Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 39. Maaf....


__ADS_3

Di dalam ruangannya, Erick terus memegangi pipinya yang terasa sakit dan mulai membengkak. Dengan menggunakan kamera ponselnya, Erick berkaca mengamati luka lebam di tulang pipinya.


" Akhhh..... Harusnya tadi langsung di kompres biar gak membengkak. Gimana nih? Sial bener hari ini....... Mana mukulnya pake tenaga full lagi. Udah mulai gak waras tuh orang. Khehh....."


Erick mendesah kesal melihat wajah tampannya membengkak dibagian pipi kirinya. Dengan memar yang mulai terlihat kebiruan. Bahkan beberapa kali Erick meringis kesakitan, tiap kali menyentuhnya.


Namun ekspresi Erick kembali terlihat lara, saat dia merenung tentang kejadian hari ini. Hari ini terasa berat buat Erick. Erick sadar kalau hal itu juga dirasakan kedua sahabatnya. Bahkan Erick tau pasti, ini lebih berat bagi mereka.


' sory Ga....... Kalau gue harus mencampuri urusan lo. Tapi gue gak mungkin biarin lo berbuat sesuka hati lo. Dan soal Biqha........'


Pikiran Erick terus melayang pada kenangan masa lalu. Pada tahun kedua kepulangan mereka saat liburan kuliah. Dimana Yoga tidak pernah absen mengajak Erick mengunjungi Biqha. Kala itu Erick berbincang serius dengan Ibu Rahma.


" Rick..... Kenapa ya...? Semakin kesini ibu justru semakin khawatir liat kedekatan Biqha dengan temen kamu itu?"


Ucap ibu Rahma setelah melihat kepergian putrinya, yang diantarkan oleh Yoga.


" Memangnya kenapa bu?"


" Ibu takut perhatian dan pengharapan Yoga pada Biqha yang berlebihan, suatu saat akan membuatnya menyakiti Biqha. Kalau ternyata pada akhirnya semua tidak berjalan sesuai harapannya."


" Kenapa ibu bisa punya pikiran kayak gitu?"


Tanya Erick lagi, yang merasa heran dengan sikap ibu Rahma saat itu. Kemudian ibu Rahma menggelengkan kepalanya.


" Ibu juga gak tau. Ibu cemas aja Rick.... Kalian itu dari keluarga yang serba berkecukupan. Sedangkan Biqha perempuan biasa yang punya banyak kekurangan. Biarpun Biqha sudah terlihat sangat mandiri sejak kecil tapi tetep aja dia perempuan. Apalagi.... Dia punya masalah........ "


" Ibu gak usah khawatir....... Biqha pasti akan menjadi wanita yang sukses nanti. "


Erick berusaha menenangkan hati Ibu Rahma. Erick sangat mengerti kekhawatiran yang dirasakan ibu Rahma terhadap putri sulungnya. Yang memiliki kekurangan, namun baginya juga merupakan sosok putri yang membanggakan.


" Kalau soal Yoga.... Dia anak yang baik kok bu..... Dia juga anak yang penurut. Kalo ibu gak percaya, coba aja ibu suruh dia apaaaa...aja. Pasti semua bakal dia lakuin."


Erick mencoba sedikit memghibur, dengan sedikit candaan dan senyum lepas khasnya.


" Iya... Tapi dia melakukannya semata cuma demi mengambil hati Biqha. Bukan karna keiklasan hatinya, gak kayak kamu. Kalo kamu pasti mau bantu ibu tanpa ibu minta dan ngomong sama kamu."


Sejenak ibu Rahma terdiam, kemudian ibu mulai berucap kembali.


" Rasanya ibu akan lebih tenang kalo Biqha lebih deket sama kamu Rick.... Ibu merasa kamu lebih bisa melindungi dan membimbing Biqha nantinya, daripada Yoga yang selalu mementingkan perasaannya sendiri."


Ucap ibu Rahma dengan padangan yang menerawang. Sedangkan Erick malah tertawa lucu mendengar perkataan Ibu Rahma. Karna itu bukan pertama kalinya Erick mendengar ibu mengatakannya.


Namun sebelum-sebelumnya ibu mengatakannya dengan tersenyum bercanda, tapi kali ini berbeda. Tidak ada senyuman sedikitpun. Hanya tatapan kosong ke depan. Membuat Erick menghentikan tawanya, ketika melihat sorot mata ibu Rahma tersirat kesedihan dan kekhawatiran yang mendalam.


" Rick..... Kalau seandainya umur ibu gak panjang, kamu mau ya..... jagain Biqha buat ibu?! Entah itu sebagai sahabat atau...... Anggap aja dia seperti adik kamu. Sama seperti kamu menganggap Rendra seperti adik kamu sendiri. Tolong bantu ibu jagain Biqha dan Rendra ya.......!"


Mata Erick berlinang, mengingat kata-kata terakhir ibu Rahma padanya. Erick bahkan tidak meyangka, kalau hari itu akan menjadi pertemuan terakhir dirinya dengan ibu Rahma.


' Inikah yang ibu khawatirkan dulu bu? Erick gak salah kan bu, ikut campur urusan mereka? Meskipun ini akan membuat putri ibu terluka dan bersedih?!"


Tiba-tiba airmata Erick terasa ingin mengalir dari matanya. Entah mengapa setiap kali mengingat sosok ibu Rahma, perasaannya selalu terenyuh hingga belinang airmata.Dengan cepat Erick menegakkan posisi duduknya dan menarik nafas panjang agar perasaannya lebih tenang. Sehingga dia mampu mencegah airmatanya jatuh.


" Lebih baik aku pulang saja. Hari ini juga tidak ada pekerjaan yang begitu mendesak. "


Erick memutuskan untuk pulang. Dan mengobati luka lebamnya dirumah. Daripada tetap memaksakan diri bekerja dengan pikiran yang tidak bisa fokus, dan kepala yang sedikit pusing. Entah karena pukulan keras dari Yoga atau karena perasaannya yang campur aduk, memikirkan kedua sahabatnya.


Sementara diluar ruangannya......


Biqha yang menjadi pusat perhatian rekan kerjanya karena matanya yang sembab, semakin mencuri perhatian setelah terlihat berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dengan Fajar. Membuat rekannya semakin penasaran terhadapnya.


" Kalian bicarain apa? Begini....begini.... Mencurigakan......"

__ADS_1


Tanya Desi sembari menggerakkan tangannya, mencoba menirukan gerakan Fajar ataupun Biqha.


" Bukan apa-apa. Aku cuma menanyakan keadaan Biqha. Karna sepertinya dia sedang ada masalah." jelas Fajar.


" Oh....."


Ucap Desi yang disertai anggukan kepala dari dua rekannya yang lain. Kemudian Desi berdiri dan melangkah mendekati Biqha di meja kerjanya.


" Iya Bi.... Kamu kenapa? Pulang dari makan siang tadi, mata kamu kok jadi sembab begitu? Kamu putus sama pacar kamu ya...?"


Serang Desi pada Biqha, dengan rasa penasarannya yang tinggi. Membuat Biqha seketika tersentak dan melebarkan matanya. Biqha memaksakan diri tersenyum dan menggelengkan kepala di depan Desi dan ketiga rekannya yang lain.


" Ghakh.... Hakhu bhahik-bhaik jhah khokh...." (Gak.... Aku baik-baik aja kok....)


" Kalo kamu baik-baik aja, kenapa kamu nangis?"


Tiba-tiba saja Lina juga sudah berada disamping Desi, ikut mengintrogasi Biqha.


" Gak mungkin kan kamu nangis kalo gak ada masalah apapun..... " lanjutnya lagi.


" Atau kamu tadi mergokin pacar kamu selingkuh ya....? Soalnya kamu kan gak pernah pergi makan siang sendirian. Eh.... Tadi tiba-tiba kamu bilang ada urusan sebentar, tau-tau pulang makan siang malah jadi begini? Perasaan sebelumnya kamu baik-baik aja."


Desi kembali berspekulasi sendiri. Dan dugaan-dugaannya membuat Biqha tersentak. Meski itu tidak sepenuhnya benar, tapi dugaan yang Desi ucapkan nyata terjadi.Namun Biqha tidak mungkin mengakuinya. Biqha mencoba mencari alasan yang tepat, untuk menjawab rasa penasaran mereka.


" Ghakh.... Bhukhan bheghithu. Thadhi hakhu khelhuhar mhenhemhuhi hadhikhu. Chumha shepherthinyhah hakhu shalhah mhakhan. Jhadhi pherhutkhu shakhit shrkhalhi." (Gak.... Bukan begitu. Tadi aku keluar menemui adikku. Cuma sepertinya aku salah makan. Jadi perutku sakit sekali.)


Akhirnya Biqha menjadikan keadaannya yang sedang mengalami sedikit kram perut karena menstruasi, sebagai alasan yang dia rasa cukup tepat. Biqha memegangi perutnya dan mulai mencoba berakting sakit perut. Untuk menutupi keadaan yang sesungguhnya, tentang kondisi hatinya yang sedang hancur.


" Masa sakit perut sampe nangis begitu?" ucap Lina yang masih tidak puas dengan jawaban Biqha.


" Shebhenhernyhah hakhu shedhang mhenstruhashi shat hinhi. Jhadhi shejhak phaghi pherhutkhu shudhah therhasha kherham dhan ghak nyhamhan. Dhithambhah lhaghi mhagkhkhu jhugha shedhang khumhat. Rhashanyhah pherhutkhu shakhit shekhalhi. Shemhakhin lhamha rhashanyha shemhakhin mhenhushuk."


" Kalau begitu lebih baik kamu pulang aja Bi.... Kamu bisa ijin ke Bu Diana atau pak Erick untuk pulang lebih cepat dan beristirahat dirumah."


Fajar pun akhirnya ikut mendekat setelah mendengar dan melihat keadaan Biqha, yang dia rasa cukup memprihatinkan.


" Iya Bi.... Lebih baik kamu pulang aja. Jangan dipaksain untuk bekerja. Nanti kamu malah tambah sakit."


Doni yang ada di sebelahnya pun ikut bangkit dan mendekat. Akting Biqha sukses membuat semua rekan satu divisinya mengkhawatirkan keadaannya.


Tiba-tiba pintu ruangan manager terbuka. Erick pun menyaksikan kelima rekanan itu berkumpul dimeja kerja Biqha. Erick memperhatikan keadaan Biqha dengan mata sembabnya dan keempat rekan Biqha. Erick mengerti, keempat rekannya itu pasti mempertanyakan kondisi Biqha yang seperti itu.


" Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di depan meja kerja Biqha?"


" Begini pak.... Biqha sepertinya sedang tidak sehat. Dia bilang perutnya sangat sakit. Jadi kami menyarankan, agar dia minta ijin ke bapak untuk pulang lebih cepat. Agar dia bisa segera memeriksakan keadaanya kerumah sakit atau beristirahat dirumah."


Fajar berinisiatif maju untuk menjelaskan keadaan Biqha pada sang manager. Erick dan Biqha saling pandang, seolah sedang berkomunikasi melalui telepati. Erick tau Biqha berbohong pada rekan-rekannya, untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya.


" Astaga.... Pak Erick. Muka bapak kenapa pak?"


Tanya Lina yang menyadari luka lebam dipipi Erick, sontak membuat perhatian yang lainnya beralih pada sang manager. Lina dan Desi mendekat ke sisi Erick, memperhatikan luka lebamnya dari dekat. Erick menjadi sedikit salah tingkah.


" Ada kecelakaan sedikit saat di restoran tadi, saya bertabrakan dengan seseorang. Dan kepalanya membentur keras ke wajah saya."


" Benturannya keras banget ya.... Bisa sampe kayak ditonjok begitu."


Ucapan Desi sontak membuat Erick dan Biqha saling lirik.


" Biqha kamu bisa ikut dengan saya. Sekalian saya juga ingin pulang. "


Erick langsung mengalihkan perhatian pada Biqha, agar karyawannya tidak lagi membahas luka lebamnya.

__ADS_1


" Kalian tolong nanti sampekan pada bu Diana, kalo saya dan Biqha ijin pulang lebih awal hari ini. " sambungnya pada yang lain lalu kembali beralih pada Biqha.


" Ayo....! Saya antarkan kamu kerumah sakit."


Ucapnya pada Biqha, padahal dia tau jelas kalau Biqha hanya membuat alasan. Biqha pun melambai-lambaikan kedua tangannya.


" Thidhak hushah phakh. Shayha phulhang shendhirhi hadjha." (Tidak usah pak. Saya pulang sendiri aja.)


" Mau naik ojol dengan keadaanmu yang seperti itu? Sudahlah..... Jangan berkeras lagi Bi, Ayo.....!"


" Iya Bi.... Akan lebih baik kalau kamu ikut pak Erick." ucap Fajar.


Biqha tidak bisa mengelak. Biqha pun mengikuti Erick dari belakang. Begitu memasuki mobil, Erick mulai membuka penmbicaraan dengan menyindir Biqha.


" Gak nyangka sekarang lo pinter bohong Bi.... Belajar dari mana?"


Biqha menatap sinis pada Erick, namun setelah itu menunduk kesal. Sementara Erick melajukan mobilnya sembari tersenyum lucu melihat reaksi Biqha.


" Hakhu ghakh shephenhuhnyhah bhohong khok. Hakhu ehmhang lhaghi kherham pherhut kharnha mhenstrhuhasi." (Aku gak sepenuhnya bohong kok. Aku emang lagi keram perut karna menstruasi).


" Iya...iya.... Gak perlu sewot kali. Becanda doang."


Suasana kembali hening diantara mereka. Tiba-tiba Biqha meminta Erick menghentikan mobilnya di depan sebuah apotek yang tak jauh dari kantor mereka.


" Mau ngapain kesini?"


" Hemhang ohrhang khalho khe haphothik mhahu happhain?" ( Emang orang kalo ke apotik mau ngapain?)


Erick langsung menarik kedua sudut bibirnya dengan kesal, karena jawaban sinis dari Biqha.


Beberapa menit kemudian Biqha keluar dari Apotik tersebut. Namun Biqha tidak langsung kembali ke dalam mobil, melainkan berjalan mendekati pedagang es cincau di depan.


" Katanya lagi keram perut... Kenapa malah beli es sih....? Perut lo bisa makin sakit nanti kalau minum es. Harusnya kalo lo lagi begini tuh minumnya air hangat. Sini'in es nya buat gue aja !"


Begitu masuk mobil, Erick langsung mencecar Biqha.


" Awww.....aw...."


Erick menjerit kesakitan, saat dengan cepat Biqha menempelkan batu es yang dia beli ke pipinya yang lebam. Ternyata Biqha membeli batu es untuk mengompres pipi Erick yang membengkak akibat ulah Yoga.


Erick terpaku mendapatkan perhatian kecil dari Biqha. Meski caranya sedikit kasar tapi Erick tetap terenyuh dibuatnya. Tidak menyangka Biqha akan perduli juga padanya.


" Mhahaf yhah..... Gharha-gharha hakhu, khamhu jhadhi bheghinhi." ( Maaf ya.... Gara-gara aku, kamu jadi begini.)


Mata Biqha kembali memerah saat mengatakan kalimat itu pada Erick. Sedangkan Erick semakin terdiam dan menatap wajah lembut Biqha dengan lekat. Dia tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari Biqha. Kemudian Erick tersenyum tipis.


" Ini bukan kesalahan lo. Jadi lo gak perlu minta maaf ke gue. Lagian ini bukan pertama kalinya gue berantem sama dia. Lo tenang aja.... Ntar kita juga baikan lagi kayak biasa. Dulu waktu di London, kita malah pernah adu jotos sampe babak belur gara-gara....."


Erick tidak melanjutkan kalimatnya, karena takut akan membuat hati Biqha kembali galau dan terluka. Bila mengetahui kejadian dulu, kala Yoga kehilangan dirinya.


" Lupakan.... " sambungnya.


Setelah beberapa menit mengompres pipi Erick, Biqha mulai mengoleskan obat pada luka lebam diwajah Erick.


" Thank's Bi.... "


* Maaf atas keterlambatan up nya lagi. Harusnya bab ini selesai dan author up dua hari lalu. Tapi karena ada insiden yang buat panik banget, jadinya penulisan bab ini menggantung selama tiga hari.


Mohon doanya ya readers..... Semoga pergelangan tangan ibu saya yang patah bisa segera pulih seperti sebelumnya..... Ammiiinnnn ya Allah.


Makasih banget atas dukungan readers semua ya.... 💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2