Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 7. Kegalauan Yoga


__ADS_3

Di kantor.....


Yoga memanggil ketiga orang yang bertugas menyeleksi interview hari ini. Mereka duduk di sofa depan meja kerjanya.


" Apa masalahnya ? Kita sedang membutuhkan karyawan secepatnya untuk mengisi posisi yang di tinggalkan karyawan sebelumnya. Sebentar lagi akhir tahun, mereka akan kerepotan jika kita tidak segera mendapatkan karyawan pengganti. "


Yoga meminta kejelasan tentang hasil interview itu dengan tegas. Sorot matanya tajam menyalang pada mereka.


Ketiga orang tersebut saling pandang, kemudian salah satu dari mereka yaitu manager HRD memberanikan diri menjelaskan pendapat mereka.


" Maaf pak. Begini.... Menurut kami orang yang bapak rekomendasikan itu tidak sesuai dengan perusahaan kita. "


Yoga mengernyitkan keningnya mendengar penjelasan dari sang manager.


" Perusahaan kita adalah perusahaan besar, kita membutuhkan karyawan yang cakap dan cepat tanggap, juga bisa berkerja sama dengan baik dalam tim. " Sambungnya.


" Tidak sesuai bagaimana maksudnya? Dia lulusan terbaik jurusan akuntansi dari universitas nomor satu di negara ini. Apa menurut anda saya akan merekomendasikan seseorang dengan asal-asalan, begitu ? "


Yoga tidak terima dengan penjelasan sang manager.


" Maaf Bukan begitu maksud saya pak. Hanya saja... keadaannya yang..... "


Manager itu tidak melanjutkan kalimatnya melihat sorot mata Yoga yang semakin tidak mengenakkan. Kemudian dia melirik ke arah kedua temannya seolah meminta bantuan.


Lalu satu-satunya wanita yang berada disana mencoba untuk ikut menjelaskan.


" Maaf... Begini pak. Secara akademis dia memang yang terbaik dari semua kandidat yang ada. Namun... kondisinya yang seperti itu, dikhawatirkan justru akan menghambat kinerja tim. Karena karyawan lainnya pasti akan kesulitan berkomunikasi dengannya. "


Yoga menarik nafas mencoba menahan emosinya. Sebenarnya sejak awal dia tau apa yang menjadi alasan utama mereka keberatan dengan kehadiran Biqha di perusahaannya.


" Saya tau apa maksud anda. Tapi dia masih bisa berbicara. Dia tidak B**u. Dia hanya memiliki masalah pendengaran. Tapi dia bisa membaca gerak bibir dengan sangat baik. " Jawab Yoga geram.


" Lagi pula dia akan menempati posisi di divisi keuangan dan pembukuan. Bukan divisi Humas, Marketing atau divisi pengembangan yang mengharuskan dia berkomunikasi dengan banyak orang. " Sambung Yoga pada ketiga bawahannya.


" Kalian tidak bisa bersikap diskriminatif seperti itu. Apalagi pada seseorang yang potensial di bidangnya."


Mereka terdiam tidak bisa berkata apa-apa.


" Begini saja. Bukankah setiap karyawan baru akan menjalani masa percobaan selama tiga bulan? Kita lihat perkembangannya selama itu. Bila memang kinerja tim keuangan dan pembukuan menurun karena kehadirannya, kalian boleh mengambil tindakan terhadapnya."


Yang terpenting Biqha mendapatkan kesempatan terlebih dulu, begitulah pemikiran Yoga. Dia tidak mau Biqha mendapatkan penolakkan dari perusahaan yang dipimpinnya. Setelah selama tiga tahun ini, dia selalu mendapatkan penolakan.


Yoga yakin Biqha hanya perlu sebuah kesempatan. Jika dia sudah mendapatkan kesempatan itu, dia akan membuktikan sendiri bahwa dirinya mampu bersaing dan layak bergabung di perusahaannya.


Dengan begitu dia bisa kembali dekat dengan Biqha seperti dulu lagi.....


****


Siang ini, seperti biasa Biqha mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat kue.


Saat ini dia sedang memotong-motong kentang dan wortel, untuk isian pastel dan risol. Sementara untuk kue basah dia akan mulai membuatnya malam hari.


Pukul 15.00 Wib, Biqha mendapatkan sebuah pesan di ponselnya yang memberitahukan, bahwa dia diterima bekerja di perusahaan yang baru pagi tadi dia datangi.

__ADS_1


Ia terkejut melihatnya. Bagaimana bisa dia mendapatkan jawaban kerja secepat itu, sedangkan dia baru saja mengajukan lamaran dan langsung di interview pagi tadi.


' Apa ini karna Yoga? Ya..... pasti karna dia.' Ucap Biqha dalam hatinya.


Seketika itu, Biqha mengenggam ponsel dengan kedua tangan dan memeluknya di dada. Sambil melompat-lompat kegirangan.


Biqha berencana menelepon balik nomor itu untuk memastikan kabar gembira ini benar adanya. Dia bergegas mencari hijab instannya untuk melakukan panggilan video.


Karena kekurangan yang dia miliki, Biqha tidak bisa melakukan panggilan suara. Dia harus melakukan panggilan video untuk melihat lawan bicaranya agar bisa membaca gerak bibirnya.


Setelah memakai hijabnya dan merapikan penampilannya, Biqha dengan segera melakukan panggilan video pada nomor tersebut.


" Shelhammhat shorhe..... happhah bhenhar shayhah dhitheimmah bhekhedja dhi phehushahakhan handhah, mbhakh? " (Selamat sore.... Apa benar saya diterima bekerja di perusahaan anda, mbak? )


Ucap Biqha setelah melihat seorang wanita muda, yang ia perkirakan berusia sedikit lebih dewasa darinya.


Biqha sempat melihat keterkejutan dan ekspresi bingung lawan bicaranya. Karena itu dia mengulang ucapanya dengan perlahan, agar wanita di sebrang sana bisa memahami apa yang diucapkannya.


" Dengan mbak Nabiqha Azzahra? "


Tanya wanita itu dan langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Biqha.


" Iya mbak.... Benar. Perusahaan memutuskan untuk menerima anda bergabung dengan tim divisi keuangan dan pembukuan disini. Selamat ya mbak... Kami tunggu kehadiran mbak, untuk bergabung dengan perusahaan kami mulai bulan depan. Mulai senin nanti." Jelas wanita itu ramah.


" Thehimmah khashih hathas kheshemphathannyhah. Shayhah hakhan bhekhedjah dhenghan bhaikh dhan lhoyhal phadhah phehushahakhan." ( Terima kasih atas kesempatannyah. Saya akan bekerja dengan baik dan loyal pada perusahaan. )


Setelah mengakhiri panggilan video itu, Biqha kembali melompat-lompat kegirangan.


' Walaupun harus mengandalkan pengaruh besar seseorang tidak masalah lah. Yang penting sekarang aku memiliki kesempatan untuk bekerja dan membuktikan diri. Yah.... Aku harus bisa membuktikan pada semua kalau aku bisa, dan pantas mendapatkan pekerjaan ini. Aku harus bekerja dengan baik, aku gak boleh membuat Yoga malu. Karena dia pasti sudah mempertaruhkan reputasinya sebagai pimpinan perusahaan demi membantuku. Aku harus berterima kasih padanya. ' Ucap biqha di dalam hatinya menyemangati dirinya sendiri.


****


Yoga pulang kerumahnya setelah seharian bekerja di kantor. Di dalam rumah megah itu, kehadirannya langsung disambut hangat oleh sang mama.


" Putra mama udah pulang...."


" Iya ma... "


Yoga mendekati mamanya, memeluk dan mencium pipi mamanya dengan lembut.


" Gimana hari ini di kantor? Melelahkan sekali ya keliatannya."


" Lumayan ma.... "


Yoga menjatuhkan tubuhnya ke sofa yang ada di ruang keluarga itu. Kemudian dia melepaskan jas dan juga dasinya. Lalu membuka dua kancing teratas kemejanya, dan juga kancing yang ada di kedua pergelangan tanganya.


Mamanya pun meminta asisten rumahnya untuk segera membawakan minuman untuk putra tercinta. Kemudian ikut duduk di sebelah Yoga.


" Ga'...... Tadi Alina kesini. Dia bilang kamu sibuk banget. Sampe gak punya waktu sebentar aja buat makan siang bareng sama dia. Jangan gitu dong sayang... Kasihan kan dia. " Terang sang mama.


Yoga menarik nafas lelah, kemudian meminum teh yang baru saja dibawakan asisten di rumahnya itu.


" Dia udah bela-belain loh batalin kontraknya ke paris demi kamu. Dia juga rela mengorbankan karier modelingnya jika nanti sudah menjadi istri kamu sayang. Kamu luangkan waktu lah buat dia.... ya...!" Sambung sang mama lagi sambil mengelus lembut pundak putranya.

__ADS_1


" Iya ma.... Ini juga Yoga dah janji mau makan malam sama dia, buat ganti makan siang tadi." Jawab Yoga, lalu menyeruput tehnya lagi.


" Lagian dia datang gak bilang-bilang dulu sama Yoga. Yoga dah janji sama temen, gak bisa dong dibatalin gitu aja. " Jelasnya.


Kemudin hening sejenak.....


Yoga merenung memikirkan bagaimana kelanjutan hunbungannya dengan Alina ke depannya nanti.


Dua hari ini dia tidak memikirkan Alina sama sekali, setelah bertemu dengan Biqha. Ada sebersit rasa bersalah dihatinya pada Alina. Namun dia tidak bisa menutupi perasaannya, yang ternyata masih tersisa untuk Biqha.


Atau mungkin perasaannya sebenarnya memang hanya untuk Biqha. Dan selama ini, tanpa dia sadari dia hanya mencari pelarian. Karena putua asa kehilangan Biqha yang menghilang tanpa kabar.


Namun Yoga juga tidak bisa mengabaikan Alina begitu saja. Mereka sudah bertunangan. Meski awalnya mereka di jodohkan oleh kedua orang tua mereka, namun tidak ada paksaan dari orang tua mereka masing-masing untuk hubungan mereka selanjutnya.


Keputusan menerima perjodohannya dengan Alin, mutlak adalah keputusannya sendiri. Bahkan dia juga yang meminta bertunangan dengan Alina tahun lalu.


Sebulan yang lalu, Alina mendapat tawaran dari agency model ternama di Paris. Namun Yoga menentangnya, dan tanpa membantah Alina langsung menolak tawaran itu. Mengingat hal itu Yoga merasa bersalah. Sementara dirinya masih saja belum mau melepaskan masa lalunya bersama Biqha, Cinta pertamanya.


" Ga'...... Kok ngelamun? "


Panggilan sang mama disertai sentuhan lembut di tangannya berhasil membuyarkan lamunannya.


" Kenapa? Ada masalah? "


Tanya mama penasaran. Yoga tersenyum, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya.


" Sayang..... Kemarin mama ketemu mamanya Alin di acara peresmian pembukaan cabang salon kecantikannya temen mama. Disana kita sempet ngobrolin tentang kalian."


Mama Yoga mulai bercerita tentang kejadian kemarin. Ada firasat tidak mengenakkan dihati Yoga saat mendengarnya.


" Mamanya Alin bilang.... kalian kan udah hampir setahun bertunangan. Apa tidak sebaiknya kita segera membicarakan tahap selanjutnya untuk segera meresmikan hubungan kalian?!"


Deg.....


Jantung Yoga seakan berhenti berdetak sesaat. Wajahnya memucat.


Yoga dan Alina memang sudah hampir setahun bertunangan tapi Yoga sama sekali belum memikirkan pernikahan. Dulu sempat terpikir sepintas untuk meresmikan hubungannya dengan Alina tahun ini. Namun, semakin kesini dia malah ragu. Dan sekarang ditambah lagi kehadiran Biqha yang kembali mempengaruhi perasaannya.


" Mama juga sependapat dengan mamanya Alin. Kalian kan sudah cocok satu sama lain, jadi lebih baik disegerakan aja menikah. Biar mama bisa cepet punya cucu. "


Yoga sampai tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan mamanya. Dia membulatkan matanya menatap sang mama.


" Iya sayang..... Rumah ini terlalu besar, sunyi dan sepi. Kalau kalian segera menikah.... kan kalian bisa secepatnya kasih mama cucu. Jadi mama gak kan kesepian lagi deh dirumah."


Ucap mama begitu antusias, membuat kepala Yoga menjadi pusing.


Yoga hanya bisa memegang dan memijit-mijit kepalanya sendiri, mendengar harapan sang mama tentang kelanjutan hubungannya dengan Alin. Sementara saat ini hatinya sedang dilanda kegalauan.


Yoga memilih beranjak pergi ke kamarnya, untuk mandi dan mengistirahatkan tubuh serta otaknya sejenak. Dari pada harus menanggapi ocehan mamanya tentang pernikahan. Dan pengharapanya yang ingin segera memiliki cucu.


" Sayang.... Yoga...... Prayoga Hermawan. Kok pergi sih? Masa mama di cuekin gini. "


Panggil sang mama berulang-ulang, namun Yoga memilih berlalu tanpa menghiraukannya.

__ADS_1


__ADS_2