
Hingga dini hari, Alina masih ada di club bersama teman-temannya merayakan hari ulang tahun teman seprofesinya. Kehidupannya sebagai seorang model, memang sudah terbiasa dengan pesta -pesta yang seperti ini.
Saat sedang asik berjoget ria bersama teman-temannya, seorang teman yang sebelumnya pamit ke toilet mendatanginya.
" Lin...... Gue kayak liat tunangan lo deh tadi disana. "
" Hah ? "
" Tunangan lo..... Gue liat tunangan lo disebelah sana. "
Ucapnya dengan berteriak sembari menunjuk ke arah yang dia maksud.
" Yoga? "
" Iyalah. Memangnya lo punya tunangan lain lagi selain dia?! "
Candaan temannya sontak mengundang tawa temannya yang lain. Alina pun mulai berhenti menggerakkan tubuhnya, yang sedari tadi mengikuti irama musik. Kemudian fokus mendengarkan ucapan temannya itu.
" Gue liat dia lagi stres deh kayaknya. Udah mabuk berat tuh.... "
" Kalian lagi ada masalah ya?! "
Alina langsung menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan dari teman-temannya itu.
" Gak. Kita baik-baik aja kok. "
" Kondisinya juga lagi gak baik deh Lin.... ada beberapa tempelan perban di wajahnya. Kayak babak belur dihajar orang gitu...... "
" Serius lo....?
Alina mulai merasa cemas dengan pernyataan temannya itu. Hingga akhirnya Alina memutuskan untuk mengeceknya langsung.
" Ya udah, gue coba cek kesana dulu ya. "
Alina pun melangkah ke arah yang ditunjukkan temannya tadi. Dan mulai mengarahkan pandangannya mengitari ruangan yang sedikit gelap dengan lampu berkelap kelip itu. Hingga akhirnya dia menemukan sosok yang dia cari.
Sosok itu sudah terkulai lemas di meja bartender. Bahkan sang peracik minuman itu pun sedang berusaha membangunkannya.
" Tuan.... Tuan.... Apa perlu saya panggilkan taksi online tuan? "
Alina pun langsung berjalan cepat mendekatinya. Dan begitu sampai disisi Yoga, betapa terkejutnya ia melihat keadaan Yoga yang babak belur.
" Ya ampun Ga.... kamu kenapa? Kenapa wajah kamu bisa sampai seperti ini? Siapa yang melakukan ini sama kamu? "
Alin terlihat panik melihat perban di pelipis matanya. Juga plester di sudut bibir kirinya dan di area kedua tulang pipinya. Belum lagi bibirnya yang pecah serta kedua pipinya yang bengkak dan lingkar matanya yang membiru. Keadaannya sangat memprihatinkan bagi Alina. Tapi kenapa Yoga justru ada di tempat seperti ini.
" Anda mengenalnya mbak? " tanya seorang bartender.
" Iya. Dia calon suami saya. "
" ah... Baguslah kalau begitu. Mbak, ini billnya. "
Alina mengabaikan bartender tersebut, dan langsung menelephon supirnya untuk datang dan menjemput mereka disana. Setelah itu dia mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya dan meletakkannya di meja bartender itu.
" Ini. Ambil aja kembaliannya. Dan tolong jaga dia sebentar. Saya harus kesana dulu. Kalo dia sadar sebelum saya kembali, tolong jangan biarkan dia kemana pun. "
" Baik mbak. "
Alina pun melangkah kembali ke tempat teman-temannya berkumpul.
" Gimana? gue gak salah orang kan? " tanya temannya tadi.
" Iya lo bener. Itu memang Yoga. "
" Apa yang terjadi Lin? Kenapa wajah lo panik begitu? "
" gue gak tau apa yang terjadi. Wajahnya penuh dengan luka. Sher.... Sory, gue harus pergi. "
" Ya...ya... It's ok girl..... Gue ngerti kok. "
__ADS_1
" Sekali lagi happy birthday ya.... "
Setelah berpamitan pada teman-temannya, Alina pun kembali pada Yoga. Dan tak lama kemudian supirnya pun datang menjemput mereka. Dengan bantuan sang supir, Alina memapah Yoga sampai ke mobil.
" mang, kita antar Yoga pulang dulu ya....!"
Setelah mobil melaju, tiba-tiba Alina merasa ragu di hatinya.
' Apa tidak apa-apa kalau membawanya pulang dalam kondisi seperti ini? Mama pasti akan shok melihat keadaannya saat ini. Apa aku bawa ke apartemen aja ya? '
Alina langsung memerintahkan supirnya untuk berbalik arah ke apartemennya. Sampai di basement apartemen, Sebelum keluar dari mobil Alina mengikat rambut panjangnya ke atas dengan asal-asalan. Baru setelah itu dia bersama sang supir membantu Yoga keluar dan memapahnya.
Saat ditarik keluar dari mobil, Yoga sempat tersadar dan melihat Alina dengan rambutnya yang terikat asal. Pengaruh alkohol membuat pandangannya tidak jelas. Dan melihat helai rambut Alina yang bergoyang tak tentu arah saat memapahnya, membuat bayangan Biqha dengan rambutnya yang berantakan akibat ulahnya itu muncul dalam benaknya.
' Biqha..... '
Tiba-tiba senyumnya merekah menatap Alina. Rasa haru dan bahagia menyelimutinya, karna berpikir Biqha kembali untuk menolongnya. Dia merasa lega melihat Alina yang dia liat sebagai Biqha, sangat perduli dan cemas melihatnya terluka.
Begitu memasuki kamar apartemennya, Alina dan sang supir langsung membaringkan Yoga di tempat tidur. Setelah itu Alina pun mempersilahkan sang supir untuk pulang.
Begitu sang supir pergi, Alina kembali pada Yoga. Dia mulai membuka sepatu dan kaos kaki Yoga, Setelah itu menyelimutinya dan membelai rambutnya sambil terus bertanya-tanya dalam hatinya.
' Apa yang terjadi denganmu Ga ? Kamu berkelahi dengan siapa sampai babak belur begini? Dan setelah itu bukannya beristirahat, kamu malah pergi ke club dan mabuk seperti ini. '
Alina memandang Yoga dengan sendu. Kemudian dia bangkit, berniat membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, namun dalam selangkah saja langkahnya terhenti karna Yoga mencekal lengannya.
" Jangan pergi..... Jangan tinggalkan aku, ku mohon ! "
Perlahan Yoga membuka matanya dan berusaha bangkit dengan kedua tangannya memegangi tangan Alina. Pengaruh alkohol masih membuat pengelihatannya buram. Dalam keadaan yang belum sepenuhnya sadar itu, dia pun mulai meracau.
" Ku mohon maafkan aku.....! Aku tau aku bersalah padamu. Aku melakukan banyak kesalahan padamu, tapi....tapi aku tidak pernah berniat menyakitimu. "
Alina mengerutkan dahinya, kemudian kembali duduk disisi kasurnya.
" Aku melakukannya..... karna aku tidak mau kehilanganmu. Aku benar-benar takut kehilanganmu...... Ku mohon jangan pernah pergi dariku lagi....! "
Yoga meratap dengan menempelkan dahinya pada punggung tangan Alina. Sedangkan Alina yang masih bingung dengan ucapan Yoga berusaha menenangkannya, dengan mengangkat kepala dan memegang pipinya lembut.
" Semuanya...... semua. Maafkan aku...... Jangan pernah tinggalkan aku sayang......Aku mohon ! "
" Aku sudah memaafkanmu. Yang terpenting bagiku sekarang dan dimasa mendatang kamu gak akan pernah mengulanginya lagi. Itu cukup untukku. Sekarang kamu istirahatlah.....! Jangan pikirkan apa yang sudah terjadi dibelakang ! Aku mencintaimu..... "
Kata cinta yang Alina ucapkan membuat Yoga melayang. Kesadarannya yang masih tenggelam dalam pengaruh minuman keras, membuatnya tidak bisa berpikir dan mengendalikan perasaannya. Yoga langsung mendekap erat tubuh Alina.
" Aku juga sangat mencintaimu..... Hanya kau satu-satunya wanita yang kucintai. Selamanya hanya kamu sayang......"
Yoga terus mendekapnya erat dan Alina pun menyambut mesra dekapannya. Perlahan dekapan itu pun memercik gejolak hasrat yang belum tuntas tersalurkan. Sementara hati Alina berbunga-bunga mendengar kata cinta dari Yoga, dan kini makin terlena dan terbuai dengan sikapnya.
Yoga menatap dan membelai wajah Alina dengan lembut dan penuh cinta. Melihat bibir merah merona Alina yang hanya berjarak beberapa centi saja darinya, membuat gejolak hasratnya bangkit. Bayangan tentang kejadian tadi kembali muncul dalam benaknya.
" Jangan pernah menolakku lagi sayang..... Aku mencintaimu. Percayalah..... Aku sangat mencintaimu. Aku pasti menikahimu. "
Perlahan Yoga mendekatkan wajahnya. Dan Alina pun pasrah dengan memejamkan matanya. Mereka pun berciuman. Yoga merasa jiwanya serasa melayang karna bahagia mendapatkan angin segar dari Alina.
Alina yang dia pikir Biqha tidak menolak ciumannya. Bahkan menyambutnya dan membalasnya dengan hangat dan tak kalah sensasional darinya. Rasa perih dibibirnya yang terluka pun dia abaikan. Deru nafas mereka beradu dalam gejolak hasrat yang kian membara. Suasana kamar yang temaram, menambah syahdu kemesraan yang mereka ciptakan.
Perlahan ciuman Yoga semakin turun menjelajahi leher jenjang Alina. Alina pun semakin terbuai. Sudah lama sekali Alina tidak merasakan lembut dan hangat kecupan Yoga. Karna itu dia pasrah. Sekalipun hari ini mereka akan terbakar hasrat bersama dia rela.
Mereka pun saling mencumbu. Semakin lama semakin dalam.
" Emmmhhhhhhh....... Ahhhhh......"
Erangan dan ******* kenikmatan saling bersautan. Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka melucuti pakaian mereka, sembari saling mencumbu hingga tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun. Deru nafas mereka semakin memburu seiring gejolak hasrat yang memuncak.
Di dalam selimut yang hangat, akhirnya mereka menyatukan raga dalam buaian hasrat birahi yang membakar jiwa. Setelah beberapa menit berpacu, akhirnya Yoga mencapai puncak nikmat kepuasan hasratnya.
Yoga tersenyum puas karena merasa berhasil menuntaskan misi menanamkan benih di rahim wanita yang dia cintai. Setelah itu, Yoga mengecup kening Alina, lalu terkulai lemah diatasnya tanpa mau melepas penyatuan mereka lebih dulu.
" Terima kasih sayang..... Aku pasti akan bertanggungjawab. Aku pasti menikahimu Bi....... "
__ADS_1
Alina yang tadinya terkulai lemas karna lelah meladeni permainan Yoga yang luar biasa untuk pertama kalinya, seketika membulatkan bola matanya tak percaya dengan apa yang dia dengar.
' Bi.....? Apa maksudnya Bi.....? Baby..... Benar, Pasti maksud kamu baby kan. Iya kan ?! '
Dengan mata terpejam dan mulai terlelap, Yoga masih meracaukan kalimat yang seketika membuat hati Alina hancur berkeping-keping.
" Aku pasti.... akan segera menikahimu, Nabiqha azzahra......binti... Almarhum Ahmad..... Baharudin......"
Tubuh Alina serasa tak lagi bertulang, lemah dan tak berdaya. Airmatanya menetes seketika. Setelah dia menyerahkan segala yang dia miliki, Yoga masih menyebut nama wanita lain saat bersamanya. Dan yang lebih menusuk pilu relung hatinya, ternyata yang dibayangkan calon suaminya sejak tadi, dirinya adalah Biqha.
Alina langsung mendorong tubuh Yoga kesamping. Namun Yoga tidak lagi sadarkan diri. Dia tengah terlelap setelah mendapatkan kepuasan batin yang membuatnya kelelahan. Sementara Alina bercucuran airmata, merasa sangat terluka mengetahui kenyataan bahwa yang diinginkan pria yang dia cintai bukanlah dirinya. Harga dirinya benar-benar terluka.
" Biqha.....? Kau pikir aku Biqha? Aku dan dia jelas-jelas berbeda. "
Alina teringat kembali kata-kata yang Yoga lontarkan tadi. Dan mulai berpikir....
" Bodoh..... Aku benar-benar bodoh. Semua kata-kata itu tidak ada yang tertuju padaku. Kenapa aku bisa begitu bodoh? "
Alina sangat menyesali kekeliruannya menanggapi ocehan Yoga yang sedang dalam pengaruh alkohol.
" Kamu keterlaluan Ga..... Kamu jahat. Pernikahan kita semakin dekat tapi kamu masih mengharapkannya, masih memikirkannya. Apa kurangku dibandingkan dia? "
Alina meluapkan emosinya dengan memukul dada Yoga. Namun Yoga tidak juga sadarkan diri, dia hanya sedikit menggeliat mengubah posisinya dan bahkan kembali memeluk Alina. Alina berusaha menghempaskan lengan Yoga dari tubuhnya. Namun dia urung melakukannya.
" Gak..... Aku gak akan biarin itu terjadi. Aku sudah memberikan seutuhnya diriku padamu. Apapun yang kau pikirkan dan kau bayangkan tadi, kenyataannya.... tetaplah aku yang kau sentuh bukan dia. Aku gak kan pernah membiarkanmu pergi dariku. Sesuai dengan ucapanmu tadi. Kau harus bertanggungjawab padaku. "
Dengan tatapan tajamnya pada Yoga, Alina menyeka airmatanya dan kembali berbaring. Membiarkan dirinya tetap terlelap dalam pelukan Yoga. Karna Alina bertekad untuk membuat Yoga benar-benar menyadari kesalahannya esok pagi.....
******
Sementara dirumah sakit, baik Erick ataupun Rendra, tak satu pun dari mereka bisa memejamkan mata hingga detik ini. Rendra terkadang masih meneteskan airmata disamping kakaknya.
" Ren..... Kamu istirahatlah ! Kamu pasti lelah seharian kuliah dan bekerja. Besok kamu juga masih harus kuliah pagi. Tidurlah...! Biar kakak yang menjaga mbak kamu. "
Rendra tak berkutik sedikitpun, bahkan seolah dia tidak mendengar sama sekali ucapan Erick. Dia masih terus memandangi sang kakak yang terbaring lemah dengan wajah yang masih pucat. Erick pun mendekatinya dan memegang bahunya.
" Tidurlah Ren...... Kamu juga butuh istirahat. "
Sejenak Rendra masih tidak berkutik. Namun kemudian dengan dingin Rendra menjawabnya.
" Kalo kakak mau, kakak aja yang istirahat. Kalo kakak mau kakak juga bisa pulang. Rendra bisa menjaga mbak Biqha sendiri. "
Erick menarik nafas dalam mendengar ucapan ketus dari Rendra. Erick berusaha memahami kemarahannya, karna itu dia kembali menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Karna akan percuma berdebat dengan Rendra saat ini. Namun Erick juga tidak mungkin meninggalkan mereka sendirian dalam keadaan seperti ini.
Erick memutuskan mencoba memejamkan matanya dengan berbaring di atas sofa. Karna besok masih akan menjadi hari yang berat pastinya untuk mereka.
Saat kedua pria itu tanpa sadar mulai terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba suara teriakan histeris membangunkan mereka.
" THIDHAK..... JHANGHAN..... JHANGHAN...... THIDHAK....... LHEPHASKHAN HAKHU.....! "
Serentak Erick dan Rendra seketika terlonjak mendengar teriakan histeris Biqha.
" Mbak..... Mbak kenapa mbak? "
Erick pun segera berlari mendekat dan melihat keadaan Biqha yang masih memejamkan mata. Namun tubuhnya bergetar dan terus meracau ketakutan.
" Bi.... Bi lo kenapa? Bi.... Sadarlah. "
Erick dan Rendra berusaha menyadarkan dan menenangkan Biqha. Sentuhan mereka di pipi Biqha pun berhasil membuatnya membuka mata, namun hal itu justru semakin membuatnya histeris.
" GHAK.... HENTHIKHAN ! JHANGHAN SHENTHUH HAKHU..... LHEPHASKHAN..... LHEPHASKHAN HAKHU.....! "
Biqha terus memukul-mukulkan tangannya tak tentu arah, menghindari sentuhan mereka yang ingin menenangkannya. Dengan cepat Erick mencekal tangan Biqha yang mulai mengalir darah dalam selang infusnya dan juga sekitar punggung tangannya, akibat gerakan Biqha yang brutal. Sementara Rendra langsung membekap kedua pipi sang kakak.
" Mbak..... Ini Rendra mbak. Lihatlah...... Ini Rendra mbak. Rendra adiknya mbak. Rendra disini mbak..... "
Rendra kembali meneteskan airmatanya melihat keadaan sang kakak. Sementara Biqha seketika tersadar dan menatap pilu pada sang adik.
" Rhendrha......"
__ADS_1
Biqha langsung berhambur memeluk Rendra, dan menangis sejadi- jadinya dalam dekapan sang adik.