra berusaha mengembalikan uang yang diberi Erick. Tapi Erick menolaknya.
" Udah gak papa. Simpen aja..! Siapa tau nanti kamu butuh. Ini kartu nama kakak. Kalo ada apa-apa, jangan sungkan hubungi kakak. Ya......! "
Ucap Erick pada Rendra sambil mengenggamkan uang itu kembali ke tangan Rendra.
" Jangan kak... Nanti kalo mbak Biqha tau, dia bisa marah sama Rendra. Dikira Rendra minta-minta sama kakak."
Tolak Rendra lagi dengan wajah melasnya.
" Ya udah Ren, kalo kamu gak mau buat aku aja.... lumayan kan. "
Belum sempat Erick menjawab temen Rendra sudah nyeletuk duluan sambil cengengeaan.
" Iya Ren, mas juga mau. lumayan bisa buat beli'in martabak istri mas yang lagi ngidam. Soalnya dompet udah kritis, tanggal tua akhir bulan gini."
Erick tersenyum lucu melihat teman-teman kerja Rendra itu.
" Rejeki kok di tolak. Ya mas ya.... "
" Ho.. oh."
Sambung mereka lagi. Rendra geleng-geleng kepala mendengar ucapan teman-temanya.
" Udah kamu pegang aja. Sebagian bisa buat traktir temen-temen kamu ini. Apalagi masnya ini, kasian istrinya lagi ngidam. Ntar anaknya ileran lagi kalo gak diturutin."
Ucap Erick bercanda pada sang supervisor. dan disambut gelak tawa dari yang bersangkutan.
Rendra pun tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menerimanya.
Erick pun berpamitan pada semuanya, lalu bergegas pergi menggunakan mobilnya.
" Itu tadi mantan kakak kamu ya Ren.... " Tanya teman Rendra.
" Sembarangan. Itu tadi temen kakak aku. Dulu sering main kerumah buat belajar bareng sama mbak Biqha. Justru temennya yang dulu suka sama mbakku. Dan kak Erick tadi itu selalu di ajak nemenin buat ngapel kerumah."
Jelas Rendra pada temannya sambil mereka bersih-bersih toko.
" Tapi dia juga pasti suka tuh sama kakak kamu. Kalo gak mana mungkin dia baik banget sama kamu."
" Dia memang baik dari dulu."
Rendra tersenyum tipis mendengar perkataan temannya. Kemudian berubah jadi senyum lucu. Mengingat dulu dia pernah berkata pada Erick, kalau dia lebih suka pada Erick daripada sama Yoga. Kalau kakaknya mau pacaran, dia lebih setuju kakaknya pacaran dengan Erick daripada dengan Yoga. Erick selalu menjawab dengan santai dan berkata.
" Ogah ah.... kakak kamu Galak gitu. "
Rendra tersenyum geli mengingat kenangan dulu.
" Malah bengong... cepet. Mau pulang gak? "
Lamunan Rendra pun buyar. Mereka pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah selesai beres-beres mereka bertiga pun menutup dan mengunci gerbang toko.
Saat hendak meninggalkan toko, Rendra mengeluarkan uang yang di berikan Erick tadi. Kemudian membaginya dengan kedua teman kerjanya, masing-masing satu lembar. Sisanya yang tiga lembar Rendra simpan lagi ke kantongnya.
" Serius nih? "
" Mas tadi cuma becanda kok Ren... "
Ucap mereka pada Rendra. Mas teguh mau mengembalikan uang itu sedang temannya bengong melihat tangan Rendra yang menyodorkan uang itu padanya.
" Gak papa mas.... Gus... ambil aja. Rejeki kita sama-sama. Tadi juga kan kak Erick suruh Rendra bagi sama kalian. "
" Suruh sering-sering main kesini Ren... Lumayan kan." Canda teman Rendra lagi.
__ADS_1