
Di dalam kamarnya, Erick duduk bersandar di atas kasurnya. Dia berpikir dengan sangat keras sambil tangannya terus bergerak memutar-mutar ponselnya. Erick merenungi kembali kata-kata Biqha siang tadi.
flashback ke beberapa jam sebelumnya.
Saat itu disela-sela makan siang mereka, Biqha yang sebelumnya berdiam diri menyaksikan kebisuan Erick, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
" Rhik.... bholheh hakhu thanyha sheshuhathu? "
Erick mengangkat kepalanya menatap Biqha dengan datar. Kemudian dia mengangguk kecil.
" Asalkan gak berkaitan dengan masalah pribadi. Gue gak mau bahas hal itu. "
Biqha kembali terdiam melihat tanggapan yang dingin dari Erick. Melihat Biqha tidak juga bersuara setelah Erick menjawab pertanyaanya, Erick bisa menduga kalau hal yang ingin Biqha tanyakan pasti berkaitan dengan masalah pribadinya.
" Sejak kapan lo jadi suka kepo sama masalah pribadi orang lain Bi ? "
" Mhahaf. Hakhu ghak bhermhakshud bheghithu. Hakhu chumha shedhikhit khephikhirhan hajha. Shebherhapha phelhiknyha mhashalhah hantharha khamhu dhan hayhahmhu? Shamphai shethahun lhebhih bherlhalhu phun..... khalhian mhashih bhelhum bhisha bherdhamhai, dhan mhemhahafkhan shathu shamha lhain. "
( Maaf. Aku gak bermaksud begitu. Aku cuma sedikit kepikiran aja. Seberapa peliknya masalah antara kamu dan ayahmu? Sampai setahun lebih berlalu pun.... kalian masih belum bisa berdamai, dan memaafkan satu sama lain. )
Erick berusaha acuh dengan terus memakan makanannya.
" Apha khamhu thidhak inghin bherhushaha bherdhamhai dhenghan hayhahmhu? " ( Apa kamu tidak ingin berusaha berdamai dengan ayahmu? )
Erick menarik nafas panjang, setelah itu meletakkan sendoknya ke atas piring.
" Lo pikir gue seneng kayak gini? Gue juga gak mau kayak gini Bi. Tapi gue gak punya pilihan lain. "
Erick menarik nafas karna kesal, sambil menyandarkan tubuhnya dengan lemah pada kursi yang ia duduki.
" Dia bahkan gak mau menganggap gue sebagai anaknya lagi. Dia udah mencabut semua hak gue sebagai bagian dari keluarganya. Dia lebih mempercayai orang lain daripada putranya sendiri, darah dagingnya. "
Lama semakin lama, suara Erick semakin terdengar lemah dan mulai bergetar. Meski Biqha tidak bisa mendengar, tapi dia bisa melihat hal itu dari getaran dibibirnya. Sorot mata Erick kian sendu dan menunduk. Saat matanya mulai memerah dan terasa panas, Erick langsung memalingkan wajahnya dari Biqha.
Erick tidak ingin terlihat lemah, apalagi itu di depan Biqha. Namun seberapa keras dia mencoba menutupinya, Biqha bisa melihat kesedihan dimatanya itu. Untuk pertama kalinya Biqha melihat sosok Erick yang rapuh.
Beberapa kali Erick menarik nafas panjang agar bisa mengontrol emosi dan perasaannya. Setelah dirasa cukup tenang dia kembali beralih pada Biqha, namun dia tidak mau menatap langsung wajahnya.
" Sudahlah lupakan. Cepat selesaikan makanmu ! Agar kita bisa segera kembali ke kantor. "
Erick bicara dengan formal dan tegas. Bersikap seperti seorang atasan pada bawahan, agar Biqha berhenti membahas tentangnya.
__ADS_1
" Jhujhurlhah Rhick....! Khamhu mhenchemhaskhan khehadhahan hayhahmhu khan?" ( Jujurlah Rick...! Kamu mencemaskan keadaan ayahmu kan?! )
Erick kembali menarik nafas kesal dan memalingkan wajah dari Biqha, karena gadis itu tidak mau berhenti membahas masalahnya. Sedetik kemudian dia kembali menghadap Biqha, namun Erick masih enggan menatap wajahnya.
" Kumohon Bi..... Saat ini emosiku sedang tidak stabil. Jadi jangan mengatakan hal-hal yang bisa memancing kemarahanku. "
" Hakhu thahu. Kharnha hithu dharhi thadhi khamhu dhiam. Thaphi hakhu jhugha bhisha mhelhihat dhenghan jhelhas, khalhau khamhu dhiam bhukhan hanyha kharhenha emhoshi. Thaphi jhugha kharhenha khamhu chemhas mhemhikhirkhan khondhishi hayhahmhu khan?! "
( Aku tau. Karna itu dari tadi kamu diam. Tapi aku juga bisa melihat dengan jelas, kalau kamu diam bukan hanya karena emosi. Tapi juga karena kamu cemas memikirkan kondisi ayahmu kan?! )
" Berhenti sok tau Biqha ! "
Emosi Erick mulai terpancing. Tidak hanya suaranya yang meninggi, tatapan tajam juga ia tujukan pada Biqha. Membuat Biqha tersentak seketika. Sejenak Biqha terdiam. Namun setelah itu Biqha kembali bicara. Bukan karena dia tidak perduli dengan kemarahan Erick, dia hanya tidak ingin Erick terus gelisah memikirkan kesehatan sang ayah.
" Hakhu mhelhihatnyha dhenghan shanghat jhelhas. Ekhspreshimhu bherhubhah, shahat mhendhenghar khabhar thenthang hayhahmhu yhang shemphat dhirhawhat. Mhulhutmhu bhisha mhengingkharhinyha Rhik, thaphi mhathamhu ghak bhisha bhohong. "
( Aku melihatnya dengan sangat jelas. Ekspresimu berubah, saat mendengar kabar tentang ayahmu yang sempat dirawat. Mulutmu bisa mengingkarinya Rick, tapi matamu gak bisa bohong. )
Erick kembali membuang wajahnya kesamping menghindari tatapan Biqha. Kesal, marah, namun juga haru direlung hatinya, membuat Erick tidak bisa membantah ucapan Biqha. Dia hanya mampu menarik nafas dalam-dalam beberapa kali untuk mengendalikan perasaannya.
" Rhik.... Hakhu thahu khamhu ghak bhuthuh sharhan dharhikhu. Thaphi shebhaghai themhan, akhu hanyha inghin mhembherhimhu ghambharhan aghar khamhu bhisha mherhenhungkhannyha. Jhanghan shamphai khamhu mherhashakhan phenyheshalhan mhendhalham nhanthinyha. "
( Rick... Aku tau kamu gak butuh saran dariku. Tapi sebagai teman, aku hanya ingin memberimu gambaran agar kamu bisa merenungkannya. Jangan sampai kamu merasakan penyesalan mendalam nantinya.)
" Khitha ghak phernhah thahu bhathas ushia shesheorhang Rick..... Kharnha ihthu, mhanfhahatkhanlhah whakthu shebhahik mhungkihn, shelaghi khamhu mhashih phunyha kheshemphathan hithu. Khalhau khamhu mhenghewhwthirkhan hayhahmhu, ghak hadha shalhahnyha khamhu mhenjhenguknyha. Hathau shethidhaknyha hubhungi dhia, dhan thanyhakhan lhangshung khehadhahannyha. Hayhahmhu phasthi akhan shenhang mhendhengar shuarhamhu. "
( Kita gak pernah tau batas usia seseorang Rick.... Karna itu, manfaatkanlah waktu sebaik mungkin, selagi kamu masih punya kesempatan itu. Kalau kamu mengkhawatirkan ayahmu, gak ada salahnya kamu menjenguknya. Atau setidaknya hubungi dia, dan tanyakan langsung keadaannya. Ayahmu pasti akan senang mendengar suaramu. )
" Lo gak kenal siapa papa gue Bi.... Dia adalah manusia berhati batu. "
Meski ucapan dari mulutnya sangat pedas, namun bibirnya bergetar dan matanya memerah saat mengucapkannya. Biqha menatap Erick dengan mata yang berkaca-kaca. Dia merasa sorot mata Erick yang memerah mengisyaratkan kesedihan dan kerinduan yang mendalam. Biqha merasa sangat prihatin pada hubungan ayah dan anak itu.
" Shekherhas-kherhasnyha hathi ohrhangthua, dhia phasthi mhemhilhikhi khashih shayhang yhang thulhus huntuhuk ahnhaknyha. Bhahkhan khemharhahannyha hithu phun mherhuphakhan bhenthuk dharhi khashih shayhangnyha. Chobhalhah huntuhuk mhembhukha khomhunhikhashi dhenghan hayhahmhu Rick....! Khalhau khalhian shamha-shamha bherkherhas hathi, dhan thidhak hadha yhang mhahu mhenchobha mhemhulhai khomhunhikhashi shertha mhengikhis jharhak dhiantharha khalhian. Mhahu shamphai khaphan? "
( Sekeras-kerasnya hati orangtua, dia pasti memiliki kasih sayang yang tulus untuk anaknya. Bahkan kemarahannya itu pun merupakan bentuk dari kasih sayangnya. Cobalah untuk membuka komunikasi dengan ayahmu Rick....! Kalau kalian sama-sama berkeras hati, dan tidak ada yang mau mencoba memulai komunikasi serta mengikis jarak diantara kalian. Mau sampai kapan?)
Erick masih tetap enggan menatap wajah Biqha. Dia membuang wajah ke samping, seolah tidak mau mendengar perkataan Biqha sama sekali.
" Shekharhang ushiha phaphamhu jhugha hudhah ghak mhudha lhaghi, kheshehathannyha jhugha hakhan mhenhurhun shehirhing bherthambhahnyha ushia. Bhelhihau hakhan shemhakhin rhentha Rhik, shihapha yhang hakhan mhenhophangnyha shahat dhia shudhah thidhak mhamphu bherdhirhi theghak lhaghi? Khamhu shathu-shathunyha phutrha yhang dhia mhilhikhi. Khamhu adhalhah thumphuhan harhaphannyha Rhik..... "
( Sekarang usia papamu juga udah gak muda lagi, kesehatannya juga akan menurun seiring bertambahnya usia. Beliau akan semakin renta Rick, siapa yang akan menopangnya saat dia sudah tidak mampu berdiri tegak lagi? Kamu satu-satunya putra yang dia miliki. Kamu adalah tumpuan harapannya Rick.... )
__ADS_1
Erick masih belum berkutik, namun kalimat-kalimat yang Biqha ucapkan mengusik hatinya hingga matanya berlinang. Tidak ingin Biqha melihat hal itu, Erick semakin memalingkan wajahnya ke belakang.
" Jhanghan shamphe nhanthi khamhu mhenyheshal shepherthikhu......" ( Jangan sampe nanti kamu menyesal sepertiku.... )
Erick mengernyitkan dahinya mendengar kalimat terakhir Biqha, dengan suara yang melemah dan bergetar. Kemudian dia menggerakkan kepalanya kembali menghadap Biqha, menatapnya seolah bertanya.
" shejhak awhal mhashuk khulhiah, hakhu shudhah sherhing khalhi mhelhihat ibhu shepherthi mhenhahan rhasha shakhit. Whajhahnyha sherhing therlhihat phuchat. Thaphi shethihap khalhi khamhi mhenhanyhakhannyha, ibhu shelhalhu bhilhang khalhau dhia bhahik-bhahik hajha. Chumha shedhikhit lhelhah hathau phalhinghan chumha mhashuk hangin. Dhan shethelhah hithu, hakhu hakhan lhangshung pherchayha dhan hikhut mhengangghap hentheng rhasha shakhit yhang ibhu rhashain. "
( Sejak awal kuliah, aku sudah sering kali melihat ibu seperti menahan rasa sakit. Wajahnya sering terlihat pucat. Tapi setiap kali kami menanyakannya, ibu selalu bilang kalau dia baik-baik aja. Cuma sedikit lelah atau palingan cuma masuk angin. Dan setelah itu, aku akan langsung percaya dan ikut menganggap enteng rasa sakit yang ibu rasain. )
Biqha bercerita dengan sedikit terbata-bata, karena mulai terisak tangis kala mengenang ibunda tercinta.
" Ibhu ghak phernhah mhengelhuh phadha khamhi. Thaphi shebhaghai anhak therrhua, harhusnyha hakhu thahu khalhau ibhu shenghajha menhahan rhasha shakhitnyha dhemhi khamhi. Ibhu shudhah bherjhuang shanghat kherhas hunthuk khamhi. Thaphi hakhu jhustrhu shibhuk dhenghan urhushankhu shendhirhi. Hakhu therlhalhu shibhuk dhenghan nhilhai-nhilhaikhu, shamphai hakhu thidhak mhempherhathikhannyha. Rhendrha thidhak mhengherthi mhungkhin kharnha dhia mhshih shanghat bhelhia shahat hithu, thaphi hakhu..... Hakhu shudhah lhebhih dhewhasha, harhusnyha hakhu bhisha mhengherthi, iyha khan?! "
( Ibu gak pernah mengeluh pada kami. Tapi sebagai anak tertua, harusnya aku tau kalau ibu sengaja menahan rasa sakinya demi kami. Ibu sudah berjuang sangat keras untuk kami. Tapi aku justru sibuk dengan urusanku sendiri. Aku terlalu sibuk dengan nilai-nilaiku, sampai aku tidak memperhatikannya. Rendra tidak mengerti, mungkin karna dia masih sangat belia saat itu, tapi aku..... Aku sudah lebih dewasa, harusnya aku bisa mengerti, iya kan?! )
Cucuran airmata sudah tidak lagi bisa terbendung, isak tangis Biqha pun semakin menjadi. Erick pun semakin tidak bisa menahan kesedihannya, mendengar penyesalan yang Biqha rasakan. Saat airmata Erick menetes disudut matanya, dengan cepat Erick memalingkan wajahnya ke samping.
" Hakhu mhenyheshal Rick...... Shehandhainyha hakhu lhebhih phekha dhan lhebhih pherhathian phadha ibhu, mhungkhin khamhi bhisha mhenganthishiphashi phenyhakhitnyha lhebhih hawhal. Dhenghan bheghithu khamhi mhungkhin bhisha mhemhilhikhi whakthu lhebhih lhamha lhaghi dhenghannyha. "
( Aku menyesal Rick...... Seandainya aku lebih peka dan lebih perhatian pada ibu, mungkin kami bisa mengantisipasi penyakitnya lebih awal. Dengan begitu kami mungkin bisa memiliki waktu lebih lama lagi dengannya. )
Biqha menunduk dengan membungkam mulutnya sendiri, demi menahan isakkan tangisnya. Setelah beberapa detik terhanyut dalam kepedihan penyesalannya. Biqha kemudian menyeka sisa-sisa airmata di kedua sisi pipinya secara bergantian. Biqha menarik nafas panjang untuk melegakan sesak di dadanya.
" kharnha hithu Rick.... Khalhau khamhu mhenchemhaskhan khehadahan phaphamhu, jhanghan thungghu whakthu lhamha lhaghi hunthuk mhenhanyhakhan lhangshung khondhishinyha. Khalhau khamhu mherhindhukhan khelhuarghamhu, jhanghan rhaghu dhan shegherhalhah themhui mherhekha. Kharnha whakthu yhang bherlhalhu thidhak hakhan khembhalhi lhaghi Rick.... Khamhu phasthi hakhan mhenyheshal, shahat khamhu thidhak lhaghi mhemhilhikhi kheshemphathan hithu. "
( Karna itu Rick..... Kalau kamu mencemaskan keadaan papamu, jangan tunggu waktu lama lagi untuk menanyakan langsung kondisinya. Kalau kamu merindukan keluargamu, jangan ragu dan segeralah temui mereka. Karna waktu yang berlalu tidak akan kembali lagi Rick.... Kamu pasti akan menyesal, saat kamu tidak lagi memiliki kesempatan itu. )
Flashback off.
Airmata Erick kembali mengalir, mengingat dengan detail kalimat-kalimat nasehat dari Biqha. Setelah menyeka airmatanya, Erick menarik nafas dalam. Kemudian Erick mengangkat ponsel lamanya dan mencari nomor kontak sang ayah.
Sekali lagi Erick menarik nafas dalam, memantapkan tekad untuk menelepon papanya. Mempersiapkan hati dan jiwanya dengan baik. Karna dia tau, tanggapan yang akan dia terima, mungkin tidak akan sesuai dengan harapannya.
Saat panggilannya tersambung, sekejap Erick terpaku. Mulutnya mendadak menjadi kelu. Dia tidak menyangka kalau tidak butuh waktu lama, papanya mau menjawab panggilan telpon darinya. Namun ekspresi wajah Erick tiba-tiba berubah dingin. Entah apa yang di dengar Erick dari sebrang sana, namun ekspresi wajahnya jelas menggambarkan kalau tanggapan dari sang ayah memang tidak seperti yang dia harapkan.
" Assalamualaikum..... Maaf mengganggu waktu anda. Saya menelphon anda hanya ingin mengetahui kabar anda. Saya dengar kabar, kalau beberapa hari yang lalu anda sempat dirawat dirumah sakit. Syukurlah kalau anda sudah baik-baik saja sekarang. Saya harap ke depannya, anda akan lebih menjaga kesehatan anda. Dan tolong jangan terlalu perfeksionis. Anda memiliki banyak orang yang bisa anda andalkan dan percayai di perusahaan anda. Jadi jangan terlalu memforsir diri anda. Luangkanlah waktu untuk beristirahat sejenak. "
Erick terdiam sejenak mendengarkan tanggapan dari lawan bicaranya di sebrang sana. Tidak lama kemudian matanya memerah, dan rahangnya mengeras seketika.
" Maaf. Tapi anda salah paham. Saya tidak punya maksud apapun selain menanyakan kabar anda. Kalau anda tidak berkenan.... Saya benar-benar minta maaf. Saya tahu..... Saya tidak lagi memiliki hak untuk itu. Dan ini sudah melanggar kesepakatan kita. Tapi bagaimana pun.... saya adalah darah daging anda. Saya pasti akan mencemaskan keadaan anda, bila mendengar kabar buruk tentang anda. Sekali lagi maaf sudah mengganggu waktu anda. Assalamualaikum....."
__ADS_1
Erick memutuskan panggilan telphonnya dan melempar ponselnya ke kasur. Lalu dia memegang dahinya, kemudian perlahan tangannya turun menutupi matanya. Pundaknya bergetar dan tubuhnya perlahan semakin meringkuk. Erick terisak menangisi nasibnya dalam kesendirian.
Meski hasilnya tidak baik, dan Erick menjadi terluka kembali karena mengikuti saran dari Biqha. Namun Erick tidak menyesal sedikit pun. Karena dia lebih tidak ingin merasakan gambaran yang Biqha katakan. Erick tidak ingin menyesal.