Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 49. Kehilangan akal.


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat. Namun hari ke hari terasa sangat berat dan melelahkan bagi Yoga. Tanpa Biqha, tanpa bisa melihat senyum manisnya, hari-hari Yoga terasa hampa. Ditambah dengan kesibukan persiapan-persiapan pernikahan yang harus dia jalani bersama Alina, membuatnya semakin stres dan benar-benar frustasi.


Segala upaya sudah Yoga coba lakukan untuk menghindar. Bahkan dia juga sudah berulang kali mencoba bicara dengan kedua orangtunya, untuk membatalkan pernikahannya dengan Alina. Namun yang dia dapatkan hanyalah kebuntuan.


Sementara Biqha, wanita yang dia cintai juga tidak memberikan sedikit pun kesempatan lagi padanya. Meski hanya sekedar bicara via telephon pun, Biqha tak lagi menghiraukannya.


" ku mohon Bi... Angkat telphonnya ! Kita harus bicara. "


Malam ini Yoga kembali mencoba menghubungi Biqha dengan nomor baru, yang sengaja dia siapkan untuk menghubungi Biqha. Entah sudah keberapa kalinya Yoga mencobanya. Setelah percobaan panggilan video pertama sempat berhasil. Namun begitu Biqha melihat wajahnya, Biqha langsung mematikan sambungan VC mereka.


Biqha tidak memberinya kesempatan bicara sedikitpun. Chat yang Yoga kirimkan pun diabaikan. Bahkan Biqha kembali memblokir nomor baru Yoga. Setelah itu hampir setiap malam Yoga kembali mencoba, namun tidak pernah berhasil.


Yoga juga berkali-kali mencoba mengunjungi Biqha ke kontrakkannya. Tapi Biqha tidak mau menemuinya. Bahkan Yoga sempat meminta bantuan tetangga Biqha, namun begitu pintu terbuka dan mereka bertemu. Biqha langsung beralasan sakit kepala dan mengusirnya secara halus di depan tetangganya. Membuat Yoga tidak berdaya dan terpaksa pergi.


TPRPRRRAAAAKKKK....


Yoga membanting ponselnya ke lantai, hingga berserakan. Setelah mencoba berkali-kali melakukan panggilan video pada Biqha, namun selalu diabaikan. Kemudian dia terduduk lemas di atas kasurnya. Kedua tangannya memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.


" Aku harus bagaimana lagi Bi.....? Bagaimana caranya agar aku bisa meyakinkanmu lagi? Dan bagaimana aku bisa meyakinkanmu, kalau bicara denganmu saja aku tidak bisa? "


Tiba-tiba Yoga mengangkat kepalanya.


" Tidak ada cara lain lagi. Aku akan langsung menemuinya di kantor besok. Dia tidak akan bisa menolakku di kantor. Aku tidak perduli dengan tanggapan orang-orang di kantor nanti. Yang pasti aku harus bicara dengan Biqha. Aku harus bisa meyakinkannya. "


***


Pukul sembilan tepat, Yoga melangkah keluar dari ruangannya menuju lantai sepuluh, tempat dimana Biqha bekerja. Yoga tidak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk bertemu dan bicara dengan Biqha. Karena waktunya kini semakin mendesak, hari pernikahan yang sudah ditentukan orangtuanya sudah semakin dekat. Bahkan persiapan pernikahan sudah hampir lima puluh persen berjalan.


Yoga tidak ingin pernikahan itu terjadi. Tekadnya bulat, apapun yang terjadi dia hanya akan menikah dengan Biqha. Sampai di lantai sepuluh Yoga mulai memperlambat langkahnya dan sedikit merapikan penampilannya, sebelum memasuki ruangan.


Yoga memasuki kantor divisi finance and accounting itu dengan gagah. Tatapan kaget dan takjub dari para karyawan dan karyawati menghujaninya. Namun Yoga terus melangkah dengan percaya diri dan mengacuhkan tatapan mereka. Saat sebagian tubuh bagian belakang Biqha mulai terlihat, Yoga memperlambat langkahnya.


Senyum tipis terukir dibibirnya. Seperti air yang mengalir menyejukkan dahaganya, kerinduannya akan sang kekasih hati pun terobati. Perlahan namun pasti Yoga semakin mendekat pada Biqha. Matanya tak teralihkan dari punggung Biqha. Yoga menghentikan langkahnya begitu sampai disamping Biqha. Namun Biqha belum menyadari keberadaannya.


Yoga benar-benar tidak memperdulikan pandangan para karyawan yang ada disana. Dia terus memandangi Biqha, hingga beberapa detik dalam diam. Hingga Biqha menyadari gerak-gerik rekannya yang menatap keheranan ke arahnya.


" Pak Yoga ngapain ya kesini? "


" Aneh..... Kenapa pak Yoga mandang Biqha sampe segitunya ya? "


Biqha terbelalak melihat gerak bibir Desi dan Lina yang saling berbisik.


' Yoga....... Dia disini. '


Biqha memalingkan wajahnya kesamping untuk memastikan. Matanya melotot mendapati Yoga berdiri sekitar dua meter dari meja kerjanya dengan tersenyum. Senyumnya kian mengembang kala tatapan mereka bertemu. Biqha spontan memalingkan wajahnya. Dia panik dan sangat gugup.


Namun dengan canggung akhirnya Biqha membalas senyum Yoga, agar tidak menimbulkan pertanyaan bagi karyawan yang lain. Biqha segera meraih ponselnya, mencoba menulis pesan pada Erick. Biqha semakin panik saat Yoga bergerak mendekatinya. Dan dengan cepat Biqha mengirim pesan pada Erick.


// Rick. Yoga ada di sini. Cepatlah keluar ! //


Yoga kini berada persis di sampingnya. Dengan sedikit canggung dan gugup, Biqha berdiri dari duduknya.


" Hadha... Yhang... Bhisha shayha bhanthu phak? " ( Ada... Yang... Bisa saya bantu pak? )


Yoga melebarkan kembali senyumnya. Yoga merasa sangat bahagia bisa mendengar suara Biqha lagi. Dan merasakan sambutan hangat darinya. Hatinya merasa benar-benar lega dan sejuk karnanya.


" Bagaimana kabarmu hari ini Bi.....? "


Biqha makin salah tingkah dan serba salah dengan sikap Yoga. Terlebih beberapa rekannya juga semakin sering melirik-lirik ke arah mereka dan berbisik-bisik. Rasanya benar-benar tidak nyaman, tapi Biqha harus mencoba bersikap seperti biasa.


" Bhahik phak. "


" Bi..... Bisakah kita....."


CKLEK

__ADS_1


Pintu ruangan manager terbuka. Reflek mereka mengalihkan pandangannya. Erick menatap Yoga kaget, kemudian beralih pada Biqha. Kecemasan dimata Biqha cukup menjelaskan segala sesuatunya pada Erick.


" Pak Yoga.... Anda sedang apa disini? Ayo masuk ! "


Erick langsung mencoba mengendalikan situasi dengan mendekati Yoga.


" Tidak Rick. Aku kesini cuma mau bicara dengan..... "


" Aku tau. "


Dengan cepat Erick memotong perkataan Yoga. Sementara Yoga mulai kesal, karena dia tau Erick pasti berusaha menghalanginya bicara dengan Biqha.


" Tapi..... Apa anda ingin bicara sambil berdiri terus disini? Lebih baik kita duduk dan bicara di dalam. Silahkan....! "


Yoga menatap lekat pada Erick, begitu pun sebaliknya.


" Bi.... Tolong kamu beritaukan mbak aini di pantry, untuk membawakan minuman ya....! "


Perintah Erick seperti angin segar yang membuat Biqha menarik nafas lega.


" Bhahik phak. "


Biqha hendak bergegas melangkah ke pantry. Namun langkahnya terhenti dengan cekalan tangan Yoga di lengannya.


" Tunggu Bi..... "


" Ah... Iya, hampir lupa. Beritau mbak aini juga, untuk menggunakan sedikit saja gula pada minuman pak Yoga ya.... ! "


Erick kembali memotong ucapan Yoga, sembari melepaskan cekalan tangan Yoga dari Biqha. Kemudian Erick merangkul Yoga dan membawanya masuk ke dalam ruangan, tanpa memperdulikan tatapan tajam Yoga yang kesal karna sikapnya.


Sampai di dalam ruangan, Yoga langsung memghempaskan tangan Erick dari pundaknya dengan kasar. Tatapan sengit mereka beradu. Kemudian dengan cepat Erick berbalik dan menutup pintu ruangannya. Dan setelah itu, Erick kembali pada Yoga dan mencecarnya dengan suara sedikit tertahan.


" Apa yang lo lakuin Ga....? Lo bener-bener nekat mendatangi Biqha dan mendekatinya dikantor. Apa yang ada dipikiran lo saat ini? Lo lupa sama ancaman bokap lo? Memangnya lo gak bisa cari waktu dan tempat yang lain, untuk bicara dengan Biqha, ha? "


" Tapi ini jam kerja Ga. Lo gak bisa seenaknya kayak gini. Lo gak liat tadi, gimana cara pandang semua karyawan sama lo dan Biqha?! "


" Gue gak perduli Rick. GUE GAK PERDULI APAPUN..... YANG TERPENTING BUAT GUE ADALAH BIQHA. "


" Hentikan Ga, kecilkan suaramu ! "


Erick berucap dengan emosi dan suara tertahan sembari menarik kerah jas Yoga dengan kedua tangannya. Erick bersikap demikian karna terpancing emosi dan tidak tahan dengan kegilaan Yoga.


" Ini bukan ruangan direktur yang luas dan kedap suara. Sampe lo bisa berteriak-teriak seperti orang gila disini. Seluruh karyawan diluar sana bisa saja mendengar suara lo. Lo mungkin gak perduli.... Tapi gimana dengan Biqha? "


Tok...tok...tok....


Suara ketukan pintu membuat Erick tersadar, dan langsung melepaskan kerah jas Yoga. Seorang OG masuk membawa dua cangkir teh, dan meletakkannya diatas meja. Saat OG tersebut akan meninggalkan ruangan, Yoga menghentikannya.


" Sebentar. Tolong kamu panggilkan Nabiqha kesini ya....! "


Perintah Yoga pada sang Office girl, membuat Erick seketika melototkan matanya. Erick bahkan sampai berkacak pinggang dan mengelengkan kepalanya, karena tak habis pikir dengan sikap Yoga.


" Baik pak, permisi...."


OG tersebut pun segera meninggalkan ruangan dan menutup pintunya.


" Lo......"


" Cukup Rick. Sekali lagi gue mohon sama lo. Kalo lo gak bisa bantu gue, tolong jangan ikut campur ! Dan jangan pernah halangi hubungan gue dan Biqha. "


Kali ini Yoga yang menyela ucapan Erick sebelum dia sempat berkata apapun. Erick benar-benar kehilangan kata-kata menghadapi sikap Yoga.


Dalam hitungan detik, pintu ruangan itu kembali diketuk. Dan mereka sudah pasti bisa menebak siapa orang dibalik pintu tersebut. Dengan senyum sumringah, Yoga mempersilahkan masuk wanita pujaannya sambil merapikan diri.


" Phermhishi.... Bhaphak mhemhangghil shayha? " ( Permisi.... Bapak memanggil saya? )

__ADS_1


" Masuklah Bi..... Ayo duduklah disini ! "


Yoga mempersilahkan Biqha untuk duduk di sofa tepat disebelahnya. Biqha melangkah mendekat dengan ragu sambil menatap Erick bertanya-tanya. Namun Erick hanya bisa menarik nafas dalam karena kesal. Biqha melangkah melewati Erick, dan memilih duduk disofa sisi kiri.


" Bi... Duduklah disini. "


" Thidhak phak. Shayha dhishinhi shajha. Hadha hapha yha bhaphak phangghil shayha?" ( Tidak pak. Saya disini saja. Ada apa ya bapak panggil saya? )


" Rick, bisa tolong tinggalkan kami sebentar ?! "


" Apa? "


Erick mengerutkan kedua pangkal alisnya. Tak percaya dengan kalimat yang baru dia dengar dari Yoga. Biqha bahkan langsung menggelengkan kepalanya pada Erick, sebagai isyarat ketidaksetujuannya.


" Ga, lo gak mikir ya.... Kalo gue tinggalin kalian berdua diruangan ini, apa yang akan para karyawan lain pikirkan tentang kalian. Gak, gue gak akan pergi. Terserah lo mau ngomong apa sama Biqha, tapi gue akan tetep disini. "


Erick melangkah ke meja kerjanya dengan kesal. Sementara Biqha menatap sinis pada Yoga.


" Shebhenharnyha hapha yhang khamu inghinkhan? Khenhapha harhus mhemphershulhit khehadhahan shepherthi hinhi? " ( Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kenapa harus mempersulit keadaan seperti ini? )


Biqha pun sampai kehilangan kesabarannya menghadapi sikap Yoga.


" Bi..... Aku hanya ingin bicara denganmu. Aku merindukanmu Bi....."


Yoga menggeser posisi duduknya mendekat pada Biqha, dan berusaha meraih tangan Biqha. Namun Biqha dengan cepat menarik tangannya. Sementara Erick berusaha mengacuhkan kedua orang di depannya itu, dan kembali berfokus pada pekerjaannya.


" Sayang please...... Jangan menghindar terus dariku. "


" Lhangshung khe inthinyha hajha phak. Hapha yhang mhahu bhaphak bhicharhakhan shamha shayha? Mhashih bhanyhak phekherjhahan yhang harhus shayha shelheshaikhan. "


( langsung ke intinya aja pak. Apa yang mau bapak bicarakan sama saya? Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.)


Yoga menatap Biqha dengan sorot mata yang penuh kepedihan, setelah mendengar kalimat tegas dari bibir mungil Biqha.


" Kamu gak perlu bekerja lagi disini Bi...."


Biqha dan Erick tersentak mendengar pernyataan Yoga. Meski sebelumnya Biqha sempat berpikir untuk berhenti bekerja diperusahaan ini, namun Biqha tidak menyangka kalo Yoga sendiri yang akan memecatnya.


" Bi... Aku sudah pikirkan ini matang-matang. Ayo kita pergi dari sini ! "


Biqha mengernyitkan dahinya, bingung dengan maksud Yoga yang sebenarnya. Begitu pun dengan Erick.


" Kita tinggalkan negara ini dan pindah keluar negeri. Kita akan menikah disana. Kita bisa mulai hidup yang baru bersama dinegara manapun yang kamu inginkan. "


" Khah..????"


Biqha semakin menajamkan kerutan didahinya, karena merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat dari gerak bibir Yoga. Sementara Erick sampai menatap tajam pada Yoga.


" Iya sayang..... Ayo kita menikah ! Untuk saat ini akan sangat sulit mendapatkan restu dari mama papa. Tapi aku yakin setelah kita menikah dan memiliki anak, papa mama pasti akan menerima kita. Karna mereka sangat menginginkan cucu, sayang..... "


Biqha terpaku. Sama halnya dengan Erick yang terdiam, shock dengan kenekatan sang sahabat.


" Aku sudah mempersiapkan segalanya Bi..... Kita akan memulai bisnis kecil kita disana. Atau aku juga bisa bekerja. Masalah keuangan, kamu gak perlu khawatir sayang.... Aku sudah mengalihkan beberapa aset dan dana perusahaan atas namaku dan juga ke rekening pribadiku. Kita bisa menggunakannya........"


" What ? You crazy ?! "


Erick langsung buka suara, karena emosi mendengar pernyataan terakhir Yoga. Dia bangkit dari duduknya dan langsung berdiri dihadapan Yoga. Sementara Biqha melebarkan matanya, tak percaya dengan tindakan yang dilakukan Yoga.


" Bagaimana bisa lo punya pikiran senekat itu Ga? Lo mencuri aset dan dana perusahaan? "


" Gue gak mencurinya Rick. Semua itu memang milik gue, hak gue sebagai satu-satunya ahli waris. Lagipula gue cuma mengambil sebagian aja. Cepat atau lambat semuanya juga bakal jadi milik gue sepenuhnya. "


" Tapi bukan seperti itu caranya. Lo mengambil semua itu tanpa pemberitauan dan persetujuan orangtua lo kan?! Itu sama aja Lo mencuri dari mereka. Gimana mungkin lo bisa mencuri dari orangtua lo sendiri Ga? Lo gila. Lo udah kehilangan akal, hah? "


" Iya.... Gue udah kehilangan akal sekarang Rick. Dan itu semua karna mereka. Mereka yang maksa gue berbuat kayak gini. "

__ADS_1


__ADS_2