
Sejak semalam Yoga terus uring-uringan karena Biqha tidak mau menjawab panggilannya. Pesan-pesannya juga tak ada satupun yang dibalas. Bahkan pagi ini, Yoga mendapati nomornya telah terblokir.
Hatinya kembali hancur dengan penolakkan Biqha kali ini. Yoga melampiaskan kemarahannya di dalam kamar. Bantal, badcover, dan semua barang yang ada di atas meja riasnya ia ratakan, sampai jatuh berserakan di lantai. Bahkan sebagian botol parfumnya ada yang pecah.
" AKHHHHH........"
Yoga berteriak histeris sambil menangisi hatinya yang kembali patah. Kemudian terduduk lemas dengan kepala menunduk, bertumpu di atas lututnya.
" Kenapa kamu tega berbuat ini padaku Bi..... Aku tau aku salah. Tapi aku berbuat ini, karna aku terlalu mencintaimu Bi. Jangan menghindariku seperti ini sayang...... Aku mohon !"
Setelah puas menangisi kegagalan cintanya. Yoga kembali menegakkan kepalanya, terdiam dan berpikir.
' Aku gak boleh kayak gini. Aku gak boleh berdiam diri terus seperti ini. Aku gak boleh nyerah. Ini hanya reaksi kemarahan Biqha sesaat. Dia berhak marah, dan udah sewajarnya dia marah. Karena yang terjadi pasti sangat menyakiti hatinya. Tapi aku gak boleh putus asa. Aku harus tetap memperjuangkannya. Aku harus bisa membuktikan, betapa besar cinta dan kesungguhanku padanya.'
Yoga berdiri dengan terus menyemangati dirinya sendiri di dalam hatinya.
' Yah..... Biqha hanya butuh waktu untuk bisa memaafkanku dan menerima situasi ini. Ini hanya untuk sementara waktu Yoga..... Biqha pasti akan kembali. Karna Biqha juga sangat mencintaiku. aku hanya harus meyakinkannya terus. Aku harus lebih bersabar dan menerima kemarahannya. Sekarang aku harus menemuinya. Akan ku buktikan padanya, bahwa aku sangat mencintainya. Dan hanya dia seorang.'
Yoga buru-buru keruang wardrobe pribadinya, untuk mengganti pakaiannya. Setelah selesai, Yoga langsung keluar. Menuruni anak tangga dengan tergesa.
" Mau kemana kamu?"
Langkah Yoga terhenti begitu menginjakan kaki di lantai dasar rumahnya.
" Yoga ada urusan Pa."
" Urusan apa? Batalkan saja. Kalau itu masalah pekerjaan, suruh asistenmu yang melakukannya. Sebentar lagi Alina dan orang tuanya akan sampai."
" Tapi Pa...... "
Yoga terdiam saat sang ayah berbalik ke arahnya, dengan sorot mata tajam. Yoga tidak berani membantah, terlebih dia tidak tau harus beralasan apa untuk bisa menghindar. Dia hanya bisa mendesah kesal.
" Memangnya ada urusan apa, mereka pagi-pagi mau datang kesini?" tanyanya pada papa Adi.
" Hari ini kita ada janji bertemu vendor yang akan mengurus pernikahan kalian."
" Apa...?"
Yoga sangat terkejut. Kemudian dia langsung mendekati sang ayah, yang kini terduduk di sofa sembari membaca buku.
" Pa bukankah Yoga sudah bilang, Yoga tidak bisa menikah saat ini. Yoga belum siap. Yoga........ Lagipula terlalu cepat, jika kita menemui vendor sekarang ini."
" Tidak sama sekali. Karna kami sudah sepakat untuk memajukan tanggal pernikahan kalian, sebelum ramadhan nanti."
" APAA? Pa...... "
Yoga terkejut bukan kepalang, mendengar pernyataan papa Adi barusan. Pikiran Yoga langsung kalut, hingga berkali-kali dia mengacak-ngacak rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
" Ini gak mungkin. Pa Yoga mohon.... Yoga gak bisa menikah dengan Alin. Yoga......"
" SUDAH CUKUP, PRAYOGA HERMAWAN....."
Suara papa menggelegar diseluruh ruangan. Emosinya tak terbendung mendengar ucapan sang anak semata wayang.
" Jangan lagi berani kamu berpikir untuk membuat masalah. Papa tidak akan membiarkan kamu bertindak seenaknya lagi. Jangan coba-coba membuat masalah ini semakin buruk Yoga! "
" Ada apa ini? Kenapa berteriak-teriak seperti itu?"
Tiba-tiba mama hani muncul dengan wajah paniknya, mendengar suara sang suami mengelegar dengan garangnya.
" Ma.... Yoga mohon ma, tolong bujuk papa agar mau membatalkan rencana pernikahan Yoga dengan Alin."
Wajah mama Hani kian sendu, mendengar permintaan putranya yang menghiba.
" Sayang.... Dengarkan mama. Laki-laki sejati itu harus bisa bertanggungjawab dengan ucapannya. Kan kamu sendiri yang sudah berjanji pada orang tua Alin, akan melangsungkan pernikahan kalian tahun ini."
__ADS_1
Yoga terduduk lemas mendengar ucapan mama. Dia sangat berharap sang mama akan mendukungnya. Karena selama ini sang mama selalu mewujudkan keinginannya.
" Kecuali kamu memilih mengikuti langkah sahabatmu itu. Meninggalkan semua hakmu di keluarga ini, tanpa sepeser pun harta yang bisa kau bawa pergi. "
Ultimatum yang papa berikan membuat Yoga terperanga, tidak percaya papanya akan sanggup berkata seperti itu padanya.
' Gak. Aku gak mungkin meninggalkan semua ini. Aku punya hak penuh atas seluruh harta kekayaan papa. Karna hanya aku pewaris yang dia miliki. Jangan gegabah Yoga..... Kamu harus bisa berpikir jernih saat ini.' gumamnya dalam hati.
" Kamu pikir.... Papa gak bisa melakukannya?"
Pertanyaan papa membuat Yoga mengalihkan pikirannya seketika.
" Papa bahkan bisa melakukan tindakan yang lebih dari itu."
Papa Adi menatap nyalang pada Yoga. Tatapan intimidasi yang begitu mengancam, membuat nyali seorang prayoga menciut. Yoga hanya bisa memendam rasa kesalnya dihati.
" Perlu kamu tau Yoga. Papa lah yang dulu menyarankan pada om Danu agar menggertak Ericko dengan ancaman itu."
Pernyataan sang papa membuat Yoga kembali terperanga.
" Meski papa tidak menyangka, dia benar-benar akan melakukannya dan Erick bahkan lebih memilih meninggalkan segalanya. Termasuk keluarganya. Tapi sekarang papa mengerti..... Bagaimana rasanya saat putra yang kita banggakan, justru ingin mempermalukan kita sebagai orang tua."
Tiba-tiba asisten rumah tangga mereka menghampiri.
" Maaf tuan, nyonya..... Non Alina dan orang tuanya sudah sampai."
Yoga semakin lemas, karena merasa tidak lagi memiliki kesempatan untuk menghindar. Sementara papa dan mama berdiri, bersiap menyambut kedatangan calon besan mereka.
" Papa harap ini terakhir kalinya kita membahas masalah ini. Jadi camkan hal itu baik-baik !"
Yoga semakin menundukkan kepalanya, kemudian meremas rambutnya sekuat tenaga dengan kedua tangannya. Yoga benar-benar tidak berdaya. Dia terpaksa mengikuti keinginan orang tuanya. Mengikuti jadwal yang sudah mereka tetapkan.
Diperjalanan menuju vendor, Yoga dan Alina saling diam. Sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sampai akhirnya Yoga memberanikan diri, memulai pembicaraan dengan Alina. Demi memperjelas semuanya, dan berusaha untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya.
" Kamu bilang, kamu akan membujuk orang tuamu untuk membatalkan rencana pernikahan ini? Tapi kenapa malah jadi begini? Kenapa mereka malah ingin mempercepat pernikahan kita?"
" Maaf. Aku tidak berhasil membujuk mereka. Lagipula alasan yang kamu ucapkan itu sangat clise.... sibuk. Khem..... Alasan itu tidak bisa diterima. Kenapa tidak kamu ungkapkan saja alasan yang sebenarnya?"
Jawab Alina ketus dengan tatapan lurus ke depan.
" Apa maksudmu?" tanya Yoga yang mulai kesal.
" Tidak.... Tidak ada. Yang pasti aku sudah berusaha bicara dengan orangtuaku. Tapi papa Adi dan mama Hani justru datang meminta maaf atas namamu. Dan mengatakan kalau kamu sudah setuju untuk menikah, bahkan ingin pernikahan dipercepat. Mereka mengatakan kalau sikapmu pada acara surprise party kemarin, hanya karena stres dan tertekan dengan banyaknya pekerjaan yang sedang kamu tangani. Jadi jangan limpahkan semua kesalahan hanya padaku."
Yoga terdiam dengan pernyataan Alina.
" Kenapa kamu tidak langsung sampaikan sendiri saja pada orangtuaku, kalau kamu ingin membatalkan pernikahan kita? Apa kamu tidak punya keberanian untuk itu? Bukankah dulu kamu melamarku dan meminta ijin untuk bertunangan denganku, langsung kepada orangtuaku? Jadi bukankah semestinya.... kamu melakukan hal yang sama jika ingin membatalkan semuanya? Bukan mengandalkan orang lain seperti aku, untuk menyelesaikan semua masalah yang kau buat."
Sindiran Alina telak menghantam harga diri Yoga. Yoga tak mampu berkata apapun selain mengadu gigi-giginya, hingga rahangnya mengeras. Juga meremas stir mobil hingga buku-buku jarinya memutih.
****
Pukul 7 malam, Yoga baru bisa terbebas dari segala urusan yang membuatnya terpojok. Dengan masih menyisakan perasaan kesal dan kalutnya, Yoga mengendarai mobilnya menuju kontrakkan Biqha. Tak sabar ingin melepas rindu dengan kekasih tercinta.
Berharap bisa menemukan ketenangan, saat bersandar pada belahan jiwa yang sudah lama mengisi relung hatinya. Namun, yang dia temui disana justru jauh dari harapannya.
ketika dia sampai di depan kontrakkan Biqha, dia sudah menemukan sebuah motor yang sangat dia kenali terpakir di halaman. Yoga melihat pintu rumah itu terbuka lebar, dia pun berjalan mendekat. Samar-samar, kemudian semakin lama semakin jelas dia mendengar percakapan antara Biqha dan Erick.
" Ehrhik, hinhi mhashih khebhesharhan...... Ghimhanha shih, shalhah mhulhu? Hudhah dhichonthohin jhugha. " ( Erick, ini masih kebesaran..... Gimana sih, salah mulu? Udah dicontohin juga.)
" Iya, tadi juga ukurannya udah sama persis kayak gitu. Tapi ditambahin isiannya jadi segini deh....."
" Yha... dhikhechilhin lhaghi dhong......! Hinthinya jhugha jhanghan bhanyhak-bhanyhak." (Ya... Dikecilin lagi dong.....! Intinya juga jangan banyak-banyak.)
" Ya gak enak dong Bi, kalo intinya cuma dikit."
__ADS_1
" Hiyha.... Thaphi ghak shebhanyhak hinhi jhugha. Lhihat..... Shamphe khelhuhar-khelhuhar ghinhi. Nhanthi phas dhighorheng jhadhinyha phechah. Ghak bhisha dhiphakhe jhugha." ( Iya....... Tapi gak sebanyak ini juga. Liat... Sampe keluar-keluar gini. Nanti pas digoreng jadinya pecah. Gak bisa dipake juga.)
" Gak papa. Ntar yang pecah buat aku aja. Dulu juga biasa gitu kan, yang hasilnya kurang bagus pasti ibu kasih buat aku makan."
" Therhus mhahu khamhu rhushakhin therhus, bhihar khamhu bhisha mhakhan shemhuanyha?!" ( Terus mau kamu rusakin terus, biar kamu bisa makan semuanya?!)
" Iya...iya, cerewet. Sabar dong! Namanya juga masih pemanasan. Udah bertahun-tahun nih gak pegang ginian. Masih kaku jadinya. Ntar lama-lama juga hasilnya bisa bagus."
Yoga semakin mendekat ke ambang pintu. Dan interaksi antara Erick dan Biqha pun, kini terlihat jelas olehnya.
" Hinhi.... Phasthihin dhulhu ishihannyha therthuthup shemphurnha, bharhu dhibhulhethin lhaghi." ( Ini..... Pasti'in dulu isiannya tertutup sempurna, baru dibuletin lagi."
Biqha membantu Erick membentuk adonan kue, yang ada di tangan Erick. Dengan begitu otomatis tangan mereka saling bersentuhan. Tubuh mereka juga semakin berdekatan, bahkan terlihat menempel bila dari sisi Yoga. Panas melihat kemesraan itu, Yoga langsung saja masuk tanpa permisi.
" Apa-apaan ini Bi...? Apa yang kalian lakukan?"
Erick dan Biqha terkejut dengan kedatangan Yoga yang tiba-tiba.
" Kenapa kamu biarkan dia masuk, saat tidak ada siapapun selain kalian berdua disini Bi? Sementara aku, kamu gak pernah membiarkan aku masuk sekali pun. Dan lo..... Ngapain lo disini? Bisa-bisanya malam minggu gini nyamperin pacar orang. Lo mau nikung gue, hah?"
Erick hanya terpaku dengan tatapan datar ke arah Yoga, saat dengan amarah Yoga mencecarnya dengan tuduhan-tuduhan itu. Sementara Biqha justru merasa kesal dengan ucapan Yoga.
" Apa-apaan nih? Datang-datang marah-marah gak jelas? Emang lo siapa?"
Rendra yang baru saja kembali menjadi emosi, melihat kedua kakaknya diamuk seperti itu oleh Yoga. Dan Yoga seketika kelabakan. Sementara Biqha mulai panik dan segera mendekati sang adik.
" Punya hak apa lo melarang kakak gue buat deket sama kak Erick? Kalopun ada yang berhak ngelarang mbak Biqha buat deket sama seseorang, itu ya gue orangnya. Bukan Lo....." sambung Rendra tak kalah emosi.
" Rhen..... Khamhu shalhah phaham. Dhia chumha bherchandha khok." ( Ren..... Kamu salah paham. Dia cuma bercanda kok.) ucap Biqha berusaha menenangkan adiknya.
" Salah paham gimana? Mbak.... Rendra bukan anak kecil lagi ya.... Rendra paham semua yang dia bilang tadi. Memangnya siapa dia? Bisa ngomong begitu sama mbak dan kak Erick?
" Aku punya hak. Karna aku....."
" CHUKHUP !" ( CUKUP !)
Biqha dengan cepat memotong ucapan Yoga. Dengan tatapan tajamnya, Biqha berhasil membungkam Yoga. Seketika mata Yoga memerah, hatinya sakit melihat sorot mata penuh kemarahan juga tersirat kebencian itu.
" Rhen.... Dhia hinhi khak Yhogha. Themhen khak Ehrhik jhugha, yhang dhulhu sherhing mhahin kherhumhah." (Ren.... Dia ini kak Yoga. Temen kak Erick juga, yang dulu sering main kerumah.)
" Oh.... Elo...."
" Rhendrha, yhang shophan!" ( Rendra, yang sopan! ) ucapnya sembari memegang lengan adiknya.
" Buat apa Rendra sopan sama dia..... Dia aja masuk rumah kita gak ada sopan santunnya."
" Ren......"
Erick yang sedari tadi diam, akhirnya buka suara. Dia memanggil Rendra untuk mendekat padanya. Memberi isyarat mata pada Yoga dan juga Biqha. Seolah ingin memberi kesempatan untuk mereka bicara.
" Sini buruan bantuin kakak ! "
" Shanha.... Khamhu tholhong lhanjhuthin dhulhu bhuhat khuwhenyha. Pherhathihin khak Ehrhik, bhiar ghak khebhesharhan mhulhu bhuhatnyha. Mbhak mhahu bhicharha dhulhu shamha khak Yhogha. " (Sana.... Kamu tolong lanjutin dulu buat kuenya. Perhati'in kak Erick, biar gak kebesaran mulu buatnya. Mbak mau bicara dulu sama kak Yoga.)
Biqha langsung menarik tangan Yoga keluar. Dan Rendra mendekati Erick di meja makan.
" Kenapa kak Erick gak terus terang aja dari awal?" ucap Rendra lirih, setengah berbisik.
" Hah...????"
" Dia kan orangnya ?! Yang selalu menelepon mbak Biqha setiap malam. Dia juga yang sekarang jadi alasan kesedihan mbak Biqha? Kenapa kak Erick gak jujur aja ke Rendra dari awal? Rendra kecewa sama kak Erick."
Erick hanya bisa menarik nafas resah, mendengar keluhan Rendra.
" Awalnya kakak gak terpikir kalo itu Yoga."
__ADS_1
Erick kembali menarik nafas panjang.
" Kakak cuma gak mau melangkahi kakakmu Ren. Kamu cobalah bicara dari hati ke hati sama kakak kamu. Biar dia sendiri yang jelasin ke kamu nanti."