
Setelah pembahasan rencana pernikahan yang memusingkan kepala itu, Yoga meminta izin untuk pulang lebih dulu dengan alasan akan ada meeting besok pagi. Dan meminta pembahasan itu di lanjutkan lain waktu.
Yoga dan Alina kini berada di dalam mobil bersama. Meski suasana hati sedang tidak enak, namun Yoga tetap harus mengantar Alina pulang sebagai bentuk tanggungjawabnya. Dan kesempatan itu pula yang akan Yoga pergunakan untuk bicara dengan Alina.
" Kamu ke... "
" Aku sama sekali tidak tau apapun tentang rencana itu. Kalau kamu gak percaya, terserah... "
Alina dengan cepat memotong ucapan Yoga, seolah tau apa yang ingin Yoga katakan. Alina berubah bersikap dingin pada Yoga. Sedari tadi Alina hanya diam dan memalingkan wajahnya memandang kaca mobil, sambil menyandarkan tubuh dan kepalanya pada jok mobil.
" Alin... kita harus bicara? "
" Aku lelah.... "
Dengan suara lemah Alina menjawab singkat, tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca mobil sebelah kirinya.
" Tapi kita harus membicarakan masalah ini sebelum semua semakin rumit. "
Yoga ingin segera menyelesaikan semua, sebelum kedua orang tua mereka menentukan tanggal pernikahan mereka.
Alina yang mendengar nada bicara Yoga mulai meninggi dari sebelumnya, menjadi terpancing. Dia memutar kepalanya ke kanan, namun masih dengan tatapan kosong dan berkata dengan tegas.
" Aku selalu bersabar menunggu kamu memberi sedikit waktu untukku. Tidak bisakah kali ini kamu juga bersikap hal yang sama padaku? Aku benar-benar lelah. "
Suara Alina terdengar bergetar di akhir kalimatnya. Karena itu dia menjeda ucapannya, sekedar ingin mengambil nafas untuk meredakan rasa sesak di dadanya.
" Aku baru saja tiba pukul tiga dini hari semalam. Pagi harinya aku sudah harus menyiapkan semua hingga saat ini. Aku bener-bener butuh istirahat sekarang."
Tanpa bisa di bendung setetes air mata jatuh dari ujung matanya. Dengan cepat Alina mengusapnya dan kembali berpaling menatap kaca mobil disampingnya. Lagi-lagi airmata mengalir dari kedua matanya. Dengan cepat ia kembali mengusapnya, kemudian memejamkan mata. Berusaha mengistirahatkan pikiran dan hatinya yang sedang kelelahan.
Yoga yang melihat hal itu hanya bisa terdiam. Dia juga tersentak dengan kalimat-kalimat yang Alina ucapkan. Sejauh hubungan mereka, Yoga tidak pernah mendengar Alina berkata ketus padanya. Ini kali pertama Yoga mendapati sikap acuh dari Alina. Bahkan sedari tadi, Alina seakan tidak sudi memandangnya.
Mendengar penjelasan Alina tentang keadaannya, membuat Yoga tiba-tiba merasa bersalah. Yoga merasa telah menjadi orang yang jahat, karena selama ini telah mengabaikan perasaan Alina. Tapi bagaimana pun dia memang harus bersikap kejam pada Alina. Karena jika diteruskan, mereka berdua tidak akan bahagia.
Karena di hatinya sudah tidak ada lagi tempat untuk Alina. Hatinya hanya untuk Nabiqha seorang. Yoga tidak mau terus menjadi orang jahat dengan menyakiti hati keduanya. Karena itu, Yoga ingin cepat menyelesaikan masalah ini. Tapi bibirnya seakan membeku, tak mampu berkata-kata lagi melihat kerapuhan Alina saat ini.
Yoga benar-benar merasa kesal pada dirinya sendiri. Berkali-kali dia meremas stir mobil hingga buku-buku jarinya memutih.
Akhirnya sepanjang perjalanan mereka hanya ada kebisuan. Hingga sampai di depan kediaman keluarga Alina, dia meminta Yoga menghentikan mobilnya.
" Disini saja. Kamu juga buru-buru ingin secepatnya pulang dan beristirahat kan?! "
Yoga hanya bisa mematuhi keinginan Alina. Dan begitu mobil berhenti, Alina langsung membuka safety beltnya lalu membuka pintu mobil. Namun saat ingin keluar dari mobil, Alina berhenti sejenak seakan sedang memikirkan sesuatu. Kemudian dia berbalik lalu mengeluarkan sebuah kotak persegi dari dalam tasnya, dan menyerahkannya pada Yoga tanpa mau melihat wajahnya.
" Hadiah untukmu. Kalau kau tidak suka, buang saja."
Yoga mengambil hadiah tersebut dari tangan Alina dalam diam. Dia tidak menyangka akan mendengar kalimat pedas lagi dari Alina.
" Tentang pembahasan tadi. aku akan mencoba bicara dengan orang tuaku, agar tidak memaksamu menikahiku. Jika itu yang kau khawatirkan, itu tidak perlu. Karena aku juga tidak mau dinikahi karena terpaksa."
Alina mengucapkan kalimat-kalimat tegas itu dengan mata memerah dan kembali berlinang. Kemudian segera turun dan berlalu begitu saja tanpa pernah sekalipun memandang lagi ke belakang, hingga masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Yoga hanya bisa melihatnya hingga tak terlihat lagi. Tidak ada lagi pelukan mesra dan kecupan manis apalagi ciuman lembut dibibirnya dari Alina, saat mereka terpisah setelah mengantar Alina pulang.
Sikap dingin Alina membuat Yoga semakin kesal pada dirinya sendiri. Karena merasa telah menjadi orang yang sangat jahat. Karena telah menyakiti hatinya. Yoga melampiaskan kekesalannya dengan memukul-mukul stir mobilnya. Lalu meramasnya, bahkan setelah itu dia meremas dan menarik rambutnya sendiri sambil berteriak.
" Eghrrr..... AHGGGGHHHH......."
***
Sampai di rumah, Yoga juga mendapati orang tuanya baru saja pulang. Dengan cepat Yoga pun menghampiri orang tuanya. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah bersama-sama. Sampai di dalam rumah, Yoga tidak mau menunda waktu lagi. Dia ingin secepatnya membicarakan masalah ini dengan kedua orang tuanya.
" Pa... Ma. Yoga mau bicara."
Ucapnya menghentikan langkah kedua orang tuanya, yang ingin menaiki tangga ke lantai atas.
" Bicara apa? Besok saja. Sudah malam, Istirahatlah." Jawab sang papa.
" Tapi pa.... Masalah ini penting buat Yoga."
Perkataan Yoga membuat langkah sang papa kembali terhenti. Mama Hani yang sedari tadi masih terdiam di bawah tangga, memandang Yoga dengan perasaan sedikit cemas. Mendengar suara anaknya meninggi saat sedang bicara pada papanya.
" Memangnya ada masalah apa?"
Papa kembali menuruni anak tangga dan mendekat pada Yoga.
" Kenapa papa dan mama menentukan pernikahan Yoga, tanpa mendiskusikannya dulu dengan Yoga? "
Tanya Yoga langsung ke pokok permasalahannya, membuat mama dan papa mengerutkan dahinya.
" Memangnya kenapa? Kalian sudah bertunangan setahun lebih. Sudah sewajarnya sebagai orang tua dari pihak wanita, mereka mempertanyakan kejelasan kelanjutan hubungan kalian. Dan papa sebagai orang tua pihak pria, bertanggungjawab untuk menegaskan hal itu.Melihat tidak adanya pergerakkan darimu untuk segera meresmikan hubungan kalian. Bahkan kamu terkesan selalu mengulur-ngulur waktu untuk membahas masalah ini. "
" Bukankah kamu sendiri yang berucap pada orang tuanya, saat dulu meminta untuk dipertunangkan dengan Alin. Bahwa kamu akan menyelenggarakan pernikahan kalian di tahun depan, yang berarti itu adalah tahun ini. Lalu kenapa sekarang kamu menghindar? "
Perkataan sang papa telak membuat Yoga tidak bisa berkata-kata. Kemudian dengan lembut, mama Hani memegang lengan putranya dan menuntunnya untuk duduk di sofa.
" Sayang, jujur sama mama! Sebenernya ada apa? Alin sudah sering kali mengeluhkan perubahan sikap kamu sama mama. Dan mama selalu berusaha membuatnya mengerti dengan keadaan dan kesibukan kamu. Tapi semakin kesini mama merasa ini bukan hanya karena kesibukan kamu."
Tanya mama Hani dengan lembut, berusaha mendinginkan situasi yang sedikit memanas.
" Jujur ma..... Belakangan Yoga merasa udah gak nyaman sama Alin. "
Ucapan Yoga sontak membuat papa Adi berkacak pinggang, sementara sang mama semakin mengerutkan dahinya.
" Semakin kesini, Yoga semakin merasa gak nyaman. Karena itu Yoga jadi ragu untuk melanjutkan hubungan ini."
Papa Adi tertawa sinis mendengar ucapan putranya. Kemudian melangkah maju dan duduk di hadapan Yoga dengan tatapan tajam.
" Kamu bicara seperti bocah yang sudah bosan dengan mainannya, lalu dengan gampang bilang mau buang dan minta mainan baru. Apa sikap seperti itu pantas dilakukan oleh pria berusia 26 tahun? Kamu itu sudah dewasa Prayoga hermawan. Jadi berpikir dan bersikap bijaklah selayaknya pria dewasa. Jangan plin-plan seperti remaja labil. Kamu pikir masalah ini main-main, hah?!"
Papa Adi mulai tidak bisa menahan emosinya dengan sikap Yoga yang dinilai plin-plan itu.
" Tenang dulu pa.... Kita bicarakan ini baik-baik. " Ucap mama Hani berusaha menenangkan suaminya.
__ADS_1
" Papa sudah peringatkan dari awal sama kamu kan.... Saat kamu minta bertunangan dengan Alin. Pikirkan dulu berulang kali, jangan buru-buru mengambil keputusan. Pertunangan itu merupakan kejelasan status hubungan kalian menuju pernikahan. Tapi kamu dengan lugas mengatakan, kalau kamu yakin Alin adalah pilihan yang tepat buat kamu, dan kamu sangat mencintainya. Sekarang dengan gampangnya kamu mau menjilat ludahmu sendiri." Sambung papa Adi.
Yoga merenung mendengar semua ucapan papanya. Menyesali keputusannya dimasa lalu yang terburu-buru. Hanya karena cemburu dan perasaan takut kehilangan lagi, membuatnya jadi bersikap posesif pada Alina.
Apalagi dengan profesi Alina sebagai seorang model, yang sering kali harus berpose mesra dengan banyak rekan model pria. Membuat Yoga mengambil keputusan gegabah dengan mengikat Alina dalam ikatan pertunangan, sebelum genap setahun mereka saling mengenal.
" Tapi bukankah papa dan om Haris juga pernah bilang, kalau kalian tidak akan memaksakan kami untuk saling terikat jika kami merasa tidak nyaman satu sama lain. "
Bantahan Yoga pada sang papa untuk membela diri.
" Itu sebelum kamu memutuskan untuk bertunangan dengan Alin. Papa dan papinya Alin memang sengaja mempertemukan kalian dan menyarankan kalian untuk saling mengenal. Dan kami juga menekankan satu sama lain untuk tidak akan memaksakan kalian saling terikat. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya seperti ini. "
Papa Adi semakin berang mendengar pernyataan Yoga. Sementara mama Hani yang melihat kilatan amarah di mata papa Adi seperti sudah tak tertahankan lagi, berpindah ke sisi papa Adi. Menyentuh pundak dan mengusap lembut lengan suaminya itu, demi meredakan amarahnya.
" Sabar pa.... Jangan emosi begitu. Mungkin Yoga hanya merasa sedikit jenuh, karena mereka sedang memiliki sedikit masalah."
Papa Adi menarik nafas panjang, berusaha menetralisir emosinya yang mulai meninggi. Sedangkan Yoga merasa semakin kalut. Pikirannya kacau, hingga berkali-kali Yoga mengacak-ngacak rambutnya. Terkadang juga memijit pangkal hidung dan keningnya.
" Yoga, sekarang jelaskan sama mama! apa yang membuat kamu merasa gak nyaman lagi sama Alin? Bukankah selama ini Alin sudah menuruti semua yang kamu mau? Sejauh ini, mama lihat Alin tidak pernah melakukan hal yang mengecewakan. Sebenarnya kalian ada masalah apa? Gak mungkin kan tiba-tiba kamu merasa gak nyaman lagi sama dia gitu aja."
Yoga tidak mampu menjawab pertanyaan sang mama, yang berujung membuatnya semakin frustasi. Yoga mengusap wajahnya kasar, kemudian menundukkan kepalanya dengan kedua tangan sebagai penyanggah.
" Masalahnya sudah jelas. Itu karena dia yang kekanakan, dan tidak bisa menjaga komitmen yang dia buat sendiri."
Sanggahan sang papa membuat Yoga dengan cepat mendongakkan kepalanya, memandang tajam pada sang papa. Lalu sedetik kemudian memalingkan wajahnya kesal. Karena merasa tersinggung dengan ucapan papanya.
" Atau ini karena karyawan baru bernama Nabiqha Azzahra itu?"
Dugaan papa Adi spontan membulatkan mata Yoga, dan seketika membuatnya memutar kepalanya kembali menatap sang papa. Dan papanya juga menantangnya dengan tatapan tajam.
" Karyawan baru? Apa hubungannya karyawan baru itu dengan masalah ini?
Pertanyaan sang mama menyadarkan Yoga dari keterkejutannya akan pernyataan sang papa. Membuat Yoga secepatnya berpikir untuk berdalih, agar Biqha tidak dipersalahkan dalam hal ini.
" Ap...apa maksud papa?
Yoga tidak bisa menutupi kegugupannya, meski dia berpura-pura tidak mengerti dengan pernyataan sang papa.
" Jangan kamu pikir papa tidak tau apa yang terjadi di kantor. Meski papa sudah menyerahkan kepemimpinan perusahaan di tangan kamu. Bukan berarti papa melepasnya begitu saja tanpa memantau jalannya perusahaan. Kejadian sekecil apapun, bahkan rumor yang terjadi karena tindakan kamu yang seenaknya itu pun papa tau."
Deg.... Jantung Yoga tersentak dengan pernyataan papa Adi. Sangking gugupnya, Yoga merasa tenggorokanya kering karena sulit menelan salivanya sendiri.
" Ini tidak ada hubungannya dengan siapa pun pa. Lagi pula kenapa papa menyangkut pautkan masalah itu, dengan masalah ini? Yoga merekomendasikan dia, karena Yoga tau kemampuannya dan dia adalah pilihan terbaik. Papa juga pasti sudah melihat CVnya kan?"
Yoga berusaha berdalih, karena berpikir ini bukan saat yang tepat mengakui hubungannya dengan Biqha. Melihat amarah dimata sang papa yang masih menyala.
" Benarkah? Darimana kamu tau dengan pasti akan kemampuannya, kalau kamu tidak mengenalnya dengan baik?"
Papa bertanya dengan masih menatap tajam penuh selidik pada Yoga.
" Yoga tau kemampuannya dengan baik, karena dia adalah teman SMA Yoga pa. Dia teman sekelas Yoga yang memenangkan olimpiade matematika dan fisika dua tahun berturut bersama Erick. Dia dan Erick yang dulu suka membantu Yoga belajar. Karena itu Yoga tau dia punya kemampuan diatas rata-rata seperti Erick. Dan kebetulan dia sedang mencari pekerjaan, karena itu Yoga menawarkan padanya untuk bekerja di perusahaan kita. "
__ADS_1
" Papa harap apa yang kamu katakan itu benar Yoga. Kalau sampai papa tau perubahan sikap kamu ini, ada kaitannya dengan dia.... Papa tidak akan tinggal diam. Ingat itu! Jangan sampai kamu mengikuti jejak sahabatmu itu. Jangan kamu pikir karna kamu anak kami satu-satunya, kamu bisa bersikap seenaknya. Papa juga akan bertindak tegas sama kamu, jika itu menyangkut nama baik keluarga dan juga perusahaan yang keluarga kita dirikan."
Papa bangkit dari duduknya kemudian pergi meninggalkan Yoga dan mama Hani disana. Yoga kembali menunduk sambil mencengkram kedua sisi dahinya. Karena kesal dan merasa tak berdaya.