Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 53. Terlanjur mencinta


__ADS_3

Pagi hari ini dijalani Biqha seperti biasanya. Beres-beres, menyiapkan sarapan, dan setelah selesai sarapan bersama sang adik, dia pun pergi bekerja. Hanya perasaannya yang sedikit berbeda sekarang. Kalau dulu Biqha selalu berangkat bekerja dengan penuh semangat, belakangan Biqha ke kantor dengan perasaan yang diselimuti keresahan.


Sesampainya di kantor, Biqha langsung melakukan rutinitas seperti biasa. Begitu jam kerja dimulai, Biqha sibuk berkutat dengan berkas-berkas keuangan dan jurnal-jurnal pada layar komputer dihadapannya. Hingga jam makan siang tiba, Biqha bergegas merapikan meja kerjanya.


Saat sedang merapikan berkas-berkas di atas mejanya, Biqha merasa ada yang aneh di sekitarnya. Dia merasa rekan-rekannya melihat ke arahnya. Namun saat dia melihat ke arah mereka untuk memastikan, ternyata arah pandang mereka bukan tertuju padanya, melainkan pada sosok di belakang sisi kirinya.


Biqha menjadi cemas, mengingat dua hari lalu kejadian yang sama terjadi. Yoga berdiri disampingnya dan membuat heboh seisi ruangan tersebut.


' Apa mungkin Yoga datang lagi? Ya Allah.... Bantu hamba.....' gumamnya dalam hati.


Sebelum menoleh ke belakang sisi kirinya, Biqha bersiap dengan ponselnya. Berniat melakukan hal yang sama seperti kemarin. Meminta bantuan Erick, sebelum Yoga benar-benar nekat di depan seluruh karyawan disana.


Perlahan Biqha memutar tubuhnya. Dan benar saja, Yoga sudah berdiri disana. Namun dia tidak sendiri.


" Hai....."


Alina melambaikan tangannya pada Biqha dengan senyum mengembang di bibirnya. Belum selesai keterkejutan Biqha dengan kedatangannya, Alin membuat Biqha semakin mematung dengan sikapnya yang tiba-tiba memeluk Biqha dengan sangat akrab.


Biqha lantas memandang ke arah Yoga dengan bertanya-tanya. Sementara Yoga yang sejak tadi sudah menatap sendu kearahnya, kini semakin berkaca-kaca. Membuat Biqha kian cemas dan gelisah.


" Apa kabar Bi.....? "


Biqha hanya bisa menarik sedikit sudut bibirnya menanggapi pertanyaan Alin. Namun melihat Alin menyeka sudut matanya yang sedikit basah, setelah dia melepaskan pelukannya, membuat Biqha semakin bertanya-tanya dalam hatinya.


' Ya Allah.... Apa yang terjadi? Kenapa mbak Alin berlinang airmata? Apa mungkin Yoga......gak.....kalau Yoga mengatakan semuanya, mbak Alin harusnya menamparku bukan memelukku seperti tadi kan...?! '


Saat Biqha tengah kalut dalam benaknya, Erick keluar dari ruangannya.


" Kalian sudah disini ternyata.... "


Kehadiran Erick membuat Biqha sedikit lega. Namun kalimat yang Erick ucapkan membuatnya mengerutkan alisnya, karna semakin tidak mengerti dengan keadaan ini.


" Gue baru aja mau ajak Biqha nemuin kalian di atas."


Sambung Erick, membuat Biqha semakin menajamkan kerutan di pangkal alisnya.


" Kenapa kalian yang harus ke atas, kalau kita mau keluar. Ayo...."


Alina langsung menarik tangan Biqha. Biqha yang kebingungan, menatap Erick dengan bertanya-tanya. Erick pun langsung menanggapi menggunakan bahasa isyarat dengan menggerakan tangan dan jari jemarinya.


' Tidak apa-apa Bi... Ikuti saja ! Percayakan padaku. '


" Hei.... Apa itu? Kalian sedang berkomunikasi dengan bahasa isyarat? Kenapa tidak langsung bicara aja? Kalian memiliki rahasia yang tidak boleh kami ketahui ya....?! "


" Gak.... Biqha cuma kebingungan aja, karna lo tiba-tiba narik tangannya begitu Lin..... Karna gue belum sempat memberitaunya kalau kalian juga ingin mengajaknya makan siang bersama. "


" Oh.... Begitu. Jangan gunakan bahasa itu lagi di depanku ya..... Kecuali kalian mau mengajariku. Ayo.....!


Alina kembali meraih lengan Biqha dan langsung merangkulnya.


" Thungghu shebhenthar mbhak. Shayha bherheskhan hinhi dhulhu. " ( Tunggu sebentar mbak. Saya bereskan ini dulu. )


Biqha merapikan berkas-berkas di meja kerjanya. Sementara satu persatu karyawan yang ada disana mulai meninggalkan ruangan. Termasuk rekan-rekan kerja Biqha yang lain.


" Kalo gitu kita duluan ya Biqha..... " ucap fajar.


" Mhahaf yha.... Hakhu thidhak jhadhi hikhut khalhian. " (Maaf ya ..... Aku tidak jadi ikut kalian.)

__ADS_1


" Gak papa.... Kita ngerti kok. Kita duluan ya.....! Mari pak Yoga.... Pak Erick, mbak Alin...." sapa Desi dengan sangat ramah.


Selesai merapikan meja kerjanya, Biqha meraih tasnya dan bersiap pergi bersama Erick, Yoga dan juga Alina.


Suasana seperti beberapa waktu lalu terjadi kembali, mereka berjalan bersama dalam satu mobil. Di dalam mobil Biqha masih sangat canggung duduk di sebelah Alin. Sementara Erick dan Yoga memantau mereka dari balik center mirror.


Begitu mobil mulai melaju, Alina membuka pembicaraan dengan kembali meminta maaf pada Biqha dan juga Erick tentang kejadian waktu itu. Karna itu Yoga dan Alina mengajak mereka makan siang bersama hari ini, untuk menebus kesalahannya saat itu.


" Seneng deh rasanya kita bisa kayak begini lagi. Gimana kalo weekend nanti kita hang out bareng? Double date gitu....."


Biqha, Erick dan Yoga terkejut dengan ucapan Alina. Namun keterkejutan Yoga berbeda dengan Biqha dan Erick. Kalau Biqha dan Erick terkejut dan menjadi sedikit salah tingkah mendengarnya, Yoga justru emosi. Dia bahkan sampai meremas stir mobil hingga buku-buku jarinya memutih.


Sadar dengan reaksi Yoga yang menahan emosi, Erick mencoba menangani situasi dengan mengalihkan pembicaraan.


" By the way.... Kita mau lunch dimana nih? "


" Rick..... Jangan ngalihin pembicaraan deh. Serius nih? "


" Serius udah bubar kali...."


" Erick... Ih... Gak lucu. Sayang.... Kamu setuju kan kalo kita double date ama mereka? "


Alina mengalihkan pertanyaannya pada Yoga. Membuat Yoga semakin memalingkan wajah. Namun Erick bisa melihat Yoga menarik nafas dan rahangnya mengeras karena menahan emosi.


" Double date apaan sih Lin.... Orang gue sama Biqha gak punya pasangan juga. "


" Justru itu..... Lo sama Biqha kan jomblo, kenapa kalian gak coba PDKT aja. Kalian itu cocok tau.... kalian itu bisa jadi cute couple tau gak.... Iya kan sayang ?!"


Lagi-lagi Alina mengalihkan pertanyaan pada Yoga. Pertanyaan yang membuat hatinya panas, dan dia juga tidak akan mampu menjawabnya.


" wkwkw......Cute couple dari hongkong. "


" Kenapa gak? "


" Cukup Alin ! Jangan bercanda terus."


Peringatan dari Yoga terdengar lembut tapi juga terdengar tegas.


" Tapi aku serius...."


" Jangan menggoda mereka seperti ABG. Kita udah dewasa, jadi jangan memaksa untuk menjodohkan mereka. Lagipula itu gak mungkin terjadi..... "


Alina terdiam mendengar ucapan Yoga. Raut wajahnya yang semula cerah kini berubah mendung, dan dalam hatinya semakin bertanya-tanya tentang perubahan sikap Yoga kepadanya.


' Kamu cemburu..... itu artinya kamu masih mencintainya. Lalu kenapa kamu tiba-tiba bersikap baik lagi padaku? Kenapa? '


Sampai di restoran, mereka langsung memesan private room. Mereka duduk saling berhadapan, Alina duduk berdampingan dengan Yoga, dan Biqha berdampingan dengan Erick. Namun Biqha memilih duduk berhadapan dengan Alina. Mereka pun menikmati makan siang mereka bersama.


" Kamu tau Biqha..... Aku sangat senang hari ini. Tadi pagi..... Setelah sekian lama, akhirnya seorang prayoga hermawan menghubungiku lagi untuk pertama kalinya. Dia berkata dengan lembut, mengajakku bertemu dan makan siang bersama. Aku sangat terharu tadi, makanya..... aku sampai memelukmu. Kamu juga pasti melihatnya kan.....?! Aku sampai hampir menitikan airmata. Entah kenapa aku merasa.... Ini semua pasti karnamu Bi....."


Alina memegang tangan Biqha. Sementara Biqha menjadi semakin canggung, sedangkan kedua pria itu saling lirik.


" Shayha mbhak....? Hapha hubhunghannyha dhenghan shayha? " ( saya mbak...? Apa hubungannya dengan saya? )


Biqha yang salah tingkah melirik Yoga sekilas, lalu mengalihkan pandangannya pada Erick. Erick pun menarik sedikit sudut bibirnya sembari mengangguk pelan.


' Apa yang sebenarnya terjadi Rick? Apa kamu sudah bicara dengan Yoga dan berhasil mengubah pikirannya? Apa karna itu dia kembali bersikap manis pada mbak Alin? Apa benar Yoga sudah mau menerima dan mengerti semuanya? '

__ADS_1


Biqha bermonolog dalam hatinya seolah batinnya berkomunikasi langsung dengan Erick. Sementara Yoga sejak tadi tidak bersuara sedikit pun. Dia sibuk menyantap makanannya dengan tatapan kosong.


" Aku hanya berpikir..... Kalau kamu dan Erick sebagai sahabat terbaiknya, pasti sudah menasehati dia. "


" Thi....thidhak. Shayha mhanha mhungkhin mhelhakhukhannyha. Shayha thidhak mhelhakhukhan haphaphun mbhak. Mhungkhin hithu kharnha phak Yhogha shadhar thelhah mhelhakhukhan kheshalhahan shamha mbhak, dhan ihthu phasthi kharnha dhia shanghat mhenchinthai mbhak Halhin. "


( Ti... Tidak. Saya mana mungkin melakukannya. Saya tidak melakukan apapun mbak. Mungkin itu karna pak Yoga sadar telah melakukan kesalahan sama mbak, dan itu pasti karna dia sangat mencintai mbak Alin. )


" Benarkah ? Menurutmu begitu Bi ? "


Biqha hanya bisa tersenyum tipis dengan canggungnya, menanggapi pertanyaan Alina. Sementara Yoga menatap Biqha lekat dengan sorot mata yang sendu. Namun Biqha mengabaikan tatapannya.


Selesai menikmati makan siangnya, Alina pamit ke kamar kecil untuk membenahi makeup-nya. Tinggallah mereka bertiga disana. Suasana tiba-tiba serasa mencengkam bagi Biqha, setelah Yoga tiba-tiba menggeser posisi duduknya ke hadapan Biqha.


Karna memang inilah rencana Yoga. Dia tau betul kebiasaan Alina setelah selesai makan, dia akan pergi ke toilet. Dan Yoga memanfaatkan saat itu untuk bicara dengan Biqha. Karna Yoga juga tau Biqha tidak akan mau bicara lagi dengannya, itu sebabnya dia mengajak Alina. Agar dia punya kesempatan bicara dengan Biqha.


" Aku sudah mendengar soal pengunduran dirimu dari Erick. Bi...... Apa kamu sungguh ingin pergi dariku? "


Tanya Yoga dengan menghiba di depan Biqha.


" Ga, ayolah.....! Kita sudah bicarakan ini semalam. Dan lo udah janji..... "


" Rick please......! Tolong kasih gue kesempatan bicarakan masalah ini berdua dengannya. "


" Hakhu shudhah mhenghathakhannyha phadhamhu khemharhin. Hakhu hakhan pherghi dhan mhenghilhang shelhamhanyha dharhimhu. " ( aku sudah mengatakahnya padamu kemarin. Aku akan pergi dan menghilang selamanya darimu. )


Kalimat tegas dari Biqha membuat Yoga terdiam. Hatinya kembali tersayat, membuat airmata membasahi kelopak matanya. Dengan lemah Yoga menganggukan kepalanya.


" Aku mengerti. Aku minta maaf atas semua sikapku selama ini Bi.... Atas kebohonganku, atas ketidaknyamanan yang kamu rasakan. Tolong maafkan aku....! Aku janji tidak akan mengganggumu lagi Bi.... Tapi kumohon tetaplah disini ! "


Yoga menyatukan kedua tanganya di depan Biqha dengan mata memerah.


" Tetaplah bekerja bersama dengan kami. Perusahaanku masih membutuhkan karyawan yang bisa diandalkan sepertimu. Ku mohon Bi..... Setidaknya izinkan aku tetap bisa melihatmu berada disekitarku. Meski hanya dari kejauhan, aku akan sangat senang bisa melihatmu. Karna aku tidak yakin, aku masih bisa hidup normal tanpa ada dirimu disekitarku lagi Bi....."


" Lo pasti bisa Ga..... Itu hanya masalah waktu. " ucap Erick berusaha menenangkan sahabatnya.


Biqha menoleh ke arah Erick, meyakinkan dirinya kalau apa yang Yoga katakan itu sungguh-sungguh. Erick bisa memahami keraguan Biqha, karena itu Erick menganggukan kepalanya sembari tersenyum tipis pada Biqha.


" Aku janji Bi...... Aku gak akan memaksakan kehendakku lagi padamu. Aku akan berusaha menerima kenyataan, kalo cintaku...... Tidak akan pernah terwujud. Aku akan mengubur perasaanku padamu. Tapi kita masih bisa tetap berteman kan? "


" Hakhu ghak thahu haphakhah khitha mhashih bhisha bherthemhan lhaghi shepherthi dhulhu. Hakhu ghak mhahu hadha kheshalhahphahamhan lhaghi nhanthinyha. Jhadhi khumhohon Gha, mhengherthilhah...! Lhebhih bhahik khalhau hubhunghan khitha thidhak lhebih dharhi shebhathas hathashan dhan bhawhahan. Hakhu inghin khitha bhekherjha shecharha prhofheshionhal. Thaphi khalhau hithu thidhak bhisha dhilhakhukhan, lhebhih bhahik hakhu mhundhur dharhi pherhushahahan hinhi. "


( Aku gak tau apakah kita masih bisa berteman lagi seperti dulu. Aku gak mau ada kesalahpahaman lagi nantinya. Jadi kumohon Ga, mengertilah....! Lebih baik hubungan kita tidak lebih dari sebatas atasan dan bawahan. Aku ingin kita bekerja secara profesional. Tapi kalai itu tidak bisa dilakukan, lebih baik aku mundur dar perusahaan ini. )


" Jangan Bi, aku mohon.....! Aku janji aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan. Yah..... Aku akan bersikap profesional. Aku gak akan mengganggumu lagi. Aku janji....!


Yoga meyakinkan Biqha kalau dirinya akan berubah, dan tidak akan mengganggu ketenangan Biqha lagi. Semata-mata demi menghentikan niat Biqha untuk pergi menjauh darinya.


Biqha merasa sedikit lega, karena akhirnya Yoga mau mengerti dan menerima keputusannya. Meski belum sepenuhnya bisa mempercayai semua ucapan Yoga. Begitu pun dengan Erick. Namun, Erick percaya perlahan Yoga akan mulai bisa menerima semuanya dengan ikhlas.


Sementara didalam toilet, Alin menangis tersedu-sedu. Karena tanpa mereka duga Alin mendengar semua pembicaraan mereka. Melalui ponsel yang sengaja dia tinggalkan di atas meja, dalam keadaan melakukan panggilan suara ke nomor ponsel Alin yang lainnya. Dengan volume suara yang sengaja di setel full oleh Alin sebelumnya, membuat Alin bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas.


Alin melakukannya karena rasa penasaran akan perubahan sikap Yoga padanya. Dia yakin itu semua karna Biqha. Dan dugaannya terbukti, setelah dia membuktikannya sendiri dengan caranya yang spontanitas terpikir olehnya saat dalam perjalanan kesini.


' Jadi kamu melakukan ini karna ancaman dari Biqha. Karna Biqha memutuskan untuk pergi menjauh darimu. Bukankah seharusnya aku senang......? Akhirnya kamu kembali padaku. Tapi kamu kembali karna tidak ingin kehilangan dia. Ini menyakitkan Ga.... Ini sangat menyakitkan. '


Alina membungkam mulutnya sendiri, agar isak tangisnya tidak terdengar keluar.

__ADS_1


" Nabiqha...... Kau wanita tidak sempurna. Kau gadis c*c*t. Tapi kau wanita luar biasa. Disaat banyak wanita miskin sepertimu menggunakan segala cara demi mendapatkan pria kaya, kamu justru rela melepaskan cintamu demi menjaga harga dirimu. Bagaimana bisa aku membencimu? Kehadiranmu sudah merenggut kebahagiaanku, harusnya aku membencimu. Kau pesaingku.... Kau musuhku. Tapi sikapmu justru membuatku kagum. Aku harus bagaimana? Aku terlanjur mencintainya. Aku gak sanggup melepasnya, Bi....."


Alin berbicara dengan bayangannya sendiri di dalam cermin, seolah dia berbicara pada Biqha dengan linangan airmata dipipinya.


__ADS_2