Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 46. Makan Bersama.


__ADS_3

" Dengarkan aku sebentar...! "


Ucap Alina pada Yoga, kemudian menatap Erick sebentar lalu beralih pada Biqha. Alina merangkul pundak Biqha, yang tingginya hanya sebatas bahunya.


" Nabiqha.... Bukankah kamu lelah dengan gunjingan orang-orang disini terhadap kamu? Dengar.... Kalau kamu ikut dengan kami saat ini, orang-orang akan melihat bahwa kita juga memiliki kedekatan. Dengan begitu prasangka mereka akan berubah. Karena mereka berpikir aku juga mengenalmu dengan baik. Lambat laun mereka juga akan berpikir, kalau tidak mungkin ada Affair diantara kalian. "


Ucapan Alina kembali membuat Yoga dan Erick shock. Sedangkan Biqha melirik pada Yoga sejenak, kemudian menatap Alina dengan penuh perasaan bersalah. Lalu dia beralih memandang Erick seolah meminta bantuan, karena merasa serba salah.


" Apa maksudmu Lin? "


Tanya Erick mencoba memecah ketegangan yang baru saja terjadi pada mereka.


" Nanti aku jelaskan diluar. Sekarang kita lebih baik pergi dari sini. Terlalu banyak pasang mata yang memperhatikan kita disini."


Erick, Yoga dan Biqha seketika memutar pandangan mereka. Ada banyak karyawan yang seketika memalingkan wajah, berpura-pura tidak memperhatikan. Tapi saling berbisik seraya berlalu. Mereka akhirnya mengikuti saran Alina.


Sampai di parkiran langkah mereka terhenti, karena Yoga yang tidak sabar ingin mengetahui maksud perkataan Alina pada Biqha.


" Sekarang jelaskan, apa maksud perkataanmu tadi? Dan bagaimana kamu bisa mengenal Biqha? "


" Sayang, disini sangat panas. Tidak bisakah kita mencari tempat yang lebih sejuk dan santai dulu? "


Jawab Alina dengan masih berakting, seolah hubungan mereka baik-baik saja dan tetap mesra. Meski Yoga mulai bersikap kasar padanya.


" Cukup Alin. Hentikan sandiwaramu itu ! Disini sudah tidak ada yang memperhatikan kita. Jadi jelaskan sekarang ! Dan kalau tujuanmu hanya untuk terlihat memiliki kedekatan dengan Biqha, aku rasa ini sudah cukup. Bahkan aku dan Erick...."


" Hei..... Calm down bro."


Erick merangkul sembari menepuk-nepuk pundak Yoga. Sementara Biqha yang tadi sempat tersentak, melihat kata-kata Yoga yang kasar pada Alin, beralih memandang Alin dengan sendu.


" Lo kenapa sih, sewot aja bawaannya. Lagian kalo lo ngomel terus, gimana Alin mau ngejelasin?! " sambungnya.


Yoga langsung membuang wajah sambil menarik nafas panjang. Mencoba untuk menenangkan hatinya.


" Thank's Rick. Emang cuma lo yang paling bisa nenangin dia ya..... Belakangan ini gue bener-bener gak bisa paham sama emosinya, yang sering kali tiba-tiba meledak-ledak gak jelas. " Keluh Alin seraya tersenyum hambar.


Yoga langsung kembali menatapnya tajam. Alina mengerti maksud dari tatapan itu, dan segera ia pun menjelaskan kejadian beberapa menit lalu.


" Sebelum aku sampai ke ruangan kamu, aku bertemu dengan Biqha. Saat itu aku melabrak dua karyawan yang sedang menggunjingnya. Bahkan mereka berucap hal-hal yang tidak pantas tentang kalian. Tapi dia hanya diam. Itu membuatku sangat kesal. "


Penjelasan Alina membuat Yoga dan Erick seketika memandang Biqha. Biqha menganggukkan kepala pada Erick, tapi tidak pada Yoga.


" Mereka mengolok-olok Biqha sebagai wanita yang tidak baik. Karena dianggap sengaja mendekatimu dan merayumu, agar bisa bekerja disini dan mendapatkan pundi-pundi darimu. Bahkan mereka juga berani mengataimu sebagai laki-laki hyper, yang memiliki tunangan sepertiku tapi masih mau bermain-main dengan wanita seperti Biqha. "


" APA...? "


Mata Yoga membulat sempurna, dengan kilatan amarah yang tidak bisa dibendung lagi mendengar penjelasan Alina.


" Iya.... Bukankah itu sangat keterlaluan?! Dia hanya bisa mengangis, menyaksikan percakapan mereka dari pantulan bayangan di pintu lift. Tapi dia memilih diam dan berpura-pura tidak mengetahui semuanya. Karena merasa sangat lelah menghadapi prasangka buruk mereka. Dia juga nyaris menangis saat meminta maaf padaku. "


" Meminta maaf? tanya Yoga.


" Iya. Dia meminta maaf padaku, karena merasa tidak enak hati. Dan meyakinkanku kalau tidak ada hubungan apapun di antara kalian. Dia juga sudah menjelaskan semuanya padaku. "


Yoga dan Erick spontan kembali memandang Biqha dengan rasa penasaran. Biqha menatap mereka sejenak lalu menunduk. Sorot matanya semakin sayu.


" Bi, katakan padaku siapa mereka ! Akan ku beri pelajaran mereka, karena sudah berani menghinamu. " ucap Yoga tegas.


" Bi...? "


" Biqha. Disingkat jadi Bi. Kami memanggilnya begitu sejak dulu. "


Erick menjelaskan pada Alina. Karena takut Alina salah mengartikan panggilan itu, setelah mendengar Alina mempertanyakannya.


" Oh.... Seperti panggilan sayang pada pasangan ya. Bi dari kata baby. "

__ADS_1


" Bhukhan. Bhukhan bheghithu. " (bukan. Bukan begitu.)


Bahkan Biqha yang sedari tadi bungkam, ikut buka suara, karena takut Alina akan menaruh curiga padanya. Biqha membantah seraya menggerakkan tangannya. Sementara Yoga hanya bisa mendengus kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa.


" Iya Bi.... Aku percaya kok sama kamu. aku juga yakin kalau Yoga tidak akan mengkhianatiku. Kalau pun dia tidak menginginkanku lagi, dia tidak akan memilih cara pengecut seperti itu. Benar kan sayang? "


Ucapan Alina telak membuat Yoga kembali meradang. Namun dia tidak bisa berkata apapun. Seketika Erick dan Yoga saling lirik, sebelum akhirnya Yoga membuang wajah dengan kesalnya. Sedangkan Biqha menunduk karena malu dan rasa bersalah setelah tersentil dengan ucapan Alina. Matanya memerah dan linangan airmata mulai terlihat dipelupuk matanya.


" Sudahlah. Lupakan soal omongan gak jelas mereka itu. Sekarang lebih baik kita cari makan. Karena aku sudah sangat lapar. "


" Ayo....!" jawab Erick.


" Rick, kami ikut dengan mobilmu. Emosiku sedang tidak stabil saat ini, aku tidak akan bisa menyetir dengan baik. "


Yoga tidak rela membiarkan Erick dan Biqha berduaan dalam mobil. Selain itu dia juga tidak ingin Biqha terus salah paham terhadapnya dan Alina.


" Aku kan bisa menyetir. Ah..... tapi tidak. Lebih baik kita satu mobil aja, biar aku bisa lebih dekat dengan Biqha. Ayo.....! "


Alina langsung menggandeng tangan Biqha, dan membawanya berlalu lebih dulu mendekati mobil Erick. Biqha hanya bisa sekilas memandang ke arah Erick dan Yoga, dengan putus asa.


Alina memilih duduk dibelakang bersama Biqha. Diperjalanan Alina selalu saja mengajak Biqha mengobrol.


" Bi.... Ceritakan padaku, bagaimana mereka di sekolah dulu. Mereka dulu pasti badung kan?! "


Biqha menggelengkan kepalanya pelan.


" Ghak khok. Mherhekha bhahik. " (Gak kok. Mereka baik.)


" Akh..... Kamu terlalu baik hati Biqha. Atau kamu takut ya membuka aib mereka saat SMA dulu, karena mereka sekarang atasan kamu ? Ayolah... Ceritakan padaku ! Mereka pasti pernah nakal dan melakukan kejahilan-kejahilan semasa SMA. "


Biqha kembali menggelengkan kepalanya pelan, dengan sikap yang amat canggung. Erick menyadari ketidaknyamanan yang dirasakan Biqha. Melalui kaca windshield, Erick dan Yoga diam-diam memperhatikan Biqha. Tanpa sengaja mata Erick dan Biqha bertemu melalui cermin kecil tersebut.


Sorot mata Biqha seolah mengisyaratkan meminta bantuan pada Erick. Sementara Erick yang sedang menyetir, fokusnya menjadi terpecah pada Biqha. Sebentar-sebentar mereka saling pandang dalam cermin kecil itu. Yoga yang menyaksikan hal itu, menjadi kian emosi. Tapi dia tetap tidak bisa berbuat apa-apa.


" Bagaimana dengan pacar? Apa kamu tau berapa banyak mantan mereka saat SMA Bi?


" Kami tidak punya pacar saat SMA. Walaupun banyak cewek-cewek yang naksir sama gue, tapi gue nggak ada kepikiran buat pacaran."


" Dih..... PD banget lu Rick. Songong lagi. Emang iya begitu Bi? Terus.... Kalo Yoga gimana, berapa banyak cewek yang dulu pernah dipacarin sama dia? "


Biqha terdiam terpaku.


" Gak ada Alin......"


" Satu. Hanya satu gadis yang bisa menaklukkan hatiku. "


Jawab Yoga cepat, dengan sorot mata lurus ke depan. Membuat Erick dengan spontan melotot ke arahnya sekejap, karena shock dengan pengakuannya. Kemudian Erick beralih pada windshield di atas kaca depan mobilnya, mencoba memberitahu Biqha tentang apa yang baru saja diucapkan Yoga dengan bahasa isyarat. Biqha pun membulatkan matanya, seketika tubuhnya serasa gemetar karena takut.


" Oya...? Berapa lama kalian menjalin hubungan? "


" Dia gak mau pacaran sebelum lulus kuliah. Jadi kami hanya berteman sampai kami terpisah, karena aku harus kuliah diluar. "


Yoga berucap seraya pikirannya menerawang ke masa-masa itu. Erick menjadi panik sendiri dengan pengakuan Yoga. Apalagi setelah dilihatnya Biqha yang menjadi ketakutan disamping Alina.


" Wow.... Dia gadis yang sangat berprinsip. Atau bisa jadi itu cuma alasan dia aja buat nolak kamu secara halus. "


" Tidak. Dia bukan gadis seperti itu. "


Dengan kesal Yoga memalingkan wajah ke belakang, dan menjawab dengan tegas pernyataan terakhir Alina. Hingga Biqha bisa melihat dengan jelas gerak bibir Yoga. Biqha pun semakin panik, hingga rasanya sulit bernafas disamping Alina.


" Aku tau persis kalau dia juga......"


" Akh..... Btw kita mau makan dimana nih? "


Dengan cepat Erick memotong ucapan Yoga, dengan nada yang sedikit kencang. Yoga pun seketika melotot kearahnya. Dan Erick juga sempat membalas tajam tatapannya, sebelum kembali beralih pada jalanan di depan.

__ADS_1


" Oh.... Iya. Kita makan di restoran biasa aja Rick. Gue udah pesen private room untuk kita.


" Ok...."


Alina kemudian terdiam. Dipandanginya satu persatu orang yang ada di dalam mobil tersebut. Terakhir dia memandang Biqha yang terpaku dengan wajah menunduk, dan mata yang memerah.


' Begitu besar rasa persahabatan kamu pada mereka Rick. Sampe kamu juga berusaha begitu kerasnya menutupi kebohongan mereka. Dan kamu Biqha, haruskah aku merasa kasihan melihatmu ketakutan dan merasa bersalah seperti ini? Tapi aku gak bisa bohongi hatiku. Hatiku sakit Biqha.....sakit.'


Meski rasanya ingin menangis, namun Alina berusaha keras menahan perasaannya.


" Biqha apa kamu tau siapa gadis itu? "


Biqha terbelalak menatap Alina. Hanya terdiam tak mampu berucap. Yoga terlihat sangat kesal. Saat Yoga bergerak ingin menghadap ke belakang, Erick langsung menarik lengannya dan menatapnya tajam.


" Sudahlah Alin.... Untuk apa membahas masa lalu? Masa lalu biarkan berlalu. Saat ini kalian berdua kan sedang ingin menata masa depan. Fokuslah dengan hal itu. Banyak orang bilang mendekati hari pernikahan, calon pengantin akan lebih sensitif. Jadi lebih baik hindari pembahasan yang akan memancing keributan seperti ini. Itu hanya masa lalu, tidak perlu dibahas lagi. "


Yoga melirik tajam dengan kilatan amarah,hati dan pikirannya benar-benar tidak bisa menerima ucapan Erick barusan. Sementara Alina terdiam meresapi nasehat dari Erick. Kemudian Alina tersenyum dan meminta maaf pada mereka semua.


Di sisa perjalanan menuju restoran, akhirnya Alina mengubah topik pembicaraan. Berbasa-basi pada Biqha, membahas Hobi dan kesukaan wanita lainnya.


Sampai di restoran, kejutan lain mengagetkan mereka berempat. Saat pelayan restoran membukakan pintu private room itu, ternyata di dalam sudah ada beberapa orang yang mereka kenal.


" Mama papa? Dan.... Mami papi kok disini? "


Tanya Alina dengan mimik wajah kaget dan sedikit cemas, melihat kedua orangtuanya dan orangtua Yoga beserta dua orang dari WO ada disana. Yoga langsung melirik tajam pada Alina. Dan menggerakkan bibirnya tanpa bersuara.


' Apa-apaan ini ? '


Alina menggelengkan kepalanya cemas, menatap Erick, Biqha dan Yoga secara bergantian. Sementara kedua orangtua Yoga juga sedikit kaget melihat Erick dan gadis di sebelahnya. Terlebih papa Yoga yang sudah sangat mengenal siapa gadis itu. Matanya langsung menatap nyalang pada Biqha, Erick, dan juga Yoga.


Biqha sampai merasa menggigil dan tidak berani mengangkat wajah, dengan tatapan tajam mengintimidasi yang papa Adi arahkan padanya. Dengan sendirinya tangan Biqha terangkat, meremas bagian sisi dalam lengan kemeja Erick. Merasakan sentuhan tangan Biqha yang sedikit gemetar, membuat Erick dengan sendirinya merapatkan lengannya pada tubuh. Menghimpit tangan Biqha yang gemetar.


Meski hanya satu gerakan kecil, namun itu sangat berarti bagi Biqha. Yang sedari tadi merasakan tekanan dari situasi yang memojokkan dirinya. Seolah gerakan Erick itu mengisyaratkan kalau dia mengatakan ' tenanglah Bi..... Aku ada disini.'


" Mama papa dan papi mami kenapa bisa ada disini? " Tanya Alina lagi.


" Kami pikir kenapa tidak sekalian saja, kita makan siang bersama sembari membahas konsep pernikahan yang sudah mereka siapkan untuk kalian. " jawab mami Alina.


" Iya sayang. Setelah ini kita baru sama-sama pergi ke bridal boutique, untuk melihat desain gaun pengantin yang akan kamu pilih. " tambah mama Hani.


" Tapi darimana kalian tau kami akan kesini? "


" Tentu saja kami tau. Ini kan restoran favorit kalian. Dan kebiasaanmu pasti memesan private room terlebih dahulu sebelum sampai kesini." jelas mami lagi.


" Apa kabar Ericko? Sudah lama sekali kita tidak bertemu."


Tiba-tiba papi Alina menyapa Erick yang sedari tadi membuatnya salah fokus.


" Alhamdulillah baik om. "


" Akh Ricko. Dan.... Gadis cantik ini siapa? " tanya mama Hani ramah.


Ada secercah harapan yang tiba-tiba menghangatkan hati Yoga, mendengar sang mama memuji Biqha.


" Ini Nabiqha ma, temen SMA mereka. Mama gak kenal? "


Ucapan Alina seketika membuat ekspresi mama Hani berubah 180 derajat. Senyum ramah yang merekah seketika lenyap.


" Na.... Nabiqha.... Azzahra...? "


Melihat situasi yang semakin rancu ini, Erick memilih mengambil tindakan untuk menghindar.


" Maaf Semuanya..... Alin, sebaiknya kami makan ditempat lain saja. Kalian kan sedang ingin membahas masalah pernikahan. Jadi..."


" Ah.... Maaf ya Rick.... Biqha. Lain kali aku akan menraktir kalian, ok...? "

__ADS_1


" It's ok Lin....."


" Kenapa tidak makan bersama saja disini? Kalian kan sudah sampai disini, untuk apa mencari tempat lain lagi. " ucap mami Alina.


__ADS_2