
Berbekal alamat yang pernah diberikan oleh Rendra, Erick menyusuri jalan ke arah kontrakan Biqha. Namun dalam perjalanan yang belum jauh dari apartemennya, Erick berubah pikiran.
' Jam segini kan Rendra masih kerja. Itu artinya Biqha sendirian di rumahnya, gak mungkin aku kesana sekarang. Lebih baik aku temui Rendra ditempat kerjanya lebih dulu. Atau aku langsung saja pesan ke Rendra, biar dia yang bicara sama kakaknya.'
Ucap Erick dalam hatinya. Kemudian dia mempercepat laju motornya menuju tempat kerja Rendra, yang masih searah dengan alamat kontrakan mereka.
Sampai di tempat kerja Rendra, Erick melihat keadaan mini market yang agak ramai. Rendra dan supervisornya sedang bekerja di balik mesin kasir, di depannya mengantri beberapa orang. Erick memutuskan menunggu keadaan sedikit sepi, baru dia akan masuk ke dalam. Agar tidak mengganggu pekerjaan Rendra.
Disisi lain, supervisor Rendra menyadari keberadaan Erick yang duduk di atas motornya sambil memainkan ponsel. Kemudian memberitau Rendra sambil tetap menghitung belanjaan pelanggan.
" Ren, kakak kamu datang lagi tuh. "
Ucap sang supervisor sambil sedikit memonyongkan bibirnya, menunjuk keberadaan Erick. Rendra pun mengikuti arah yang ditunjukkan sang supervisor.
" Ngapain kak Erick duduk disitu? Kenapa dia gak masuk ?"
" Mungkin karna kita lagi rame pengunjung. "
Rendra manggut-manggut menanggapi jawaban dari sang supervisor. Dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Hampir 30 menit berlalu, namun antrian di depan kasir belum juga usai. Karena merasa haus, akhirnya Erick memutuskan untuk masuk. Dan karena masih sangat sibuk, Rendra hanya bisa menyapa Erick dengan senyuman.
Erick pun melakukan hal yang sama, kemudian langsung berlalu ke lemari pendingin. Erick mengambil satu botol minuman, kemudian langsung membuka dan meminumnya. Setelah itu, dia berjalan ke arah stand cemilan. Lalu mengambil beberapa snack dan biskuit.
Dilihatnya kondisi di kasir sudah mulai lengang. Erick pun melangkah mendekati kasir.
" Kak Erick tadi ngapain diluar? " Tanya Rendra ketika mereka sudah berdekatan.
" Kakak ada perlu sama kamu. Sama mbak kamu sih.... lebih tepatnya. Tapi karna kakak liat kamu lagi sibuk banget, jadi ya udah.... Kakak tunggu aja diluar dulu."
Jawab Erick sambil mengeluarkan dompet untuk membayar belanjaannya.
" Keperluan apa kak? Kalau kak Erick ada keperluan sama mbak Biqha, kenapa gak langsung ngomong ke mbak Biqha aja? Bukannya kalian satu kantor? " tanya Rendra.
" Iya.... Tapi kalo ngomong di kantor susah nanti jelasinnya. Makanya kakak kesini. "
" Memangnya ada perlu apa kak sama mbak Biqha?"
" Kakak mau minta tolong sama mbak kamu, untuk buatin kue seperti yang dibuat ibu dulu. Untuk hadiah ulang tahun oma. Inget gak?"
" Oh.... Kue itu."
Rendra manggut-manggut menjawab pertanyaan Erick.
" Kamu tolong bilangin ke mbak Biqha ya....!"
" Langsung ke kontrakan aja kak. Kalau ngomong langsung kan lebih jelas. Ato telepon aja langsung ke nomornya. Takutnya Rendra kelupaan."
" Tadinya kakak mau ke kontrakan kalian. Cuma kakak pikir lebih baik kakak kesini aja dulu. Soalnya kan mbak kamu pasti sendirian dirumah, takutnya nanti jadi omongan tetangga. Gak enak kalo kakak langsung kesana. Mau lewat telepon, kakak gak punya nomornya." jelas Erick.
" Udah berapa bulan, mbak Biqha kerja sekantor sama kakak......? Masa kakak gak tau nomor hpnya?! Kenapa kakak gak minta aja nomornya?" tanya Rendra lagi.
" Kamu kayak gak tau mbak kamu aja. Dia kan selalu negatif thinking sama kakak. Kemungkinannya cuma 2 kalo kakak minta nomor hpnya. Pertama, dia bakal ge-er. Kedua, dia bakal bilang ' ngapain nanya-nanya nomor hpku?' gitu pasti. Yang ada ngeselin."
Penjelasan Erick membuat Rendra tertawa lucu, melihat Erick memperagakan cara Biqha berbicara padanya dengan gaya sensinya. Bahkan supervisor di sebelah Rendra pun ikut terbahak dibuatnya.
Kemudian datang seorang pelanggan yang ingin membayar belanjaannya. Erick pun melihat jam dipergelangan tangannya, lalu memutuskan untuk menunggu Rendra selesai bekerja saja. Agar lebih leluasa mengobrol dengannya.
" Ren.... Sebentar lagi kamu kelar kan? Kakak tunggu kamu diluar aja deh, sampe kamu selesai bekerja. Biar enak ngobrolnya."
" Ah... Iy kak. Sebentar lagi Rendra kelar kok."
Rendra pun melanjutkan pekerjaannya. Dan Erick kembali menunggu di pelataran mini market tersebut.
Sekitar lima belas menit Erick menunggu. Dan akhirnya Rendra pun selesai menutup toko bersama rekan-rekannya.
" Yuk kak....! Kita langsung ke kontrakkan aja. Biar kakak bisa ngomong langsung sama mbak Biqha. Tapi kita mampir beli nasi goreng dulu ya kak. " ajak Rendra.
" Emang gak kemaleman bertamu jam segini? Lagian kakak kamu apa belum tidur? Ntar dia marah lagi, karena kakak ganggu waktu istirahatnya."
__ADS_1
Erick ragu dengan tawaran Rendra, karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
" Gak papa kak. Lagian mbak Biqha juga belum tidur. Orang barusan dia kirim pesan sama Rendra, minta dibeli'in nasi goreng. Rendra juga udah bilang kok sama mbak Biqha, kalo Rendra bakal pulang bawa tamu. Tapi Rendra gak bilang kalo itu kakak."
" Kenapa kamu gak bilang? " tanyanya lagi.
" Biar aja. Biar surprise...."
" Ntar mbak kamu marah loh..."
" Gak papa kak. Itu urusan Rendra. Kakak tenang aja. "
Ucap Rendra santai, sambil menunggangi motor maticnya. Sementara kedua rekannya sudah berlalu lebih dulu. Mereka pun melaju dengan motor masing-masing.
Sampai di tempat penjual nasi goreng, mereka duduk sebentar sambil menunggu pesanan mereka. Kesempatan itu dimanfaatkan Rendra untuk menanyakan sesuatu tentang kakaknya.
" Kak.... Rendra mau tanya."
" Tanya apa?"
" Semenjak kerja di kantor, mbak Biqha sering banget teleponan sampe malam. Rendra curiga.... mbak Biqha kayaknya lagi deket sama cowok deh...."
Rendra mulai meluahkan uneg-unegnya pada Erick, yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri.
" Oh...ya?"
Rendra mengangguk cepat menanggapinya.
" Kira-kira kak Erick tau gak siapa orangnya?"
Pertanyaan Rendra membuat Erick mengerutkan keningnya. Erick langsung terpikir satu sosok yang dinilainya cukup dekat di kantor dengan Biqha, yaitu Fajar. Yang menurutnya juga memiliki perhatian lebih pada Biqha. Hal itu juga diperkuat dengan pernyataan rekan kerja yang lain, yang suka menggoda mereka.
' Apa Biqha benaran deket sama Fajar ya? '
Gumam Erick dalam hatinya. Setelah itu kembali bertanya pada Rendra.
" Kenapa kamu nanya itu ke kakak?"
" Ya... Kenapa kamu gak tanya langsung aja sama mbak kamu?" tanya Erick lagi.
" Rendra udah pernah tanya. Tapi mbak Biqha gak mau jawab. Malah bilang ' Anak kecil, kepo aja sama urusan orang dewasa.' gitu. Nyebelin.... "
Kini giliran Rendra yang memperagakan cara Biqha bicara. Dan Erick tersenyum lucu melihatnya.
" Mbak Biqha selalu anggap Rendra anak kecil. Padahal kan Rendra udah mau 20 tahun."
" Emangnya kenapa kalo kakak kamu deket sama cowok? Mbak kamu itu kan udah dewasa, udah waktunya juga dia punya pasangan. Emang kamu mau dia sendiri terus?!"
" Bukan gitu kak.... Rendra cuma khawatir. Secara fisik mbak Biqha itu cantik. Tapi dia punya kekurangan. Rendra takut kekurangannya itu buat dia cuma dimainin doang sama cowok."
Penjelasan Rendra membuat Erick terdiam. Dia paham kekhawatiran Rendra.
" Rendra ingat pesen ibu. Ibu bilang walau Rendra lebih muda, tapi Rendra ini laki-laki. Suatu saat Rendra yang akan jadi wali untuk mbak Biqha. Jadi Rendra harus bisa jagain mbak Biqha dari laki-laki, yang mungkin bisa nyakitin mbak Biqha nanti. Biar gimana pun, mbak Biqha tetep tanggung jawab Rendra juga. Kami cuma tinggal berdua sekarang. "
Penjelasan Rendra membuat Erick merasa terenyuh. Berempati sekaligus kagum dengan pemikiran dewasa pria muda dihadapannya itu.
" Rendra gak mau melepas mbak Biqha sama laki-laki sembarangan kak. Rendra pengen mbak Biqha dapatin laki-laki yang baik. Yang tulus dan bertanggung jawab. "
Erick semakin terenyuh mendengar penuturan Rendra. Dia begitu mengkhawatirkan masa depan kakaknya. Erick semakin kagum dengan perhatian dan keperdulian antara kakak beradik itu. Hati Erick menjadi hangat melihat kasih sayang diantara mereka.
" Kamu jangan khawatir. Mbak kamu itu udah dewasa. Dia pasti bisa memilah, mana yang baik dan buruk untuknya. Dan sejauh yang kakak tau, mbak kamu itu wanita yang berprinsip. Dia juga bukan tipe cewek yang selalu bertindak dengan perasaan tanpa berpikir logika. Kalau dia kayak cewek-cewek lain, mungkin dia udah pacaran dari dulu. "
Erick berusaha menenangkan hati Rendra dari kekhawatiran yang berlebihan. Erick mengerti beban yang dipikul Rendra. Tapi Biqha juga berhak menjalani hidup dengan pilihan hatinya.
" Kamu inget kan... temen kakak dulu?! Gimana dia berjuang keras demi dapatin hati mbak kamu. Tapi apa....? Mbak kamu tetep berpegang teguh sama prinsipnya kan?! Jadi kamu gak usah khawatir berlebihan. Mbak kamu itu perempuan cerdas. "
Erick meyakinkan Rendra untuk tidak mengkhawatirkan kakaknya lagi. Karena kakaknya pasti bisa menjaga diri dengan baik.
Nasi goreng pesanan mereka pun sudah siap. Setelah itu mereka langsung melaju ke kontrakkan.
__ADS_1
Sampai didepan kontrakkan, tak lama pintu rumah langsung terbuka. Ternyata Biqha sudah menunggu mereka. Begitu sorot lampu dari motor mereka terlihat, Biqha langsung membuka pintu.
" Ehrhik...?" (Erick)
Biqha kaget melihat Erick bersama adiknya. Kemudian beralih menatap tajam pada sang adik. Sementara Rendra tersenyum lebar sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, sebagai kode untuk berdamai dengan sang kakak. Erick yang melihat hal itu langsung bertindak, mengantisipasi pertengkaran antara mereka.
" Jangan marahin dia...! Gue yang minta kesini, karna gue ada perlu sama lo."
Biqha mengerutkan keningnya, dengan penjelasan Erick barusan.
" Pherlhu happha? Khenhapha ghakh homhong dhikhanthor hadjha?" ( Perlu apa? Kenapa gak ngomong dikantor aja?)
" Disuruh duduk dulu kali mbak.... Duduk kak...!" ucap Rendra menyindir sang kakak.
Erick pun melangkah mendekati kursi diteras rumah mereka. Kemudian duduk disana.
" Nih nasi gorengnya. Kak Erick loh yang beli'in....."
Ucap Rendra bangga, sambil memberikan kantong plastik berisi tiga bungkus nasi goreng pada Biqha. Biqha semakin keki pada sang adik.
" Kak ...... Rendra tinggal mandi dulu sebentar ya....!"
Erick mengangguk sambil tersenyum pada Rendra. Kemudian Biqha ikut duduk di samping Erick.
" Hadha pherlhu hapha?" (ada perlu apa?)
" Gue mau minta tolong sama lo, untuk buatin kue ulang tahun dari kue jajanan pasar kayak yang dibuat ibu dulu. Kira-kira kamu bisa gak?" ucap Erick to the point.
" Tenang aja kak.... Mbak Biqha pasti bisa. Orang dulu mbak Biqha yang punya ide bikin kue-kue itu jadi cake cantik. Yang buat kuenya memang ibu, tapi yang nyusun kue itu jadi cake yang cantik..... ya mbak Biqha. "
Tiba-tiba Rendra kembali muncul dari balik pintu, dengan handuk yang bertengger dipundaknya. Setelah itu dia berlalu begitu saja.
" Jadi..... Kue yang waktu itu, lo yang buat?" Tanya Erick.
Biqha mengangguk dengan malas.
" Kok lo gak bilang, kalo itu buatan lo?" tanyanya lagi.
" Bhuat hapha? Hakhu bhukhan thukhang phamher khemhamphuan khayhak khamhu. " (Buat apa? Aku bukan tukang pamer kemampuan kayak kamu.)
" Enak aja, siapa yang tukang pamer? "
Erick sempat terpancing oleh kata-kata Biqha, namun seketika dia sadar. Dia sedang bertamu dirumah orang, tidak baik memancing keributan. Apalagi ini sudah cukup malam. Suara ribut mereka bisa menganggu tetangga disini, yang rumahnya bahkan berdempet-dempetan.
" So.... Lo bisa gak bantuin gue?"
" Hunthuk khaphan? " ( Untuk kapan?)
" Minggu ini. "
Biqha mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Erick tadi.
" Gue minta nomor handphone lo dong....! Jadi kalo kue itu udah selasai, gue bisa langsung komunikasi sama lo. Jadi gue gak perlu ngerepotin Rendra lagi. Kalo boleh.... Kalo gak, ya terpaksa gue ngerepotin Rendra lagi."
Biqha akhirnya memberi nomor ponselnya pada Erick. Meski dengan setengah hati. Kemudian suasana menjadi hening, Erick dan Biqha hanya terdiam. Situasi seperti ini membuat mereka canggung dan menjadi kikuk. Ini membuat Erick merasa tidak nyaman dan sedikit salah tingkah.
" Ini.... Nasi gorengnya mau di biarin begini aja nih...."
Ucap Erick berusaha memecah kecanggungan mereka. Sementara Biqha mengerutkan dahinya bingung dengan maksud perkataan Erick.
" Ambilin piring sama sendok kek.... Gimana sih...? Masak tamunya mau dibiarin makan pake tangan, tanpa alas? Gak peka banget jadi orang." ucap Erick kesal.
Bukan Biqha tidak peka. Namun Biqha tidak menyangka Erick akan ikut makan bersama mereka. Karena hari sudah malam, Biqha berpikir Erick akan segera pulang dan membawa nasi goreng bagiannya.
Dengan kesal, Biqha masuk kedalam untuk mengambil piring dan juga sendok. Tak lama kemudian Biqha kembali membawa nampan berisi 3 piring dan sendok, serta tiga gelas dan seceret air putih. Nyaris bersamaan dengan Rendra yang sudah terlihat lebih segar.
" Alhamdulillah..... Ternyata ngerti juga. Kirain bakal bawa piring sama sendok doang tadi. " ucap Erick kembali menyindir, membuat Biqha semakin cemberut.
Rendra hanya tersenyum melihat interaksi mereka. Tanpa banyak bicara, mereka pun makan bersama. Seperti biasa, terkadang diwarnai sedikit perdebatan antara Biqha dan Erick. Tapi hal itu justru membuat Rendra merasa bahagia.
__ADS_1
Sesekali Rendra memandang keduanya bergantian. Dia seperti kembali merasakan kehangatan keluarga yang utuh. Seperti kembali memiliki sosok ayah dan juga ibu, Dalam diri kakak laki-lakinya dan juga kakak perempuannya. Rendra sungguh merasa bahagia malam ini.