Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 13. Perdebatan Yoga dan Erick


__ADS_3

Erick memutuskan untuk segera bicara dengan Yoga di ruangannya.


" Febi.... Pak Yoga ada? "


Erick menghampiri meja sekretaris Yoga dan bertanya tentang keberadaan pimpinannya itu. Erick pun di sambut dengan senyum ramah dari Febi sang sekretaris CEO.


" Iya pak Erick. Pak Yoga ada di ruangannya. Baru.... aja datang." Jawabnya ramah.


Erick melihat arloji yang melingkar di tanganya.


' Jam segini baru datang ? Tumbenan tu anak telat masuk kantor. '


Erick membatin setelah melihat waktu menunjukan hampir jam sepuluh, menjelang siang.


" Ok. Saya masuk ya... "


Ucap Erick yang di jawab anggukan kepala dari sekretaris Yoga. Erick memang terbiasa menemui Yoga di ruangan nya tanpa pemberitauan terlebih dahulu dari sekretarisnya. Karena Erick termasuk pengecualian di antara karyawan yang lain.


Erick mengetuk pintu ruangan Yoga. Setelah mendapat jawaban dari dalam. Erick memegang handle pintu, lalu membukanya dan segera masuk ruangan CEO itu.


Mendengar suara pintu terbuka Yoga langsung menoleh. Melihat kehadiran Erick, Yoga langsung memasang wajah serius. Mengingat Erick biasanya hanya akan membicarakan masalah pekerjaan, jika mengunjunginya pada jam kerja. Terkecuali bila Erick datang menjelang jam makan siang, atau menjelang jam pulang kantor.


" Ada masalah apa Rick? " Tanya Yoga.


Erick menarik kursi di depan meja kerja Yoga, dan duduk di atasnya. Erick menarik nafas sebelum memulai pembicaraan, yang mungkin akan memancing emosi sahabatnya itu. Erick juga masih bimbang harus memulai pembicaraan itu dari mana. Tetapi dia merasa harus memastikan langsung pada Yoga, tentang tujuan Yoga merekomendasikan Biqha untuk bekerja disini.


" Ga'..... Kenapa lo gak cerita sebelumnya sama gue, kalo karyawan baru di divisi accounting itu Biqha? Dan itu lo sendiri yang rekomendasi'in langsung...."


Akhirnya Erick memutuskan untuk to the point saja. Dan Yoga menegakkan posisi duduknya menghadap Erick dengan tatapan serius.


" Sejak kapan kalian kembali bertemu? Apa sehari sebelum jadwal interview itu? Apa karena itu kamu melamun dan senyum-senyum sendiri waktu itu?"


Tanya Erick lagi dan berusaha menebak apa yang terjadi sebelumnya.


Yoga semakin menatap tajam ke arah sahabatnya itu. Kemudian dia menarik satu sudut bibirnya.


" Lo kenapa jadi sotoy gitu sih Rick? Lagian tumben-tumbenan lo ngomongin hal pribadi di jam kerja?"


Tanya Yoga berusaha meredam emosinya. Karena melihat sikap sahabatnya yang sepertinya akan menentang keputusannya. Dan mungkin akan mengguruinya setelah ini.


" Sory..... Kalau gue harus bahas ini di jam kerja. Tapi gue rasa ini harus gue pasti'in sama lo. Sebelum semua semakin jauh."


Erick semakin membahas masalah ini dengan serius, dan menatap Yoga dengan pandangan menuntut.


Yoga mulai gelisah, sejenak dia mengalihkan pandangan ke arah lain. Yoga tidak yakin dia bisa menutupi masalah ini dari Erick. Karena Erick seakan selalu bisa membaca isi hatinya. Kemudian ia kembali menatap Erick dengan berusaha bersikap biasa saja.


" Semakin jauh apanya sih Rick?"


" Ga'... Lo tau maksud gue apa..."


Erick dengan cepat memotong ucapan Yoga.


" Ok..."


Yoga menghadapkan telapak tangannya ke arah Erick bersiap untuk menjelaskan.


" Gue ketemu Biqha beberapa hari lalu. Terus kita ngobrol sebentar sambil makan siang. Ya..... sekedar say helo. Tanya-tanya kabar, namanya juga udah lama gak ketemu kan. Dari situ gue tau kalo dia lagi cari kerja. Dan kebetulan kita juga lagi butuh akuntan kan? Sesuai sama jurusannya. So.... I think it's not matter to help her... "


Yoga menjelaskan dengan santai pada Erick. Berusaha untuk tidak membuat Erick menaruh curiga terhadap keputusannya. Karena dia yakin Erick tidak akan setuju. Bila tau bahwa Yoga menginginkan kehadiran Biqha di sini, juga karena ingin kembali dekat dengan Biqha.

__ADS_1


Erick mendengarkan dengan tatapannya yang masih lekat pada Yoga.


" Rick... Sejak lulus kuliah sampe sekarang, dia belum mendapatkan pekerjaan sama sekali. Dan lo pasti paham kan apa penyebabnya ? "


Erick terdiam dan raut wajahnya berubah seketika mendengar penjelasan Yoga. Erick paham betul apa yang Yoga maksud. Ada rasa iba juga di hatinya menyadari hal itu.


" Menurut lo itu adil buat orang yang memiliki potensi dan kualitas seperti dia? Bahkan mungkin sebagai temen, lo lebih tau seberapa besar potensi yang dia miliki ketimbang gue Rick. Karna lo yang lebih sering berdebat, bersaing dengannya untuk jadi yang terbaik di sekolah. Kalian juga pernah bekerja sama meraih posisi terbaik di olimpiade."


Erick menarik nafasnya pelan, lalu meluruhkan tubuhnya bersandar pada sandaran kursi.


" Dari sekian banyaknya perusahaan yang dia datangi..... Gak ada satu pun yang mau memberinya kesempatan, untuk membuktikan kualitasnya Rick. Hanya karena ITU.... "


Jelas Yoga lagi dengan emosi yang mulai terpancing. Sorot matanya jelas menunjukkan rasa prihatin. Begitu pun dengan Erick yang mendengar penjelasannya. Ada sedikit sesal di hatinya. Mengingat dirinya yang mungkin terlalu berpikiran pendek tentang hal ini.


" Gue tau. Dia punya potensi yang besar. Dia juga punya kualitas yang sangat baik. Dia juga orang yang disiplin dan pekerja keras, yang pastinya juga akan loyal pada perusahaan."


" Yeah... that's right. So..... what's the problem?


Yoga dengan cepat menyambar perkataan Erick. Yoga bertanya dengan mengedikkan bahu dan mengangkat kedua tangannya melebar di hadapan Erick.


" Dimana letak kesalahan gue ngerekomendasi'in dia disini? Apa lo juga akan berpikiran sama dengan kebanyakan orang? Yang akan menjadikan kekurangannya sebagai alasan, untuk mematikan langkahnya untuk maju? Oh... C'mon Rick...."


Yoga mulai memperlihatkan rasa kesalnya. Sementara Erick menundukkan pandangannya, berpikir dan merenungkan semua perkataan Yoga.


Yoga menggerakkan tubuhnya ke depan, bertumpu pada kedua siku lengannya di atas meja. Dan menyatukan kedua tangannya dengan jari jemarinya yang saling mengait.


" Rick.... Kita berdua tau bagaimana kondisi perekonomian keluarga Biqha. Mereka berjuang sangat keras untuk bisa memperbaiki hidup mereka. Mereka bahkan harus menjual rumah mereka demi pengobatan ibunya. Sekarang ibu mereka udah gak ada. Otomatis tanggung jawab sebagai kepala keluarga ada di pundak Biqha sekarang. Sebagai teman, kalau kita bisa sedikit membantu kenapa gak....?"


Yoga berusaha menarik rasa empati Erick. Yang dia tau sesungguhnya sahabatnya itu memiliki jiwa sosial yang tinggi.


" Sebenernya gue gak ada masalah sama sekali kalau Biqha bekerja disini. Gue cuma khawatir kalo lo gak profesional tentang ini. Gue gak mau, kalo sampe alasan dibalik ini semua hanya karena lo masih berharap sama dia. Ini bukan karena lo masih punya peraaaan kan sama dia? "


Kini giliran Yoga yang menarik nafas panjang dan menghembuskanya, sembari meluruhkan punggungnya bersandar pada kursi kebesarannya.


" Kenapa lo bisa berpikiran sepicik itu Rick? Berpikir gue gak profesional disini? Karena dulu gue pernah suka sama Biqha.... Gitu?"


Tanya Yoga tajam. Erick pun memandang lekat mata Yoga, mencoba menelisik dari sorot matanya.


" Sory.... Ga'. Tapi menurut gue cara lo ini terlalu gegabah dan mencolok banget. Kalo lo mau merekomendasikan dia, biarkan dia menjalani prosesnya seperti biasa."


Erick bangkit dan menegakkan posiai duduknya.


" Harusnya lo biarin dulu proses interview dengan orang-orang yang sudah terjadwal sebelumnya berjalan. Setelah itu lo bisa nyatain keberatan sama pilihan mereka, dengan mengatakan kalo lo punya kandidat yang lebih baik. Baru lo ajukan Biqha sebagai rekomended lo. Dan biarkan prosesnya berjalan semestinya sesuai tahapan. Bukan dengan cara gegabah dan terburu-buru, seperti orang yang gak sabaran pengen ketemu gebetan kayak gini? "


Jelas Erick telak. Membuat Yoga terbelalak, kemudian mengedipkan mata berulang-ulang memyadari kecerobohannya.


" Itu yang buat gue curiga, kalo lo main perasaan di sini." Sambung Erick.


" Itu...... Karna gue pikir... Posisi yang kosong di divisi accounting tidak baik dibiarkan terlalu lama dan harus segera di isi. Apalagi ini sudah menjelang akhir tahun. Kalian pasti akan sangat sibuk kan? " Jawab Yoga berkilah.


Erick menatapnya lekat. Entah kenapa Erick masih meragukan kebenaran dari ucapan Yoga barusan.


" Lo pernah berpikir gak, akibat dari tindakan ceroboh lo ini?"


Tanya Erick serius. Yoga hanya bisa mengekspresikan raut wajah penuh tanya dengan menautkan kedua alisnya.


" Dengan proses yang sewajarnya aja, banyak karyawan disini yang akan mempertanyakan keputusan perusahaan menerima dia. Apalagi dengan cara lo yang kayak gini.... Main masukin aja, terus langsung interview. Dan hari itu juga harus ambil keputusan untuk nerima dia. Bahkan kamu minta untuk dia masuk kerja secepatnya. Lo pikir orang-orang disini gak akan berspekulasi buruk tentang ini?"


Yoga terdiam, mendengarkan penjelasan yang panjang lebar itu dari Erick.

__ADS_1


" Terutama pada Biqha. Karyawan yang lain akan berpikiran bahwa dia bisa ada di sini, hanya karena mengandalkan koneksi. Sekalipun dia bisa membuktikan kemampuannya, karyawan yang lain tetap akan memandangnya sebelah mata. "


Erick mengetahui itu, karena dia sempat melihat karyawan di divisinya saling berbisik sambil melirik ke arah Biqha. Dan saat dalam perjalanan ke ruangan Yoga, dia juga mendengar beberapa karyawan dari divisi lain membicarakan tentang pimpinan mereka. Yang merekomendasikan seorang tuna rungu sebagai akuntan di perusahaan ini.


Yoga menunduk, dia tidak pernah berpikir masalah itu sebelumnya.


" Beberapa karyawan mulai membicarakan tentang kemungkinan adanya hubungan di antara kalian. Sejauh ini mereka mengira dia kerabat lo. Karena itu gue minta sama lo, jangan bertindak bodoh dan gegabah lagi Ga ! Kalo memang lo cuma berniat menolongnya sebagai teman dan gak lebih. Jangan sampai tercipta rumor yang lain lagi."


Erick memberi peringatan pada Yoga agar lebih berhati-hati dalam bertindak.


" Dan lo udah punya tunangan sekarang. Lo bilang lo cinta kan sama Alin. Jujur sama gue Ga'... Lo udah gak ada perasaan apa-apa lagi sama Biqha kan? Lo udah gak ada niatan untuk deket sama dia kan?"


Yoga semakin terbelalak mendengar pertanyaan Erick.


" Apaan sih lo Rick.... Ya gak mungkin lah. Sekarang kan gue dah punya Alin."


Kilah Yoga sembari tersenyum lucu untuk menutupi kegugupannya. Sementara Erick menatap penuh selidik pada Yoga.


" Gue harap itu bener Ga'.... Seperti yang lo bilang waktu itu. Sekarang lo udah dewasa, berpikir dan bertindaklah dengan dewasa. Jangan lagi memikirkan obsesi cinta masa lalu. "


" Obsesi cinta masa lalu? hehe... Ada-ada aja lo. Ya gak lah.... "


Ucap Yoga dengan tawa kecil, berusaha meyakinkan Erick sahabatnya.


Yoga berpikir tidak mungkin dia bicara jujur pada Erick. Kalau Erick sampai tau dia ternyata masih memiliki perasaan terhadap Biqha, Yoga takut kalau Erick akan bertindak dan membuat Biqha menjauh darinya.


Setidaknya sampai ia bisa meyakinkan Biqha untuk berada di sisinya. Dan dia akan menyelesaikan masalahnya dengan Alina. Tentu itu tidak akan mudah, dan juga tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. Karena itu Yoga berpikir lebih baik membiarkan keadaannya seperti ini dulu.


Erick tidak yakin dengan apa yang di utarakan oleh Yoga. Tapi dia memutuskan untuk mempercayai sahabatnya itu. Karena Erick berpikir Yoga tidak mungkin melakukan tindakan bodoh, yang bisa menghancurkan hubungan yang sudah ia jalin selama ini.


Bukan hanya hubungan dua orang tapi dua keluarga, dan dua perusahaan yang terkait. Lagi pula sejauh ini yang dia lihat hubungan Yoga dan Alina baik-baik saja, dan juga terlihat mesra. Jelas terlihat ada cinta di antara keduanya. Tapi entah kenapa masih ada rasa cemas di hati Erick.


Erick bangkit dari duduknya, berniat menyudahi pembicaraan mereka dan kembali ke ruangannya.


" Ya udah. Kalo gitu.... Gue balik ke ruangan dulu."


" Iya balik sana...! Pagi-pagi udah ganggu orang mau kerja. Ngajak debat lagi."


Ucap Yoga mengusir Erick.


" Bukan ngajak debat... Cuma mau masti'in doang." Bantah Erick.


" Sama aja. Mau masti'in, tapi lo udah berspekulasi sendiri..." Jawab Yoga lagi.


Kemudian mereka tersenyum lucu bersama.


" Sory... Gue udah ganggu jam kerja lo. Tapi ini udah siang bukan pagi lagi."


Ucap Erick sembari menunjuk pada arloji di tangan kirinya pada Yoga.


" Percuma pake jam mahal-mahal lo.... Kalo gak ngerti waktu. Pimpinan kok suka telat ngantor. Contoh gak baik tuh..... "


Sindir Erick sambil berlalu dari ruangan Yoga. Sementara Yoga menarik nafas panjang setelah kepergian Erick.


Yoga mengusap wajahnya kasar, juga menyugar rambutnya hingga ke bagian belakang. Kemudian menelangkupkan kepalanya di antara kedua tangannya.


Yoga merasa frustasi. Karena hari ini dia terpaksa membatalkan rencana yang sudah dibuatnya, untuk mengajak Biqha makan siang bersama. Dia merenungkan semua perkataan Erick tadi. Dia tidak boleh gegabah dan terburu-buru dalam hal ini.


' Tapi bagaimana kalo Erick memberitau Biqha kalau aku sudah bertunangan...? Biqha gak boleh tau kalau aku sudah bertunangan. Erick gak begitu dekat dengan Biqha kan... jadi dia gak akan ngomong apa pun sama Biqha. Gimana caranya meyakinkan Erick supaya dia gak membahas masalah itu di depan Biqha? '

__ADS_1


__ADS_2