
Sekitar pukul delapan malam Erick baru sampai ke apartemennya. Hal pertama yang dia lakukan sesampainya di apartemen adalah mengisi daya ponselnya. Setelah itu dia pun membersihkan diri kemudian melaksanakan sholat isya.
Setelah selesai memanjatkan doa, Erick memegang dadanya.
" Kenapa jantungku tiba-tiba berdebar-debar ya.....? Perasaan jadi gak enak gini..... "
Erick pun melipat sajadahnya, kemudian mengambil ponsel lamanya. Entah kenapa tiba-tiba Erick merasa cemas dan gelisah. Karna itu dia mulai mencari tau kabar keluarganya dari asisten rumah yang dia percaya. Terutama kabar sang oma yang sudah mulai sering sakit-sakitan karna faktor usia.
Erick merasa sedikit lega karna orang-orang yang dia sayang kabarnya baik-baik saja. Tapi entah kenapa Erick masih berdebar-debar dan merasa gelisah.
" Masuk angin kali ya ?! Gak nyaman banget rasanya. "
Erick mulai memijat-mijat dadanya sendiri. Kemudian dia berjalan ke arah dapur dan bergegas membuat teh herbal untuk membuatnya lebih rileks. Perlahan Erick mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman di dadanya.
Setelah itu, Erick pun duduk di sofa dan mulai membuka laptopnya. Dia berniat melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai di kantor. Erick pun mengambil beberapa berkas dari dalam tas kerjanya. Namun saat mulai merogoh bagian depan, Erick tidak menemukan flashdisknya.
" Kok gak ada? Perasaan udah aku masukin tadi...."
Erick mencoba memeriksa tasnya kembali, bahkan disetiap ruang tas kerjanya tetap tidak dia temukan.
" Ini nih.... Yang buat perasaanku gak enak dari tadi. Apa mungkin masih ketinggalan dikantor ya? Mending aku cari aja sekarang. Mudah-mudahan ada disana. Kalo sampe jatuh di tempat lain bisa kacau, bisa-bisa laporannya gak kelar besok. "
Erick langsung melesat mengambil jaket dan kunci motornya dari dalam laci. Dia memilih menggunakan motor agar bisa lebih cepat sampai dikantor. Tapi saat nyaris di ambang pintu, Erick tiba-tiba berubah pikiran.
" Tapi kayaknya mau hujan. Mending pake mobil aja deh. "
Erick segera mengembalikan kunci motornya dan mengambil kunci mobilnya. Kemudian mengambil ponselnya yang tadi dicharge di atas nakas, tanpa mengaktifkannya kembali lebih dulu.
Sampai di depan kantor, Erick terheran melihat lantai sepuluh gedung kantornya masih terang benderang. Sementara seorang security mendekat melihat mobil Erick yang berbelok mendekati pagar. Erick pun membuka jendela mobilnya. kedua security di pos itu pun memberi hormat padanya.
" Pak Erick ? Ada keperluan apa malam-malam datang kesini? Ada yang bisa kami bantu? "
" Flashdisk saya sepertinya tertinggal di kantor. Jadi saya mau mengambilnya. "
Kedua security tersebut pun mengangguk dan dengan segera membukakan pintu pagar untuk Erick. Erick melintas memasuki pelataran kantor untuk memarkirkan mobilnya. Sebelum dia meninggalkan mobilnya, Erick kembali terheran melihat mobil Yoga masih terparkir didalam parkiran khusus dibelakang.
" Saya parkir disini aja ya, biar cepet. "
Ucap Erick setengah berteriak pada kedua security tersebut.
" Silahkan pak. "
Erick pun kemudian berjalan mendekati mereka sebelum memasuki kantor.
" Mobil pak Yoga masih terparkir dibelakang, apa pak Yoga juga masih di kantor ? "
" Sepertinya tidak pak. Karna pas saya keliling tadi..... ruangan direktur sudah terkunci. "
" Mungkin pak Yoga sedang lelah atau malas menyetir, jadi minta supir menjemputnya seperti biasa. "
Erick mengangguk-angguk setelah mendengar penjelasan kedua security itu.
" Lalu lantai sepuluh masih terang benderang, apa tim accounting masih lembur ? "
" Hanya tinggal seorang saja pak. Itu.... E... Mbak yang gaguk itu.... Mbak Nabiqha. "
Erick sedikit mengerutkan pangkal alisnya, menanggapi perkataan sang security.
" Biqha lembur sendirian sampai selarut ini ?! Apa jangan-jangan karna komputernya masih bermasalah ? "
Gumam Erick yang mengingat siang tadi saat hendak keluar makan siang, Erick melihat seorang teknisi sedang memperbaiki komputer di meja kerja Biqha.
" Benar pak. Tadi saat saya keliling sekitar setengah jam yang lalu, mbaknya juga bilang begitu. Makanya dia bisa tertinggal dari teman-temannya. Teman-temannya sudah sejak selepas magrib tadi pada keluar semua. Tapi tadi dia bilang dia sudah hampir selesai kok pak. "
__ADS_1
" Baiklah, kalo begitu saya ke atas dulu ya..."
" Apa perlu saya temani pak ? "
" Tidak perlu. Memangnya saya anak kecil. Masa saya kalah sama perempuan. "
Kedua security itu pun tertawa mendengar candaan Erick. Bahkan Erick pun berlalu dengan tawa kecilnya. Erick memang dikenal sangat ramah, bahkan pada karyawan terendah sekalipun, Erick tak sungkan menyapa.
Dalam perjalanan memasuki kantor, Erick terus menggerutu kesal dalam hatinya.
' Keterlaluan mereka. Masa nggak ada satupun di antara mereka yang mau menemani Biqha...... Kalau begini kan akhirnya aku juga yang susah, aku juga yang harus mengantarnya pulang nanti. Nggak mungkin aku biarin dia pulang sendirian malam-malam gini. '
Erick memasuki lift menuju lantai sepuluh. Di dalam lift, Erick kembali memegangi dadanya yang terasa sesak dan berdebar-debar.
' Dadaku..... kenapa makin gak nyaman gini ya? '
Memasuki kantor divisi Finance accounting, Erick langsung memusatkan pandangannya pada meja kerja Biqha. Namun Erick tidak menemukannya disana.
' Kemana tuh anak? Di toilet kali ya..... Komputernya juga udah dimatikan, berarti dia udah selesai. Baguslah berarti aku gak perlu menunggu lama lagi. '
Saat sibuk dengan pikirannya, Erick dikejutkan dengan suara teriakan disertai isak tangis.
" HAAGGRRRHHHH......Khe..khe...."
' Biqha..... Itu suara Biqha kan ?! Tapi sepertinya suaranya berasal dari ruanganku. Ngapain dia di ruanganku ? Kenapa suaranya terdengar terisak dan merintih? '
Erick melangkahkan kakinya cepat. Namun semakin mendekat, Erick semakin merasa tidak nyaman, karna kini dia juga mendengar suara aneh lainnya. Suara des*han kenikmatan dari seorang pria, seketika mata Erick membulat sempurna dan menghentikan langkahnya sejenak.
" Henthikhan..... Hakhu mhohon........"
Suara rintihan Biqha membuat Erick bergetar. Erick kembali melangkahkan kakinya cepat dan langsung membuka lebar pintu ruangannya. Seketika Erick mematung. Betapa shok dirinya melihat Biqha yang tengah terikat dalam kondisi bercucuran airmata, bersama dengan Yoga yang menghimpitnya dalam kondisi tidak memakai sehelai kain pun dibagian bawah tubuhnya.
" Erick....."
" Pergilah Rick.... Jangan ganggu kami ! "
Dengan lemah Biqha berusaha menggelengkan kepalanya sambil terus menatap Erick dengan cucuran airmata. Sedangkan Yoga dengan tidak tau malunya dan tidak berperasaan sama sekali, kembali mengayunkan pinggulnya dan memaksa mendorong kuat senjatanya agar bisa terbenam sempurna dalam l*bang ken*kmat*an milik Biqha.
Biqha pun kembali menjerit kesakitan dan menangis histeris. Melihat hal itu jantung Erick serasa ingin meledak, matanya memerah karna amarah. Kakinya dengan cepat berlari meraih Yoga. Bahkan sebelum otaknya sempat berpikir dan bisa mencerna kondisi dengan baik, tubuhnya sudah lebih dulu bertindak.
Diremasnya kerah kemeja Yoga dan ditariknya dengan sekuat tenaga, hingga Yoga jatuh terjungkal kebelakang.
" APA YANG LO LAKUIN ? LO GILA...... "
Erick berteriak membentak Yoga. Rasanya ingin sekali menghantamkan tinjunya pada Yoga, tapi Erick masih berusaha menahan diri. Yoga dengan cepat bangkit dan menatap nyalang pada Erick.
" Jangan ikut campur ! Kalau lo pengen mencicipinya juga, tunggu sampai gue selesai."
Bola mata Erick serasa ingin meloncat keluar mendengarnya. Dia shok dan tak percaya sahabatnya bisa mengucapkan kata-kata sekeji itu.
Hasrat birahi yang memuncak membuat Yoga kehilangan nurani. Dengan cepat Yoga melangkah melewati Erick begitu saja, tanpa rasa malu sedikit pun dengan kondisinya yang telanjang pada bagian bawah tubuhnya.
" Ghak... Ghak... Jhanghan......."
Melihat Yoga kembali mendekat, Biqha kembali histeris, tubuhnya bergetar hebat. Dan Yoga pun langsung memposisikan diri di depan kedua sisi pangkal paha Biqha.
" EHRHIK......"
Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Biqha berteriak memanggil nama Erick. Teriakan itu seperti menusuk hati Erick dan menyadarkannya dari serangan shok yang menimpanya. Seketika Erick berbalik arah.
" BERHENTI LO BIADAB.... ! "
Dengan cepat Erick kembali menarik kerah bagian belakang kemeja Yoga dan menghempasnya ke belakang. Bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Hingga Yoga terpelanting dan terguling dilantai, sampai hampir mendekati pintu.
__ADS_1
Amarah Erick kini tidak lagi bisa dibendung. Dia berjalan cepat menghampiri Yoga yang tersungkur dilantai, dengan tangan yang mengepal keras bersiap menghantamnya. Namun sebelum tinjunya mendarat di wajah Yoga, Yoga lebih dulu menendang perut Erick dengan sangat kencang. Hingga Erick terhuyung ke belakang dan terjatuh membentur sofa.
Melihat hal itu, Biqha pun kembali menjerit histeris sambil terus menangis. Sementara kini Yoga lebih dulu bangkit dan bergegas ingin melayangkan tinjunya pada Erick. Tapi meskipun dalam posisi yang masih terduduk, Erick berhasil menangkis tinju Yoga dengan lengan kirinya. Dan secepat kilat Erick membalasnya dengan pukulan telak di rahang kiri Yoga.
Yoga pun terjatuh dan tergeletak di lantai. Lalu dengan cepat Erick beranjak melangkahi tubuh Yoga dan berdiri dengan lutut yang bertumpu diantara tubuh sahabatnya itu. Dengan cepat dan tanpa ampun Erick menghantam Yoga bertubi-tubi sembari terus memaki.
" DASAR MANUSIA BR*NGS*K, BAJ*NGAN, B*NGS*T.... TEGANYA LO LAKUIN INI KE BIQHA. LO KEP*R*T GAK PUNYA HATI. MANUSIA KEJI..... LO GAK PANTES HIDUP DI DUNIA INI. PENGECUUUT....... "
Erick terus memukulinya dengan membabi buta, dan Yoga tidak mampu lagi melawan. Sampai tubuhnya berangsur melemah dan akhirnya tidak sadarkan diri. Sedangkan Biqha yang menyaksikan hal itu tak hentinya menangis.
Melihat sahabatnya tak lagi sadarkan diri, Erick menghentikan pukulannya lalu terduduk lemas disisi sahabatnya itu. Erick berusaha mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal sambil menatap wajah sahabatnya yang babak belur.
Sementara Biqha berusaha menggerakkan tubuhnya yang terasa remuk redam, menahan rasa sakit yang teramat sangat pada **** ********** dan pangkal pahanya. Biqha memutar tubuhnya menghadap sofa, berusaha menutupi tubuhnya yang terbuka.
Meski lelah, airmatanya tak bisa berhenti mengalir, sebab jiwa raganya telah hancur. Meski kemunculan Erick berhasil menyelamatkannya, namun semua sudah terlambat. Kehormatannya telah ternoda, kesuciannya telah terenggut, Biqha merasa hidupnya telah hancur.
Tangisan Biqha membuat hati Erick ikut terluka. Perlahan dia memghampiri Biqha, dan meraih ujung roknya yang tersingkap ke atas. Seketika itu Biqha kembali histeris dan meronta.
" Jhanghan.... Jhanghan.....hakhu mhohon...!"
Erick pun langsung mengangkat tangan dan menggelengkan kepalanya, saat Biqha melirik ke arahnya dibelakang dengan menangis tersedu. Perlahan Erick menarik ujung roknya, agar kaki mulus Biqha tertutup. Kemudian Erick membuka jaketnya lalu menyelimutkannya di badan Biqha. Setelah itu, Erick pun membuka ikatan ditangannya.
Biqha berusaha bangkit, tapi tubuhnya begitu lemah dan rasa sakit disekujur badannya membuatnya tidak bisa bangun dengan mudah. Melihat kesakitan Biqha, Erick mengulurkan tangan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Biqha pun meletakkan tangannya di telapak tangan Erick, kemudian bangun dengan bantuannya.
Setelah itu, Erick mengambil pasmina Biqha dan segera mengerudungkannya di kepala Biqha. Entah mengapa sikap Erick itu justru membuat Biqha kembali menangis tersedu. Melihat hal itu, mata Erick semakin berkaca-kaca. Kemudian dengan cepat Erick juga mengambilkan ponsel lalu legging beserta segitiga pengaman dan juga penutup dada Biqha yang tergeletak dilantai.
Airmata Erick menetes ketika melihat penutup dada dengan talinya yang sudah terputus. Tidak bisa dia bayangkan betapa kasar perlakuan Yoga, dan betapa takutnya Biqha saat itu.
Erick menyerahkan barang-barang itu pada Biqha dengan memalingkan wajah. Karna Erick tau, Biqha pasti merasa tidak nyaman jika Erick menatapnya dalam kondisi yang memprihatinkan.
" Ayo..... Kita pergi.....! "
Biqha berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat. Namun tubuhnya seakan tidak bertulang. Sekalinya berhasil, seketika itu Biqha kembali roboh. Dengan sigap Erick menangkap pinggangnya, kemudian membantu memapahnya.
" Biar gue bantu. Gue anter lo ke toilet dulu supaya lo bisa berbenah. "
Biqha hanya menunduk dan meremas jaket Erick yang menutupi bagian depan tubuhnya, juga barang-barangnya.
Sampai di toilet, Erick menunggu di depan dengan sabar. Sementara di dalam, Biqha kembali menangis tersedu-sedu, membuat hati Erick merasa teriris.
Rasa perih pada vag*nanya, membuat Biqha sulit memakai pakaian dalamnya. Setelah berusaha keras disertai isak tangis, Biqha berhasil berbenah. Namun Biqha terpaksa memakai jaket Erick, karna kancing kemejanya banyak yang terlepas.
Saat hendak keluar dari ruang closed, Biqha kembali lunglai dan matanya berkunang-kunang. Dalam hitungan detik Biqha pun terjatuh tak sadarkan diri.
Mendengar suara benturan keras, Erick menjadi panik dan langsung masuk ke dalam toilet.
" BI...."
Teriaknya saat mendapati Biqha tergeletak dilantai. Bergegas Erick menggendong Biqha keluar dan melangkah secepat mungkin.
" Bi bangun Bi........ Bi sadarlah. Jangan buat gue takut Bi...... "
Sampai dibawah, kedua security tadi langsung mendatangi Erick yang setengah berlari sambil membopong Biqha yang pingsan.
" Ada apa pak? Apa yang terjadi? "
Erick tidak tau harus menjawab apa. Dengan tatapan lurus kedepan, Erick memerintahkan mereka memanggil ambulans.
" Kalian telphonlah ambulans ! Seseorang yang ada di atas sana pasti membutuhkannya. "
Kemudian Erick pun berlalu meninggalkan tempat tersebut, dan melajukan mobilnya cepat menuju rumah sakit terdekat.
'
__ADS_1