
" Mhahu hapha lhaghi khamhu kheshinhi? Hakhu hudhah bhilhang, khalho shemhua hurushan khitha dhah shelheshai. Jhadhi jhanghan themhui hakhu lhaghi ! Hakhu ghak mhahu khethemhu khamhu lhaghi." (Mau apa lagi kamu kesini? Aku udah bilang, kalo semua urusan kita udah selesai. Jadi jangan temui aku lagi ! Aku gak mau ketemu kamu lagi.)
Biqha bicara dengan sedikit menahan suaranya sembari melirik ke dalam, karena khawatir sang adik akan mendengar pembicaraan mereka. Sementara Rendra juga tidak melepaskan pandangannya dari mereka. Meski Rendra hanya bisa melihat sebagian tubuh dan kepala mereka dari balik jendela.
" Sayang please... Jangan ngomong gitu...."
" Yhogha sthop !"
Dengan tegas Biqha memotong ucapan Yoga, namun masih dengan suara yang setengah berbisik.
" Khamhu jhanghan phernhah phangghil hakhu dhenghan shebhuthan ithu lhaghi. Dhan khechilkan shuarhamhu ! Hakhu ghak mhahu shamphe Rhendrha hathau shihapha phun dhengher phembhicharhahan khitha." (kamu jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu lagi. Dan kecilkan suaramu ! Aku gak mau sampe Rendra atau siapapun denger pembicaraan kita.)
" Yang lainnya aku gak perduli Bi.... Tapi Rendra, dia harus tau siapa aku buat kamu. Dia harus tau kalo aku adalah calon kakak....."
" Ghak. Khamhu ghak hakhan phernhah jhadhi shihapha-shihaphanyha Rhendrha." (Gak. Kamu gak akan pernah jadi siapa-siapanya Rendra.)
Yoga terdiam dengan menatap Biqha penuh lara.
" Yha Houlloh..... Gha, hakhu mhohon shadharlah ! Khamhu shudhah bherthunhanghan. Jhanghan lhaghi bhershikhap shepherthi hinhi." ( Ya Allah.... Ga, aku mohon sadarlah ! Kamu sudah bertunangan. Jangan lagi bersikap seperti ini)
Ucap Biqha dengan sorot mata kesedihan. Matanya memerah dan mulai berlinang. Sementara Yoga terus menggelengkan kepalanya, sebagai wujud ketidak setujuanya dengan pernyataan Biqha.
" Phikhirkhan pherhashahan thunhanghanmhu. Khalhau shamphe dhia mhelhihatmhu shepherthi hinhi, dhia phasthi hakhan therlhukha. Hakhu mhohon Gha.... Henthikhan ! Pherghilah.... Jhanghan themhuhi hakhu lhaghi."
( Pikirkan perasaan tunanganmu. Kalau sampe dia melihatmu seperti ini, dia pasti akan terluka. Aku mohon Ga....... Hentikan ! Pergilah.... jangan temui aku lagi.)
Biqha tak kuasa menahan airmatanya. Dia bahkan sampai menyatukan kedua tangannya ke depan, memohon pada Yoga.
" Bi..... Aku dan Alin tidak pernah saling mencintai. Alin bahkan selalu bersikap ketus padaku belangan ini. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat, aku yakin kami bisa meyakinkan orangtua kami untuk membatalkan semuanya. "
Biqha memandang Yoga dengan airmata yang semakin berlinang. Hatinya semakin sakit menyadari Yoga masih saja ingin membodohinya dengan berbohong.
Masih jelas dalam ingatannya, betapa romantis dan mesranya wanita itu memperlakukan Yoga, dalam video yang dia lihat di ponselnya Erick semalam. Jelas terlihat rasa cinta terpancar dari sorot matanya untuk Yoga. Tapi Yoga masih tidak mau mengakuinya.
" Aku mohon sayang..... Aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Dan setelah itu, kita akan segera menikah. Aku janji padamu Bi..... Aku gak akan menikahi wanita lain selain kamu."
Biqha mengelengkan kepalanya sembari menghapus airmatanya yang jatuh.
" Ghak. Hithu ghak hakhan phernhah therjhadhi. Khephuthushankhu shudhah bhulhat. Shekhalhiphun khamhu thidhak jhadhi mhenhikhah dhenghan thunhanghanmhu, hakhu thethap ghak hakhan mhenherhimhamhu khembhalhi. Jhadhi jhanghan phernhah bherharhap haphaphun lhaghi dharhikhu !"
( Gak. Itu gak akan pernah terjadi. Keputusanku sudah bulat. Sekalipun kamu tidak jadi menikah dengan tunanganmu, aku tetap gak akan menerimamu kembali. Jadi jangan pernah berharap apapun lagi dariku!)
" Jangan katakan itu Bi..... Aku tau kamu juga sangat mencintaiku."
Meski Biqha sudah berkali-kali menegaskan. Namun Yoga tetap pada pendirian, yang tidak mau menerima keputusan Biqha mengakhiri hubungan mereka.
Sementara di dalam, Rendra tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Biqha dan Yoga. Tidak seperti Erick yang berusaha acuh, dan fokus membuat onde-ondenya. Rendra justru hanya *******-***** adonan kue tersebut sambil terus memperhatikan interaksi antara kakaknya dan Yoga.
Meski dia tidak bisa melihat jelas apa yang terjadi. Namun saat dia melihat kakaknya mulai menangis, membuatnya merasa geram. Bahkan beberapa kali terlihat sekilas olehnya, Yoga mencoba memegang tangan Biqha. Namun Biqha selalu menghempas dan menarik tangannya.
Rendra dengan kesal membanting adonan ke dalam wadah. Kemudian melangkah ke depan menghampiri Biqha dan Yoga.
" Ren....."
Rendra tidak menghiraukan panggilan Erick. Sehingga Erick pun segera menyusulnya. Erick khawatir akan terjadi percekcokkan antara Rendra dan Yoga. Apalagi kalau Yoga sampai tidak bisa mengendalikan emosinya seperti semalam. Tentu saja dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi pada Rendra.
" Maaf kak Yoga. Sepertinya ini sudah malam. Jadi lebih baik, lain waktu saja kalo mau bicara dengan mbak Biqha."
Ucap Rendra begitu berada di antara mereka. Membuat Yoga dan Biqha terdiam sesaat. Dengan tetap berusaha menahan diri dan mencoba berkata lebih sopan, Rendra mengusir Yoga secara halus.
" Ini masih jam delapan malam Ren."
Bantah Yoga dengan menunjukkan arloji mahalnya di depan wajah Rendra.
" Masih banyak hal yang harus kakak bicarakan dengan kakak kamu." tambahnya.
__ADS_1
" Tapi mbak Biqha masih banyak pekerjaan. Dia harus menyelesaikan pesanan kue yang dia terima. Kalau dia mengobrol terus sama kakak, pekerjaannya gak akan selesai-selesai."
Yoga benar-benar kesal dengan sikap Rendra, yang dengan sengaja mengacau dan menghalanginya bicara dengan Biqha.
" Mbak..... Mbak lupa ya kalo tadi lagi masak ketan. Kalau mbak ngobrol disini terus, ketannya bisa gosong nanti. Buruan sana masuk.....!"
" Akh.... Hiyha...."
Biqha pun segera berlari masuk menuju dapur. Kesempatan itu tidak Biqha sia-siakan untuk menghindar dari Yoga, tanpa menghiraukan panggilannya lagi.
" Bi.... Tunggu...."
Dengan cepat Rendra menghadang Yoga yang berusaha menyusul Biqha ke dalam. Yoga menatap nyalang pada Rendra, karena merasa sangat kesal dengan sikap Rendra. Namun Rendra tak gentar sedikit pun.
Tinggi badannya yang tak kalah tegap dan berotot dari Yoga, mampu menghadang Yoga. Bagai perisai, Rendra berusaha sebaik mungkin mejalankan perannya sebagai pengganti sang ayah, untuk melindungi kakaknya.
" Kak Yoga lebih baik pulang aja. Mbak Biqha sedang sibuk sekarang."
Yoga semakin tajam menatap Rendra dengan emosi. Melihat hal itu, Erick pun segera bertindak menengahi mereka.
" Ga.... Lebih baik lo pulang ! Jangan sampe terjadi keributan disini. Gak enak didengar tetangga nanti. C'mon bro....."
Erick berusaha merangkul Yoga, namun dengan cepat Yoga menghempas lengan Erick dari pundaknya.
" Lo ngusir gue dari sini? Emang lo siapa? Lo tinggal disini juga?"
Erick terdiam mendengar sanggahan dari Yoga. Menyadari kalau dirinya telah salah berbicara.
" Kalau gue harus pergi dari sini, lo juga."
Ucap Yoga lagi dengan nada suara yang sedikit meninggi.
" Kak Erick gak bisa pergi. Karna urusannya belum selesai disini." jawab Rendra.
" Kak Erick masih harus membantu kami menyelesaikan kue-kuenya." jelas Rendra lagi.
" Khe... Ngebantu? Pinter banget modus lo." jawab Yoga dengan senyum sinisnya ke arah Erick.
" Modus? Modus apa maksud lo?"
Erick mengerutkan kedua alisnya menanggapi ucapan Yoga.
" Ga, denger ya..... Beberapa hari lalu, gue memang minta tolong ke Biqha untuk buatin kue jajanan pasar kesukaan oma. Karna gue mau jadi'in kue-kue itu sebagai hadiah ulang tahun oma besok. Dan gue memang bilang ke Biqha kalo gue mau ikut bantuin dia. Tapi itu karena gue pengen kasih sesuatu yang spesial buat oma. Gue pengen kasih oma kue buatan gue sendiri."
Erick berusaha menjelaskan pada Yoga, agar Yoga tidak berprasangka buruk padanya.
" Ya.... walaupun sebenernya Biqha yang buat, tapi setidaknya gue berkontribusi langsung dalam pembuatannya.... gitu. "
" Kalo gitu gue juga mau bantu." jawab Yoga cepat.
" Memangnya kak Yoga bisa? Dulu cuma bantu kupasin kentang aja gak bisa. Malah kena pisau sedikit aja langsung pucet mau pingsan. Bantu ayak tepung malah jadi tumpah semua tepung nya. Jangan terlalu memaksakan diri deh kak, yang ada ngeribetin."
Ucapan Rendra telak membuat Yoga tak mampu berkata-kata lagi. Membuatnya semakin kesal sekaligus malu, mengingat kejadian dulu itu. Tanpa berkata apapun lagi, Yoga berlalu meninggalkan mereka. Karena merasa kehadirannya benar-benar ditolak mentah-mentah oleh Rendra. Sedangkan Biqha juga tidak mendukungnya.
Selepas kepergian Yoga, Rendra dan Erick pun kembali ke dalam. Meski perasaan Erick jadi tidak nyaman, karena memikirkan Yoga yang pergi dengan keadaan emosi terhadapnya. Namun Erick tetap membantu Biqha hingga selesai.
Sekitar pukul 10 malam Erick pulang dari kontrakkan Biqha. Di perjalanan Erick sangat terkejut, karena tiba-tiba mobil Yoga muncul dari arah belakang. Dengan cepat nyaris menyerempet motornya, lalu menghadangnya di depan. Beruntung Fokus Erick masih terjaga dengan baik. Hingga dia mampu mengendalikan laju motornya, dan menghentikannya tepat waktu.
" Apa-apaan sih Ga? Lo gila ya....? Lo mau gue celaka?"
Ucapnya kesal begitu Yoga keluar dari mobil dan menghampirinya.
" Kenapa lo harus selalu ikut campur sama urusan gue dan Biqha Rick? Kenapa lo terus memperburuk keadaan antara gue dan Biqha? Atau lo memang sengaja? Karna lo sebenernya diem-diem suka sama Biqha. Dan lo mencoba mencari kesempatan disaat gue dan Biqha sedang ada masalah. Iya?"
Yoga tidak mau kalah. Dia melampiaskan semua emosi.
__ADS_1
" Hah...?"
Erick melepas helmnya, lalu menggelengkan kepala. Merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Karena Yoga justru berbalik menyalahkannya atas permasalahan yang terjadi antara dia dan Biqha.
" Gue? Nyari kesempatan? "
Erick tersenyum lucu dengan kesalnya mendengar tuduhan dari Yoga.
" Gue gak pernah punya pikiran sedikit pun, untuk mendekati Biqha Ga...... Kalo yang lo permasalahin adalah kejadian malam ini. Gue kan udah jelasin tadi, kalo gue cuma mau kasih hadiah yang spesial buat oma. "
Erick menarik nafas dalam, sebelum melanjutkan perkataannya.
" Dan lo harus inget Ga, status lo saat ini adalah tunangan Alina bukan pacar Biqha. Ga, lo harus sadar ! Kalo gak semua hal yang lo mau, bisa lo dapetin. "
" Tapi gue dan Biqha saling mencintai Rick."
" Itu gak mengubah kenyataan, kalo lo udah terikat dengan Alin, yang sebelumnya juga lo cintai. Lagipula Biqha udah memutuskan untuk gak berhubungan lagi sama lo. Dan lo harus hargai itu. Lo gak bisa maksain kehendak lo ke Biqha, Ga...."
" Itu semua karna lo. Karna omongan lo yang pastinya menyudutkan dia. Pasti lo juga kan yang maksa Biqha buat blokir nomor gue?"
Erick cukup terkejut dengan pernyataan Yoga. Tadinya dia sempat ragu pada Biqha.
' Ternyata Biqha benar-benar sudah bertekad menjauhi Yoga. Sampai memblokir nomornya.' gumam Erick dihatinya.
" Gue gak pernah maksa Biqha Ga..... Itu keputusannya sendiri."
" Bohong. Itu semua pasti karna lo. Biqha gak mungkin begitu, kalo bukan karna tekanan dari lo."
Yoga masih saja berkeras hati. Dia tidak mau menerima kenyataan yang terjadi dengan hubungannya dan Biqha.
" Ga... Hentikan ! Jangan seperti ini. Jodoh itu sudah ada yang mengatur Ga. Seberapa keras pun lo memaksakan, kalau Allah gak menakdirkan dia jadi jodoh lo, lo gak akan bisa memilikinya. Kalo lo yakin Biqha memang jodoh lo, setidaknya selesaikan dulu urusan lo sama Alin. Jangan libatkan dia ke dalam masalah lo. Kasian dia Ga.... Begitu pun Alin. Dia juga pasti sangat terluka dengan sikap lo ini."
Yoga terduduk lemas dipinggir jalan, sambil bersandar pada bagian belakang mobilnya.
" Gue gak mau kehilangan Biqha lagi Rick. Gue gak sanggup......"
Yoga mulai terisak sembari memegangi kepalanya. Dia tidak memperdulikan keberadaan mereka yang di pinggir jalan. Meskipun jalanan sedikit sepi. Sementara Erick menarik nafas dalam dan melihat Yoga dengan lara.
" Ga ..... Ayo bangunlah. Ini jalanan Ga."
Erick menarik lengan Yoga dan membantunya berdiri.
" Biqha itu wanita baik-baik Ga. Dia di didik orangtuanya dengan sangat baik. Jadi dia gak akan mau merendahkan harga dirinya, dengan menjalin hubungan bersama laki-laki yang sudah terikat. Lo harus selesaikan dulu urusan lo sama Alin baik-baik. Setelah lo bebas dari ikatan itu, baru lo bisa coba deketin dia lagi."
Yoga merenungi setiap ucapan Erick.
" Bukan dengan maksain dia tetap disisi lo, disaat lo masih terikat gini. Bukannya tersentuh, dia malah bakal ilfeel sama lo. Biarin dia sendiri dulu. Dan lo fokus sama masalah lo yang ada di depan saat ini. Gimana caranya membatalkan pernikahan lo dan Alin, tanpa harus melibatkan dia."
" Tapi lo harus janji sama gue Rick.... Lo harus bantu gue."
Erick terdiam. Dia tidak tau harus menjawab apa.
" Gue gak bisa janji Ga. Ini masalah keluarga lo. Gue gak mungkin ikut campur."
" Setidaknya lo bisa janji sama gue, kalo lo bener-bener gak akan deketin Biqha lagi."
Erick membulatkan mata dan mulutnya, kemudian tertawa kecil menanggapi permintaan dari Yoga.
" Astaga. Memangnya kapan gue pernah deketin Biqha? Lo tau sendiri gimana sebelnya dia sama gue." sanggah Erick.
" Pepatah mengatakan jarak antara cinta dan benci itu sangat tipis Rick. Bahkan lebih tipis dari benang. Saat benang itu terputus, semua bisa terjadi. Cinta bisa jadi benci dan benci bisa jadi cinta. Gue gak mau nantinya Biqha jadi nyaman sama lo. kalo lo terus deket sama dia, disaat gue gak bisa mendekat."
Erick menatap lekat pada sahabatnya yang sedang di landa keputus'asaan.
" Berjanjilah Rick.... Berjanjilah lo gak akan pernah khianatin gue."
__ADS_1