Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 36. Orang ketiga


__ADS_3

" Hapha mhakhshud khamhu ohrhang khethigha? Hakhu bhukhan ohrhang khethigha." (Apa maksud kamu orang ketiga? Aku bukan orang ketiga.)


Erick mengerutkan kedua pangkal alisnya sambil sedikit menarik kepalanya ke belakang. Dengan senyum sinisnya Erick kembali menyindir Biqha.


" Baru aja lo ngakuin kalo lo menjalin hubungan dengan Yoga. Laki-laki yang sudah bertunangan dan akan segera menikah..... "


Kenyataan yang Erick ungkapkan, bagai petir yang menyambar jiwanya. Biqha mematung, sejenak hati dan pikirannya tiba-tiba terasa kosong.


" Apa namanya kalo bukan orang ketiga? Atau lo lebih suka disebut pelakor?"


Biqha sontak melotot menanggapi perkataan Erick. Julukan hina yang Erick sematkan untuknya, membuat Biqha tersadar.


" Ghakh.... Ihthu ghakh bhenher. Yhogha bhilhang ihthu chumha ghoship. Dhia bhilhang, dhia mhemhang shengajha bhiarhin ghoship ihthu bherkhembhang, shuphayha kharyhawhan dhikhanthor ghakh dhekhet-dhekhethin dhia lhaghi." ( Gak..... Itu gak bener. Yoga bilang itu cuma gosip. Dia bilang, dia memang sengaja biarin gosip itu berkembang, supaya karyawan dikantor gak deket-deketin dia lagi.)


" Hahh....? C'mon..... Bi ! Lo langsung percaya gitu aja tanpa menaruh curiga sedikitpun?"


Erick memegang kepalanya karena tak percaya, ada orang yang begitu naif seperti BIqha. Sementara Biqha terlihat shok, matanya memerah dan siap mengalirkan bulir-bulir bening dari matanya lagi. Seketika itu Erick berubah ekspresi, tersirat rasa sesal diwajahnya. Karena telah mengolok-olok Biqha tanpa berpikir panjang sebelumnya.


' Jadi Biqha gak tau kalau Yoga sudah bertunangan?! Yoga sudah membodohinya, demi memuaskan ambisinya mendapatkan Biqha. '


Erick menyadari kesalahannya karena terlalu cepat berspekulasi, dan sudah salah paham pada Biqha.


" Thaphi..... Yhogha ghakh mhungkhin bhohong. Dhia bhukhan ohrhang yhang shukha bhohong. " ( Tapi..... Yoga gak mungkin bohong. Dia bukan orang yang suka bohong.)


Meski hatinya terguncang, namun Biqha masih berusaha membantah kenyataan yang Erick ungkapkan. Hal itu membuat Erick kembali tersulut emosi.


" Astaga Bi..... Sebucin itu lo sama Yoga? Sampe gak bisa gunain akal lo untuk berpikir?"


Erick menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap Biqha. Kemudian dia mengambil ponsel dari saku celananya, dan mulai memainkan jari diatas ponsel tersebut. Setelah mendapatkan apa yang dia cari di dalam ponselnya, dia memperlihatkannya pada Biqha.


" Lihat ini !"


Biqha langsung mengarahkan pandangannya fokus ke arah ponsel Erick. Matanya melebar dengan genangan air yang semakin memenuhi kantung matanya. Bagaimana tidak, dia melihat foto Yoga yang sedang memasangkan cincin dijari manis seorang wanita.


Seketika hatinya hancur, kepercayaannya runtuh. Dengan sisa kekuatannya, Biqha memberanikan diri mengambil ponsel itu. Biqha mulai melihat satu persatu foto juga video, yang ada di akun sosial media atas nama Alina Calista itu. Disana ada banyak bertabur wajah Yoga dengan senyum mengembangnya.


Hati Biqha kian hancur melihat postingan terakhirnya, dimana Biqha melihat video pesta kejutan ulang tahun yang Alina persembahkan. Disana terpampang nyata kemesraan antara Yoga dan wanita itu. Mereka berpelukan erat bahkan sang wanita mencium pipi Yoga, sesaat setelah wanita itu mengucapkan selamat padanya.


' Jadi ini yang kamu maksud klien penting dari luar? Kenapa kamu tega bohongi aku Ga.....? Bahkan sejak awal, kamu buat aku seperti orang bodoh. Dan aku benar-benar bodoh karena percaya sama kamu.'


Biqha bicara dalam hatinya sembari melihat video itu, seolah sedang bicara dengan Yoga.Sekuat tenaga Biqha berusaha menahan airmatanya. Dia tidak mau terlihat lemah di depan Erick. Karena kenyataan yang dia ketahui hari ini, benar-benar membuatnya kehilangan muka di hadapan Erick. Namun sekuat apapun dia mencoba menahannya, airmata itu tetap jatuh.


Dengan cepat Biqha menghapus airmata di pipinya. Namun airmata itu tetap kembali berjatuhan dari kedua sisi matanya. Erick yang menyaksikan hal itu pun, menjadi seperti ikut teriris. Erick mengambil ponselnya dari tangan Biqha.


" Sekarang lo tau kenyataan yang sesungguhnya kan?! Jadi gue minta, jauhin Yoga! Kalo gak, lo bakal dalam masalah besar Bi.... Jangan bersikap seperti perempuan bodoh yang gak punya harga diri, yang selalu terbawa perasaan dan mengacuhkan logikamu! Berpikirlah dengan cerdas !" nasehat Erick yang lebih terdengar seperti ancaman.


" Jangan buat gue nyesel pernah banggain lo didepan Rendra Bi.... Pikirkan perasaannya. Gimana kecewanya dia kalo tau lo seperti ini. Lo itu panutannya Bi.... kebanggaannya. "


Ucapan Erick membuat Biqha tersentak. Saat Biqha ingin berucap, tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Yoga kembali menghubunginya. Biqha terpaku memandangi ponselnya, hatinya sakit melihat nama dan wajah Yoga disana.


Melihat Biqha terpaku memandangi ponselnya, Erick berinisiatif mengambil ponsel itu dan menolak panggilannya.


" Jangan pernah berhubungan lagi dengan Yoga, kalo lo masih mau bekerja di kantor. Kalo sampe diam-diam kalian masih berhubungan, gue gak akan pikir panjang untuk nyingkirin lo dari kantor Bi..... "


Biqha melebarkan matanya yang mulai sembab, memandang Erick dengan serius.


" Gue bisa Bi..... Lo pikir untuk apa hari ini ayah Yoga datang ke ruangan gue....? Untuk menyingkirkan lo dari perusahaan. "

__ADS_1


Bola mata Biqha semakin membulat sempurna.


" Karena beliau curiga kalo lo alasan dibalik keinginan Yoga membatalkan rencana pernikahannya."


" Yhogha mhau bhathalhin...." (Yoga mau batalin...)


" Jangan seneng dulu Bi..... Lo pikir ini masalah sepele? Gak."


Erick langsung menyela ucapan Biqha, tanpa memberi kesempatan Biqha menyelesaikan ucapannya.


" Ini bukan sekedar pernikahan biasa. Ini juga menyangkut bisnis dan kehormatan kedua keluarga. Lo pikir mereka akan tinggal diam? Ini akan berimbas sangat buruk bagi perusahaan Yoga, lo tau gak? Karena keluarga Alina memiliki kekuatan media. Kalo pun Alina dan orang tuanya tidak mempermasalahkan, profesi Alina sebagai selebriti juga anak pemilik statiun tv dan agency terbesar, tentu akan terus menjadi sorotan media. Apalagi kalo kabar pernikahannya yang batal mencuat.... Para pencari berita pasti akan membesarkan masalah ini. Dan ini bisa menjatuhkan imej perusahaan. Jelas om Adi gak akan membiarkan itu terjadi."


Erick menjelaskan panjang lebar dengan emosi yang meluap, seperti orang yang prustasi. Kemudian Erick melangkah mendekati sofa dan duduk disana, lalu meletakan poselnya dan juga ponsel Biqha diatas meja di depannya. Erick berusaha mengistirahatkan pikirannya yang diselimuti emosi.


Sementara Biqha hanya bisa terdiam di tempat, sambil memandang Erick yang terduduk sembari memegangi kepalanya. Sedetik kemudian ponsel Biqha kembali berdering, Erick menatap ponsel itu dan melihat ada beberapa pesan chat masuk dari Yoga. Erick menarik nafas panjang, lalu menatap Biqha.


" Ini demi kebaikan lo juga Bi..... Hentikan semua ini ! Jauhi Yoga !"


Erick melembutkan suaranya dan memandang Biqha dengan sendu. Biqha dengan mata yang masih berkaca-kaca tak bisa berkata apapun.


" Lo gak akan bisa bahagia dengan merebut kebahagiaan orang lain Bi....."


Kata-kata Erick membuat Biqha semakin berkaca-kaca. Dia juga tidak pernah berniat sedikit pun untuk merebut kebahagiaan orang lain. Andai dia tau yang sebenarnya dari awal, dia tidak akan mungkin menerima cinta dari Yoga.


" Seandainya ibu masih hidup.... ibu pasti kecewa banget liat lo sekarang. Gue mungkin belum sempet kenal sama ayah lo Bi..... Tapi dari cerita ibu, gue tau pasti kalo dia orang yang bakal paling kecewa sama lo. Kalo sampe lo menjadi perusak kebahagiaan orang dengan merebut hak wanita lain."


Ucapan Erick sungguh menusuk hati Biqha, hingga rasa sakit itu tidak tertahan dan membuat airmatanya bercucuran. Biqha terus berusaha menghapus airmatanya.


" Jangan hancurkan kebanggaan mereka terhadap lo, Biqha !"


" Hapha... khamhu phikhir.... Hakhu shungghuh.... Hakhan bherthindhak.... sherhendhah ihthu?" (Apa... Kamu pikir....aku sungguh....akan bertindak....serendah itu?)


" Hapha.... Hakhu shungghuh..... sherhendhah ihthu dhimhathamhu? Shamphai khamhu bhawha-bhawha ohrhang thuakhu yhang shudhah mhenhingghal, hunthuk mhenhashehathikhu?!" (Apa... Aku sungguh....serendah itu dimatamu? Sampai kamu bawa-bawa orang tuaku yang sudah meninggal, untuk menasehatiku?!)


Erick menunduk menyesali keputusannya, yang dengan sengaja menyebut kedua orangtua Biqha. Agar pikiran Biqha terbuka dan tidak bertindak nekat mengikuti perasaannya semata.


" Dhemhi Holloh.... Jhikha hakhu thau dhia shudhah mhemhilhikhi chalhon histrhi, hakhu ghakh hakhan phernhah mhenjhalhin hubhunghan dhenghanyha." (Demi Allah..... Jika aku tau dia sudah memiliki calon istri, aku gak akan pernah menjalin hubungan dengannya.)


Sejenak mereka terdiam. Hanya suara isakan Biqha yang terdengar diruangan itu. Kemudian Erick kembali berdiri dan menghampiri Biqha.


" Duduk lah...."


Erick menuntun Biqha duduk di salah satu kursi di meja makan, yang berada di depan sofa yang tadi dia duduki.


" Gue harap.... Lo bisa pegang kata-kata lo itu Bi. Sekarang.... Biar gue yang nemuin Yoga dan coba bicara baik-baik dengannya. Lo disini aja. Pesen apapun yang lo mau... Dan lo harus makan! Jangan keluar sebelum gue balik kesini. Jangan sampe lo keliatan bareng sama Yoga disini. Karena ada dua orang laki-laki mencurigakan yang ngikutin lo dari tadi, dan mungkin akan ngikutin lo terus."


Ucapan Erick sontak membuat Biqha melebarkan matanya lagi, dan menaikkan kedua alisnya.


" Khah...???"


" Nanti gue jelasin. "


Ucap Erick kemudian melangkah mengambil ponselnya dan membiarkan ponsel Biqha disana. Lalu pergi meninggalkan Biqha seorang diri di ruangan tersebut.


Didepan ruangan, Erick bertemu seorang waitress.


" Tolong pastikan wanita yang ada didalam memesan makanan dan memakannya. Bilang padanya kalo dia tidak makan, kamu akan dipecat."

__ADS_1


Perintah Erick, sembari memberikan dua lembar uang tip berwarna merah kepada waitress tersebut. Kemudian dia berlalu.


Sementara di dalam, Biqha bergerak mengambil ponselnya. Dibukanya pesan dari Yoga.


// sayang kamu dimana? Kenapa panggilanku kamu rijek? //


// sayang, aku udah pesenin makanan dan minuman kesukaan kamu. Kenapa kamu belum sampe juga?//


// Bi... Kamu dimana? Biar aku jemput kamu sekarang //


Biqha meletakan kembali ponselnya diatas meja, dan kembali menangis. Dia meletakan kepalanya diatas kedua tangannya yang terlipat diatas lutut. Dia benar-benar merasakan sakit dihatinya.


Karena bukan hanya tidak adanya restu dari orang tua Yoga yang dia dapatkan saat ini, seperti kecemasannya tadi di kantor. Melainkan kenyataan yang jauh lebih menyakitkan, yaitu kenyataan bahwa Yoga menjadikannya wanita kedua dihidupnya. Menjadikan Biqha orang ketiga, duri dalam hubungannya dengan wanita lain.


' Kenapa Ga? Kenapa kamu tega mempermainkan hatiku seperti ini? Apa kamu berniat membalasku karena menolakmu dulu? Kamu berhasil Ga. Kamu berhasil menghancurkan hatiku sekarang. Kamu berhasil'


Tiba-tiba Biqha merasakan pundaknya di sentuh seseorang. Dia mendongakkan kepalanya, dilihatnya seorang waitress berdiri di hadapannya. Dengan cepat Biqha menghapus airmatanya.


" Anda baik-baik saja nona? " tanya waitress itu.


Biqha mengangguk sembari memaksakan diri tersenyum hambar pada waitress tersebut.Kemudian waitress tersebut memberikan buku menu kepada Biqha.


" Silahkan.... Nona mau pesan apa?"


Biqha membuka buku menu, sembari sesekali membersihkan wajahnya yang basah karena airmata dan merapikan hijabnya.


" Shayha pheshan ohrhen jhus hadjha." (saya pesan orange jus aja)


Biqha bicara sambil menujuk ke daftar menu minuman pesanannya. Waitress itu pun mengerti dan mencatat pesanannya.


" Makanannya nona?" tanya waitress itu kembali.


Biqha membuka kembali buku menu itu, tanpa berniat memesan makanan. Selera makannya sudah hilang, karena hatinya yang sedang dirundung kesedihan.


" Ihthu hadjha dhulhu mbhak. Mhungkhin nhanthi.... Thungghu themhen shayha khembhalhi." ( Itu aja dulu mbak. Mungkin nanti.... Tunggu temen saya kembali.)


" Maaf nona.... Pesan tuan tadi, nona harus makan! Kalo tidak saya akan dipecat nona."


" Khah..??"


Biqha melebarkan matanya yang sembab, dengan mulut menganga.


' Apa benar Erick akan membuatnya dipecat kalo aku gak makan? ' gumamnya dalam hati.


Tapi pada akhirnya, Biqha pun terpaksa memesan makanan. Bahkan saat makanannya datang, waitress itu tetap berdiri disana menemaninya.


" Therhimha khashih. Handha bholheh pherghi..." ( Terima kasih. Anda boleh pergi....)


" Maaf nona.... Tuan memerintahkan saya untuk memastikan anda memakan makanan yang nona pesan. Jadi saya akan tetap disini sampai anda menghabiskan makanannya."


Dengan terpaksa, Biqha memakan makanan itu dengan perlahan. Karena sesungguhnya dia benar-benar tidak berselera lagi untuk makan. Namun karena ancaman dari Erick, mau tidak mau dia harus menghabiskan makanannya.


Entah Erick sengaja melakukannya, hanya untuk memastikan Biqha makan atau karena hal lainnya. Tapi yang pasti apa yang dilakukan Erick berhasil menghentikan tangisan Biqha dan membuatnya tidak lagi meratapi kesedihannya. Karena menghadirkan pelayan untuk menemaninya dan tidak membiarkannya seorang diri, saat hatinya sedang terluka.


* Gak kerasa ya udah mau lebaran aja. Mohon maaf, karena lama up-nya. Author usahakan Up 1 bab lagi sebelum lebaran. Tapi kalo gak terealisasi, mohon di makalumi ya....! Soalnya emak-emak ini kalo udah deket lebaran, kerjaan rumahnya berkali-kali lipat dari biasanya. Mana mau beresin rumah, buat kue lebaran dan persiapan yang lainya.


Hehehe.... Curcol😁

__ADS_1


Mohon dimaklumi ya readers.....!


Please.... Tetep dukung karya author dan kasih like and komennya ya....! 💖💖💖


__ADS_2