Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 9. Kencan sama adik


__ADS_3

Biqha memulai harinya seperti biasa. Mulai dari bangun tidur, mandi, sholat subuh, memasak, menyiapkan kue-kue dagangannya,dan membersihkan rumah. Namun ada yang berbeda hari ini. Biqha tidak berdandan ataupun memakai pakaian yang bagus. Dia hanya menggunakan kaos berlengan panjang dan celana jeans panjang.


Rendra keluar dari kamarnya, sudah dalam keadaan rapih versi mahasiswa. Dengan kaos oblong dan celana jeans serta sepatunya. Tak lupa dengan jaket dan tas ranselnya, yang kemudian ia letakkan di kursi ruang tamu. Setelah itu baru melangkah ke meja makan untuk sarapan.


Sesampainya di meja makan, Rendra memperhatikan kakaknya yang sedang mengepak kue ke dalam wadah. Dia heran melihat kakaknya yang terlihat santai. Bahkan kakaknya tidak menggunakan hijabnya, dengan rambut yang di ikat asal ke atas. Itu berarti kakaknya tidak berniat keluar rumah hari ini.


" Mbak gak ada rencana keluar rumah, cari kerja lagi hari ini? "


Rendra menarik kursi dan duduk di atasnya.Mengambil piring lalu mulai mengambil nasi, sayur asem dengan lauk ikan asin dan tempe goreng. Sedari tadi Rendra sudah menahan lapar, mencium aroma masakan dari dapur. Yang jelas dia tau itu pasti menu masakan kesukaannya.


" Mbak gak ada rencana keluar rumah, buat cari kerja lagi hari ini? "


Rendra mengulang pertanyaannya saat kakaknya mulai duduk di depannya. Menyadari mungkin tadi kakaknya tidak memperhatikannya, karena sibuk menyusun kue pada wadah.


Biqha menggelengkan kepala. Lalu mulai membuka mulut ingin bicara, tapi ia urungkan saat melihat adiknya sedang lahap dengan sarapannya. Setelah mereka selesai sarapan dan membereskan piring kotornya, Biqha mulai mencoba bicara.


" Rhen... Bheshokh khammuh ghakh hushah hammbhil Lhemmbhurhan yhah....! Bheshokh hanthar mbhakh charikh bhadjhuh kherjhah. Bhishah? " ( Ren.... Besok kamu gak usah ambil lemburan yah...! Besok anter mbak cari baju kerja. Bisa? ) Tanya Biqha dengan binar bahagia.


" Cari baju kerja? Emangnya mbak udah dapat kerja? "


Wajah Rendra langsung sumringah melihat senyum lebar kakaknya. Tidak perlu ada kata-kata lagi untuk menjawabnya. Cukup tersenyum lebar, sang adik pasti memgerti.


Sebenarnya tadi malam Biqha langsung mau memberitau adiknya kabar gembira ini, setelah sang adik pulang kerja. Namun karena merasa lelah dia tidur lebih awal. Dan Karena Rendra memegang kunci duplikat rumah, jadi Biqha tidak perlu menunggui adiknya pulang.


" Beneran mbak udah dapat kerja? Dimana? Kapan mulai kerjanya? " Tanya Rendra bertubi-tubi.


" Yhang phasthi dhih phehushahakhan bheshar. Mhulhai hawhal bhulhan hinnih... Shennin bheshokh." ( Yang pasti di perusahaan besar. Mulai awal bulan ini.... Senin besok.)


Jawab Biqha menyombongkan diri pada adiknya sambil terus mengembangkan senyum dibibirnya.


" Wah... Selamat ya mbak! "


Rendra berdiri, mendekati Biqha kemudian merangkulnya.


" Akhirnya mbak dapat kerja juga. Tapi kenapa harus beli baju kerja lagi? Kan setiap kali ada panggilan interview mbak selalu beli."


Menurut Biqha penampilan itu perlu untuk memberi kesan yang baik saat interview. Jadi meski tidak bisa memakai pakaian mahal setidaknya dia bisa berpenampilan baik dan sopan.


" Yhakh... Bhuath ghanthih-ghanthih. mhahluh dhong khalhau khelhiathan bhadjuhnyhah hithu-hithu mhulhuh. " ( Yah.... Buat ganti-ganti. Malu dong kalau keliatan bajunya itu-itu mulu.)


Rendra melepas rangkulannya dibahu kakaknya. Rendra teringat tadi malam Erick memberinya uang, dan berkata kalau mungkin dia akan membutuhkannya nanti.


Benar saja.... Dia membutuhkannya. Dulu waktu Rendra pertama kali di terima kerja di mini market, kakaknya memberikan dia hadiah sepatu. Tahun lalu kakaknya membelikannya motor agar bisa lebih menghemat waktu dan juga ongkos untuk pergi kuliah dan bekerja.


Sekarang kakaknya akan mulai bekerja. Seharusnya dia juga memberikan hadiah untuk kakaknya. Tapi uang dari Erick tinggal tiga ratus ribu. Sedang ini akhir bulan. Gajinya bulan lalu sudah habis untuk beli beberapa buku. Hanya tersisa beberapa puluh ribu untuk uang bensin.


Meski besok awal bulan waktunya gajian, tapi besok hari minggu. Tidak mungkin gajinya dikeluarkan besok. Pasti hari senin baru cair.


Rendra mengusap tengkuknya berpikir.


' Tiga ratus ribu dapat apa ya....? ' batinnya.

__ADS_1


Bisa saja dia gunakan tabungannya. Tapi kalau kakaknya tau tabungannya berkurang, dia pasti akan di marahi karena di anggap boros.


Biqha menyikut perut adiknya pelan, melihat sang adik yang tiba-tiba melamun.


" Memang mbak masih punya simpenan? Tabungan mbak kan udah banyak berkurang karena beli'in Rendra motor tahun lalu. Pakai ajalah apa yang ada dulu. Daripada buang-buang uang beli baju. Lagian kan mbak juga masih masa percobaan, belum jadi karyawan tetap. " Nasehat Rendra pada sang kakak.


Bukan Rendra melarang kakaknya belanja keperluan pribadinya sendiri. Rendra hanya khawatir tabungan kakaknya akan habis. Karena sekalipun Biqha kesusahan uang, kakanya itu tidak pernah mau meminta bantuan padanya. Jangankan meminta, diberi pun kakaknya tidak mau.


Biqha tidak pernah membiarkan Rendra membantunya memenuhi kebutuhan rumah. Seperti membayar kontrakan, listrik, dan juga air. Semua sebisa mungkin dia penuhi sendiri.


Bahkan saat Rendra mendapat gaji pertamanya, dia memberikan semua pada kakaknya namun di tolak. Karena Biqha merasa sebagai seorang kakak, sudah menjadi kewajibannya membiayai sang adik. Bukan justru adik yang membiayainya.


Biqha malah menyuruh Rendra menyimpan sendiri uangnya. Mempergunakan uangnya untuk keperluannya sendiri. Namun sebagai adik yang baik, Rendra juga tidak bisa membiarkan kakaknya banting tulang sendirian.


Karena itu setiap habis gajian, Rendra pasti membelanjakan kakaknya barang-barang kebutuhan rumah di mini market tempatnya bekerja. Seperti detergen, sabun mandi, pembersih lantai, pasta gigi, shampo dan lain-lain kebutuhan kecil dirumah.


Sedangkan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula pasir, Rendra hanya membelikan nya bila sedang ada promo. Itu pun kakaknya akan mengganti uangnya.


Karena itu Rendra khawatir kalau sampai kakaknya kehabisan uang.


" Mbhakh mhashih haddhah Khok. Mbhakh jhughakh ghakh khan bhelhanjhah bherhlhebhihan. Lhaghian dhakh lhammah bhanghet khithah ghakh jhalhan-jhalhan khan? " ( Mbak masih ada kok. Mbak juga gak akan belanja berlebihan. Lagian dah lama banget kita gak jalan-jalan, kan?)


Ucap Biqha merayu sang adik agar mau menemaninya besok.


" Ya udah. Mau siang apa sore? " Tanya Rendra lagi.


" Thersherhah... " ( Terserah )


Biqha membentuk jarinya membuat tanda 'Ok'


Saat Rendra sudah bersiap di atas motornya,Biqha menghampiri. Biqha pun sudah bersiap dengan memakai hijab instannya. Untuk pergi mengantar kue-kuenya ke warung langganan mereka.


" Rhen... Bhilhang jhughah shammah hibbuh khanthin, khalhoh hinnih therhakhir khalhih khithah hanthar khuweh dhishannah yhah... " ( Ren... Bilang juga sama ibu kantin, kalo ini terakhir kali kita antar kue disana ya...)


" Iya mbak, nanti Rendra sampein. Pasti nanti banyak yang kecarian sama kue buatan mbak."


Jawabnya menyayangkan. Tapi mau gimana lagi sudah jadi keputusan kakaknya ingin bekerja menjadi karyawan kantor. Meski sebenarnya Rendra lebih setuju kakaknya usaha sendiri dirumah saja, seperti sekarang membuat kue. Hasilnya juga cukup lumayan.


Ada perasaan khawatir dibenak Rendra, membiarkan kakaknya bekerja diluar dengan kondisi kakaknya yang seperti itu. Dia takut kakaknya akan mendapat sikap tidak menyenangkan dari rekan-rekan kerjanya. Tapi dia harus tetap mensupport keinginan sang kakak.


****


Hari minggu pun tiba......


Pukul 10 pagi menjelang siang Biqha dan Rendra pun bersiap-siap akan pergi menyusuri salah satu mall.


Saat mereka berdua sama-sama keluar dari kamar masing-masing. Mereka terkejut, saling pandang dari atas hingga ke bawah. Memperhatikan penampilan satu sama lain.


" Kok samaan sih? "


" Khokh khammuh phakhe bhajhu mherhah jhughakh." ( Kok kamu pake baju merah juga.)

__ADS_1


Mereka saling menunjuk dengan wajah heran, melihat penampilan masing-masing. Rendra memakai celana jeans dengan sedikit robekan di lututnya, dipadukan dengan hoodie berwarna merah. Sedangkan Biqha juga memakai jeans longgar berwarna hitam, dengan kaos sweater berwarna merah dan pasmina dengan warna sama.


Mereka terlihat sangat kompak. Bak 'couple' yang sangat serasi.


" Akhhhh....... Gak mau ah. Rendra mau ganti baju aja. Ntar disangka pacarnya mbak Biqha lagi. "


Rendra menekuk wajahnya kesal. Mengingat setiap kali jalan sama kakaknya atau mengantar kakaknya kemana pun, selalu disangka pacarnya. Baik itu bertemu dengan teman kakaknya atau temannya.


Lebih ngeselinnya lagi, pernah satu waktu kakaknya mengajak makan diluar. Rendra bertemu dengan cewek yang dia taksir. Saat Rendra menyapa, si kakak malah ngelendot manja dilengannya. Sengaja membuat si cewek salah paham.


Rendra berbalik ke dalam kamar. Namun belum sempat masuk lengannya sudah di tarik oleh Biqha.


" Ghakh hushah. Hemmhang khennahphah khalhau khakhakh hadhek chaphelan? " ( Gak usah. Emang kenapa kalau kakak adek 'couple' lan?)


Ucap Biqha sambil senyum-senyum sendiri. Sementara Rendra memasang wajah masam. Sudah terbayang olehnya, pasti sang kakak akan terus menggandeng tangannya. Membuat drama dengan bermanja-manja layaknya seorang kekasih, bila ada cewek yang memperhatikannya.


Biqha memang suka bertingkah seperti itu, kalau ada cewek yang naksir terus deket-deket sama adeknya. Sama seperti prinsipnya dulu, yang gak mau pacaran sampai lulus kuliah. Dia juga mengharuskan hal itu pada Rendra.


" Gak boleh pacar-pacaran sampe lulus. H**arus fokus belajar. Inget harus fokus. Jangan sampe kamu gagal gara-gara pacaran. Lagian pacaran itu butuh modal. Dan kebanyakan cewek sekarang itu matre. Nanti yang ada kamu cuma sakit hati aja. "


Begitulah nasehat dari sang kakak.


Dengan postur tubuh Rendra yang tinggi seperti almarhum sang ayah, dan Biqha yang mungil seperti sang ibu. Ditambah wajahnya yang imut, membuat orang yang tidak mengenal mereka tidak akan percaya jika mereka berdua kakak beradik. Kalau pun percaya, mereka pasti mengira Biqha lah sang adik. Hal itu sangat membuat Rendra kesal.


Berbeda dengan Rendra. Biqha justru happy-happy aja disangka begitu. Selain karena merasa jadi awet muda. Biqha juga senang kalau disandingkan dengan adiknya yang bertampang kece itu. Apalagi kalau ada yang memandang iri atau cemburu padanya. Dia akan semakin senang berlakon menjadi kekasih adiknya.


Bukan cuma jagain adek perempuan cantik yang susah. Jagain adek cowok yang kece juga sama susahnya.


Dengan kulit putih, mata yang agak sipit, alis tebal juga rapih serta bibir dan juga dagu yang berbelah. Membuat Rendra sering menjadi pusat perhatian cewek-cewek. Apalagi cewek jaman sekarang terkadang lebih agresif dari pada cowok.


Terbukti sejak adiknya SMA, entah sudah berapa cewek yang menyatakan perasaan suka pada adiknya. baik itu langsung, ataupun lewat surat. Bahkan setelah kuliah ini ada yang nekat nyamperin ke kontrakkan buat ketemu sama adeknya. Semua itu membuat Biqha lebih posesif terhadap adiknya.


Mereka pun pergi berboncengan dengan motor maticnya menuju mall. Dengan memakai baju warna yang sama, mereka sudah seperti pasangan remaja yang sedang berkencan.....


Terlebih saat di dalam mall, sesuai dugaan Rendra, kakaknya terus menggandeng lengannya.


Biqha mengguncang lengan adiknya melihat wajah adiknya yang terus di tekuk.


" Shenyhum...! Jhanghan chembherhut ghithu dhong. Ghakh shukha jhalhan shammah mbhakh?" ( Senyum...! Jangan cemberut gitu dong. Gak suka jalan sama mbak?)


Biqha menelangkupkan kedua tangannya di wajah Rendra. Lalu mencubit pelan kedua pipi adiknya dan menggoyangkan ke kiri dan ke kanan. Sembari kepalanya juga ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan, dengan senyum nyengir yang ia tunjukkan pada sang adik. Lalu tertawa melihat ekspresi adiknya yang lucu.


Sementara Rendra kesal bercampur geli melihat tingkah sang kakak.


" Apaan sih mbak... Gak lucu. "


Tapi pada akhirnya Rendra malah ikutan tertawa geli saat di goda kakaknya.


Kemudian Biqha kembali menggandeng lengan Rendra, dan berjalan menyusuri mall dengan mesranya bak sepasang kekasih.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata dari kejauhan yang memperhatikan kemesraan mereka sedari tadi.

__ADS_1


* Siapakah gerangan......???*


__ADS_2