Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 51. Kembali membaik


__ADS_3

Keesokan hari di kantor, Erick tetap datang bekerja seperti biasanya. Setelah drama yang terjadi semalam, Erick masih mencoba profesional.


Beberapa menit setelah masuk ke ruangannya, Bu Diana selaku Kabag keuangan dan pembukuan datang menemuinya.


" Bu Diana..... Silakan ! "


Bu Diana pun masuk setelah dipersilahkan oleh Erick, dan langsung duduk di depan meja kerja Erick.


" Ada apa bu ? "


Kemudian bu Diana menyerahkan sebuah amplop putih persegi panjang, yang dia bawa tadi. Erik menerima amplop itu dengan dahi berkerut.


" Surat pengunduran diri ? Ibu ingin resign dari perusahaan ini ? "


" Bukan pak. Itu surat pengunduran diri Nabiqha. "


Seketika Erick terperanjat. Dia sampai melebarkan matanya ke arah Bu Diana. Erick tidak menyangka, Biqha akan benar-benar melakukan apa yang dia katakan semalam. Bahkan Biqha melakukannya secepat ini.


" Lalu dimana dia sekarang? Apa dia sudah pergi? "


" Tidak pak. Saya belum memberikannya keputusan perihal pengajuan pengunduran dirinya ini. Saya katakan padanya kalo saya harus mendiskusikan hal ini dengan anda terlebih dahulu. Jadi dia masih bekerja seperti biasa saat ini. "


Ada nafas lega terdengar dari Erick. Sejenak Erick berpikir sembari masih memegang amplop putih berisi surat pengunduran diri Biqha itu.


" Apa dia memberitau anda, tentang apa yang menjadi alasannya ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini? "


" Dia bilang dia harus pergi ke suatu tempat. Jadi dia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya disini. "


Mendengar pernyataan itu, Erick bertanya-tanya dalam hatinya.


' Kemana dia akan pergi? Bahkan dia gak punya sanak saudara yang lain kan.....?! '


Yang Erick tau Biqha memang tidak memiliki sanak saudara yang lain, karna dulu ibu Rahma pernah bercerita kalau beliau dan ayahnya Biqha berasal dari panti asuhan yang sama.


Setelah sejenak Erick larut dalam pikirannya sendiri, dia kembali bertanya pada wanita yang usianya hampir paruh baya itu.


" Apa dia juga memberitau anda kemana dia akan pergi? "


" Saya tidak punya kewenangan untuk menanyakannya lebih lanjut pak. Karna sepertinya ini masalah pribadi. Dan anda pasti sudah lebih dulu mengetahui alasan yang sebenarnya, dari keputusannya yang tiba-tiba ini. "


Erick tersentak dengan dugaan bawahannya itu.


" Maksud anda apa ? "


Bu Diana terlihat menarik nafas agak dalam, sebelum menjawab pertanyaan Erick.


" Sebelumnya saya minta maaf pak Erick. Mungkin terkesan lancang bagi saya jika mencampuri urusan pribadi kalian. Terlebih anda dan pak Yoga adalah atasan saya. "


Mendengar bu Diana menyebut nama Yoga, Erick sedikit terkejut dan langsung berpikir, mungkinkah bu Diana mengetahui tentang kejadian semalam.


' Kenapa bu Diana bisa sampai bicara seperti itu? Apa mungkin dia bisa mendengar pembicaraan kami dari ruangannya? Karna gak mungkin Biqha memberitaukan alasan yang sebenarnya...'


Erick bermonolog dalam hatinya, mengingat ruangannya bersebelahan dengan ruangan Bu Diana.


" Pak Erik Apa anda tahu ? Saat ini anda, Pak Yoga dan juga Biqha sedang menjadi perbincangan para karyawan di divisi ini. "


Mendengar hal itu Erick semakin yakin, bahwa yang dimaksud bu Diana adalah kejadian semalam. Sejenak Erick sedikit menunduk dan memejamkan mata sembari menggelengkan kepalanya.


" Saya tidak tau seberapa mendesaknya masalah diantara kalian pak Erick..... tapi saya sangat menyayangkan, mengapa kalian memilih untuk memperdebatkannya di kantor ini pada saat jam kerja ?! Itu sungguh sangat tidak profesional. "

__ADS_1


Erick kembali menundukkan kepalanya, dia merasa malu dan sangat menyesali kejadian semalam.


" Anda seharusnya mengerti. Meski karyawan diluar sana tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang kalian perdebatkan. Tapi kegaduhan yang terjadi disini semalam, bisa saja terdengar oleh mereka. Dan itu jelas akan membuat para karyawan berspekulasi terhadap apa yang terjadi. "


" Maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi semalam bu..... "


Erick merasa tidak enak hati pada bu Diana. Meski jabatannya lebih tinggi dari bu Diana, tapi Erick sangat menghormati bu Diana sebagai senior.


" Tidak pak Erick. Anda adalah atasan saya, anda tidak harus meminta maaf pada saya. Saya hanya sangat menyayangkan hal itu. Saya tau itu pasti diluar kendali pak Erick. Karna saya yakin.... Bukan anda yang memulai memicu kegaduhan yang terjadi. Anda adalah orang yang cukup bijak dan profesional. Anda bukan orang yang suka mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan. Apalagi pada jam kantor. "


Bu Diana terlihat kembali menarik nafas, sebelum melanjutkan ucapannya.


" Baiklah pak Erick, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Saya serahkan keputusan masalah ini pada anda. Saya permisi dulu. "


Bu Diana memilih menyudahi pembicaraan ini, karena dia menyadari betul kapasitasnya sebagai seorang bawahan, yang tidak berhak ikut campur masalah pribadi atasannya.


Mendengar pernyataan tersebut, Erick hanya bisa menarik sedikit sudut bibirnya.


" Baiklah.... Akan saya pertimbangkan masalah ini dan membicarakannya langsung pada Biqha nanti. Terima kasih bu Diana....."


" Sama-sama pak. "


Bu Diana pun beranjak dari duduknya dan melangkah menjauh. Namun saat bu Diana hampir sampai di depan pintu keluar, Erick kembali memanggilnya. Sehingga dia pun kembali menoleh kebelakang.


" Bu Diana. Menurut anda..... Apakah lebih baik jika kita menyetujui saja permohonan pengunduran diri dari Biqha? Atau kita minta dia untuk mempertimbangkannya lagi? dan mempertahankannya di perusahaan ini? "


Bu Diana kembali melangkah mendekat.


" Bicara soal profesional kerja.... Akan sangat disayangkan kalo perusahaan ini kehilangan karyawan sebaik dirinya. Dia sangat cerdas dan bertanggungjawab pak. Meski dia baru disini dan dia memiliki kekurangan fisik, tapi dia bisa lebih cekatan dari yang lainnya. Dia juga sangat rapih dan teliti dalam membuat laporan. "


Erick manggut-manggut menyetujui pernyataan bu Diana tentang Biqha.


" Tapi.... Itu kembali lagi pada personalnya. Bila ini menyangkut masalah pribadi.... Tentu saja kita tidak bisa memaksakan padanya untuk tetap bekerja disini. Apalagi bila dia sudah tidak merasakan kenyamanan bekerja disini. "


' Kalo itu saya juga udah tau bu..... jawabannya tetep aja ngambang, antara iya dan tidak. Hah.....'


Setelah kepergian bu Diana, Erick kembali memandangi surat pengunduran diri Biqha sembari terus berpikir.


' Jujur aku gak tau harus gimana Bi....... Aku tau kenapa kamu melakukan ini, tapi..... Apakah benar ini keputusan yang terbaik? '


Erick merasa ragu, mengingat karakter sahabatnya yang sangat keras kepala tapi juga sangat rapuh bila mengenai Biqha. Apalagi bila mengingat kejadian dulu saat Biqha menghilang, Yoga sangat frustasi hingga terpuruk dan menjadi candu akan minuman beralkohol.


Pikiran Erick terus melayang mengingat kejadian semalam. Setelah Biqha menunjukkan sikap tegasnya pada Yoga, Biqha langsung berlalu begitu saja meninggalkan ruangan Erick. Dan seketika Yoga berusaha mengejarnya, namun Erick menghalanginya.


Awalnya Yoga sangat marah karna Erick tidak membiarkannya menyusul Biqha keluar. Namun setelah itu dia hanya bisa terduduk lemah, sambil menangisi hatinya yang kembali patah dan harapannya yang telah sirna. Biqha benar-benar tidak sudi lagi berhubungan dengannya.


Dalam kerapuhannya Yoga meminta maaf pada Erick dan terus menerus memohon padanya, agar mau membantunya membujuk Biqha. Supaya Biqha tidak pergi dan menghilang lagi darinya.


" Gue gak bisa berbuat apa-apa Ga. Itu udah jadi keputusan Biqha. Dan itu juga karna sikap lo ini. Lo yang maksa Biqha ambil keputusan itu. "


" Gue mohon Rick....! Saat ini cuma lo yang dia denger. Jangan biarin dia pergi dari sini Rick. Bujuk dia supaya tetap berada disekitar gue Rick. Gue gak bisa hidup tanpa Biqha. Gue bisa gila kalau sampe gue kehilangan dia lagi. "


" Lo harus bisa terima kenyataan Ga, lupain dia ! Biqha bukan perempuan egois. Dia gak akan bisa bahagia diatas penderitaan orang lain. Lupain dia Ga.....! Lo gak bisa maksain kehendak lo terus sama Biqha kayak gini. "


" Gue mohon Rick.... Bantu gue ! Jangan biarin dia pergi dari sini. Gue janji.... Gue janji akan melakukan apapun Rick, asal dia tetap disini. Gue mohon...... "


Mengingat kejadian semalam, membuat Erick menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Diliriknya kembali amplop putih itu, kemudian dia raih dan dia letakkan amplop itu ke dalam laci meja kerjanya. Erick ingin fokus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu, sebelum bicara dengan Biqha ataupun Yoga lagi hari ini.


Setelah menyelesaikan sebagian pekerjaannya, menjelang makan siang Erick memanggil Biqha ke ruangannya. Biqha pun masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


" Masuklah Bi.... ! "


Erick memerintahkan Biqha untuk masuk, sembari beranjak dari meja kerjanya lalu berpindah menuju sofa di depan meja kerjanya. Biqha pun mengikutinya ke arah sofa dan duduk disisi sofa sebelah kiri. Sementara Erick ada disisi tengah.


" Bu Diana udah memberikan surat pengunduran diri lo ke gue..... Gue gak nyangka lo bakal bertindak secepat ini Bi..... "


" Lhebhih chephat hakhan lhebhih bhahik. " ( lebih cepat akan lebih baik. )


Jawab Biqha cepat dan tegas, namun dengan kepala sedikit menunduk. Erick mengamati wajah Biqha dengan sisa-sisa kesedihan yang tertinggal dimatanya.


' Biqha pasti memikirkan masalah ini semalaman sambil menangis. ' gumamnya dalam hati.


" Terus.... Apa yang akan lo lakuin setelah ini? Lo mau jualan kue lagi kayak dulu? "


Biqha mengangguk dengan perlahan.


" Mhungkhin mhemhang hanyha hithu phekherjhahan yhang chochok hunthukhu. Thaphi hakhu pherchayha, Allah ghakh hakhan mhenhuthup phinthu rhizkhi bhaghi ohrhang yhang mhahu bherhushaha. "


( mungkin memang hanya itu pekerjaan yang cocok untukku. Tapi aku percaya, Allah gak akan menutup rizki bagi orang yang mau berusaha. )


" Gue gak meragukan hal itu dari lo sedikit pun Bi...... Gue yakin gak akan ada yang bisa mematikan langkah lo untuk maju. Tapi apa lo benar-benar berencana akan pergi? Kemana lo akan pergi Bi.....? Bukannya selesai semester ini, akan jadi tahun terakhir Rendra kuliah ? Jadi kalian gak bisa pergi dari kota ini. Lo gak mungkin pergi sendiri kan Bi......?! "


Biqha semakin menundukkan kepalanya.


" Mhungkhin thidhak unthuk shemhentharha whakthu hinhi. Thaphi..... (Mungkin tidak untuk sementara waktu ini. Tapi.....)


" Jadi lo belum mempersiapkan semua dengan matang kan ?! "


Erick memenggal ucapan Biqha yang terdengar ragu-ragu. Biqha pun tidak bisa menjawabnya, melainkan hanya menunduk sembari menarik nafas.


" Bi..... Jujur gue gak tau harus gimana sekarang. Gue tau lo ngelakuin semua ini demi kebaikan. Lo mau bersikap tegas pada Yoga, dan gue setuju


sama lo. Tapi gue gak yakin ini keputusan yang terbaik Bi....... Gue takut ini hanya akan membuat Yoga semakin nekat. Atau justru akan membuatnya terpuruk seperti dulu."


Biqha menatap lurus ke arah Erick dengan dahi sedikit berkerut.


" Bi... dulu saat lo menghilang, Yoga bercerita kalo sebelumnya kalian melakukan panggilan video via webcam. Dan saat itu dia mengutarakan kembali perasaannya sama lo, dan meminta lo berjanji kalo setelah selesai kuliah lo akan menerima cintanya. Tapi lo justru bilang kalo lo gak mau berjanji apapun."


Biqha mengangguk, membenarkan hal itu.


" Mhasha dhephan ghakh hadha yhang thahu. Jhodhoh, rhezhekhi dhan mhahut, Allah yhang thenthukhan. " ( masa depan gak ada yang tau. Jodoh, rezeki dan maut, Allah yang tentukan. )


" Ya... Gue ngerti kenapa lo ngomgong begitu. Tapi setelah itu lo menghilang. Yoga menganggap itu sebagai sikap penolakan dari lo. Dia patah hati dan sangat frustasi saat itu, dan mulai menjadikan alkohol sebagai pelariannya. Dia berubah seketika karna hal itu Bi...... Dia menjadi liar dan mulai bermain-main dengan wa......"


Erick menghentikan ucapannya. Menyadari hal itu tidak pantas dia ceritakan pada Biqha. Biar bagaimana pun Erick tidak berhak membuka aib terburuk sahabatnya.


" Bhermhahin-mhahin dhenghan hapha? Whanhitha? Cherithakhan phadhakhu shemhuanyha ! " (Bermain-main dengan apa? Wanita? Ceritakan padaku semuanya! )


Erick tidak menyangka Biqha akan menebaknya. Erick menjadi bingung sendiri karna sudah salah bicara. Pada akhirnya Erick terpaksa menjelaskannya.


" Salah satu teman gue yang kuliah difakultas psikologi bilang, dia menjadi insecure karena penolakan lo. Karena itu dia jadi selalu ingin membuktikan diri kalo dia punya daya tarik, saat ada wanita di dekatnya. Dia ingin membuktikan kalo dia layak dicintai dan dimiliki oleh seseorang. "


Biqha semakin mengerutkan dahinya.


" Lupakan masalah itu. Intinya.... Gue khawatir dia akan kembali terpuruk seperti dulu Bi..... Itu akan membuat semua semakin terluka. Semalam dia bahkan sampe berkali-kali memohon sama gue untuk membujuk lo supaya gak pergi dari sini. "


Biqha tidak mampu berkata-kata, matanya mulai berlinang. Dia tidak tau harus berbuat apa, agar semuanya bisa kembali membaik seperti dulu.


" Bi.... biar gue coba ngomong sekali lagi sama Yoga. Gue akan berusaha buat dia mengerti. Sebelum itu..... Gue belum bisa menyetujui pengunduran diri lo. Lagi pula lo belum mempersiapkan segala sesuatu hal dengan matang. Saat lo udah yakin dan mantap dengan arah tujuan lo, gue gak menghalangi langkah lo Bi...... Lo berhak bahagia. Lo berhak menentukan jalan hidup lo sendiri. "

__ADS_1


Sejenak mereka saling tatap dalam sendu.


" Gue harap lo bisa ngerti dengan keputusan ini Bi..... Dan lagi ini akhir bulan. Lo tau sendiri, kita akan sangat sibuk di akhir bulan. Kalo lo keluar sekarang, staf yang lain akan kewalahan. Bertahanlah sementara waktu..... Gue bakal mengupayakan agar semuanya kembali membaik. "


__ADS_2