Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 26. Kencan pertama


__ADS_3

Sampai di kantor, Erick langsung menghampiri Doni setelah memarkirkan motornya.


" Terima kasih sudah mau minjemin motor kamu ke saya. "


Erick menyerahkan kunci motornya kembali pada Doni.


" Don.... Saya serius dengan tawaran tadi. Sudah lama saya cari motor tipe ini. Kalo kamu mau melepasnya, saya siap membayar. " Ucap Erick mencoba bernegosiasi.


" Gimana ya pak.... "


" Udah mas Doni lepas aja.... lumayan kan dapat untung 10 juta. " Ucap Lina yang berjalan mendekat pada mereka.


" 15 juta dong.... Kan terakhir tadi pak Erick nambahin jadi 75. " Timpal Desi.


" Tawaran pak Erick menggiurkan sih, tapi.... 80 deh. Kalo 80 saya lepas sekarang. "


Ucap Doni mencoba meraup keuntungan sebanyak mungkin. Fajar dan Lina yang ada di samping kanan dan kirinya sampai menyikutnya.


" Ok Deal. "


Jawaban tegas Erick membuat semua terperangah, takjub dan tak percaya. Bahkan Doni sendiri yang mematok harga sampai terbengong. Tadinya dia cuma asal nyeletuk. Doni pikir Erick tidak akan berani dengan harga itu. Namun Erick malah dengan cepat mengeluarkan ponselnya, dan bersiap melakukan transaksi e-banking.


" Berapa nomor rekening kamu? Saya transfer sekarang. " Tegas Erick.


" Bapak serius??? " Doni masih tidak percaya.


Erick menyerahkan ponselnya pada Doni, agar dia mengetikkan nomor rekeningnya disana. Doni dengan tangan gemetar sangking shocknya, melakukan apa yang diinginkan Erick. Setelah itu menyerahkan kembali ponsel milik Erick.


" 70 aja pak. Saya tadi cuma main-main aja kok.... Saya pikir bapak bakal nego lagi." Ucapnya pada sang manager, karena tidak enak hati merauk keuntungan begitu besar darinya.


" Sudah saya transfer ya.... "


Doni mengambil ponsel dari saku celananya setelah mendengar dering ponsel itu. Ternyata pemberitauan tentang dana yang masuk ke rekeningnya. Doni semakin membulatkan mata dengan mulut terbuka melihat nominalnya.


" Gak salah pak? Kan tadi saya bilang 70 aja pak. kok 80 pak?" Tanyanya masih tak percaya.


" Pebisnis handal harus berani mematok harga tinggi untuk barang berkualitas yang dimiliki. Dan jangan takut memanfaatkan situasi. Dengan catatan tidak merugikan pihak klien, melainkan saling menguntungkan satu sama lain. " Erick menepuk pundak Doni.


" Pulang kantor nanti tolong kamu antarkan motornya ke apartemen saya ya....!" Sambungnya.


" Iya pak. BPKB-nya akan saya bawa besok. Tapi maaf pak, BPKB-nya masih atas nama yang lama. Rencananya saya baru akan menggantinya nanti, sekalian pas urus pajaknya."


" Gak papa. "


Setelah itu dia melangkah memasuki kantor dengan senyum lega. Karena akhirnya dia berhasil mendapatkan Jack Black kembali. Sementara dibelakangnya kelima rekanan itu berjalan sembari bersorak, ikut senang dengan keberuntungan temannya.


" Mas Doni.... Traktir-traktir dong....! " Ucap Lina yang langsung ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Doni.


" Yee..., " Sorak Lina dan Desi.


Sementara itu Fajar dan Biqha hanya tersenyum. Sampai di depan lift, Desi kembali mencoba menggoda Managernya.


" Pak Erick gak mau beli motor saya pak? Murah pak, 25 juta aja. "


" Ntar kalo saya udah punya istri. Saya beli motor kamu untuk istri saya. " Jawab Erick enteng sambil tersenyum bercanda.


" Kan udah ada calonnya pak. Nih... yang di belakang bapak. "


Desi mengerakkan kepalanya menunjuk Biqha, yang masih setia menenteng jas Erick dilengan kirinya. Spontan kedua orang itu melototi Desi. Fajar, Lina dan. Doni terdiam. Erick langsung memutar pandangan ke sekitar mereka. Untung saja keadaan tidak ramai dan sepertinya tidak ada yang mendengar perkataan Desi.


" Jangan bicara sembarangan di kantor! " Ucap Erick tegas.


" Mm... Maaf pak."


Desi langsung tertunduk, menyesali perkataannya yang ceplas-ceplos tanpa bisa dikontrol.


Pintu lift terbuka dan mereka segera memasukinya. Setelah pintu tertutup, Erick memastikan hanya ada mereka berenam di dalam sana, sebelum dia melanjutkan menegur bawahannya itu.


" Tolong kalian jangan salah paham dengan perkataan pak Arya di warung tadi. Beliau memang suka menggoda kami seperti itu. Bukan berarti kami punya hubungan spesial, baik itu dulu atau pun sekarang. Kami hanya berteman tidak lebih. "


Erick tidak mau ada salah paham, yang akan menimbulkan persepsi negatif nantinya diantara karyawan.


" Ihyhah....Bhenher. " (Iya... bener) Ucap Biqha membenarkan pernyataan Erick.

__ADS_1


Erick mengambil jasnya dari lengan Biqha. Kemudian merapikan lengan kemejanya, dan memakai jasnya kembali.


" Lalu kenapa sampai pak Arya itu bisa menggoda kalian seperti itu pak? Rasanya aneh kan kalau seorang guru bisa sampai berani menggoda muridnya seperti itu. " Kini giliran Lina yang kepo.


" Ssstttt.... " Fajar, Doni, dan Desi kompak memperingatkan.


Lina sampai berani bertanya hal yang pribadi seperti itu pada managernya, karena selama setahun bekerjasama dengan bosnya itu, Lina merasa Erick bukanlah bos yang kaku. Dia orang yang santai namun tegas, ramah dan juga suka bercanda. Karena itu, banyak karyawan yang menyukainya di kantor.


Erick memikirkan pertanyaan Lina. Dia ingin mengabaikannya, karena malas membahas hal itu. Namun Erick tidak mau nantinya mereka malah berasumsi sendiri. Yang malah akan menjadi rumor negatif baginya dan Biqha. Seperti Asumsi dua karyawati sebelumnya. Erick berpikir akan lebih baik, jika dia langsung menjelaskan kepada mereka.


" Begini.... Pak Arya itu selain wali kelas kami, dia juga pembimbing kami dalam olimpiade matematika. Kalian tadi juga udah liat sendiri kan gimana kita kalo udah berdebat. Hal sekecil apapun bisa jadi bahan perdebatan sama dia. "


Erick menggerakkan dagunya ke arah Biqha. Biqha menanggapi dengan mengerutkan dahinya.


" Saat mengikuti bimbingan dan latihan uji coba olimpiade pun kita suka ribut gak jelas. Sampe satu kali Pak Arya sangking keselnya dia bilang ' Kalo kalian ribut terus nanti saya nikahkan kalian. ' Begitu ceritanya. " Jelas Erick sembari memperagakan sikap tegas pak Arya kala itu.


Keempat rekan itu melihat ke arah Biqha, Biqha mengangguk membenarkan pernyataan Erick. Keempat rekannya pun tersenyum lucu.


" Jadi udah jelas ya....! Jadi jangan ada omongan tentang ini lagi. Dan... jangan sampai masalah ini tersebar di kantor. Ingat....!"


Erick memberi peringatan. Setelah itu berlalu pergi lebih dulu. Lalu mereka pun berjalan menuju ruang kerja mereka.


" Kebayang sih gimana pusingnya Pak Arya itu menghadapi kalian. Tadi aja ngelihat kalian begitu kita udah pusing. " Ucap Fajar setengah berbisik agar tidak terdengar oleh managernya yang ada di depan.


" Pusing plus malu... sumpah. Sampe diliatin anak-anak sekolah lagi....." Tambah Doni.


Lina dan Desi spontan tertawa. Biqha cemberut sembari menunduk malu. Fajar menepuk-nepuk pundak Biqha sambil tersenyum berusaha menenangkan.


Sampai di ruang kerja, mereka langsung menempati meja kerja masing-masing. Dan melanjutkan pekerjaan mereka.


***


Lima belas menit sebelum jam kerja usai, Biqha telah menyelesaikan pekerjaannya. Di saat ia sedang membereskan berkas-berkas di meja kerjanya, ponsel Biqha bergetar. Biqha pun dengan segera memeriksanya.


Yoga:


// Sayang... Aku udah keluar kantor nih. Aku tunggu kamu di Cafe A ya...!


// Jangan lama-lama ya....! Aku udah kangen banget sama kamu.//


" Senyum-senyum mulu kalo liat hp sekarang.... chattan sama siapa sih? " Ucap Desi saat mendekat.


" Biasanya kalo liatin hp sambil senyum-senyum gitu, tandanya orang lagi kasmaran. pasti dapat chat dari pacar. " Timpal Lina yang ikut mendekat dan bersiap untuk pulang.


Biqha tersenyum malu sembari menggelengkan kepalanya pelan.


" Yakin bukan pacar....? " Tanya Desi.


" Bhukhan khokh. " ( Bukan kok.)


" Kalo gak diakuin ntar ilang loh pacarnya. " Tambahnya.


Biqha menggelengkan kepalanya lagi masih dengan malu-malu.


Erick keluar dari ruangannya dan menyempatkan menyapa Doni sebelum berlalu dari sana.


" Don... Saya tunggu di apartemen saya ya....! "


" Baik pak. " Jawab Doni.


" Terima kasih. "


Erick berlalu begitu saja tanpa mengabaikan yang lainnya. Dan terlihat terburu-buru. Setelah kepergiannya dan Bu Diana, berangsur karyawan yang lain pun mulai meninggalkan ruangan. Biqha bersama rekan-rekannya pun melangkah bersama meninggalkan ruangan tersebut.


Di depan gedung kantornya, ojol yang Biqha pesan sudah menunggu. Biqha dengan segera meminta driver ojol tersebut, untuk melaju ke tempat dia berjanji bertemu dengan Yoga.


Sampai di dalam Cafe, Yoga langsung melambaikan tangannya setelah melihat kehadiran kekasih yang dicintainya.


" Kok lama sih.... Liat minumanku sampai habis nungguin kamu. "


Yoga langsung mengeluh begitu Biqha berada di dekatnya. Yoga kemudian meraih tangan Biqha dan mengajaknya duduk di sebelahnya.


" Mhahaf... Hakhu khan harhus thungghu jham khanthor shelheshai dhulhu, bharhu bhisha khelhuar. Ghakh khayhakh khamhuh, yhang bhisha khelhuar khaphan hadjhah. " ( Maaf... Aku kan harus tunggu jam kantor selesai dulu, baru bisa keluar. Gak kayak kamu, yang bisa keluar kapan aja.)

__ADS_1


" Ya udah... Iya maaf. "


Yoga mengelus tangan Biqha yang digenggamnya.


" Kamu mau minum apa sayang? Atau mau makan sekalian?


" Jhanghan ghithu hakh... " ( Jangan gitu ah...)


Biqha menarik tangannya dengan sedikit menunduk. Biqha masih merasa malu dengan perlakuan dan panggilan sayang dari Yoga.


" Kenapa sih masih malu aja.....Wajah kamu kalo lagi malu-malu gitu, makin gemesin tau....." Ucap Yoga sembari membelai lembut wajah Biqha, membuatnya tersipu malu.


" Hudhah hakh... Khamhuh nglhedhekhin mhulhu." (Udah ah... Kamu ngeledekin mulu.)


" Itu bukan ngeledek sayang.... Aku ngomong apa adanya kok. Kamu itu makin gemesin kalo lagi tersipu kayak gitu. Wajah kamu jadi merona dan aku suka. Duh.... Pacar siapa sih ini, cantik banget. "


Yoga mencubit pelan pipi Biqha. Hatinya sungguh berbunga-bunga, karena kini mimpinya mendapatkan cinta Biqha telah terwujud. Bisa jalan berdua bermesraan,berpegangan tangan selayaknya pasangan kekasih yang lainnya.


Sementara Biqha tersenyum geli melihat tingkah Yoga yang seperti remaja saja. Memperlakukannya seperti Pasangan ABG.


" Gha'... Khitha lhangshung phulhang hadjha yhukh ! Bhadhan rhashanyhah hudhah lhengkhet. Thadhi shihang khelhuhar nhahik mhothor, phanhas, bhanyhakh dhebhu jhugha. " (Ga'.... Kita langsung pulang aja yuk! Badan rasanya udah lengket. Tadi siang keluar naik motor, panas, banyak debu juga. ) Ajak Biqha.


" Kamu siang tadi makan diluar kantor? Sama siapa? "


Ekspresi wajah Yoga langsung berubah serius mendengar perkataan Biqha. Sementara Biqha hanya bisa mengangguk lemah menyadari perubahan mimik wajah Yoga.


" Kamu boncengan sama Fajar lagi? " Tanyanya ketus.


" Ghakh.... Hakhu bhonchenghan shamhah Ehrhik. Khenhapha shih....? Khamhuh mhashih chembhurhu hadjhah.... " (Gak.... Aku boncengan sama Erick. Kenapa sih...? Kamu masih cemburu aja....)


" Ya iyalah aku cemburu. Aku mana rela kalo pacarku yang cantik ini deket sama cowok lain. Apalagi aku ngerasa kayaknya dia naksir sama kamu. "


Biqha tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia masih tidak habis pikir dengan kecurigaan Yoga. Padahal Biqha merasa Fajar biasa saja terhadapnya. Kalau Yoga merasa gemas bila Biqha tersipu malu, Biqha justru merasa gemas bila Yoga sedang cemburu.


" Khalhau shamha Ehrhik? " Tanyanya.


" Gak suka juga sih... sebenernya. Tapi mending lah daripada kamu sama Fajar. Setidaknya aku tau kalo Erick gak akan menghianatiku. Dan kamu juga gak bakal suka kan sama dia....?! " Tutur Yoga.


Biqha tertawa menanggapi perkataan Yoga.


" Yhakh ghakh lhah... Ghakh mhungkhin. " (Yah gak lah..... Gak mungkin.)


Yoga mengusap kepala Biqha yang tertutup hijab dengan penuh kasih sayang.


" Kita duduk bentar ya....! Ini kan kencan pertama kita. Masa langsung pulang. " Bujuk Yoga yang masih ingin berlama-lama dengan Biqha.


Biqha akhirnya menuruti keinginan Yoga. Kemudian Yoga memesankan minuman dan cemilan untuk mereka.


" Jadi Erick makan siang bareng kalian? Kok bisa? " Tanya Yoga.


" Whakthu dhia thahu khalhau khamhi mhahu mhakhan bhaksho mhang Hudhin, Dhia lhangshung mhahu hikhut. " ( Waktu dia tau kalau kami mau makan bakso mang Udin, dia langsung mau ikut.)


Yoga mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba rasa cemas mendera Yoga. Yang Yoga tau, sebelumnya Erick tidak pernah makan siang dengan karyawan kantor. Yoga bertanya-tanya kenapa sekarang dia melakukannya dan memperlihatkan kedekatannya dengan Biqha pada karyawan yang lain.


" Sayang.... Tapi kamu juga jangan terlalu dekat ya sama Erick. Nanti orang kantor malah berpikir kamu ada hubungan sama Erick. "


Yoga berdalih. Padahal dia melarang Biqha dekat dengan Erick, karena merasa khawatir Erick akan memberitau Biqha kenyataan tentang dirinya. Sebelum dia bisa menyelesaikan urusannya dengan Alina.


" Dan kalau bisa Erick jangan sampai tau hubungan kita. Biar aku yang memberitaunya nanti, jika waktunya sudah tepat. "


Biqha mengangguk menyetujui perkataan Yoga, tanpa menaruh curiga sedikit pun.


" Kalau dia sampai tau hubungan kita, dia pasti bakal marah. Dan aku gak mau dia sampai ngomong yang gak-gak lagi sama kamu kayak dulu. Dan membuat kamu menjauh dari aku. Aku gak bisa jauh dari kamu Bi..... Aku sayang sama kamu. "


Biqha tersenyum menatap Yoga yang menggenggam tangannya erat.


" Bi.. janji ya...! Kamu jangan langsung percaya dengan yang Erick katakan tentang aku. Kamu harus percaya sama aku sayang.... Aku akan lakukan apapun untuk kamu. "


Ucapan Yoga membuat Biqha mengeryitkan dahinya. Biqha merasa aneh dengan perkataan Yoga.


* mohon maaf atas keterlambatan updatenya ya....! beberapa hari ini si kecil lagi rewel. kalau liat bundanya pegang hp langsung di ambil hpnya dan bilang,


" No... no. ... pe nda! "

__ADS_1


Jadi suka ke distract pikiran author, jadi gak konsen lagi. mohon maaf ya... readers! And thank's buat dukungan kalian semua. 💖*


__ADS_2