
" Mbak..... Ini Rendra mbak. Lihatlah...... Ini Rendra. Rendra adiknya mbak. Rendra disini mbak..... "
" Rhendrha......"
Biqha langsung berhambur memeluk Rendra, dan menangis sejadi- jadinya dalam dekapan sang adik. Dekapan pengganti dekapan sang ayah dan ibu. Satu-satunya sandaran yang dia miliki.
" Rendra disini mbak..... Rendra disini....... "
Tangis Rendra pun pecah, hatinya hancur melihat kondisi sang kakak yang begitu rapuh dan terguncang. Seumur hidup Rendra tidak pernah melihat sang kakak menangis tersedu-sedu hingga seperti ini. Bahkan saat sang ibu meninggal dunia, kakaknya jauh lebih tegar darinya. Tapi kini kakaknya begitu rapuh, mendekap erat dirinya sembari menangis pilu.
Airmata Erick pun jatuh tak terbendung menyaksikan tangis yang begitu memilukan dari kakak beradik itu. Meski dia berusaha sekuat tenaga menahan hingga mengepalkan kedua tangannya, namun air itu tetap jatuh dari pelupuk matanya. Tak sanggup menyaksikan hal itu lebih lama lagi, Erick berbalik arah lalu melangkah keluar.
Di depan kamar rawat Biqha, Erick terduduk lemah, menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menangis seorang diri. Dia merasa kesal pada dirinya sendiri. Karna tak berdaya dan tidak tau harus berbuat apa, untuk bisa menghapus rasa sakit Biqha dan juga Rendra. Jangankan menghilangkannya,
menguranginya pun Erick tidak bisa.
' Ya Allah...... Kuatkan mereka. Mereka butuh kekuatan dariMu...... Jangan biarkan mereka menjadi rapuh dan kehilangan harapan. '
Kemudian dengan cepat Erick menyeka airmatanya, saat ia mengingat tangan Biqha yang mengeluarkan darah. Erick bergegas memanggil perawat jaga.
Erick memasuki kamar rawat Biqha bersama seorang perawat. Dilihatnya kakak beradik itu masih saling berpelukan dan berbagi tangis mereka.
" Sebentar...... kita benerin dulu selang infusnya ya.... "
ucapan perawat tersebut membuat mereka tersadar dan segera melepas dekapan mereka dan menghapus airmata masing-masing.
" Duh.... Kenapa darahnya bisa keluar sampe sebanyak ini? Tahan sebentar ya ! "
Suster pun mulai membersihkan tangan dan juga memperbaiki selang infus ditangan Biqha.
" Jangan terlalu banyak gerak dulu ya mbak... Nanti darahnya keluar lagi. "
Setelah mengucapkan pesan tersebut, perawat itu pun bergegas pergi.
" Terima kasih sus...." ucap Erick.
Setelah kepergian perawat, suasana ruangan menjadi hening. Biqha yang sudah sadar sepenuhnya, mulai berusaha mengendalikan perasaannya. Kemudian dia bergerak turun dari ranjangnya.
" Mbak mau kemana ? "
Tanya Rendra cemas, sembari mendekat dan berusaha memapah sang kakak.
" Khe khamhar khechil. Mbhak mhahu mhandhi. "
" Kalo gitu.... Gue panggilin susternya lagi, biar bisa bantu lo mandi. "
Erick hendak bergegas keluar namun Biqha menghentikannya.
" Ghak pherlhu. Hakhu bhisha shendhirhi. "
" Tapi lo lagi sakit Bi. Lo juga masih lemes kan..... Ini juga masih jam 4 pagi. Gimana kalo tiba-tiba nanti lo kedinginan di dalam? Biar dibantu suster aja ya....."
" Ghak hushah. Hakhu udhah ghak phapha khok. Hakhu bhisha shendhiri...."
" Bi please..... Jangan keras kepala ! Saat ini lo butuh seseorang untuk bantuin lo. "
" Iya mbak, biar dibantu suster aja ya..... nanti kalo mbak banyak gerak, darahnya keluar lagi. "
Biqha bukan tidak mau menerima bantuan perawat, tapi dia tidak mungkin membiarkan orang lain melihat tubuhnya. Apalagi Biqha yakin ada banyak noda jejak peninggalan dari Yoga di tubuhnya. Itu sangat memalukan dan menjijikan.
Biqha menggelengkan kepalanya. Kemudian melangkah tertatih sembari memegang tiang penyanggah botol infusnya. Rendra pun terpaksa mengikuti dengan memapahnya perlahan sampai ke toilet. Setelah itu dia mengambilkan handuk dan pakaian ganti yang dia bawa tadi untuk sang kakak.
Di dalam toilet, Biqha mulai melepas hijabnya sembari melihat ke arah cermin. Hanya dengan membuka hijabnya saja, sudah terlihat olehnya ada banyak noda disana. Biqha kembali menangis. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Biqha langsung meraih shower, lalu menyemprotkan air ke kepalanya dan sekujur tubuhnya sambil mengosok-gosok lehernya dengan terus menangis. Berharap noda itu bisa hilang. Tapi noda itu tak kunjung menghilang.
Di raihnya sabun dan di gosokkan kembali dengan kuat ke leher dan bagian tubuhnya yang lain. Biqha terus menggosok sekujur tubuhnya dengan kasar, berharap tubuhnya bisa bersih dari noda-noda itu. Tapi yang ada justru badannya yang terasa perih, sementara noda itu tetap ada, tidak berkurang sedikit pun.
Biqha terduduk lemah di atas lantai toilet yang dingin. Menangis meraung meratapi nasib buruknya. Hidupnya sudah hancur. Dia sudah kehilangan segalanya. Sebagai seorang wanita, Biqha merasa dirinya sudah tidak berharga lagi. Merasa menjadi wanita hina, karna tidak bisa mempertahankan kesuciannya.
Sementara di luar toilet. Rendra pun ikut menangis terisak mendengar suara tangis sang kakak. Dan lagi-lagi mata Erick memerah, tak kuasa menyaksikan adegan memilukan antara kakak beradik itu.
Tiba-tiba Rendra mendekati Erick dengan emosi, mendesak Erick memberitaukan keberadaan Yoga.
" Dimana dia? Kasih tau Rendra dimana orang itu kak. Dimana Rendra bisa menemukan manusia bejat itu? "
Rendra tidak bisa mengontrol emosinya, dia mencengkram dan mengguncang lengan atas Erick.
" Tenanglah Ren..... Kita akan bicarakan ini nanti dan mencari solusinya bersama. Tentunya dengan kepala dingin. Jadi kendalikan dirimu ! "
" Gak.... Jangan pernah kakak berpikir untuk mendamaikanku dengan orang itu. AKU GAK AKAN PERNAH MEMAAFKANNYA. BERITAU AKU DIMANA DIA KAK ! "
Emosi Rendra benar-benar tidak terkontrol lagi. Dia bahkan sampai menunjuk-nunjuk Erick dengan penuh amarah dan berteriak padanya.
" Tenanglah dan kecilkan suaramu ! Ini rumah sakit bukan pasar. "
Erick bicara dengan merapatkan giginya dan suara yang tertahan, berusaha mengendalikan emosinya yang mulai terpancing
" AKU GAK AKAN TENANG SEBELUM AKU BISA MEMBALAS SEMUA KESAKITAN KAKAKKU. "
" Lalu kau mau apa? Heh.....? Kau tidak liat ini jam berapa? Apa kau ingin mendatanginya, mendobrak rumahnya, lalu melampiaskan semua kemarahanmu padanya, begitu? "
" IYA..... AKU AKAN MENGHUKUMNYA DENGAN TANGANKU SENDIRI. DIA UDAH MENGHANCURKAN HIDUP KAKAKKU. DIA MENYAKITI KAKAKKU TANPA AMPUN. Akan ku bunuh dia....."
Rendra menunduk dan kembali menangis tersedu lalu detik berikutnya dia kembali berteriak.
" DIA HARUS MATI DI TANGANKU.....! "
Jelas Erick panjang lebar dengan emosi yang mulai meninggi. Namun Erick berusaha sebaik mungkin untuk membuat Rendra mengerti.
" AKU GAK PERDULI...... KALAU PUN AKU HARUS DIPENJARA, ITU BUKAN MASALAH. Yang terpenting aku bisa membalaskan semua rasa sakit yang kakakku rasakan. "
" Lalu bagaimana dengan kakakmu? SIAPA YANG AKAN MENJAGANYA? SIAPA YANG AKAN MENDAMPINGINYA MELEWATI SEMUA INI? Kau pikir dia akan senang melihatmu di penjara? KAU PIKIR DIA TIDAK AKAN SEMAKIN HANCUR MELIHATMU HANCUR SEPERTI ITU? "
Emosi Erick akhirnya meledak menghadapi amarah Rendra yang tidak terkontrol. Seketika Rendra terdiam, airmata kembali luruh.
" Kau pikir dia tidak akan semakin menderita melihatmu seperti ini? Kamu pasti tau Ren, kalau dia sangat menyayangimu..... Dia pasti akan semakin hancur melihatmu mendekam di penjara karna membelanya. Dan dia pasti akan terus menyalahkan dirinya sendiri karna telah menjadi alasan kehancuranmu. Kau ingin kakakmu berakhir seperti itu? Kau ingin kakakmu semakin menderita karna sikap gegabahmu ini? "
Rendra semakin menundukkan kepalanya dan menangis tersedu mendengar semua ucapan Erick. Tak tahan melihat tangis pria muda dihadapannya itu, Erick pun mendekapnya, menepuk pundaknya dan mengelus kepalanya. Berharap bisa memberinya sedikit kekuatan.
" Cobalah untuk lebih tegar dan menyikapi masalah ini dengan lebih bijak Ren..... Kamu harus bisa menjadi kekuatan untuk kakakmu."
" Tapi sekarang Rendra harus gimana kak? Rendra gak sanggup liat mbak Biqha menderita seperti itu. "
Rendra menangis dalam pelukan Erick. Erick kembali menepuk punggungnya lalu melepas pelukannya dan memegang kedua pundaknya.
" Kakak tau. Ini sangat berat untukmu, tapi kau harus bisa jadi tumpuan baginya Ren. Karna saat ini dia sangat membutuhkanmu. "
" Tapi Rendra gak tau harus gimana kak? Dan orang itu.... Apa kita akan membiarkannya begitu saja? Ini gak adil kak...... Ini gak adil....."
Erick menunduk sejenak. Sejujurnya dia pun tidak tau apa yang harus dia lakukan.
" Kalau Rendra gak bisa menghukumnya dengan tangan Rendra sendiri.... Maka dia harus membusuk di penjara. "
" Biarkan kakakmu yang memutuskannya Ren..... Karna menempuh jalur hukum juga pasti tidak akan mudah. Butuh proses yang panjang. Kakak khawatir dalam prosesnya nanti... justru akan membuat mbak kamu semakin tertekan dan terluka. "
Rendra mengerutkan keningnya menanggapi ucapan Erick.
__ADS_1
" Maksud kakak ? "
" Tidak akan mudah melawan kalangan atas Ren..... orang-orang kalangan atas sangat menjaga kehormatan dan citra baik keluarga mereka. Rumor negatif sedikit saja bisa mengguncang mereka. Jadi sekalipun itu kesalahan mereka sendiri, mereka akan berusaha keras menutupinya. Mungkin mereka tidak akan tinggal diam. "
Rendra terduduk lemah di sofa merenungi ucapan Erick dan meratapi nasib mereka yang malang.
" Jadi dengan kata lain..... orang miskin seperti kami tidak akan bisa mendapatkan keadilan. "
Rendra kembali meneteskan airmata sembari memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Erick pun mendekat dan duduk disampingnya.
" Bukan begitu. Jangan putus asa dulu Ren..... Kakak bicara begitu supaya kalian bersiap diri nantinya. Bila memang ingin menempuh jalur hukum, kalian harus lebih kuat lagi. Tapi sebelumnya biarkan mbakmu yang memutuskan jalan mana yang mau dia tempuh. Kakak janji..... Kakak akan mendampinginya menghadapi segala prosesnya nanti, bila itu yang dia inginkan. Tapi jika tidak.... kita harus menghormati keputusannya. "
Kemudian pintu toilet pun terbuka. Dengan terburu-buru Rendra menyeka kedua pipinya yang basah, karna dia tidak ingin kakaknya melihatnya lemah. Seperti yang dikatakan Erick padanya, sebisa mungkin dia mencoba untuk tegar dan menjadi kekuatan bagi sang kakak.
Kemudian Rendra bangkit dan berjalan cepat menghampiri sang kakak, memapahnya dan membantunya kembali berbaring di ranjang. Suasana kembali hening, karna tak ada satu pun dari mereka yang membuka mulut. Sibuk dengan pikiran masing-masing dan bingung harus berbuat apa di depan Biqha.
Hingga waktu subuh tiba, mereka menjalankan ibadah bersama. Erick mengambil posisi sebagai imam, sementara Biqha tetap melaksanakan nya diatas ranjang dengan posisi duduk. Setelah menyelesaikan kewajiban mereka pada Sang Pencipta, mereka memanjatkan doa di hati mereka masing-masing dengan linangan airmata.
' Ya Allah..... berikan hamba kekuatan untuk mendampingi mereka melewati ujian ini. Sungguh ujian ini sangat berat bagi mereka ya Allah...... Hamba sudah berjanji pada almarhumah ibu untuk menjaga mereka. Bantu hamba menjalankan amanah itu dengan baik dan berikan hamba petunjukMu..... agar hamba bisa membantu Biqha mendapatkan keadilan. '
' Ya Allah...... Kenapa Engkau berikan kami ujian seberat ini? Apa salah mbak Biqha.....? Ya Allah.... Berikan mbak Biqha keadilan.....'
' Ya Allah...... Ampunkanlah dosa-dosa hamba! Ampunkan hamba yang tidak bisa menjaga kesucian hamba..... Hamba tidak berdaya ya Allah...... Hamba tidak berdaya...... Sungguh hati ini.... Sangat sulit menerimanya....... Hamba harus bagaimana......? '
Setelah mencurahkan kegundahan mereka pada Sang Maha Pendengar. Mereka kembali berusaha bersikap baik-baik saja, mencoba tegar demi satu sama lain.
" Khalhihan phulhanglhah...! Hakhu hudhah ghak phapha khok. Khamhu jhugha harhus khulhiah Rhen, shebhenthar lhaghi hujhihan shemhesther khan?! " ( kalian pulanglah....! Aku udah gak papa kok. Kamu juga harus kuliah Ren, sebentar lagi ujian semester kan ?! )
" Satu hari gak masuk kuliah gak akan membuatnya tertinggal Bi...... Rendra itu anak yang cerdas sejak kecil, dia pasti bisa mengejar ketertinggalannya nanti. Biarkan dia istirahat hari ini..... Dia pasti lelah semalaman gak tidur jagain lo. "
Ucap Erick membela Rendra membuat Biqha terdiam. Kalau biasanya Biqha pasti mendebatnya, tapi kali ini Biqha hanya membisu. Melihat hal itu, Erick merasa miris.
" Hijab lo basah Bi...... Lebih baik biarkan rambut lo tergerai dan kering lebih dulu. Jangan khawatir..... Gue bakal keluar sebentar, sekalian cari sarapan. Lo mau makan sesuatu gak? "
Biqha menggelengkan kepalanya lemah. Melihat hal itu Erick menarik nafas dengan berat.
" kalau kamu mau sarapan apa Ren ? "
" Terserah aja kak. "
Lagi-lagi Erick menarik nafas berat mendengar jawaban yang begitu lemah.
" Oke....."
Erick pun bergegas berbalik arah, namun Biqha tiba-tiba buka suara.
" Thungghu...."
Kemudian Biqha beralih pada Rendra.
" Rhen.... Tholhong bhelhikhan mbhak nhashi hudhuk dhi pherhemphathan jhalhan dhekhat rhumhah khitha dhulhu. Mbhak phenghen mhakhan hithu. " ( Ren.... Tolong belikan mbak nasi uduk di perempatan jalan dekat rumah kita dulu. Mbak pengen makan itu. )
Rendra langsung menuruti keinginan sang kakak, karna dia paham kakaknya sengaja menyuruhnya pergi, karna ingin bicara berdua dengan Erick. Dan Erick pun berpikir hal yang sama, karna itu Erick mendekat dan duduk disamping ranjang Biqha.
" Rhik..... "
" Hem....." jawab Erick dengan menundukkan kepalanya.
" Hapha khamhu shudhah mhencherhithakhan shemhuanyha phadha Rhendrha ? " ( apa kamu sudah menceritakan semuanya pada Rendra? )
Erick mengangguk lemah, Biqha pun langsung memejamkan mata menahan tangis. Biqha merasa sangat malu dan menyedihkan. Meski dia sudah menduganya, karna sang adik tidak bertanya sedikitpun tentang keadaannya, apalagi melihat mata sembab sang adik. Namun dia tetap ingin memastikannya pada Erick.
" Sekarang apa rencana lo Bi......? Rendra ingin masalah ini diselesaikan secara hukum. Tapi apapun keputusan lo.... kita pasti dukung lo Bi..... Gue akan ada disisi lo. "
__ADS_1