Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 12. Dia lagi...


__ADS_3

Biqha mulai diperkenalkan sebagai karyawan baru pada karyawan yang lain di divisi ini. Dengan percaya diri Biqha memperkenalkan dirinya secara perlahan dengan ucapan juga bahasa isyarat.


Sorot mata kaget, bingung, ada juga yang memandang remeh padanya. Bahkan sebagian dari mereka, ada yang menahan tawa mendengar Biqha berbicara. Namun Biqha tidak memperdulikannya. Dia datang untuk bekerja, jadi dia hanya akan memfokuskan diri pada pekerjaannya.


Ada sekitar sepuluh orang karyawan di divisi keuangan dan pembukuan atau finance and accounting. Di sisi kiri ada lima orang divisi keuangan, tiga orang pria dan dua wanita. Dan di sisi kanan divisi accounting, terdiri dari dua orang pria dan tiga orang wanita termasuk Biqha.


Ruang kerja divisi keuangan dan divisi accounting hanya bersekat dinding berbahan fiber, setinggi satu setengah meter. Sehingga bisa memudahkan kedua divisi berkomunikasi dengan cepat. Meja kerja di setiap divisi disusun saling berhadapan. Membentuk huruf U, dengan menyisakan sedikit ruang di tengah.


Di depan sisi divisi keuangan ada ruangan kepala divisi finance dan accounting, yang di tempati oleh bu Diana. Sedang di depan sisi accounting ada ruangan yang merupakan ruangan paling lebar, dihuni oleh pimpinan divisi yaitu Manager keuangan.


Setelah acara perkenalan, Biqha langsung diberi tugas oleh bu Diana. Untuk mencatat biaya harian operasional secara manual terlebih dahulu, baru menginputnya pada jurnal-jurnal penyesuaian. Biqha mulai berkutat dengan berkas-berkas dan memainkan jemarinya di atas tombol-tombol keyboard komputer.


Biqha tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk memperdulikan karyawan lain, yang terlihat berbisik-bisik membicarakan atau mencibir dirinya. Itu jelas terlihat oleh Biqha, Karena meja kerja mereka yang saling berhadapan.


Dua rekan wanitanya, yang duduk berdekatan di sisi belakang sedang membicarakanya. Sementara dua rekan prianya, satu yang ada di hadapannya dan satu lagi di sebelah kanannya terlihat fokus bekerja.


" Kok bisa ya... orang kayak gitu masuk ke perusahaan ini?"


Tanya seorang karyawan wanita yang menyebut dirinya Lina saat sesi perkenalan tadi, kepada rekannya Desi.


" Gue denger sih...... Dia masuk karena punya koneksi di sini." Jawab Desi


" Iya jelas sih. Kalo gak, mana mungkin perusahaan mau nerima orang kayak dia."


Mereka mengobrol sambil terus melirik pada Biqha. Sementara yang di lirik fokus pada pekerjaannya.


" Koneksinya gak main-main tau..... Pimpinan perusahaan langsung." Jelas Desi


" Hah.... "


Lina membulatkan bola matanya tak percaya dengan gosip yang baru saja dia dengar.


" Maksudnya pimpinan perusahaan.... Bigboss ganteng kita ? " Tanya Lina penasaran.


Desi mengangguk sambil membuka berkas ditanganya.


" Serius lo....? Tau dari mana?" Lina semakin penasaran.


" Dari si Lisa anak HRD. Katanya sih dia itu rekomendasi langsung dari CEO. Waktu itu dia datang bawa CV, eh.... langsung di interview. Dan siangnya.... Begitu bu Diana, pak Agus dan Pak Budi di panggil ke ruangan CEO, langsung turun perintah penerimaan kerja untuk dia." Jelas Desi.


" Khemmm... Pantesan aja bisa masuk."


Lisa melirik dengan sinis ke arah Biqha.


" Tapi dia juga bukan lulusan sembarangan loh. Dia lulus dengan cumlaude jurusan akuntansi UI" Jelas si biang gosip lagi.


Lina semakin melebarkan kedua matanya menatap Desi tak percaya.


" Sumpeh lo Des.....?"


Desi mengangguk mantap.


" Makanya bu Diana gak bisa nolak walaupun dia punya kec*c*tan. Lo tau sendiri gimana kritisnya bu Diana." Jelas Desi lagi.


" Woi.....! Kerja... kerja. Gosip mulu. " Tegur salah satu karyawan pria


" Tau nih. Orang yang kalian gosipin santuy noh kerja. Fokus...... Yang ada ntar kalian yang ketinggalan sama dia. Mau? " Tambah karyawan pria yang lainya.


" Ya iyalah..... Dia santuy. Orang dia gak bisa denger omongan kita. "


Ucap Lina meremehkan, sambil tersenyum sinis. Kemudian disambut gelak tawa Desi. Sedangkan dua karyawan pria itu ada yang menggeleng sambil tersenyum lucu. Dan yang satu lagi menggeleng miris mendengar omongan rekannya.


Tanpa mereka sadari, Biqha mengerti apa yang mereka bicarakan. Meski hanya melihat dari ekor matanya, dan tidak secara keseluruhan. Karena perhatiannya terbagi pada pekerjaannya. Biqha tidak mau memperdulikan mereka, dia kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya.


" Des.... Kira-kira ada hubungan apa ya dia sama bigboss kita? "

__ADS_1


Lina kembali menggerakan kursinya mendekat ke arah Desi dan berbicara setengah berbisik padanya.


" Tau... " Desi mengedikkan bahunya.


" Kerabatnya kali. Yang pasti, gak mungkin ada hubungan asmara. Secara bigboss kita udah punya tunangan seorang top model yang cantik jelita itu. Uh.... Iri banget deh..."


Sambung Desi dengan wajah memelasnya di akhir kalimat. Lina pun ikut manggut-manggut menyetujui pernyataan Desi.


" Kalo kerabatnya.... Berarti boss ganteng kita diruangan ini kenal juga dong. Secara Bigboss dan boss kita disini kan temenan dari kecil, ya kan? "


" Tau deh.... "


Tak lama kemudian pintu ruang manager, yang berada sekitar dua meteran dari meja kerja Biqha terbuka.


Biqha yang meskipun tidak bisa mendengar dengan baik. Namun bisa menangkap pergerakan disekitarnya dengan ekor matanya. Melihat pintu di sebelah kirinya terbuka. Biqha pun menoleh....


Dan betapa terkejutnya ia. Saat matanya beradu pandang dengan mata tajam nan indah milik seseorang, yang baru saja membuka pintu ruang Manager itu dari dalam.


" Biqha..... "


Gumam Erick spontan saat melihat rivalnya yang baru saja bertemu semalam, kini ada di hadapannya. Tak kalah terkejutnya dari Biqha,Erick sampai terpaku sejenak memandang Biqha.


Sementara Biqha terbelalak tak mampu berkata apa-apa. Karyawan yang lain, juga termasuk kedua wanita penggosip itu. Melihat ekspresi Erick dan juga Biqha yang sama-sama terkejut, jelas bisa menyimpulkan bahwa kedua orang ini saling mengenal.


Erick menautkan alisnya dan menyipitkan sedikit matanya ke arah Biqha, seperti sedang berpikir. Dia teringat perkataan Rendra yang mengatakan bahwa kakaknya baru saja di terima kerja.


' Jadi.... Biqha karyawan baru disini. Apa dia udah ketemu Yoga sebelumnya? Apa ini karena Yoga? Apa sih Rick..? Picik banget pikiran lo. '


Erick bertanya-tanya dalam hatinya sendiri. Sedetik kemudian dia mengalihkan pandangannya.


" Bu Diana ada di ruangannya? " Tanya Erick.


" Ada pak... "


Jawab Lina dan Desi serentak, dengan memperlihatkan senyum termanis mereka pada sang manager ganteng pujaan hati mereka. Kalau dulu idola para karyawati di kantor ini adalah Yoga sang CEO, Kini sudah beralih pada Erick. Karena sudah jadi rahasia umum, kalau sang CEO sudah bertunangan.


Erick pun berlalu dan masuk keruangan Bu Diana setelah mengetuk pintu. Meski jabatannya lebih tinggi, Erick tetap menjaga sopan santun dalam bekerja.


Di sisi lain, Biqha yang tadi sempat terbengong. Kemudian memejamkan mata hingga pangkal alisnya berkerut.


' Ya ampunnnn.... Kenapa harus ketemu dia lagi sih...? Terus dia tadi keluar dari ruangan manager? Aduuhhhh.... Jangan-jangan dia manager nya disini. Ya Allah... Kenapa harus dia lagi.... dia lagi... sih... '


Keluh Biqha dalam hati, sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa penat.


Dan duo bigos (biang gosip) kembali merapat dan berbisik.


" Tuh kan bener. Pak Erick kenal sama tu cewek. " Ucap Lina.


" Tapi kayaknya mereka sama-sama gak tau deh, kalo satu divisi. Soalnya keliatan banget muka shoknya." Jawab Desi.


Biqha melirik sekilas pada duo bigos itu, saat menyadari pergerakan mereka. Tapi setelahnya Biqha beralih pada pikirannya sendiri.


' Kok Erick bisa ada di sini juga? Bukannya keluarganya juga punya perusahaan sendiri ya? Bukan hanya perusahaan yang bergerak di bidang real estate, tapi juga perusahaan properti yang luas dan merambah ke bidang bisnis lainya juga kan? ' Biqha terus bertanya-tanya dalam hatinya.


Mengingat Erick yang dia tau dulu menjadi idola di sekolah, bukan hanya karena dia keren, bintang basket, jago taekwondo, dan beberapa kali menggeser posisinya sebagai juara umum. Melainkan alasan utamanya adalah karna dia terkenal anak orang kaya raya. Bahkan jauh lebih kaya dibanding keluarga Yoga.


Namun Erick tidak pernah bersikap sombong malah lebih terkesan sederhana dibanding Yoga. Dia lebih memilih naik motor ke sekolah, dari pada antar jemput mobil seperti Yoga.


Dulu Yoga juga pernah bercerita padanya, kalau ayah mereka bersahabat baik seperti mereka. Dan saat ayah Yoga nyaris bangkrut karena di tipu rekan bisnisnya, keluarga Erick lah yang membantu perusahaan sang ayah bangkit hingga stabil kembali.


' Apa mungkin perusahaan keluarga Erick bangkrut? Karena itu dia terpaksa bekerja di sini dan membuka outlet boba? Apa itu sebabnya ekspresi wajahnya berubah? Waktu Rendra menyinggungnya, soal dia yang kaya tapi masih mau membuka usaha kecil-kecilan seperti itu. '


Biqha terus bermonolog dalam benaknya. Karena benar-benar tidak menyangka, Erick akan ada di perusahaan ini juga dan menjadi atasanya langsung.


Di sisi lain, di dalam ruangan bu Diana. Setelah selesai membahas pekerjaan, Erick mulai membuka obrolan tentang karyawan baru di divisinya bersama bu Diana.

__ADS_1


" Maaf bu Diana, tentang.... karyawan baru itu. Apa anda yang menyeleksinya langsung?"


Tanya Erick mencoba memancing wanita yang usianya hampir dua kali lipat darinya itu.


" Iya pak. Bapak sendiri yang meminta saya menggantikan bapak untuk menyeleksi mereka. Memangnya kenapa pak? Apa ada masalah?" Tanya bu Diana.


" Tidak bu. Hanya saja.... kondisinya.... "


Erick masih menggantung kalimatnya, tapi bu Diana mengerti dan langsung menjawabnya.


" Itu juga yang jadi pertimbangan kami sebelumnya pak. Riwayat akademisnya memang sangat bagus. Tapi kondisinya membuat kami ragu. Tapi kembali lagi itu rekomendasi dari CEO kita langsung. Jadi kita tidak bisa berbuat apa-apa. " Jelas bu Diana.


" Tapi pak Yoga juga mengatakan. Kalau dalam waktu tiga bulan ke depan, dia tidak bisa bekerja dengan baik. Atau justru malah jadi penghambat di sini. Kita diberikan hak sepenuhnya untuk mengambil keputusan."


Sambung bu Diana pada Erick, membuatnya mengangguk-anggukan kepalanya.


' Jadi benar ini karena Yoga. Bukan karena kemampuan Biqha sepenuhnya. Apa mungkin Yoga masih berharap sama Biqha? Ini gak boleh terjadi. aku harus ngomong sama Yoga. '


Erick berkata dalam hatinya, karena cemas memikirkan sahabatnya. Entah kenapa dia merasakan firasat yang tidak baik. Mengingat betapa sahabatnya itu menyukai Biqha, dan sempat prustasi karena kehilangan jejak Biqha beberapa tahun lalu.


Erick keluar dari ruangan bu Diana, dengan wajah seriusnya kembali ke ruangannya. Sesampainya di ruang kerjanya dia langsung meletakkan berkas laporan yang dibawanya tadi di atas meja. Sejenak Erick berdiam diri, menarik nafas panjang.


Flashback, sehari sebelum jadwal interview.


Erick mendapati Yoga yang sedang senyum-senyum sendiri di ruangannya sembari melamun. Erick pun masuk dan mengejutkannya.


" WOIIII. ... Senyum-senyum sendiri. Ngelamunin apa lo? Ngelamun jorok ya?" Ucap Erick menggoda sahabatnya.


Yoga yang masih terkejut, menarik nafas berkali-kali. Lalu melotot pada Erick, yang justru terkekeh melihat reaksi Yoga.


" Sembarangan lo. Mau apa kesini? Gak pake ketuk pintu lagi." Jawab Yoga ketus.


" Gue udah ketuk. Berkali-kali tapi gak ada jawaban. Di telepon sama sekretaris lo juga gak diangkat. Ngelamunin apa sih sampe segitunya?" Tanya Erick penasaran.


Erick duduk di depan meja kerja Yoga. Kemudian menarik sudut bibirnya melihat sahabatnya kembali tersenyum.


" Ngelamunin apa sih seneng banget kayaknya?" Tanyanya lagi.


" Ada deh..... Mau tau aja lu." Jawab Yoga cepat.


" Hei.... Sejak kapan lo main rahasia-rahasiaan sama gue? Aneh... Ada apa nih? "


Erick semakin penasaran. Dia mengerutkan keningnya memandang Yoga.


" Kita udah dewasa sekarang Rick. Gak semua hal harus gue ceritain sama lo. Apalagi mungkin sebentar lagi gue mau nikah."


Ucap Yoga sambil tersenyum.


" Oh... Jadi lo senyum-senyum gitu, karna lo mau nikah sama Alin? "


Perkataan Erick membuat Yoga tergagap dan menjadi salah tingkah.


" Buk.. Bukan. Bukan itu maksud Gue. Maksud Gue ya.... kita sekarang kan udah cukup matang, untuk memikirkan pernikahan gitu."


Erick menurunkan sebelah alisnya, menatap penuh tanya pada Yoga.


" Iya lah. Lagian lo sama Alin kan udah tunangan. Kalau udah kepikiran mau nikah, ya udah nikah aja langsung. " Jawab Erick lagi.


" Ya.... Kita gak tau namanya jodoh Rick. Bisa aja tunangan tapi ternyata gak jodoh kan? "


" Hah...??? "


Erick semakin terbelalak mendengar kata-kata Yoga. Erick Merasa ada yang aneh dengan Yoga.


" Ya... kayak lo juga kan. Udah sempet tunangan tapi ternyata... Yah..... "

__ADS_1


Yoga langsung mengalihkan pembicaraan, saat Erick ingin membahasnya lebih lanjut. Dan meminta Erick melupakan apa yang tadi ia ucapkan. Dengan alasan dia cuma asal ngomong alias becanda.


__ADS_2