Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 18. Teman baru


__ADS_3

Di dalam cafe, mereka berlima duduk bersama. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Desi pun mencoba memulai pembicaraan.


" Eh... Nabiqha. Tadi kamu disuruh ngapain sama pak Erick? Kok pake bawa minyak kayu putih segala ke ruangannya? "


Desi yang memang tipe orang yang gak bisa menahan rasa penasaran, bertanya pada Biqha tanpa berbasa-basi lagi. Membuat Biqha dan dua orang lelaki disana langsung melotot ke arahnya.


" Oh... Jadi itu alasannya lo ajak kita makan siang bareng ya... ? Cuma buat kepoin Nabiqha doang? "


Sindir Doni pada Desi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat Desi senantiasa memanyunkan bibirnya.


" Ih.... Namanya juga orang penasaran. Daripada kita menduga-duga kan lebih baik bertanya langsung. "


Jawab Lina membela Desi. Sementara itu, Biqha masih terdiam. Bingung mau menjawab apa.


Biqha teringat perkataan Yoga, yang mengatakan kalau mereka harus menjaga jarak di kantor. Agar rumor tentang dirinya yang masuk karena rekomendasi pimpinan perusahaan itu bisa mereda. Namun sekarang rekan-rekannya malah menanyakan tentangnya dan juga Erick, dia bingung harus bagaimana.


Kalau dia jujur, apa mereka akan berpikir negatif tentang dia dan juga Erick nantinya. Tapi kalau gak jujur, dia juga bingung mau buat alasan apa.


" Hei Nabiqha.... Kok malah bengong sih... "


Sentak Lina sambil menguncangkan lengan Biqha.


" Hithu.... Thadhi phak Ehrhik mhintha mhinyhakh khayhuh phuthih, kharhenhah khephalhanyhah phushing khathanyhah. " ( Itu.... Tadi pak Erick minta minyak kayu putih, karena kepalanya pusing katanya.)


Akhirnya Biqha memutuskan untuk jujur saja. Daripada berbohong hanya akan membuatnya bingung, karena harus terus membuat kebohongan lagi ke depannya.


" Aneh.... Kenapa minta bantuannya sama kamu bukan sama yang lain? Kamu kan orang baru di sini. Lagian kok pak Erick bisa tau kamu punya minyak kayu putih? Memang kamu kenal deket ya sama manager kita? "


Desi mulai memancing-mancing pembicaraan yang lain.


" Iya, kamu punya hubungan apa sih sama pak Erick dan big bos kita pak Yoga? "


Tanya Lina semakin terang-terangan membuat Biqha merasa tidak nyaman. Fajar dan juga Doni hanya bisa memggelengkan kepala, melihat kedua rekannya itu mencecar Biqha. Melihat Biqha yang bingung dan terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan dari rekan-rekannya itu, Fajar pun mencoba menengahi.


" Kalian ini mau makan siang atau mengintrogasi Nabiqha sih? Lagian kalau pun mereka kenal dekat, apa urusannya sama kalian?"


Ucap Fajar sedikit ketus pada duo bigos itu. Melihat Biqha jadi tidak nyaman seperti itu, membuat dia menyesal dan merasa bersalah pada Biqha. Karena sudah menuruti perkataan kedua orang itu, untuk mengajak Biqha makan siang bersama mereka.


Fajar berpikir mereka memang ingin mengenal Biqha, dan menjalin hubungan baik dengan Biqha seperti dirinya. Tapi ternyata tidak.


" Tau nih..... kalian buat orang jadi gak nyaman tau gak? " Ucap Doni memberi dukungan pada Fajar.


" Ih.... Apaan sih kalian? Kita kan cuma nanya. "


" Iya... Orang cuma nanya doang"


Ucap Lina dan Desi yang kompak manyun karena teguran dari Fajar dan juga Doni. Sementara Biqha tersenyum tipis melihat interaksi mereka. Karena walaupun sering berdebat, tapi mereka terlihat akrab satu dengan yang lainnya.


Makanan yang mereka tunggu-tunggu pun datang. Dengan segera mereka pun mulai menyantap makanan mereka. Di tengah-tengah santap siang itu, Desi dan Lina yang masih sangat penasaran belum juga mau menyerah. Mereka masih mencoba mencari tau, tentang hubungan Biqha dengan kedua bos pujaannya.


" Nabiqha kamu kerabatnya pak Yoga ya? Makanya kamu juga kenal deket sama pak Erick. Secara mereka sahabatan dari kecil kan katanya. "


Tanya Desi sekali lagi, mencoba mengorek informasi dari Biqha. Mendengar pertanyaan itu lagi, kedua rekan pria yang ada di sana merasa jengah.


Biqha dengan segera meminum air, setelah selesai mengunyah dan menelan makanannya.


" Bhukhan. Hakhu themhen eshemhah mherhekha. Khitha dhulhu shekhelhas. "


( Bukan. Aku temen SMA mereka. Kita dulu sekelas.)


Keempat rekanan itu terbelalak, menaikkan kedua alis mereka bersamaan.

__ADS_1


" Temen SMA? "


Tanya Desi dan Lina kompak seakan tidak percaya. Sedangkan Biqha hanya mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya.


" Berarti kalian seumuran dong ya?"


Tanya Doni yang juga seakan tak percaya. Hampir rata-rata karyawan di kantor berpikir, Biqha baru lulus kuliah dan langsung mendapatkan pekerjaan dengan mudah karena bantuan sang CEO.


Karena postur tubuh dan wajah cantiknya yang imut, tidak sedikit karyawan yang bahkan mengatakan Biqha masih seperti anak sekolahan. Terutama karyawan laki-laki.


" Chumhah bhedha shethahun hadjhah." ( Cuma beda setahun aja. )


Jawab Biqha setelah menyelesaikan makan siangnya.


" Beda tahun... Tapi selisih cuma berapa bulan kan?"


Tanya Lina lagi dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Biqha. Membuat Lina menautkan kedua alisnya.


" Whakthuh Eshdhe, hakhu lhulhus lhebhih chephat. Khalhau ghakh yakh.... Hakhu shathu thingkhat dhi bhawhah mherhekha. " ( Waktu SD, aku lulus lebih cepat. Kalau gak ya.... Aku satu tingkat di bawah mereka.)


Keempat rekannya membulatkan mulut mereka, ber-O ria sambil mangut-mangut.


Dengan kecerdasan yang Biqha miliki, Biqha bisa menyelesaikan sekolah dasarnya di SLB lebih cepat dari yang seharusnya. Dimana anak-anak lain menyelesaikan sekolah dasarnya selama enam tahun, Biqha bisa menyelesaikannya dalam waktu lima tahun.


Mungkin itu karena dia di pindahkan dari sekolah umum ke sekolah luar biasa, setelah mengalami sakit dan kehilangan pendengarannya.


Setelah mereka semua selesai makan siang, mereka tidak langsung kembali ke kubikelnya. Mereka bersantai sejenak di cafe sambil mengobrol seperti karyawan yang lain.


Melihat rekannya Lina mulai mau membuka mulut dengan pandangan ke arah Biqha, seperti ingin bertanya lagi pada Biqha. Fajar segera berucap terlebih dahulu, berusaha mengalihkan pembicaraan yang ingin di bahas oleh Lina. Yang Fajar rasa mungkin akan membuat Biqha kembali tidak nyaman dibuatnya.


" Nabiqha... Maaf ni ya! Aku penasaran. Kamu memang tuna rungu dari lahir atau..... karena sesuatu? "


Tanya Fajar yang sebenarnya juga tidak enak hati membahas kekurangan Biqha. Membuat yang lainnya terperanjak mendengar pertanyaan Fajar yang bersifat sentitif seperti itu.


Biqha langsung mengelengkan kepalanya dengan tersenyum, mengisyaratkan bahwa dia tidak keberatan dengan pertanyaan Fajar. Fajar pun tersenyum lega.


" Soalnya menurutku... Kamu cukup lancar berkomunikasi dan pengucapan kamu juga bisa di pahami. Sedangkan kalau seseorang yang memang terlahir.... maaf ya... T**i. Pasti juga tidak bisa bicara kan? "


Rekan Fajar yang lain pun mengangguk mengiyakan penuturan yang ia ucapkan.


" Iya....ya.... Bener juga. Kok kamu bisa ngomong Nabiqha? Eh... Maaf...."


Desi yang ceplas ceplos menanggapi perkataan Fajar, lalu dengan segera meminta maaf dan menutup mulut dengan tangannya. Menyadari kesalahannya, setelah lengannya di sikut oleh doni yang berada di sebelahnya.


" Whakthu hakhu umhur ehnham thahun, hakhu shakhit flhu dhan bhathuk bherkhephanjhanghan. Phunchaknyhah shahat hakhu dhemham thingghih shamphai stheph, mhembhuat sharhaf bhaghian dhalham thelhingahkhu therghangghu." ( Waktu umur enam tahun, aku sakit flu dan batuk berkepanjangan. Puncaknya saat aku demam tinggi sampai step, membuat saraf bagian dalam telingaku terganggu.)


Jelas Biqha pada rekan-rekannya itu, yang senantiasa mendengarkan ceritanya dengan seksama. Agar mereka bisa memahami dengan benar, apa yang Biqha ucapkan.


" Thibha-thibha adjhah hakhu khehilhanghan phendhengharhankhu. Khatha dhokther, hakhu mhenghalhami shenshorhinhurhel hirhing lhoss." ( Tiba-tiba aja aku kehilangan pendengaranku. Kata dokter, aku mengalami SENSORINEURAL HEARING LOSS) Sambungnya lagi.


" Apa...? "


" Mengalami apa? "


Tanya rekan-rekannya, yang kurang mengerti dengan ucapan Biqha di akhir kalimatnya.


Biqha pun segera mengambil ponsel di saku blezernya, lalu mengetikkan kata SENSORINEURAL HEARING LOSS pada google, mencari penjelasannya disana. Kemudian memperlihatkan pada rekan-rekannya itu.


Keempat rekanannya itu pun membacanya. Tiba-tiba terlihat raut wajah prihatin dari mereka.


" Hakhu mhemhang mhashih bhisha bhicharha. Thaphih kharnhah hakhu thidhakh bhisha mhendhenghar dhenghan bhahik, lhambhat lhahun phelhafhalhankhu phun bherhubhah. Jhadhi bheghinnhih....."

__ADS_1


( Aku memang masih bisa bicara. Tapi karna aku tidak bisa mendengar dengan baik, lambat laun pelafalanku pun berubah. Jadi begini.....)


Jelas Biqha lagi, yang di tanggapi anggukan kepala dari rekanannya yang akhirnya bisa mengerti kondisinya.


Meski Biqha masih bisa berbicara. Namun kehilangan kemampuan menangkap gelombang suara pada telinganya, tetap saja berpengaruh pada pelafalan kata yang keluar dari mulutnya dan juga suaranya. Terutama pelafalan pada huruf-huruf konsonan.


Itu disebabkan karena ketidakmampuannya mendengar suaranya sendiri. Jadi meskipun masih bisa bicara, sulit bagi penderita tuna rungu melafalkan kata perkata dengan cermat dan lugas seperti orang pada umumnya.


" Khalhau thanthenya mhash Fhajhar ghimhannhah? " ( Kalau tantenya mas Fajar gimana? )


Tanya Biqha pada Fajar yang ada di sampingnya. Mencoba memecah keheningan yang sempat terjadi, setelah Biqha menjelaskan tentang keadaannya tadi.


" Oh.... Kalau tanteku memang sejak lahir. Jadi kondisinya memang sudah tidak bisa bicara dan mendengar. " Jawab Fajar cepat.


" Iya loh.... Tadi aku kaget liat kamu ngobrol sama Nabiqha pake begini... begini... "


Ucap Doni sambil mencoba memperagakan gerakan tangan, yang dilakukan fajar saat mengobrol dengan Biqha di ruangan tadi.


" Iya... iya... Tadi kalian ngobrolin apa pas di atas tadi." Tanya Desi memandang Fajar dan Biqha bergantian.


" Gak ada. Cuma bilang 'sama-sama' aja, karna Nabiqha berucap makasih setelah aku tulis notes berisi pesannya bu Diana tadi. " Jelas Fajar kemudian.


" Wah..... Bahaya nih. Mereka berdua punya bahasa sendiri, yang hanya mereka berdua yang tau di kantor ini. Jadi mereka bisa ghibahin kita tanpa kita tau. "


Ucap Lina yang spontanitas mengundang tawa dari yang lainnya. Dan mereka pun tertawa bersama. Tak terkecuali Biqha yang sekalipun masih malu-malu dan canggung. Namun mulai bisa berbaur.


" Emang kita berdua itu lo sama Desi. Gosip mulu kerjaannya. " Sanggah Fajar sembari tertawa kecil.


Dalam hati, Biqha bersyukur melihat rekan-rekannya sudah mulai bisa menerima dirinya. Tak lupa dia juga berterima kasih pada Sang Pemberi rezeki. Karena telah memberikan kemudahan baginya mendapat pekerjaan. Juga mempermudah jalannya untuk bisa berbaur, dengan rekan kerjanya yang lain dan mendapat teman-teman baru.


Di sisi lain dari kejauhan seseorang juga sedang berucap syukur dalam hatinya, melihat kebersamaan Biqha dengan rekan-rekannya yang mulai terlihat akrab.


' Syukurlah dia udah berhasil berbaur dengan yang lain. Mereka juga sepertinya bisa menerima Biqha dengan baik. '


Erick tadinya berniat mencari Biqha untuk mengajaknya makan siang, karena khawatir Biqha masih belum bisa berbaur dan diterima oleh karyawan yang lain. Mengingat kemarin bahkan rekan satu divisinya mencibir dan menggunjingnya. Erick khawatir Biqha masih akan kesulitan mendapat teman seperti dulu.


Erick jadi teringat saat awal masuk sekolah dulu, pada masa orientasi siswa. Biqha sudah mulai dibuli dan sering ditertawakan oleh siswa dan siswi lain. Hal itu pernah membuat Erick sangat marah karena Biqha hanya diam saja diperlakukan seperti itu. Terkesan membiarkan mereka, menindas dan mengejek dirinya.


Tapi saat Erick membelanya dan memberitahukan padanya bahwa dia harusnya melawan, dan tidak membiarkan mereka bertindak seperti itu terhadapnya. Biqha malah salah paham dan berbalik marah padanya. Membuatnya kesal sendiri karena merasa diabaikan oleh Biqha.


" Khennhaphah jhadhih khammhuh yhang mharhah-mharhah? "


( Kenapa jadi kamu yang marah-marah? )


" Mhemhangnyhah khammhuh shihaphah? mharhah-mharhah ghakh jhelhas shammhah hakhu?"


( Memangnya kamu siapa? Marah-marah gak jelas sama aku? )


" Hudhah dheh..... Ghakh hushah shokh pherdhulhi shammhah hakhu. "


( Udah deh..... Gak usah sok perduli sama aku)


Kata-kata Biqha saat itu seolah kembali terngiang-ngiang di telinga Erick. Tanpa sadar Erick pun menarik sudut bibirnya ke atas membentuk lengkungan yang indah.


Sementara itu, di sudut lain. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, dari pintu masuk cafe yang ada di sisi luar gedung. Yoga juga memperhatikan interaksi Biqha dengan keempat rekannya. Namun dengan pandangan yang berbeda.


Ada rasa cemas di hatinya melihat keakraban Biqha dengan rekan lelaki yang duduk di dekatnya. Karena di mata Yoga, karyawannya itu seolah menaruh perhatian lebih terhadap Biqha. Berbeda dari yang lainnya. Bahkan dia melihat mata pria itu selalu berbinar-binar saat memandang Biqha.


Membuatnya semakin gelisah, mengingat pria itu akan mempunyai banyak kesempatan untuk bisa dekat dan menghabiskan waktu bersama dengan Biqha. Namun untuk saat ini, tidak ada yang bisa ia lakukan selain membiarkannya.


* Thank's buat readers yang masih setia membaca novel ini. Please dukung terus autor ya..... Biar makin semangat nulisnya jangan lupa kasih like dan komennya ya....!

__ADS_1


Thank U readers..... saranghae.....


__ADS_2