Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 30. Rencana pernikahan.


__ADS_3

" Surprise..... "


Yoga masih diam mematung, melihat Alina kini berada tepat di hadapannya. Membawa cake lengkap dengan lilin-lilin kecil yang menyala di atasnya.


Kemudian satu persatu orang yang dia kenal cukup dekat, mulai berdatangan dan mendekat. Kedua orang tua mereka, om dan tante, bahkan kedua kakak Alina yang tinggal di luar negeri pun turut hadir disana bersama istri dan suami mereka. Juga hadir beberapa kerabat dan juga rekan bisnis serta teman-teman terdekatnya.


Tepukan di bahu disertai ucapan selamat, dan pelukan dari salah seorang teman kuliah menyadarkannya. Semua bersorak kompak memintanya segera meniup lilin. Dengan sikap yang masih sedikit canggung, Yoga hendak meniup lilin di atas cake yang Alina bawa. Namun Alina menghentikkannya.


" Make a wish dulu.... " Ucap Alina dengan senyum bahagianya.


Saat Yoga hendak memejamkan matanya dan berdoa, beberapa kerabat dan temannya bersorak.


" Semoga Yoga dan Alina segera menikah tahun ini.... "


" Ammiiinnnnm...... "


Yoga langsung mendongakkan kepalanya, merasa tersentak dengan kalimat itu.


" Kalau itu udah pasti dong....! Mereka kan udah tunangan dari tahun lalu. "


" Ammiinnn.... " Jawab Alina dengan senyum sumringah.


Sementara Yoga hanya bisa terdiam. Dengan cepat Yoga memejamkan mata dan berdoa dalam hatinya.


' Ya Allah.... Aku hanya ingin menikah dengan wanita yang kucinta. Nabiqha Azzahra. Kabulkanlah ya Allah.... ! Amminnn.... '


Dengan segera Yoga meniup lilin, dengan harapan agar pesta kejutan ini segera berakhir. Karena Yoga merasa sesak di dadanya mendapatkan kejutan yang tidak sesuai dengan harapannya.


Setelah Yoga meniup lilin tersebut, Alina pun segera memeluknya erat sembari mengucapkan selamat. Tak lupa dia juga mencium mesra pipi Yoga, dan Yoga hanya bisa pasrah menerima perlakuan Alina. Namun pikirannya terus melayang memikirkan Biqha.


Di tengah keramaian dan meriahnya pesta kejutan ulang tahun yang Alina siapkan untuknya, Yoga justru terus merenung memikirkan Biqha. Dia merasa bersalah pada Biqha. Yoga sadar ini tidak benar, tapi ia tidak bisa membohongi hatinya.


Saat dia bersama dengan Biqha, dia tidak pernah sekalipun merasa bersalah ataupun memikirkan Alina. Tapi saat dia bersama Alina dia justru merasa bersalah pada Biqha. Itulah kenyataan yang dia rasakan di hatinya. Dia sudah melupakan rasa cintanya pada Alina, sejak dia bertemu kembali dengan Biqha. Dan dia tidak mampu mengendalikan perasaannya itu.


Yoga tidak banyak bicara dalam pesta itu. Setelah menyalami seluruh tamu yang hadir, termasuk orang tua dan keluarga Alina yang lain. Yoga hanya menanggapi seperlunya dan sesekali memaksakan diri tersenyum pada semua orang.


" Kok kamu melamun terus sih sayang.... Kamu gak suka ya sama pesta kejutannya? "


Alina yang memperhatikan sikap Yoga sedari tadi, akhirnya memberanikan diri bertanya sambil merangkul mesra lengan Yoga.


" Kenapa kamu gak bilang kalo kamu udah pulang? " Tanya Yoga dengan sedikit berbisik dan bernada ketus.


" Kalau aku bilang gak surprise dong jadinya. " Ucap Alina manja dengan menyandarkan kepalanya di pundak Yoga.


Duduk di meja bersama dengan beberapa teman membuat Yoga tidak bisa berkutik. Selain itu ada keluarganya dan juga keluarga Alina duduk di dekat mereka.


" Sayangnya.... Erick gak bisa gabung sama kita di sini sekarang. Sesibuk itu ya dia? sampe gak bisa nyempetin pulang sebentar buat menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya. "


" Iya ya.... Kalo ada Erick pasti rame, jadi tambah seru. "


Seru teman-teman yang merindukan kehadiran Erick di tengah-tengah mereka. Yoga hanya tersenyum, tidak berkata apapun untuk menanggapi perkataan teman-temannya.


" Emang bener ya Erick menetap di London sekarang Ga'? Terus rencana pernikahannya gimana? Kan dia udah lama juga tunangan, sebelum lo. Tapi sampe sekarang kita belum denger kabar pernikahannya? "


Tanya teman yang lainnya pada Yoga. Yoga masih membisu, dia sangat enggan menjawab pertanyaan mereka tentang Erick. Bukan hanya karena itu masalah privasi sahabatnya, tapi dia juga tidak boleh salah bicara karena ini menyangkut nama baik keluarga Atmadja, investor terbesar di perusahaannya.


" Erick masih disi.... "


Ucapan Alina terhenti, saat dengan cepat Yoga meremas pelan tangannya yang ada di lengan Yoga. Yoga melirik Alina dengan pandangan sinis. Tanpa bicara sepatah kata pun, Alina mengerti maksud tatapan dari Yoga. Alina baru teringat sesuatu dan menyadari kesalahannya.


Alina pun meminta maaf pada Yoga tanpa mengeluarkan suara, kemudian terdiam. Kemudian Yoga berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Kenapa kalian jadi membahas Erick di acara ulang tahunku? "

__ADS_1


" Memangnya kenapa Ga'? Kok lo ketus gitu ngomongnya? Kalian lagi musuhan ya? " Tanya seorang teman yang merasa aneh dengan sikap Yoga.


" Gak.... Gak sama sekali. Tadi pagi kita baru aja komunikasi dan dia ngucapin selamat buat gue. Gue juga udah dapat kiriman kado dari dia. "


" Oya...? "


Yoga menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan teman-temannya itu. Tak ingin bahasan ini menjadi lebih panjang lagi, Yoga pamit meninggalkan mereka dengan alasan ingin pergi ke toilet. Alina yang cemas dengan sikap dingin Yoga pun menyusulnya.


Menyadari kalau tunangannya mengikuti langkahnya ke arah toilet, Yoga segera berbalik.


" Kenapa kamu harus membuat acara seperti ini dan mengundang mereka segala sih? "


Yoga langsung meluapkan emosinya pada Alina dengan suara yang sedikit ditahan, agar tidak membuat keributan yang akan terdengar oleh orang-orang.


" Maaf sayang.... aku hanya ingin memberikan sesuatu yang spesial di hari ulang tahunmu. Aku pikir dengan mengundang temen-temen kamu, kamu bakalan tambah happy. "


Alina menjelaskan dengan mata yang memerah, karena melihat kilatan amarah di mata Yoga.


" Tadinya aku pikir mengundang Erick aja udah cukup, karena dia adalah sahabat terdekat kamu. Tapi Erick bilang dia gak bisa...."


" Ya jelas lah gak bisa. Kamu tau kan keadaannya? Erick gak mungkin mau menghadiri acara seperti ini. Dengan resiko bertemu orang-orang yang mengenalinya. "


Yoga dengan cepat menyanggah ucapan Alina.


" Maaf sayang.... Aku gak kepikiran soal itu. Aku cuma..... "


Yoga memalingkan wajahnya melihat Alina yang mulai berlinang. Dengan berkacak pinggang, Yoga menarik nafas panjang berusaha meredakan emosinya. Yang sesungguhnya tidak pantas dia lampiaskan pada Alina.


" Lagian kamu kenapa bisa ada disini? Bukannya seharusnya kamu masih di paris sekarang? " Tanya Yoga dengan nada suara yang lebih rendah.


" Kamu kenapa nanyanya begitu sih? Kamu kayak gak suka aku ada disini. Memangnya kamu gak kangen sama aku? "


Alina sudah tidak lagi bisa menahan perasaannya. Perasaan yang mengganjal karena perubahan sikap Yoga terhadapnya, sudah tidak bisa ia tutupi lagi.


" Kamu berubah Yoga.... Kenapa sih? Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu berubah sikap sama aku? Aku ada salah apa sama kamu? "


" Aku bela-belain batalin kontrak, supaya aku bisa bersama kamu di hari spesial kamu. Aku sengaja siapin ini semua buat kamu, tapi kamu gak hargai sama sekali. Kamu malah marah-marah sama aku, cuma gara-gara temen-temen kamu ngomongin soal Erick. Sebenernya salah aku dimana? "


Alina sudah tidak bisa menahan airmatanya untuk mengalir. Dan Yoga terdiam tidak mampu berkata apapun. Karena sesungguhnya Alina memang tidak bersalah, melainkan Yoga lah yang uring-uringan sendiri karena kegelisahan dihatinya. Membuat Yoga mencari-cari kesalahan Alina, hanya karena ingin menghindar.


" Saat aku di luar pun kamu gak pernah hubungi aku. Aku hubungi kamu pun, kamu jarang angkat. Sekalinya diangkat kamu juga acuh sama aku. Selalu buru-buru tutup telpon dengan alasan sibuk. Jawab aku jujur Ga'...! Sebenarnya ada apa? Kamu udah bosen sama aku? Perasaan kamu berubah sama aku sekarang? "


Airmata Alina semakin deras mengalir. Dan Yoga memalingkan wajahnya dari Alina. Karena sesungguhnya Yoga juga tidak tega melihat kesedihan dimata Alina. Tapi ini harus dia lakukan. Karena dia sudah tidak memiliki perasaan lagi terhadapnya. Yoga tidak mau semakin menyakiti Alina juga Biqha nantinya.


" Kenapa diam? Jawab aku Prayoga Hermawan !"


" Ada apa ini? Kalian bertengkar? "


Tiba-tiba ada suara lain masuk diantara perdebatan mereka. Membuat mereka sontak kaget melihat ke arah sumber suara. Dan Yoga semakin tidak bisa berkata-kata, saat melihat wanita yang telah melahirkannya ada disana. Mama Hani baru saja keluar dari Toilet, dan menyaksikan pertengkaran mereka.


" Mama..... "


Alina yang sudah tidak bisa menutupi kesedihannya, langsung berhambur ke pelukan mama Hani. Tangisnya pecah dalam pelukan calon mertuanya itu.


" Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar? "


Tanya mama Hani pada putranya. Namun Yoga hanya bisa memalingkan wajahnya. Dia tidak tau harus berkata apa di depan mamanya.


" Sayang udah ya..... Jangan nangis lagi. Biar mama yang bicara sama Yoga !"


Mama Hani membelai lembut punggung Alina yang bergetar karena terisak di pelukannya. Kemudian perlahan melepaskan pelukannya, dan menghapus airmata Alina.


" Lihat mata putri mama jadi sembab. Kamu tenangin diri dulu di dalam ya....! sambil perbaiki make up kamu. Jangan sampai ada yang lihat kalau kamu abis nangis. Apalagi kalau sampai keluarga kamu tau, bisa jadi masalah nanti. Ok?! "

__ADS_1


Bujuk mama Hani pada Alina, berhasil membuatnya sedikit tenang. Alina menuruti perkataan calon mertuanya itu, lalu masuk ke dalam toilet untuk membersihkan wajah dan memperbaiki make upnya. Meninggalkan Yoga dan mamanya disana.


" Apa-apaan ini sayang? Disana sedang berkumpul keluarga kita dan juga keluarga Alina, dan kalian bertengkar disini? Apa sebenarnya yang kalian ributkan? Kenapa Alina sampai menangis sesenggukkan begitu? "


Yoga semakin bingung, tidak tau harus berkata apa dicecar pertanyaan oleh mamanya.


" Sebenernya kamu ini kenapa sih? Bukannya kangen-kangenan sama calon istri yang udah dua bulan gak ketemu, malah bertengkar. Disaat seperti ini lagi.... Memangnya sebesar apa sih masalahnya sampe kamu gak bisa nahan emosi sebentar aja? "


Yoga semakin merasa terpojok. Terus menunduk dan berkali-kali memegang tengkuknya juga mengusap wajahnya dengan kasar.


" Kalo kamu gak mau jelasin, it's ok. Tapi yang pasti kamu harus baikan sama Alina secepatnya! Mama gak mau tau, kalian gak boleh terlihat sedang bertengkar di depan yang lainnya. Apalagi keluarga Alina. "


Ketegasan sang mama membuat Yoga semakin frustasi. Yoga merasa kepalanya serasa mau pecah. Dengan langkah lebar dan cepat Yoga memasuki toilet, untuk mendinginkan kepalanya.


Setelah membasuh wajahnya dengan air berkali-kali pun, Yoga tidak bisa menenangkan dirinya. Kepalanya terus berpikir dan berpikir, bagaimana caranya mengakhiri semua ini.


" Apa yang harus ku lakukan sekarang? "


Setelah berpikir cukup keras, akhirnya lagi-lagi Yoga terpaksa harus menunda keputusannya mengakhiri hubungan dengan Alina. Situasi dan kondisinya saat ini memang sangat tidak memungkinkan baginya.


Yoga keluar dari toilet dengan keadaan yang sudah cukup stabil. Meski berat, namun dia harus bisa menahan diri dan bersikap seolah semua baik-baik saja. Begitu pun dengan Alina.


Di depan semua orang mereka berusaha berlakon sebagai pasangan harmonis seperti biasanya. Alina bahkan terus menggandeng lengan Yoga, meski terkadang tatapannya kosong.


Setelah satu persatu tamu meninggalkan restoran itu, tinggallah kedua keluarga mereka disana. kedua orang tua mereka dan kakak-kakak Alina berkumpul bersama.


" Ini hadiah untuk kamu Yoga"


" Gak usah repot-repot tante...."


Mama Alina memberikan sebuah paperbag besar kepada Yoga.


" Gak repot kok. "


Yoga pun menerima pemberian dari orang tua Alina itu.


" Mumpung kita lagi ngumpul, lebih baik kita bahas sekarang saja pak Haris. " Ucap papa Adi memecah kesunyian.


" Ba... Bahas apa pa? " Tanya Yoga dengan sedikit bergetar, karena merasakan firasat yang tidak enak.


" Bahas apalagi? Ya pernikahan kalian. "


Ucapan sang ayah seolah sambaran petir bagi Yoga. Membuatnya tersentak, terdiam tidak bisa berpikir apapun lagi.


" Pe... Pernikahan? " Jawabnya gugup karena panik.


" Iya.... papa mama juga papi maminya Alin sepakat, akan menggelar pernikahan kalian pertengahan tahun ini. "


" Iya... Kalo mama sih pengennya sebelum lebaran malah. Tapi terlalu mepet jadinya kita sepakat setelahnya saja. Yang penting jangan sampe akhir tahun. "


Penuturan mama Hani membuat Yoga luruh, menunduk perlahan dengan sorot mata putus asa. Namun seketika dia melirik sinis pada Alina. Dan dibalas dengan tatapan dingin darinya. Namun dengan cepat Alina memalingkan wajah dari Yoga dan memaksakan diri tersenyum di depan semua.


" Tapi pa... ma... Yoga rasa, Yoga gak bisa menggelar pernikahan tahun ini. Karna Yoga masih sangat... "


" Sibuk? Kalau soal itu kamu gak perlu khawatir. Papa bisa menghandle beberapa proyek kamu, supaya kamu bisa sedikit leluasa."


Perkataan Yoga langsung dipatahkan oleh papanya.


" Iya, soal persiapan pernikahan kalian juga tidak perlu khawatir. Biar mami dan mama kamu yang urus semua. Kita juga kan punya rekanan vendor-vendor terbaik, jadi kalian tinggal tau beres." Tambah mami Alina.


" Iya sayang.... Kalian tinggal bilang kalian mau konsep pernikahan impian yang seperti apa, biar mama dan mami yang urus semuanya. "


" Kompak banget ya kedua besan ini? "

__ADS_1


" Kalau perlu kakak juga akan bantu nanti. Kalian tenang aja. By the way Selamat ya.... "


Ucap kedua kakak Alina. Dan Yoga benar-benar tidak bisa berkutik kali ini.


__ADS_2