
Sesampainya di rumah, Yoga langsung masuk ke kamarnya. Setelah selesai membersihkan diri dan memakai pakaian, Yoga membaringkan tubuhnya di ranjang. Kemudian dia meraih ponselnya yang berada diatas nakas samping ranjangnya. Memeriksa ponselnya, berharap sudah ada kabar dari Biqha.
Namun hasilnya masih nihil. Yoga menarik nafas panjang, sembari menjatuhkan tangan kanannya yang memegang ponsel. Kemudian melempar ponselnya kesamping. Yoga berbaring dengan resah dan gelisah menunggu kabar dari Biqha.
Beberapa menit kemudian ponsel Yoga berdering. Dengan semangat dan senyum yang mengembang, Yoga segera meraih kembali ponselnya. Lalu secepat kilat memutar tubuhnya yang tadinya telentang, kini berubah posisi jadi tengkurap dengan sikut lengannya menjadi tumpuan.
Namun senyum yang terukir di wajahnya seketika lenyap, saat dia melihat panggilan di ponselnya. Panggilan itu dengan nama kontak Alina, bukan atas nama ' My B ' seperti yang dia harapkan. Dengan lemas dia kembali melempar ponselnya ke samping, kemudian meraih bantal dan menenggelamkan kepalanya.
Yoga membiarkan saja ponselnya sampai berhenti berdering. Tak berselang lama, terdengar suara panggilan lagi dari ponselnya. Yoga mengangkat kepalanya melirik ke arah ponsel di sebelahnya. Disana masih terpampang nama dan foto cantik Alina. Yoga mendesah kesal. Dia merasa benar-benar malas meladeni Alina saat ini.
Pikirannya sedang risau menanti kabar dari Biqha. Kalau dia paksakan mengangkat panggilan dari Alina, yang ada dia tidak akan bisa mengendalikan emosinya. Bisa-bisa Alina malah jadi sasaran amarahnya.
Waktu terus berjalan. Adzan magrib pun sudah berlalu beberapa menit yang lalu. Namun belum ada kabar apapun dari Biqha. Yoga semakin gelisah, karena ini sudah melewati waktu yang Biqha janjikan tadi. Biqha berjanji padanya akan pulang dan sampai di rumah sebelum magrib.
Yoga meraih ponselnya. Dengan segera melakukan panggilan video ke nomor kontak Biqha. Sampai nada sambung berakhir, Biqha tidak menjawab panggilannya. Sekali lagi Yoga mencoba menghubungi Biqha, namun hasilnya tetap sama.
Tak mau menunggu lagi, Yoga segera bergegas mengganti celana pendeknya dengan jeans panjang dan memakai sepatu sneaker. Lalu meraih jaket tanpa mengganti kaos yang dia pakai tadi. Setelah itu, ia langsung berhambur keluar.
" Sayang kamu mau kemana? " Tanya mama Hani melihat anaknya menenteng jaket, dan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
" Yoga ada urusan ma. Yoga pergi dulu ya...! "
Ucap Yoga sembari mencium pipi mamanya, dan segera berlalu dengan langkah setengah berlari menuju garasi.Tanpa menghiraukan teriakan sang mama, yang memintanya makan malam bersama terlebih dahulu.
Sampai di garasi dia langsung menunggangi motor yang dia beli tiga bulan lalu. Yoga pun segera melajukan motornya, menyusuri jalan ke arah kontrakan Biqha.
Sesampainya di kontrakan Biqha, Yoga langsung memarkirkan motornya di depan kontrakkan. Dilihatnya lampu di rumah Biqha menyala, baik di dalam juga bagian luar. Itu berarti Biqha sudah pulang. Yoga merasa lega melihatnya.
' Syukurlah... Dia sudah pulang. Tapi kenapa dia gak langsung menghubungiku? Kenapa dia gak kasih kabar ke aku, kalau dia sudah pulang. '
Tanya Yoga dalam hatinya, sembari melepas helmnya dan segera turun dari motornya.
Sampai di depan pintu kontrakan Biqha, Yoga langsung memencet bel yang ada di samping pintu kontrakkannya. Beberapa detik Yoga menunggu, belum ada pergerakkan apapun dari dalam. Yoga kembali memencet bel. Namun hampir beberapa menit berlalu, belum juga ada suara apapun dari dalam.
' Apa Biqha belum pulang ya? Tapi semua lampu di rumah ini menyala. Gak mungkin kan Biqha ngebiarin lampu rumahnya menyala dari pagi tadi? '
Gumam Yoga dalam hatinya lagi. Yoga tidak mau menyerah, dia mencoba memencet kembali bel rumah itu. Dan beberapa detik kemudian pintu itu pun terbuka.
Di balik pintu itu muncul bidadari, yang dinanti Yoga sedari tadi dengan senyum manisnya. Senyum manis yang selalu menghipnotis Yoga. Menghapus segala kegundahan di hatinya. Mengubah wajah suramnya menjadi berseri-seri.
" Dhakh hakhu dhugha, phasthi khammhuh. " ( Dah aku duga, pasti kamu.)
Biqha tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.
" Karna itu kamu sengaja lama bukain pintunya? "
Rajuk Yoga, yang setelah itu melangkah ke samping. Lalu duduk di kursi depan kontrakan Biqha. Biqha pun mengikutinya duduk di kursi sebelahnya.
" Mhahaf..... Bhukhan bheghithu. Thadhi hakhu lhaghi dhi khamhar mhandhi. " ( Maaf.... Bukan begitu. Tadi aku lagi di kamar mandi.)
" Terus kenapa kamu gak angkat telpon aku tadi? Jangan- jangan kamu baru pulang ya? karena keasikan jalan sama temen baru kamu itu. "
__ADS_1
Tanya Yoga dengan bibir yang sedikit mengerucut. Persis seperti seorang anak yang sedang merajuk. Sementara Biqha justru menatapnya dengan senyum lucu. Merasa ada nada kecemburuan diucapan Yoga.
" Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu? "
Tanya Yoga melihat reaksi Biqha, yang justru malah tersenyum menatapnya. Yang kemudian di jawab gelengan kepala oleh Biqha.
" Mhahaf.... Thadhi hakhu shamphai rhumhah phas mhaghrhib. Jhadhi hakhu ghakh shemphet khabharhi khammhuh dhulhu. Bheghithu shelheshai sholhat, hakhu bharhu thahu khammhuh thelphon. Thaphi whakhthu hakhu thelphon bhalhik, khammhuh mhalhah ghakh hangkhat. Hakhu dhughanyha khammhuh phasthi nhujhuh kheshinnhih. Dhan thernyhatha bhenher.... khammhuh kheshinnhih. "
( Maaf..... Tadi aku sampai rumah pas magrib. Jadi aku gak sempet kabari kamu dulu. Begitu selesai sholat, aku baru tau kamu telpon.Tapi waktu aku telpon balik, kamu malah gak angkat. Aku duganya kamu pasti nuju kesini. Dan ternyata bener........ kamu kesini.) Jelas Biqha.
Yoga mengambil ponsel dari saku celananya, dan memeriksa panggilan telpon dari Biqha. Ternyata benar, beberapa menit yang lalu Biqha menghubunginya. Karena dia sedang berada di jalan mengendarai motor sportnya, jadi dia tidak mendengar panggilan dari Biqha.
" Khammhuh dhakh mhakhan mhalham bhelhum? " ( kamu dah makan malam belum?)
Tanya Biqha yang khawatir. Menduga Yoga pasti belum makan. Mengingat kebiasaannya yang suka lupa makan, kalau sedang kepikiran suatu masalah.
" Belum. " Jawab Yoga lesu dengan menggelengkan kepalanya.
" Jhadhi mhahu mhakhan dhi lhuhar, hathau mhahu hakhu mhashkhin sheshuathu? " ( Jadi mau makan di luar, atau mau aku masakin sesuatu?)
Tanya Biqha lagi, yang membuat Yoga mengukir senyum tipis di bibirnya.
" Makan di luar aja yuk.....!
Jawab Yoga yang langsung di sambut anggukan kepala oleh Biqha.
Yoga memilih makan di luar, bukan karena tidak suka masakan Biqha. Baginya masakan Biqha adalah masakan terenak di dunia. Namun dia tidak suka kalau harus bengong sendirian di luar, saat menunggu Biqha selesai memasak makanan untuknya. Yang ada dia malah di godain, sama cewek-cewek yang lewat sekitaran kontrakkan Biqha.
Dengan sikap yang romantis seperti biasanya, Yoga menarikkan kursi untuk Biqha duduk. Baru setelahnya dia duduk di hadapan Biqha. Kemudian Yoga memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Setelah itu, Yoga baru membuka pembicaraan, yang sedari tadi sudah ingin menyeruak.
" Jadi sebenarnya tadi kamu ada urusan apa sama si Fajar itu? Sampe harus pergi berduaan sama dia? " Tanya Yoga to the poin.
" Thadhi mhas Fhajhar hajhakh hakhu khethemhuh shamhah mhamha dhan thanthenyhah dhi chafhe. " ( Tadi mas Fajar ajak aku ketemu sama mama dan tantenya di cafe.)
Jelas Biqha yang membuat Yoga membulatkan matanya, dan dengan cepat langsung memotong perkataan Biqha.
" Hah.... Ketemu mama dan tantenya? Ngapain? "
Tanya Yoga yang semakin tidak bisa mengendalikan emosinya. Merasa seperti kecolongan start duluan oleh rival barunya itu.
" Jhanghan shalhah phakham dhulhu. Hakhu khan bhelhum shelheshai nghommhong. " ( Jangan salah paham dulu. Aku kan belum selesai ngomong.)
Sanggah Biqha yang seolah paham dengan apa yang dipikirkan Yoga.
" Whikhen hinnhih, dhi rhumhah mhash Fhajhar hadhah hacharha harhishan khelhuargha. Jhadhi mhamhanyhah mhahu pheshen khuweh shamha hakhu. " ( Week end ini, di rumah mas Fajar ada acara arisan keluarga. Jadi mamanya mau pesen kue sama aku.)
Jelas Biqha lagi, membuat Yoga terdiam. Tapi masih belum cukup menghapus rasa curiganya terhadap Fajar.
Apalagi dengan panggilan yang menurut Yoga cukup mesra itu, yang Biqha sematkan pada nama Fajar. Dia yakin akan membuat Fajar semakin terpesona oleh Biqha.
Walaupun dia tau alasan Biqha memanggil Fajar dengan sebutan mas, hanya karena Fajar lebih dewasa darinya. Tidak seperti denganya yang hanya selisih 1 tahun, Fajar 3 tahun lebih dewasa dari Biqha. Dia juga seniornya, sehingga Biqha merasa canggung bila harus memanggil nama saja.
__ADS_1
" Kok dia tau kamu bisa buat kue? Emang kamu masih jualan kue sampe sekarang? "
Tanya Yoga penasaran.
" Shebhenhernyhah shih ghakh.... Thaphih khadhang mhashih hadha yhang shukha pheshen. Khalhau hadha hacharha, mhintha tholhong bhuhathin khuweh ghithu. Ghakh enhak khalhau dhitholhak. Jhadhi yhah hudhah hakhu bhuhathin. " ( Sebenernya sih gak..... Tapi kadang masih ada yang suka pesen. Kalau ada acara, minta tolong buatin kue gitu. Gak enak kalau ditolak. Jadi ya udah aku buatin.) Jawabnya.
" Whakthu ihthu, hakhu phernhah bhawhahin bhebherhaphah khuwheh khe khanthor hunthuk mherhekha. Kharhenhah hakhu bhuhatnyhah khelhebhikhan. Bhukhan chumha mhas Fhajhar khokh, thaphih hakhu jhugha bhawhahin hunthuk yhang lhahin. Thermhashuk hunthuk bhukh Dhihannhah. " ( Waktu itu, aku pernah bawain beberapa kue ke kantor untuk mereka. Karena aku buatnya kelebihan. Bukan cuma mas Fajar aja kok, tapi juga bawain untuk yang lain. Termasuk bu Diana.)
Tutur Biqha lagi menjelaskan, agar Yoga tidak salah paham dengan kedekatan dirinya dan rekannya Fajar.
" Kok aku gak kamu bawain Bi ? Kan aku juga mau....... Aku juga kan kangen sama kue buatan kamu. "
Rajuk Yoga lagi pada Biqha. Membuat Biqha tersenyum lucu melihat ekspresi Yoga yang menggemaskan.
" Ghimhannhah charhanyha hakhu bhawhahin khuwheh bhuhat khammhuh? Khithah khan ghakh bholheh khelhihathan bherhubhunghan dhi khanthor... " (Gimana caranya aku bawain kue buat kamu? Kita kan gak boleh keliatan berhubungan di kantor.....) Jelas Biqha lagi.
Yoga pun terdiam memikirkan perkataan Biqha. Sebenarnya dia juga sudah lelah dengan keadaan seperti itu. Dia ingin secepatnya terang-terangan, bahkan di kantor sekalipun. Dia ingin memberi kejelasan status hubungan mereka, agar tidak ada lagi ruang untuk lelaki lain mendekati Biqha.
Seperti apa yang telah Fajar lakukan, mencari-cari kesempatan untuk bisa dekat dengan Biqha. Begitulah pemikiran Yoga.
Saat makanan telah tiba, lagi-lagi Yoga menunjukan sikap manisnya pada Biqha. Dia memotong-motongkan tenderloin steak itu untuk Biqha. Setelah itu, baru ia menyantap bagiannya.
Sejenak mereka menjeda perbincangan diantara mereka, untuk menikmati hidangan yang tersaji di meja. Mereka menyantap makan malamnya dengan hati yang bahagia. Terlebih Biqha yang berbunga-bunga dengan perhatian yang diberikan Yoga.
Setelah selesai makan malam, Yoga kembali memulai pembicaraan dengan memasang mode serius di wajahnya.
" Bi..... Bisa gak kamu jangan terlalu deket sama si Fajar itu?! "
Pertanyaan yang berbau permohonan itu, akhirnya tercetus dari mulut Yoga. Membuat Biqha secara spontan menaikkan kedua alisnya.
" Therlhalhu dhekhet ghimhannhah? " ( Terlalu deket gimana? ) Tanya Biqha menanggapi pertanyaan dari Yoga.
" Ya... Gitu. Makan siang selalu bareng sama dia. Tadi juga kamu pulang dibonceng sama dia. Sampe dikenalin sama keluarganya segala. " Tutur Yoga dengan wajah cemberutnya.
" Hakhu mhakhan shihang ghakh chumha shamha dhiah khok.... Shamhah yhang lhahin jhugha. Khalhau shohal khelhuarghanyhah khan thadhi hakhu dhah jhelhashin. " ( Aku makan siang gak cuma sama dia kok..... Sama yang lain juga. Kalau soal keluarganya kan tadi aku dah jelasin.) Jelas Biqha selanjutnya.
" Iya.... Tapi dia yang selalu duduk di dekat kamu kan? Aku juga pernah liat dia berusaha bersihkan rok kamu yang ketumpahan minuman. Keliatan banget dia caper sama kamu. "
Ucap Yoga dengan mimik wajah yang semakin kesal karena cemburu. Sementara Biqha sedikit kaget mendengar Yoga mengetahui kejadian itu. Bahkan dia tau persis kalau Fajar yang selalu duduk di sampingnya.
" Soal pesenan kue itu juga pasti rencananya buat deket sama kamu. Modus banget. Apalagi sampe bawa kamu ke keluarganya. Padahal kan kalo mau pesen, bisa aja dia langsung bilang sama kamu di kantor. Gak perlu sampe bawa - bawa kamu nemuin mamanya segala. "
Terang Yoga dengan emosinya yang semakin terlihat. Biqha tersenyum tipis sembari menatap lembut pada Yoga.
" Ghakh bheghithu khok. Mhas Fhajhar jhugha thahunya bharhuh shorhe thadhi. Kharhenhah dhaphat chet dharhi mhamhanyhah, yhang bhilhang mhahu khethemhuh hakhu bhuhat pheshen khuweh. Khathannyah mhamhanyhah shukha bhanghet, shamhah khuweh yhang phernhah mhas Fhajhar bhawha phulhang whakthu hithu. " ( Gak begitu kok. Mas Fajar juga tahunya baru sore tadi. Karena dapat chat dari mamanya, yang bilang mau ketemu aku buat pesen kue. Katanya mamanya suka banget, sama kue yang pernah mas Fajar bawa pulang waktu itu. )
Biqha mencoba menjelaskan secara detail, agar Yoga tidak berpikiran buruk lagi pada Fajar.
" Khebhethulhan mherhekha lhaghi hadha dhi chafhe dhekhet khanthor. Jhadhi yhah hudhah... khitha khethemhuh dhi shannhah." ( Kebetulan mereka lagi ada di cafe deket kantor. Jadi ya udah... kita ketemu disana. )
* Bersambung dulu ya readers.....
__ADS_1
Jangan lupa jempolnya ya ! Thank U 💖