Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 6. Perhatian Yoga


__ADS_3

Biqha memasuki lift, turun ke lantai dasar. ketika melangkah keluar Biqha merasa ingin buang air kecil jadi dia berbalik arah mencari toilet. Biqha melihat seorang wanita memakai seragam office girl, dan bertanya padanya arah menuju toilet. Toilet ada di bagian belakang gedung.


Diperjalanan menuju toilet, Biqha melihat ternyata ada sebuah cafe di dalam gedung ini. Mungkin semacam kantin untuk para karyawan. Namun tidak seperti kantin biasa, dekorasi dan penataannya seperti cafe atau restoran. Terlihat sangat nyaman.


Cafe itu mempunyai dua pintu masuk. Satu pintu masuk dari arah dalam gedung, Satu lagi dari arah luar gedung. Itu bisa terlihat karena cafe tersebut hanya bersekat dinding kaca.


Selesai masalahnya di toilet, Biqha keluar dan segera beranjak ingin pulang kerumah. Namun saat dia kembali melintasi cafe yang telah ramai di isi oleh karyawan-karyawati itu, dia merasa sangat haus. Karena sejak pagi tadi berangkat dari rumah hingga sampai di kantor ini, ia bahkan belum minum sedikitpun.


Akhirnya dia memutuskan masuk ke dalam cafe. Sekedar ingin memuaskan dahaganya. Sebenarnya Biqha juga merasa lapar, karena sekarang juga sudah waktunya makan siang. Namun dia tidak mungkin makan di tempat ini. Khawatir harga makanan disini mahal. Biqha masih harus berhemat sampai dia mendapatkan pekerjaan.


' Minum aja dulu. Makannya nanti cari tempat makan yang murah, atau pulang aja makan dirumah lebih hemat lagi.' batinnya.


***


Yoga terburu-buru mau memasuki mobilnya, namun sedetik kemudian ia urungkan. Yoga berbalik dan berlari cepat ke depan, memastikan Biqha masih disana atau tidak. Sesampainya di depan dengan nafas yang terengah-engah, dia mencari keberadaan Biqha.


Dia melihat gadis berhijab itu masih disana berdiri di balik pagar gedung perusahaannya. Tak lama kemudian, gadis itu menggerakkan tangannya menghentikan angkutan yang akan melintas. Spontan Yoga berteriak memanggilnya.


" BIQHA.... "


Yoga berlari secepatnya berusaha mencapai gadis itu. Namun sayangnya dia terlambat. Angkutan umum yang ditumpangi Biqha sudah berlalu. Bahkan sebelum dia melewati pos security.


Yoga menghentikan langkahnya. Dengan nafas yang masih memburu, dan keringat yang mulai bercucuran. Yoga menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang bertumpu pada lutut. Saat masih terengah-engah, Yoga dihampiri seorang security.


" Anda tidak apa-apa pak ? Ada yang bisa saya bantu ? " Tanya security tersebut.


Bukan hanya security saja yang bingung melihat pimpinan mereka berlari seperti itu. Ada juga beberapa karyawan yang melihatnya merasa heran. Bertanya-tanya apa yang terjadi dengan pimpinan mereka.


Dengan nafas yang masih terengah-engah, Yoga melambaikan tangan pada security tersebut. Mengisyaratkan bahwa tidak ada apa-apa.


' Sial... Aku terlambat. Semua gara-gara Alin. Rencanaku gagal gara-gara dia. Sssiiiaalll..' Kesalnya dalam hati sembari memegang kepalanya karena merasa frustasi.


Yoga pun kembali masuk ke dalam kantor dengan lesu. Dia tidak berselera lagi untuk makan. Sekarang tujuannya hanya kembali ke ruangannya. Kemudian mencoba untuk kembali fokus bekerja.


Langkah lesunya terhenti, ketika ada sentuhan tangan lentik dilengannya. Yoga terperanga melihat sosok yang di kejarnya tadi justru ada di hadapannya sekarang.


" Biqha ? Kamu...... " Ucapannya terhenti menyadari sesuatu.


Diperhatikannya kembali Biqha dari atas hingga bawah. Sepertinya tadi dia salah orang. Memang dia tadi hanya melihat dari belakang. Ada sosok gadis berhijab merah, dengan tinggi dan bentuk badan mungil seperti Biqha. Sementara Biqha yang kini ada di hadapanya memakai hijab berwarna hitam.


' Astaga.... Aku salah orang. Untung aja gak terkejar. Kalau gak bisa malu banget. ' Gumamnya dalam hati sambil mengusap wajahnya.


Biqha yang bingung melihat tingkah Yoga pun mengerutkan keningnya.


" Ah.... Biqha. Kamu datang juga kesini. "


Yoga tersenyum senang dan mulai kembali mengusai situasinya. Biqha pun ikut tersenyum menanggapinya.


" Khammuh khennaphah ? Khok khayakh horhang bhinghung ghithuh? " ( Kamu kenapa? Kok kayak orang bingung gitu?)


" Ah..... Gak papa. Kamu udah selesai nyerahin CV kamu? Kok sampe siang banget sih? Tanyanya pura-pura tidak tau.


Yoga penasaran kenapa Biqha masih ada disini sekarang sedangkan interview nya berakhir dari tadi.


" Hakhu thadih lhangshung hinthevihuh jhaddih hamphek shihang. " ( Aku tadi langsung interview jadi sampe siang.)


" Oh.... jadi kamu udah makan siang belum ? " Yoga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


Biqha bingung kalau dia jawab jujur, takutnya terkesan dia mengharap pada Yoga. Karena feelingnya Yoga pasti akan mengajaknya makan siang seperti kemarin. Tapi kalau dia bilang sudah, nanti Yoga merasa ditolak. Akhirnya Biqha menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Thadih shemmphet bhelih mhinhum dhishanah. Thappih bhelhum mhakhan. Mhau mhakhan dhi rhummah hadjhah" ( Tadi sempet beli minum disana. Tapi belum makan. Mau makan di rumah aja.)


Jelas Biqha sambil menunjuk ke arah cafe.


" Bi... ikut aku aja yuk ! Kalau makan dirumah ntar kesiangan. Nanti perut kamu sakit. Maag kamu bisa kambuh karna telat makan." Bujuknya.


' Tuh kan bener. Dia pasti ajakin aku makan siang lagi.' Gumam Biqha dalam hatinya.


Biqha tersenyum. Dia tidak bisa mengingkari hatinya. Biqha senang bisa bertemu kembali dengan Yoga. Dan merasakan kembali perhatian darinya seperti dulu. Pria itu tidak berubah tetap tulus seperti saat masih remaja dulu.


Melihat senyum terukir di wajah Biqha, sudah cukup menjadi jawaban bagi Yoga. Jangan tanya bagaimana perasaan Yoga saat ini. Sudah pasti sangat bahagia. Dari yang tadinya dia menyangka rencananya gagal. Ternyata Tuhan seolah membuka jalan untuknya.


Yoga membawa Biqha pergi ke restaurant yang tidak jauh dari kantornya. Di sepanjang jalan mereka tidak banyak bicara, hanya membahas soal interview tadi. Yoga sedikit kesal saat mendengar dari Biqha, kalau dia masih harus menunggu kabar selanjutnya.


Padahal sudah jelas, dia mengatakan bahwa Biqha adalah rekomendasi darinya. Tapi kenapa mereka masih belum menerima Biqha bekerja di sini.


Di dalam restaurant, mereka kembali mengobrol sembari menunggu pesanan mereka datang.


" Bi..... Kenapa di tahun ketiga kuliah kamu menghilang ? Kamu gak pernah balas email aku lagi. Saat aku pulang liburan, aku datang kerumah kamu. Ternyata kamu juga udah pindah."


Akhirnya Yoga mengungkapkan rasa penasarannya selama ini, tentang keberadaan Biqha.


Mereka saling tatap. Menikmati indah tatapan masing-masing dengan penuh perasaan. Merasakan tatapan Yoga semakin tajam dan lekat padanya, Biqha menunduk tak kuasa melawan tatapan indah mata Yoga.


" Akh..... Hithuh shohal himmhel, hakhuh ghakh bhisha bhalhas kharhennah themmhen hakhuh yhang phunyhah lhepthop ghakh khulhiah lhaghi. Ghakh thahu khemhannah. " ( Ah...... Itu soal email, aku gak bisa balas karena temen aku yang punya laptop gak kuliah lagi. Gak tau kemana.) Jelasnya.


" Khammuh khan thahu khalhau hakhu ghakh phunnyah lhepthop. Shelhammah hinnih hakhu khirhim himmhel dhan bhalhas himmhel khammuh lhewhat themmhen hakhu." ( Kamu kan tau kalau aku gak punya laptop. Selama ini aku kirim email dan balas email kamu lewat temen aku.) Sambungnya.


Sebelum pergi ke London, Yoga sempat memberikan alamat emailnya dan juga nomor telephonya disana pada Biqha. Agar mereka bisa terus berkomunikasi. Namun karena Biqha tidak punya ponsel dan juga laptop, jadi Yoga tidak bisa menghubunginya.


Saat awal kuliah Biqha baru mengirimnya email lewat laptop temannya. Dan mereka rajin berkomunikasi melalui email setelah itu. Namun di awal tahun ketiga kuliah, teman Biqha itu tidak pernah lagi terlihat di kampus.Jadilah komunikasi mereka pun terputus.


Yoga terus menatap Biqha dengan lembut. Rasa cinta yang besar masih jelas tersirat dimatanya.


" Hithu... Khammih therphakshah mhenjhual rhummah khammih hunthuk bhiayyah bherhobbhat hibukh." ( Itu...... kami terpaksa menjual rumah kami untuk biaya berobat ibu.) Jelas Biqha lagi sembari menunduk sedih mengenang sang ibu.


Mendengar penjelasan Biqha, Yoga mengerti betapa berat kondisi Biqha saat itu. Dan dia merasa bersalah karena tidak tau apapun tentang itu. Dia juga tidak bisa berada disisi Biqha saat itu.


" Oh... Begitu. Terus gimana kabar ibu kamu sekarang? Udah sehat?" Tanya Yoga lagi.


Biqha hanya bisa tersenyum sendu.


" Hibbhukh hudhah mhenningghal Gha'. " ( Ibu udah meninggal Ga' )


Yoga terperanjat mendengarnya. Dia kemudian mencondongkan badannya mendekat pada meja. Meraih dan menggenggam tangan Biqha di atas meja itu.


" Maaf Bi.... Aku gak tau. Aku...... " Yoga tidak melanjutkan kalimatnya melihat Biqha menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis sekali.


Yah..... Biqha tersenyum. Karena dia sudah mengiklaskan kepergian sang ibu. Ibunya sudah berjuang sangat keras dan banyak berkorban untuknya dan adiknya. Sampai mengabaikan rasa sakit yang dideritanya selama ini. Sekarang ibunya sudah tenang di sisi Allah. Jadi Biqha tidak boleh bersedih hati lagi bila mengingat sang ibu.


" Sudah berapa lama Bi......?"


" Shuddhah hemphat thahun yhang lhalhuh" ( Sudah empat tahun yang lalu.)


Makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Mereka pun segera menyantap makanan dihadapan mereka.


Selesai santap siang, mereka bergegas pulang. Yoga memaksa ingin mengantar Biqha pulang. Sekalipun Biqha sudah menolak, dengan alasan dia harus mampir ke warung tempatnya menitipkan kue-kuenya. Yoga masih tetap memaksa untuk mengantarnya.


Biqha harus kembali berkeliling mengambil kotak box kuenya, di warung-warung langganannya. Yoga tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting dia bisa mengantar Biqha. Dengan begitu dia bisa tau dimana tempat tinggal Biqha sekarang.

__ADS_1


" Bherhenthi dhishinnih hadjha Gha'.....! " ( Berhenti disini aja Ga...)


" Kenapa Bi ? " Tanya Yoga sembari meminggirkan mobilnya.


Biqha membuka sabuk pengaman miliknya dan bersiap turun dari mobil Yoga.


" Shamphai dhishinnih hadjha Gha'. Khonthakhankhuh dhi dhalham shannah. " ( Sampai disini aja Ga'. Kontrakanku di dalam sana.) Ucap Biqha sambil menunjuk ke arah gang di depan.


Biqha membuka pintu mobil kemudian segera turun. Yoga segera mengikutinya. Yoga menghampiri Biqha di depan mobilnya.


" Kontrakan kamu di dalam gang itu ? "


Biqha mengangguk mantap.


" Mhobbhil ghakh bhishah mhashukh. Jadhi shamphai dhishinnih hadjha. Ghakh phaphah." ( Mobil gak bisa masuk. Jadi sampai disini aja. Gak papa.) Ucapnya lagi.


" Ya udah yuk...! " Ajak Yoga.


Kemudian Yoga mengambil kotak box yang dibawa Biqha. Biqha terpaku menatap Yoga.


" Mhobbhil khammuh ghimhannah? " ( Mobil kamu gimana? )


" Gak papa. Bentaran doang kok." Yoga tersenyum melihat Biqha yang terpaku.


" Ayo... ! "


Yoga menarik tangan Biqha dengan tangan kanannya. Sedang tangan kirinya membawa kotak-kotak box kosong yang mereka ambil dari warung.


Mereka berjalan menyusuri gang dengan bergandengan tangan. Biqha sempat mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Yoga. Namun Yoga justru semakin erat menggenggamnya.


Tidak terlalu jauh mereka berjalan, mereka sudah sampai di depan rumah kontrakan Biqha.


" Ini kontrakan kamu? "


Biqha mengangguk. Yoga memperhatikan kontrakan Biqha yang sempit. Bahkan kontrakannya menyatu dengan kontrakan yang lain.


Melihat tatapan prihatin dari mata Yoga yang memperhatikan rumah kontrakannya, membuat Biqha merasa sedikit malu dengan hidupnya. Sedangkan Yoga terlihat sangat luar biasa sekarang. Ada rasa minder yang tiba-tiba muncul di hatinya.


Biqha meminta maaf pada Yoga karna tidak bisa mengijinkannya mampir ke kontrakannya. Sebab adiknya tidak ada dirumah sekarang.


" Ya udah kalo gitu......Aku balik ke kantor ya. " Pamit Yoga.


Biqha menjawabnya dengan senyum sembari mengangguk pelan.


Yoga pun melangkah menjauh. Kemudian melambaikan tangan dengan senyum manisnya untuk Biqha. Begitu pun sebaliknya, Biqha membalas lambaian tangan Yoga sembari tersenyum tak kalah manisnya.


Biqha masih terpaku menatap punggung Yoga yang semakin menjauh. Saat tiba-tiba ada kepala yang melongok disamping kepala Biqha. Membuat Biqha terkejut bukan main.


Biqha melompat menjauh sembari membalikkan badannya secara reflek. Ternyata Rendra yang berada di belakangnya. Biqha langsung memukuli lengan sang adik karena telah mengejutkannya. Rendra pun mengeluh kesakitan.


" Ampun mbak..... Ampun. Sakit....... "


Sekali lagi Rendra ikut mendongak ke arah yang sama dengan yang kakaknya pandangi tadi.


" Cie..... Siapa tuh? " Godanya pada sang kakak.


" Khammuh khok thumbhen dhah phulhang jham sheghinnih?" ( Kamu kok tumben dah pulang jam segini?) Tanya Biqha mengabaikan godaan adiknya.


" Tadi kelas terakhir dosennya gak masuk. Jadi ya udah.... Rendra pulang aja dulu Istirahat. Sebelum nanti berangkat kerja lagi. " Jelas Rendra.

__ADS_1


__ADS_2