Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 16. Impian yang terwujud


__ADS_3

Melihat ekspresi Biqha yang nampak kebingungan, Yoga kembali berpikir.


' Kenapa ekspresi Biqha begitu? Apa Erick gak cerita sama dia tentang aku? Apa ini cuma ketakutanku yang berlebihan? '


Yoga bertanya-tanya dalam hatinya. Kemudian dia memberanikan diri bertanya langsung pada Biqha.


" Tadi siang kamu pergi sama Erick kan? Memangnya.... Erick gak ngomong.... sesuatu gitu sama kamu ? "


Biqha menggelengkan kepalanya pelan dengan raut wajah bingung.


" Thadhih Ehrhik mhemhang nghajhakhin hakhu mhakhan shiang bharheng. Mhungkhin dhia khashian shammah hakhu kharnhah ghakh phunyhah themhen dhi khanthor. " ( Tadi Erick memang ngajakin aku makan siang bareng. Mungkin dia kasian sama aku karna gak punya temen di kantor)


Biqha berkata sambil tersenyum kecil. Sedang Yoga menunduk sejenak, merasa miris mendengar ucapan Biqha.


" Thaphih Ehrhik ghakh bhilhang happhah-happhah. Dhiah chumhah bhasha-bhashi thanyhah, ghimhannhah harhi pherthamhahkhu kherjhah dhi khanthor.... " ( Tapi Erick gak bilang apa-apa. Dia cuma basa-basi tanya, gimana hari pertamaku kerja di kantor.)


Sambung Biqha lagi menjelaskan. Membuat Yoga bernafas lega mendengarnya.


" Ghilhirhan hakhu thanyhah, khenhapphah dhia bhisha kherjha dhishanhah jhugha? Dhia mhalhah ngehlhedhekhin hakhu... " ( Giliran aku tanya, kenapa dia bisa kerja di sana juga? Dia malah ngeledeklin aku...)


" Ngeledekin gimana? " Tanya Yoga penasaran.


" Iyhah... Dhia bhilhang, dhia bhisha dhi shannah kharnah khammhuh. Shammah khayhakh hakhu. Bhedhanyhah..... khalhau dhia, khammhuh yhang bhuthuh dhia. Shedhangkhan hakhu, hakhu yhang bhuthuh khammhuh. Nyhebhelhin khan.... ?" ( Iya... Dia bilang, dia bisa di sana karna kamu. Sama kayak aku. Bedanya.... kalau dia, kamu yang butuh dia. Sedangkan aku, aku yang


butuh kamu. Nyebelin kan? )


Yoga tersenyum lucu mendengar cerita Biqha.


" Ehrhik thuh ghakh phernhah bherhubhah yhah.... Thethep adjhah nyhebhelhin khayhakh dhulhu. " ( Erick tuh gak pernah berubah ya.... Tetep aja nyebelin kayak dulu.)


Yoga tertawa geli menanggapi ucapan Biqha. Kemudian di susul Biqha yang juga ikut tertawa melihatnya. Lalu tawa Yoga berangsur luruh dan berganti senyum lega.


' Syukurlah.... Ternyata Erick gak ngomong apapun tentangku dan Alina ke Biqha. '


Yoga merasa lega dalam hatinya, mengetahui kenyataan bahwa Erick tidak melakukan hal yang ia takutkan. Dia merasa Erick masih berpihak padanya, meski tadi pagi Erick memperingatkannya tentang perasaannya terhadap Biqha.


" Mhemhangnyhah khammuh phikhir Ehrhik mhau hommhong haphah shamhah hakhu? Shamphe khammhuh phanhikh bheghithu, bhelha- bhelhahin mhalham-mhalham khe shinhih bhuhat jhelhashin mhashalhahnyhah." ( Memangnya kamu pikir Erick mau ngomong apa sama aku? Sampe kamu panik begitu, bela-belain malam-malam ke sini buat jelasin masalahnya.)


Tanya Biqha yang merasa heran dengan sikap Yoga. Yoga pun tergagap mendengar pertanyaan Biqha. Yoga menegakkan kembali posisi duduknya.


" Ah.... itu.... A... aku pikir dia... bakal ngomong sesuatu yang mungkin bisa menyinggung perasaan kamu Bi... "


Dengan gagap, Yoga berkata berusaha membuat alasan.


" Soalnya tadi pagi dia sempet marah-marah sama aku. Karena aku rekomendasi'in kamu dan gak bilang-bilang dulu sama dia."


Mendengar perkataan Yoga membuat ekspresi Biqha berubah muram. Biqha menundukkan kepalanya sejenak. Yoga pun menyentuh tangan Biqha sebelum melanjutkan ceritanya.


" Kamu jangan salah paham dulu Bi.... Erick marah bukan karena dia gak suka kamu kerja di sana. Dia tau persis kemampuan kamu, jadi dia gak mempermasalahkan hal itu. Dia hanya menyayangkan tindakanku yang gegabah dan terlalu ceroboh."


Yoga masih memegang tangan Biqha yang berada di sisi samping kursi. Yoga berusaha menjelaskan pada Biqha, agar ia tidak salah paham. Biqha dengan senyum tipisnya perlahan menarik tangannya yang di pegang Yoga.


" Jhanghan bheghithu. Ghakh hennhak nhanthi dhilhihat shamhah thethanggha. " (Jangan begitu. Gak enak nanti dilihat sama tetangga.)


Yoga melihat ke arah sekeliling mereka. Meski dia tidak melihat ada orang diluar rumah, tapi Yoga mengerti kekhawatiran Biqha. Lalu ia pun menarik tanggannya dari sisi samping kursi yang diduduki Biqha.


" Kenapa kita gak ngobrol di dalam aja Bi...? "


Tanya Yoga sekaligus ingin memberi solusi agar obrolan mereka tidak terganggu, ataupun terdengar oleh tetangga Biqha. Yang rumahnya bahkan menempel. Dan hanya bersekat tembok setinggi satu setengah meter, di teras seluas dua meter itu.


" Dhi rhumhah khan lhaghi ghakh hadha orhang. Rhendrha mhashih kherjha. Nhanthi khalhau khitha nghobrhol dhi dhalam, thakhutnyhhah mhalhah jhadhi fhitnhah." ( Di rumah kan lagi gak ada orang. Rendra masih kerja. Nanti kalau kita ngobrol di dalam, takutnya malah jadi fitnah.)

__ADS_1


Jawab Biqha yang di tanggapi dengan anggukan pelan oleh Yoga.


" Mhemhangnyhah Ehrhik mharhah ghimhanhah shamhah khammhuh?" ( Memangnya Erick marah gimana sama kamu?)


Biqha bertanya karena masih penasaran dengan yang dikatakan Yoga tadi.


" Dia marah karena menurutnya aku sangat gegabah. Memerintahkan manager HRD dan kedua rekannya langsung menginterview kamu, dan menerima kamu di hari itu juga."


Yoga menundukan kepala, merasa tidak enak harus mengatakan itu pada Biqha.


" Dia bilang, harusnya aku biarin kamu melewati tahap demi tahap sebagaimana mestinya. Agar semua terlihat berjalan sesuai prosedur. Dengan begitu para karyawan tidak akan membicarakan kita."


Ucapnya lagi pada Biqha yang mengamatinya dengan serius.


" Tapi aku malah bertindak ceroboh, yang membuat kamu jadi gunjingan karyawan di kantor. Maaf Bi,....! Aku gak berpikir sampe ke sana. Aku terlalu seneng bisa ketemu kamu lagi. Dan kebetulan aku juga butuh akuntan. Jadi aku pikir gak ada salahnya, sekalian aku bantu kamu. Karena aku yakin kamu juga punya kemampuan yang lebih baik dibanding yang lainnya."


Melihat raut wajah Yoga yang memelas dan penuh penyesalan, Biqha menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum


" Hakhu yhang harhusnyhah mhintha mhahaf shammhah khammuh. Kharnhah khammuh bhanthu hakhu, chitrha khammuh jhadhi bhurhuk dhi khanthor.... " ( Aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Karna kamu bantu aku, citra kamu jadi buruk di kantor...)


Biqha mengerti apa yang di khawatirkan Erick. Erick pasti mengkhawatirkan citra sahabatnya, yang bisa saja dianggap tidak profesional sebagai pimpinan perusahaan. Gara-gara membantu dirinya.


Meski sikap Erick terkadang memyebalkan di mata Biqha, tapi Biqha juga merasa Erick memang benar dalam hal ini. Bahkan dia sendiri juga sempat bingung dan kaget karena langsung di interview, dan hari itu juga diterima kerja. Jelas hal itu menjadi perdebatan di antara karyawan. Tapi apa yang bisa Biqha lakukan? Semua sudah terjadi.


" Gak Bi..... Kamu gak salah. Kamu juga gak pernah Meminta bantuan dariku. Akulah yang memintamu datang. Semua ini mutlak kesalahanku. "


Yoga dengan cepat memotong perkataan Biqha.


" Erick bener.... Harusnya sejak awal kita ketemu lagi, aku langsung kasih tau Erick tentang kamu. Karena sebenernya dia yang seharusnya bertugas menginterview waktu itu. Tapi Dia memilih Bu Diana untuk menggantikannya. Karena meski posisinya lebih tinggi, tapi dia merasa masih orang baru di perusahaan dibanding bu Diana yang lebih senior. Tapi kalau aku ngomong ke dia tentang kamu, dia pasti akan ambil tugas itu. Dengan begitu dia bisa bantu kamu. Tanpa ada orang lain yang tau kalau aku yang rekomendasi'in kamu di perusahaan. "


Jelas Yoga lagi pada Biqha, yang membuat Biqha termenung sesaat.


' Apa iya dia mau bantu aku? Yang ada, bisa jadi dia malah mempersulit aku. '


" Makanya aku terpaksa harus menjaga jarak dulu sama kamu sementara waktu ini Bi.... Seperti tadi siang, aku terpaksa bohong sama kamu. Aku minta maaf Bi..... Tolong jangan marah ya...! "


Pinta Yoga dengan wajah memelasnya.


" Ghakh phaphah. Hakhu ngherthi khok. " ( Gak papa. Aku ngerti kok.)


Akhirnya Yoga bisa benar-benar bernafas lega. Setelah membuat alasan pada Biqha tentang maksud kedatangannya. Kemudian Yoga meminum teh buatan Biqha tadi.


Setelah menenggak habis teh itu, Yoga memegang perutnya yang terasa perih. Karena panik dia sampai lupa kalau dia belum makan apapun sedari siang tadi. Dia bahkan melewatkan makan siang dan juga makan malam hari ini.


Biqha yang menyadari perubahan raut wajah Yoga yang sempat memegang perutnya tadi, merasa khawatir.


" Khenhaphah? " ( Kenapa?)


Tanya Biqha, merasa Yoga seakan sedang dalam keadaan yang tidak nyaman.


" Hehe.... Aku laper Bi. Dari siang belum makan. "


Jawab Yoga cepat sambil nyengir, tersenyum geli menertawakan dirinya sendiri.


" Khenhaphah ghakh mhakhan? Khammhuh shakhit? " ( Kenapa gak makan? Kamu sakit?)


Tanya Biqha lagi dengan perasaan cemasnya.


" Gak.... Cuma tadi panik aja, takut Erick ngomong yang gak-gak sama kamu. Dan kamu jadi marah sama aku. Jadinya aku gak selera mau ngapain juga. "


" Khenhapphah hakhu harhus mharhah?"

__ADS_1


( Kenapa aku harus marah?)


Tanya Biqha cepat, setelah mendengar perkataan Yoga.


" Happhah kharnhah hinnih khamuh thelphon Ehrhik? Thaphih shahat hakhu thelphon bhalhik, khamuh mhalhah ghakh hakthif? " ( Apa karna ini kamu telpon Erick? Tapi saat aku telpon balik, kamu malah gak aktif? )


Tanya Biqha masih penasaran tentang kejadian tadi siang. Dia pun menjelaskan kejadian tadi siang, saat Yoga menelpon Erick. Namun ponsel Erick kehabisan daya. Dan Erick memintanya menelpon Yoga. Tapi ponsel Yoga tidak bisa dihubungi lagi.


" Jadi kamu nelpon aku tadi? "


Biqha mengangguk. Lalu mengambil ponsel dari saku celananya, dan memperlihatkan panggilan telponnya tadi siang kepada Yoga.


" Tadi siang setelah menelpon Erick, hp ku terjatuh ke bawah jok mobil. kayaknya hpku rusak deh..."


Jawab Yoga cepat, dan ditanggapi anggukan kecil oleh Biqha.


" Gha'.... Khamuh mhau hakhu mhashakhin mhie ghorheng? " ( Ga'.... Kamu mau aku masakin mie goreng?)


Tawar Biqha yang merasa cemas dengan keadaan Yoga, yang belum makan dari siang tadi. Biqha hanya bisa menawarkan mie goreng. Sebab tadi dia pun hanya memasak mie goreng untuk makan malam.


Dia selalu makan malam sendiri dirumah. Karena sang adik bekerja shift malam. Jadi setiap makan malam, Biqha tidak pernah menyiapkan makanan lebih. Dan selalu masak makanan yang simple. Seperti mie instan, telur ceplok, ikan atau ayam goreng untuk dirinya seorang.


" Gimana kalo kita makan di luar aja Bi...? "


Yoga malah menawarkan pilihan lain pada Biqha.


" Thaphih hakhu dhah mhakhan thadhih. " ( Tapi aku udah makan tadi.) Jawab Biqha.


" Kalo gitu... Kamu temenin aku makan ya....! Kamu bisa minum dan makan cemilan kan. Mau ya Bi.... Temenin aku makan! "


Pinta Yoga penuh harap. Dan segera dijawab dengan anggukan kecil oleh Biqha. Yang kontan membuat Yoga sumringah dan tersenyum bahagia.


" Hakhu ghanthi bhajhu dhulhu shebhenthar yhah... "


( Aku ganti baju dulu sebentar ya.....)


Yoga mengangguk. Kemudian Biqha dengan segera masuk ke dalam rumah untuk mengganti pakaiannya.


Tak berselang lama, Biqha pun keluar. Dengan mengenakan celana jeans dipadukan dengan Tshirt panjang selutut berwarna hitam dan pasmina berwarna navy.


Meski tampilan Biqha sangat sederhana. Namun bagi Yoga, Biqha tetap mempesona.


Yoga segera menunggangi motor pinjamannya. Dan Biqha pun mengikutinya dengan naik diboncengan motor tersebut. Setelah Biqha duduk dengan nyaman di boncengannya, Yoga pun menhidupkan mesin motornya.


Namun sebelum melaju, Yoga menarik kedua tangan Biqha yang semula ada di atas lutut-lututnya. Setelah itu melingkarkan tangan Biqha memeluk perutnya, dan memegangi tangan Biqha disana.


Biqha sontak kaget sekaligus tersipu. Dadanya berdebar kencang, pipinya memerah karena malu. Merasakan tubuhnya yang seketika jadi kaku, karena hampir menempel dengan Yoga. Biqha memandangi tangannya memeluk Yoga dari belakang.


" Pegangan...! Nanti kamu jatuh."


Ucap Yoga setelahnya, dengan mengarahkan kepalanya ke samping agar Biqha bisa melihat apa yang ia ucapkan.


Dengan malu-malu Biqha menarik kedua tangannya, lalu meletakkannya di sisi samping tubuh Yoga. Biqha memilih memegang kedua sisi dari jaket Yoga. Biqha masih saja berdebar dengan situasi seperti ini. Namun ia berusaha menutupi kegugupannya.


Sama halnya dengan Biqha, Yoga pun merasakan debaran di hatinya. Meski ini bukan pertama kalinya dia sedekat ini dengan lawan jenis. Sebab dia sudah beberapa kali berpelukan dengan wanita bahkan lebih daripada itu. Baik itu dengan teman-teman atau pacar bulenya saat di London, juga dengan Alina tunangannya saat ini.


Namun dengan Biqha semua terasa berbeda. Dia merasa sangat berdebar-debar dan bahagia meski hanya dengan sentuhan kecil dari Biqha. Seperti saat ini, melihat kedua tangan Biqha yang memegang kedua sisi jaketnya saja Yoga sangat bahagia. Ini adalah salah satu impiannya yang telah terwujud. Bisa berboncengan mesra, naik motor dengan Biqha.


Dulu Yoga pernah merasa iri sekaligus cemburu pada sahabatnya, Erick. Saat ia terpaksa meminta Erick mengantarkan Biqha pulang, karena Biqha sedang sakit. Sementara dia tidak bisa melakukannya, karena harus masuk kelas bimbel.


Melihat Erick membonceng Biqha dengan motornya, terlihat sangat romantis dan mesra di mata Yoga. Seperti yang dia lakukan tadi, Erick juga dulu melakukannya. Menarik tangan Biqha untuk berpegang pada pinggangnya.

__ADS_1


Sejak saat itu, Yoga terus merengek meminta Erick untuk mengajarinya naik motor. Meski awalnya Erick menolak, karena tau orang tuanya akan marah. Namun Yoga tetap memaksa. Karena ia ingin suatu saat bisa naik motor bersama Biqha, dan berboncengan dengan mesra seperti sekarang ini.


__ADS_2